Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Untuk Tim Transisi. Badan Pusat Statistik

Badan Pusat Statistik: Suatu Tonggak Informasi Independen

Aris Ananta
Mletiko, 13 September 2014

Saya kaget mendengar usul bahwa BPS (Badan Pusat Statistik) akan digabung dengan Kementerian Dalam Negeri dan Arsip Nasional Republik Indonesia. Alasannya, ketiga lembaga ini mempunyai misi yang sama. Menurut usulan ini, ketiga lembaga ini perlu digabung untuk menghemat biaya. Semoga apa yang saya dengar ini salah, dan BPS tetap independen seperti sekarang, langsung di bawah presiden. Misi BPS tidak sama dengan Misi Kementerian Dalam Negeri dan Misi Arsip Nasional Republik Indonesia.

Tugas BPS membantu seluruh penduduk Indonesia untuk dapat memahami keadaan mengenai Indonesia dengan benar, bukan sebagai alat pemerintah. BPS harus independen dari intervensi dan kepentingan pemerintah. Informasi yang dikumpulkan dan dikeluarkan oleh BPS harus independen, mencerminkan kondisi masyarakat yang sebenarnya, entah baik atau buruk untuk pemerintah. Independensi merupakan salah satu syarat penting yang harus dilakukan oleh BPS.

Syarat kedua, yang tidak kalah pentingnya, untuk mendapatkan informasi yang baik adalah “kerahasiaan” (confidentiality) responden. BPS harus dapat menjamin kerahasiaan data. Pemerintah atau kementerian apa pun harus menghargai prinsip kerahasiaan ini. Tak seorang pun mempunyai hak untuk mengetahui informasi individu seorang responden. Misalnya, BPS dapat menghitung berapa persen penduduk miskin di suatu kabupaten. Tetapi, BPS tidak boleh mengungkapkan bahwa si Didi adalah orang miskin, dan si Dadu orang kaya. Oleh sebab itu, data BPS tidak boleh digunakan untuk menentukan nama nama yang perlu bantuan kemiskinan, karena hal ini melanggar prinsip kerahasiaan. Read the rest of this entry »

Advertisements

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, poverty, statistics, , , , ,

APA BEDA QUICK COUNT DAN REAL COUNT?

Aris Ananta

Mletiko, 10 Juli 2014

Ada 12 lembaga survey yang melakukan quick count. Sebagian besar (8) menyimpulkan bahwa Jokowi-JK adalah pemenang dalam pilpres dengan persentase sekitar 52,5 persen. Prabowo-Hatta mendapatkan sekitar 47,5 persen. Sisanya, yang 4, memberikan angka yang menunjukkan Prabowo-Hatta sebagai pemenang, dengan angka hanya sekitar 50,9 persen.

Beberapa teman bingung dengan hasil ini. Mana yang benar? Saya katakan, kita harus melihat integritas lembaganya. Pengalaman mereka bagaimana. Siapa yang membiayai.

Menurut pengamatan saya, 8 lembaga pertama adalah lembaga survey yang mempunyai integritas dan menghasilkan ketepatan yang tinggi. RRI misalnya, memberikan angka yang amat amat mirip dengan hasil KPU dalam pemilhan legislatif April yang lalu. Mereka juga tidak mendapatkan pembiayaan dari kubu mana pun. Di pihak lain, seperti dikatakan oleh Prabowo, survey yang memberikan angka yang lebih tinggi pada Prabowo Hatta adalah survey internal Prabowo, survey yang dipesan dan dibiayai oleh Prabowo.

Dengan pengalaman saya mengamati hasil quick count selama beberapa pemilu, saya berpendapat bahwa Jokowi JK memang pemenangnya. Hasil KPU tak akan jauh berbeda dengah hasil 8 lembaga survey pertama tadi.

Nah, apa itu quick count dan real count? Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, , , , , ,

PARADIGMA-BARU PEMBANGUNAN EKONOMI*

Aris   Ananta

Depok, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 13 Desember 2011

Selama ini setiap laporan perekomian selalu dimulai dengan statistik  yang berkaitan dengan pendapatan nasional (GDP).  Contohnya, berapa persen pertumbuhan ekonomi, berapa pendapatan per kapita? Kemudian, bagaimana meningkatkan ekspor dan investasi asing agar pertumbuhan ekonomi meningkat dengan cepat?

Selain itu, sering muncul perdebatan apakah perbaikan lingkungan hidup mengganggu pertumbuhan ekonomi, apakah pelaksanaan good governance, termasuk pelaksanaan demokrasi, mengganggu pertumbuhan ekonomi.  Apakah usaha meningkatkan status kesehatan masyarakat bertentangan dengan usaha mempercepat pertumbuham ekonomi?

Dalam paradigma baru, yang saya tawarkan, kita membalik cara berpikir ini.  Pendapatan nasional, pertumbuhan ekonomi, dan pendapatan perkapita bukan tujuan pembangunan ekonomi. Pendapatan nasional, pertumbuhan ekonomi, dan pendapatan per kapita sekedar salah satu  alat untuk mencapai tujuan pembangunan.  Pertumbuhan ekonomi merupakan alat yang penting, namun bukan satu satunya alat.  Dengan kata lain,   pertumbuhan ekonomi  bukan pengukur tujuan pembangunan. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, poverty, statistics, , , , , , , , , ,

Indonesia Harus Berani Ubah Paradigma Pertumbuhan

Bisnis  Indonesia, 13  Desember  2011

 

DEPOK: Publik di  Indonesia harus mempelopori revolusi paradigma pembangunan di dunia, dengan tidak lagi menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan, melainkan alat untuk menciptakan tata kelola yang baik, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan.
Hal tersebut diungkapkan Senior Research Fellow Institute of Southeast Studies Singapore Aris Ananta dalam diskusi ekonomi yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, hari ini.
“Saya harap Indonesia berani mengubah paradigma pembangunan ekonomi. Bukan revolusi turun ke jalan, lewat facebook  atau twitter,  tapi revolusi pemikiran,” ujar Aris.
Dia mengkritik pola pengajaran ilmu ekonomi di seluruh dunia yang selalu menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai indikator utama keberhasilan pembangunan suatu negara. Sementara itu asumsi lainnya, seperti kemiskinan, pengangguran, good governance, dan kelestarian lingkungan hanya dijadikan bagian dari pada pembentukan PDB.
Baca selengkapnya  Indonesia Harus Berani Ubah Paradigma Pertumbuhan

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, poverty, statistics, , , , , , , , , , , , ,

Pencarian Indikator Pembangunan

Pengunjung yang budiman,

Menanggapi tulisan saya di Kompas berjudul “Selamat Tinggal Pertumbuhan” pada tanggal 13 Juni 2011, Meuthia Ganie  Rochman telah menanggapi dengan memberikan usulan indikator pembangunan.  Berikut tulisannya, yang diterbitkan oleh Kompas, 21 Juni 2011.

Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , ,

LEBIH BANYAK UANG, LEBIH MAHAL KEBUTUHAN

Aris  Ananta

Untuk Indonesia Finance Today, 25 Mei 2011

Jika kita percaya bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita adalah cara terbaik untuk mengukur kemakmuran, maka Indonesia diproyeksikan menjadi negara yang lebih kaya. Tahun lalu, seperti yang ditunjukkan tabel, Produk Domestik Bruto per kapita Indonesia adalah US$ 3.000. Setiap hari rata-rata seorang warga negara Indonesia hidup dengan uang sekitar US$ 8,22 pada 2010. 

          Indonesia akan menjadi “lebih kaya” pada 2014 dengan Produk Domestik Bruto per kapita sebesar US$ 5.000. Artinya, seseorang akan hidup dengan uang sekitar US$ 13,70 per hari pada 2014, atau kenaikan lebih dari US$ 5 per hari dibanding 2010.  Yang lebih menggembirakan adalah proyeksi pada 2025, ketika Produk Domestik Bruto per kapita akan mencapai US$ 14.900, atau setiap orang rata-rata bisa hidup dengan US$ 40,82 per hari, atau nyaris lima kali lipat dibanding 2010. Kemudian pada 2045, seratus tahun setelah Indonesia merdeka, Produk Domestik Bruto per kapita menjadi US$ 46.900 atau seseorang akan hidup dengan US$ 128,50 per hari, 15 kali lebih besar dibanding 2010.

        Dari mana angka angka  ini dipersiapkan? Apa asumsinya?  Silakan membaca catatan  pendek ini selengkapnya.

Lebih Banyak Uang, Lebih Mahal Kebutuhan

Selamat membaca.

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, statistics, Uncategorized, , , , , , , , , , , ,

E-BOOK: KECENDERUNGAN LAPANGAN PEKERJAAN GLOBAL 2011

Sebuah laporan terbaru dari ILO (International Labour Organization) yang dapat diunduh gratis  di 

Global Employment Trend 2011.

 Menarik sekali membaca buku ini, terutama ketika menyangkut konsep vulnerable employment  dan working poverty. Dalam diskusi mengenai buku ini di ISEAS, 28 Februari 2011, antara lain disebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak otomatis meningkatkan employment, dan peningkatan employment tidak otomatis mengurangi kemiskinan.  Dalam diskusi tersebut juga muncul isu mengenai pentingnya membuat inovasi statistik yang dapat mengukur employment dengan lebih baik. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, English, poverty, statistics, , , , , ,



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin. Click here to find out more about them.

We are researchers in the field of demography, social and economic statistics, and economics, focusing on Indonesia and Southeast Asia. Click here to find out more about OUR PUBLICATION .<br

Our research interest is the intersection of:

Categories

Archives

Visitors

  • 142,284

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 93 other followers