Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

RELATIVITAS KENIKMATAN

Aris Ananta

25 Juni 2013

Singapura sedang dilanda asap. Asap ini berasal dari perkebunan yang terbakar (atau dibakar?) di Sumatra. Kebetulan, arah angin tidak menguntungkan Singapura. Udara Singapura biasanya amat baik dengan PSI (Pollutant Sandards Index) di bawah 50. PSI di antara 50 dan 100 berarti kualitas udara moderat. Di atas 100, tidak sehat. Di atas 200, sangat tidak sehat. Di atas 300, berbahaya.

Ketika PSI mencapai 110, index yang menunjukkan kualitas udara yang tidak sehat,   rasa tidak enak  saya alami kalau saya berada di luar rumah. Namun, saya tetap tidak menderita. Saya masih normal normal saja, walau udara terasa kurang enak. Namun, PSI terus naik. Di suatu sore, Rabu, 19 Juni 2013,  ketika saya berada di jalanan,  saya sangat menderita. Saya hanya dapat berjalan sangat pelahan. Kalau berjalan cepat, saya susah bernafas.  Ternyata, saat itu PSI telah naik di atas 200, yang sangat tidak sehat.

Hari Jumat , 21 Juni, sekitar jam 8.30 pagi. Ketika saya jalan kaki dari bus stop ke kantor saya, yang telah saya lalui selama lama bertahun-tahun dengan suka cita, saya merasakan penderitaan yang besar. Kok nggak sampai sampai ya? Saya memang jalan pelahan sekali, nafas tak enak.  Siang jam 11 saya berada di luar gedung lagi. Dan benar benar penderitaan yang amat sangat. Mata pun pedih. Ternyata, saat itu, PSI telah mencapai 401!

Menariknya, sore hari, sekitar jam 6, saya berada di luar gedung lagi. Dan..oh..indah sekali. Udara tampak cerah. Gedung tidak diselimuti asap lagi. Dan nafas enak sekali. Ingin rasanya melakukan olah oraga, menikmati udara yang indah itu.

Saya kemudian tahu, sore itu, sesungguhnya kualitas udara masih “sangat tidak sehat”, masih sekitar 200. Namun, mengalami udara dengan PSI sekitar 200 setelah beberapa jam sebelumnya mengalami PSI 400 memang berbeda dengan mengalami PSI sekitar 200 setelah memingkat dari PSI sekitar 100.

Kenikmatan memang amat relatif. (*)

Advertisements

Filed under: Bahasa Indonesia, Uncategorized, , ,

SINDROM PENDUDUK LOKAL

Aris  Ananta

 

Mletiko, 16 April 2012

 

Judul aslinya “Awas Sindrom Warga Singapura”, ditulis oleh A. Rahman Basrun, di Berita Harian, koran berbahasa Melayu di Singapura, tanggal 9 April 2012.   Tulisan ini menanggapi komentar Perdana Menteri Singapura pada tanggal 5 April 2012,  mengenai “.. two worrying trends in Singapore”.

 

Salah satu sindrom itu  mengenai pengelompokan antara “kami” dan “mereka”, antara “penduduk lokal” dan “pendatang”, seperti juga ditulis di Sentimen Anti Orang Asing, di Mletiko, tanggal 6 April 2012. Ketidak-sukaan warga negara Singapura kepada semua para pendatang, yang termasuk warga negara “baru”, yang dulunya warga negara asing, karena telah terjadi peningkatan jumlah pendatang yang cepat dalam waktu yang singkat.

 

Tulisan A. Rahman Basrun ini menarik karena menceriterakan bahwa dulu (mungkin sekitar tahun 60-an dan 70-an) orang Melayu Singapura berteriak, tidak suka dengan yang bukan Melayu, yaitu Cina dan  India. Orang Melayu merasa kurang diperhatikan di bidang pendidikan dan bisnis. Kemudian, dengan usaha integrasi, demikian menurut Rahman, warga negara Singapura telah tersatukan, entah mereka Cina, Melayu, atau India, bahkan yang “lainnya” (termasuk yang Orang Barat).  Dan kini, mereka (Cina, Melayu, dan India) bersama-sama berteriak terhadap arus pendatang, entah dari mana pun mereka, termasuk pendatang dari RRC dan India.

Judul catatan  singkat   ini bukan “Sindrom Warga Singapura”, tapi saya ganti dengan “Sindrom Penduduk Lokal”. Kasus ini dapat dan telah terjadi di mana saja, bukan hanya di Singapura. Yang namanya penduduk lokal juga amat relatif. Orang yang telah lama berdiam di suatu daerah akan merasa sebagai penduduk lokal, karena telah hafal dengan sekelilingnya. Walau mereka juga “pendatang”, tetapi karena mereka sudah lama, adanya “pendatang” yang baru dan dalam jumlah yang banyak dan cepat dapat membuat pendatang lama—yang telah menjadi “penduduk lokal”—merasa gerah, dan tidak nyaman.

 

Yang namanya penduduk lokal dan pendatang dapat pula berasal dari kelompok dengan “darah” yang sama. Orang Cina warga negara Singapura belum tentu senang dengan kehadiran orang Cina dari  RRC, yang jumlahnya meningkat dengan cepat. Bahasa mereka berbeda, budaya mereka berbeda. Orang India warga negara Singapura belum tentu nyaman dengan para pekerja kasar  dari India atau expatriat dari India.

 

Masalah suku dan migrasi memang amat kompleks! Perlu studi yang lebih serius mengenai hal ini. (*)

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, migration, , , , , , , ,

SENTIMEN ANTI ORANG-ASING

Aris  Ananta

Mletiko, 6 April 2012

Seperti dilaporkan di The Straits Times, 5 April 2012, Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Long, merisaukan adanya peningkatan sentimen anti orang-asing di Singapura. Terjadi peningkatan ketidak-sukaan “orang Singapura” terhadap yang bukan “orang Singapura”.  Yang “bukan orang Singapura” termasuk orang orang dari negara lain yang memilih menjadi warga negara Singapura, penduduk tetap (permanent resident),  warga negara asing yang memegang employment pass dan working permit. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, migration, statistics, , , , , , ,

Dampak Pasar dan Politik Dunia pada Pasar Pembantu Rumah Tangga di Singapura

Mletiko, 21 Juni 2011

Pengunjung Mletiko yang baik,

Perubahan kondisi pasar tenaga kerja (tepatnya Pembantu Rumah Tangga atau sering pula disebut dengan PLRT–Penata Laksana Rumah Tangga) dan politik dunia tampaknya akan  mempengaruhi kesejahteraan para PLRT Indonesia di Singapura. Usul untuk memberikan satu hari libur per minggu makin sering disampaikan, bahkan dimuat di koran utama, the Straits Times, yang sering dilihat sebagai pembawa suara pemerintah Singapura. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, international migration, migration, poverty, , , , , ,

MENGAPA SINGAPURA BANJIR LAGI?

Aris     Ananta

 

Untuk MLETIKO, 15 Juni 2011

 

Jakarta  banjir bukan berita.  Tetapi, banjir di Singapura? Dan banjir lagi?  Dalam dua tahun terakhir, berita banjir di Singapura memang sering terdengar, walau  banjir ini sering masih dalam ukuran “biasa” untuk Jakarta. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , , , , ,

TIDAK LULUS UJIAN BAHASA INGGRIS, CALON PLRT DI SINGAPURA BUNUH DIRI

Evi Nurvidya Arifin

Untuk Mletiko, 7 Juni 2011

Singapura, negara berpendapatan per kapita tertinggi di Asia Tenggara, sekali lagi dihebohkan dengan kematian PRT atau PLRT (penata laksana rumah tangga) asal Indonesia. Pertengahan bulan Mei 2011, warga di sebuah rumah bertingkat di daerah Woodland dihebohkan dengan kematian Ruliawati (31), seorang PLRT asal Jawa Tengah yang diduga dibunuh pekerja asal Bangladesh. Ruliawati diduga  memiliki hubungan khusus dengan pekerja Bangladesh tersebut.

Kemudian, Minggu lalu, tepatnya 1 Juni 2011, Sulastri Wardoyo, calon PLRT di Singapura, akhirnya meninggal akibat percobaan gantung diri karena tidak lulus ujian tertulis bahasa Inggris untuk menjadi PLRT di Singapura. Mimpi Sulastri, seorang ibu beranak satu, menjadi PLRT bergaji dollar kandas di seutas tali yang ia lilitkan sendiri ke  dirinya. Sulastri menggantung dirinya di kamar mandi tempat penampungan para calon PLRT di Singapura.  Seperti diceritakan salah seorang temannya, Sulastri sering berdiam diri dan menangis sejak ketidaklulusannya di ujian pertama. Kematian Sulastri mengundang sejumlah reaksi dan komentar cukup keras. Orang pun terhenyak atas adanya ujian  yang berat tersebut. Perlukah ujian tersebut, dan mengapa tidak dilakukan di Indonesia?

Ujian  itu dilakukan dalam bahasa Inggris secara tertulis. Memang tidak sesulit TOEFL, yang digunakan untuk penyaringan ke universitas,  namun ujian  bahasa Inggris ini dapat amat sulit untuk para PLRT. Membaca dan mengerti soalnya saja sudah satu persoalan sendiri. Seperti diberitakan di  koran  The Straits Times, 2 Juni 2011, ujian tertulis itu terdiri dari 40 pertanyaan pilihan  berganda yang harus dijawab dalam waktu 30 menit. Artinya setiap pertanyaan rata-rata harus dijawab dalam waktu hanya 45 detik saja. Waktu yang cukup singkat untuk membaca, mencerna dan menjawab.

Seorang PLRT yang berhasil lulus, yang kebetulan satu pesawat dengan saya  dalam perjalanan Singapura-Yogyakarta bulan Mei lalu, menceriterakan bahwa menjawab pun perlu waktu karena jawaban bukan dengan cara mencontreng atau mencakra, melainkan  dengan memulas lingkaran jawaban yang disediakan, karena jawaban akan diperiksa dengan komputer.  Dengan cara ini, jawaban yang betul bisa salah bila cara menjawabnya salah. Misalnya, lingkaran tidak penuh dipulas, ataupun pulasan pensil melewati garis batas lingkaran.

Anda tentu penasaran ingin mengetahui lebih lanjut mengenai ujian tertulis tersebut. Dari 40 soal yang diberikan dalam ujian, The Strait Times menyajikan 4 soal yang cukup menarik untuk disimak.

  1. Which one of the items below should not be stored with the other three?

(a)    Cooking oil

(b)   Chilli sauce

(c)    Insect killer

(d)   Dark soya sauce

  1. You went to East Coast Park on your day off. The journey from East Coast Park to your employer’s house takes 45 minutes. What time must you leave East Coast Park to reach home by 7pm?

(a)    Before 6.15pm

(b)   After 6.45pm

(c)    After 6.30pm

(d)   At 7pm

  1. Below is the price list in a fast-food restaurant. How much do you have to pay for one fish burger and one packet of large fries?
    Food items price: Chicken burger $3

Fish burger $3.50

Small fries $1.50

Large fries $2

(a)    $5.50

(b)   $5

(c)    $3.50

(d)   $6.50

  1. When doing housework, I should …

(a)    Use the same towel to wipe the table, clean the plates and wipe the kitchen tiles.

(b)   Use the same towel to wipe the table and plates but a different towel to wipe the kitchen tiles.

(c)    Use the same towel to clean the plates and floor but a different towel to wipe the kitchen tiles.

(d)   Use different towels to wipe the table, clean the plates and wipe the kitchen tiles.

Keempat contoh soal ini menarik disimak paling tidak dari panjangnya soal. Soal pertama terdiri dari 28 kata, soal kedua 49 kata, soal ketiga satu kata lebih banyak dari soal kedua, dan soal terakhir 80 kata. Jumlah kata ini akan menentukan kecepatan membaca dan mengerti pertanyaan. Dengan aturan waktu diatas, keempatnya harus selesai dalam waktu 3 menit saja dengan jawaban yang belum tentu benar.

Kematian Sulastri menjadi berita utama di seksi ”HOME” di koran The Strait Times tadi.  Diberitakan bahwa ujian tertulis ini bukan hal baru karena telah dijalankan sejak 2005 oleh Departemen Ketenagakerjaan Singapura bagi semua  calon PLRT. Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan para PLRT dalam hal membaca dan menghitung. Namun, tahun 2009, revisi dilakukan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Ujian tertulis ini dilakukan di minggu pertama para PLRT tiba di Singapura. Bila mereka gagal di ujian pertama, masih ada 2 kesempatan lagi untuk mengikuti ujian. Mereka mendapat jatah maksimum 3 kali ujian dalam tenggang waktu 3 hari berturut-turut.

Kegagalan dalam menjalani ujian tertulis ini berakibat pada pemulangan kembali para calon PLRT ke Indonesia. Hal ini bukan perkara mudah, karena artinya si calon PLRT harus kembali ke agen dan kembali menjalani kehidupan di tempat penampungan pelatihan PLRT, dan belajar kembali. Semakin lama disana,  semakin besar biaya yang harus ditanggung oleh calon PLRT ini. Biaya ini tidak dibayar tunai, namun dibayar sebagai hutang yang harus dilunasi manakala mereka akhirnya menjadi PLRT di sebuah negara. Persoalan menjadi kompleks.

Pelaksanaan ujian tertulis di Singapura memang ini perlu dikaji ulang. Sebuah surat pembaca di The Strait Times, 3 Juni 2011, menyatakan sebagai berikut

”… Maids generally do not have to deal with the public, so as long as they are able to converse with and understand their employers in a language they both are comfortable with, why waste the time and resources on this test?”

Surat pembaca tersebut ada benarnya, PLRT yang lulus bahasa Inggris pun belum jaminan dapat melakukan komunikasi dan mengerti perintah majikan bila tugas utama PLRT ini, misalnya, mengurusi para lansia Singapura. Sebab apa? Di Singapura, persentase pengguna bahasa Inggris dalam komunikasi di rumah tidak lah besar.

Diantara para lansia etnik China, etnik terbesar di Singapura, bahasa Inggris bukan bahasa yang dipakai sehari-hari. Sensus Penduduk Singapura 2010 memperlihatkan bahwa lebih dari 50 persen para lansia China  menggunakan bahasa dialek seperti Hokian, Kanton, Teochew atau lainnya, dan hampir 30 persen pengguna bahasa Mandarin. Hanya 16 persen yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa yang paling sering digunakan sehari-hari di rumah. Selain itu, banyak generasi tua Singapura, termasuk yang China,  yang lebih mengerti bahasa Melayu ketimbang Inggris.

Di kalangan lansia etnik Melayu, sekitar 95 persen berbahasa Melayu, bahasa yang banyak miripnya dengan bahasa Indonesia. Lain halnya dengan kalangan India, lansia penutur bahasa Inggris sebanyak 30 persen, sedang penutur Tamil sebanyak 45 persen, dan penutur Melayu 10 persen.

Memang gambaran ini sedikit berbeda dengan penduduk Singapura secara umum. Penduduk China berumur 5 tahun keatas yang berbahasa Inggris sehari-hari di rumahnya sebanyak 33 persen, kedua setelah bahasa Mandarin (47 persen). Sementara,  19 persen pengguna bahasa dialek. Di kalangan  Melayu, 17 persen pengguna bahasa Inggris di rumah, 82.7 persen pengguna bahasa Melayu. Sedang di kalangan India , 41.6 persen pengguna bahasa Inggris di rumah, 36.7 persen pengguna Tamil, 13.2 persen pengguna bahasa India lainnya, dan 7.9 persen berbahasa Melayu. Namun, fakta tetap menunjukkan bahwa kurang dari separoh penduduk Singapura menggunakan bahasa Inggris dalam komunikasi sehari hari di rumah mereka. Jadi, mengapa harus ujian bahasa Inggris, dan tertulis?

Sulastri menyisakan pelajaran berharga bagi kita dan meninggalkan pertanyaan yang belum terjawab. Mengapa Sulastri pergi padahal agen pengirim mestinya tahu kemampuan Sulastri dalam menghadapi ujian tertulis? Apakah para agen di Indonesia tak tahu sulitnya mengikuti ujian bahasa Inggris di Singapura, dan bahwa kemungkinan lulus amat kecil? Tidakkah menjadi lebih murah kalau mereka melakukan ujian di Indonesia, dengan mendatangkan panitia ujian dari Singapura oleh orang Singapura?

Selamat jalan Sulastri. (*)

Tulisan terkait:

Perjalanan Panjang Seorang Migran: Dari Palimanan ke Sakaka

Kebutuhan Pembantu Rumah Tangga (PLRT) di Singapura

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, migration, , , , ,

PERJALANAN PANJANG SEORANG MIGRAN: DARI PALIMANAN KE SAKAKA

Evi  Nurvidya  Arifin

Untuk MLETIKO, 20 April 2011

Suatu sore di Bandara Udara Sukarno Hatta. Persisnya tanggal 16 April 2011. Saya bertemu   Siti (bukan nama sebenarnya), seorang calon penumpang. Untuk Siti, sore itu awal sebuah perjalanan panjang untuk meraih cita-citanya, bekerja di ranah rumah tangga sebuah keluarga di Arab Saudi.

       Siti tidak seorang diri. Sore itu mungkin hampir separo ruang tunggu keberangkatan Lion Air di Sukarno-Hatta untuk penerbangan ke Singapura dipenuhi para TKW. Suasana riuh ramai terasa, sepintas bukan wajah-wajah sedih penuh duka. Mungkin banyak diantara mereka yang sedang dibuai mimpi yang hampir tiba. Dalam hati saya, semoga mimpi mereka tercapai, bukan malapetaka yang didapat. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, migration, poverty, , , , , , ,



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin. Click here to find out more about them.

We are researchers in the field of demography, social and economic statistics, and economics, focusing on Indonesia and Southeast Asia. Click here to find out more about OUR PUBLICATION .<br

Our research interest is the intersection of:

Categories

Archives

Visitors

  • 141,475

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 93 other followers