Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Merokoklah, Demi Pertumbuhan Ekonomi

Pembaca yang budiman,

Merokoklah terus. Sakit dan sakitan tidak apa apa. Anda akan membantu pertumbuhan ekonomi. Demi kesejahteraan industri rokok kita diminta terus merokok. Jangan risaukan sakit dan sakit sakitan, anda pahlawan ekonomi.

Lucu ya? Semoga anda tidak mau menjadi pahlawan ekonomi seperti ini. Kasihanilah diri anda sendiri, pasangan anda, keluarga anda, dan masyarakat Indonesia.

Yuk, kita semua mengikuti gaya hidup sehat. Demi kesejahteraan kita semua. Selain itu, ada bonusnya. Kalau kita sehat, ekonomi akan tumbuh dengan berkelanjutan. Kalau kita sakit sakitan,  kita akan mengalami bencana demografi. Produktifitas turun drastis dan ekonomi juga akan berantakan.

Salam hidup sehat.

Aris

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, Uncategorized, , ,

KEMBALILAH KE VISI EKONOMI KERAKYATAN

Aris Ananta

Mletiko, 21 Juni 2014

Saya sering ditanya, apa beda visi ekonomi kedua capres. Saya jawab, mereka sama saja. Keduanya mengacu ke ekonomi kerakyatan. Bedanya hanya di gaya mereka.

Namun, kini saya berganti pendapat. Ada yang bilang, Indonesia dapat meniru Cina, menjadi kekuatan ekonomi dunia.

Benarkah ini masa depan yang kita inginkan? Indonesia ingin menjadi kekuatan ekonomi dunia seperti China? Perekonomian yang tumbuh minimal 10 persen per tahun?

Sadarkah kita biaya dari pertumbuhan ekonomi yang cepat itu? Polusi udara menjadi masalah utama di Beijing dan banyak kota besar lainnya. Orang mulai membeli botol yang berisi udara segar. Kalau sekarang ada industri yang berjualan botol berisi minuman, tak lama lagi akan ada industri yang menjual botol berisi udara segar. Ini karena udara sudah demikian kotornya.

Itu kah Indonesia yang kita inginkan? Kemana mana pergi membawa botol atau tabung berisi udara segar?

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu juga karena sistem pemerintahan di Cina yang otoriter, tanpa demokrasi. Ini kah yang kita inginkan? Kita akan mengorbankan demokrasi semata untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia?

Pertumbuhan ekonomi yang amat tinggi di China juga disertai ketimpangan pendapatan dan kekayaan yang terus meningkat. Inikah yang kita inginkan di Indonesia?

Kembalilah kita ke visi Ekonomi Kerakyatan, yang sesungguhnya tidak membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Konsentrasikan pada modal manusia, khususnya pada pendidikan dan kesehatan. Perlakukan rakyat secara manusiawi, dengan pendekatan musyawarah, dan bukan kekerasan.

Pak Jokowi dan Pak JK yang sederhana,
Teruslah tetap bertahan pada visi ekonomi kerakyatan anda! Jangan kuatir dengan yang meninggalkan konsep ekonomi kerakyatan, dengan membuat target pertumbuhan ekonomi di atas 10 persen. Target anda, yang hanya 7 persen, lebih masuk akal, lebih mendekati ke ekonomi kerakyatan.

Membuat orang miskin sehat dan pandai tidak dapat diukur dengan pertumbuhan pendapatan nasional. Tetapi, ini amat penting. Program Kartu Sehat dan Kartu Pintar anda tak dapat dinilai dengan pertumbuhan ekonomi. Tetapi, ini program yang amat penting, membuat orang sehat dan pintar, tanpa harus mengaitkan dengan pertumbuhan ekonomi.

Mungkin, target anda untuk pertumbuhan ekonomi yang 7 persen dapat diturunkan menjadi 5 persen. Walau begitu, target anda sudah jauh lebih baik daripada yang di atas 10 persen.

Jangan ragu dengan Ekonomi Kerakyatan anda berdua! Jangan terpancing untuk ikut meninggalkan ekonomi kerakyatan. (*)

Filed under: Bahasa Indonesia, , , , ,

Pertumbuhan Ekonomi di Bawah 6 Persen!

Aris  Ananta

Mletiko, 21 Agustus 2013

 

Ekonomi Indonesia  makin sering dipuji oleh orang asing. Indonesia makin sering dilihat sebagai emerging global economic powerhouse, salah satu potensi kekuatan ekonomi dunia. Ini karena jumlah penduduk yang besar dan pertumbuhan ekonomi (GDP – Gross Domestic Product)  yang tinggi. Indonesia makin sering dilihat sebagai pasar yang menggiurkan, karena penduduk yang jumlahnya besar ini kini banyak mengkonsumsi (bahkan cenderung makin boros?). Selain itu, penduduk Indonesia yang jumlahnya besar ini juga makin berani dan mau berhutang.  Maka, pebisnis  asing berbondong bondong mengincar pasar Indonesia.

 

Konsumsi dalam negeri yang besar (yang antara lain karena gaya hidup yang boros, spekulatif, dan mungkin juga koruptif) ini antara lain telah menyebabkan Indonesia terbebas dari krisis ekonomi global di tahun 2008/ 2009.

 

Akhir akhir ini, kita mulai risau dengan keadaan ekonomi makro. Defisit neraca perdagangan yang makin besar (orang makin banyak mengimpor daripada mengekspor), inflasi yang makin tinggi (harga bukan hanya terus meningkat, tetapi meningkat dengan lebih cepat), dan nilai rupiah yang turun (orang asing menarik rupiah, karena ada tempat lain yang menarik untuk mereka).

 

Menarik bahwa gubernur BI, Agus Martowardoyo, pernah mengatakan bahwa Indonesia tidak perlu mentargetkan pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen.

 

Memang, harusnya begitu. Tumbuh lebih rendah juga lebih baik. Akan mengurangi inflasi. Naikkan suku bunga, agar orang tidak terus meminjam uang untuk spekulasi. Dengan bunga yang naik, orang akan mau menabung.

 

Mungkin, kita harus lebih berani lagi. “Selamat Tinggal GDP”. Kita masih perlukan GDP, tetapi bukan sebagai pengukur utama perekonomian.

Harga yang terus meningkat jelas menciptakan rasa ketidak-adilan di masyarakat.  Dalam situasi semacam ini, mereka yang berjiwa spekulan lah yang diuntungkan.

 

Maka, sudah saatnya suku bunga dinaikkan. Tak usah membuat target pertumbuhan GDP di atas 6 persen. Mau tumbuh 4 persen pun tak apa, asal inflasi rendah, suku bunga naik.

 

Para pembaca yang sudah telanjur belajar ekonomi makro bertahun tahun akan protes “Kalau tak ada pertumbuhan, bagaimana membiayai perekonomian?”.

 

Saya kira, pertumbuhan tetap kita butuhkan, tetapi jangan mentargetkan pertumbuhan yang tinggi. Jangan melihat pertumbuhan ekonomi sebagai primadona. Banyak hal lain yang penting, yang dapat dicapai dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah. Selama ini asumsi yang dipakai adalah makin tinggi pertumbuhan ekonomi, makin baiklah perekonomian itu. Apa betul?

 

Apa gunanya pertumbuhan ekonomi 6 persen kalau inflasi terus meningkat?(*)

Filed under: Bahasa Indonesia, economy,

Apa Kata Investor, Pebisnis, Asing?

Aris Ananta

Mletiko, 22 Mei 2012

 

Kemarin  saya berjumpa dengan sejumlah  peneliti  Eropa yang mempelajari ekonomi dan bisnis di Asia, khususnya Asia Tenggara. Mereka antara lain mengatakan bahwa investor asing, dari luar Asia, lebih suka melakukan investasi di Vietnam dan China daripada di Indonesia.  Menurut para peneliti ini, investor asing lebih suka masyarakat yang dapat diatur. Vietnam dan China negara otoriter. Asal pemerintah pusat sudah setuju, semua menjadi mudah. Rakyat  harus mengikuti apa mau pemerintah pusat.

Lain dengan di Indonesia, kata peneliti itu menirukan pandangan para investor asing. “Indonesia negara demokrasi  (maaf, sedang belajar demokrasi)” . Benar, peneliti itu mengatakan “ Indonesia is a democratic country….. “, lalu buru buru diralat “Indonesia is a democratizing  country”. Maksudnya, Indonesia belum menjadi negara demokratis, tetapi masih pada tahap belajar menjadi neara demokrasi.  (Memang, menurut saya, Indonesia masih dalam tahap menjadi negara demokrasi.)

“Jadi, para investor lebih suka negara otoriter?” tanya saya.

Teman peneliti dari Eropa itu bilang, betul sekali. Para investor asing memang lebih suka negara otoriter seperti China dan Vietnam, daripada Indonesia yang sedang belajar demokrasi.

Cerrita ini memperkuat kesan selama ini bahwa pebisnis asing, investor asing, tidak peduli keadaan di masyarakat negara yang mereka tuju. Yang penting mereka mendapatkan keuntungan besar dari bisnisnya. Walau mereka tahu suatu negara melakukan pemerintahan otoriter,  tanpa kebebasan berpendapatan di kalangan masyarakatnya,  mereka tetap ke negara itu.  Mereka tidak senang kalau suatu negara belajar menjadi negara demokrasi. Justru di negara otoriter, bisnis mereka tinggi.  Karena mereka berbondong masuk ke negara itu, maka pertumbuhan ekonomi di negara itu pun akan cepat maju.

Apakah Indonesia akan mengikuti jalur ini, mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan kembali ke sistem  pemerintahan yang otoriter?

Sudah saatnya kita tidak menggunakan pertumbuhan ekonomi sebagai pengukur kemajuan perekonomian Indonesia. Indonesia memang sedang belajar demokrasi, dan semoga Indonesia segera menjadi negara demokratis.   Janganlah, gara gara ingin mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi, Indonesia kembali menjadi negara otoriter, seperti yang diinginkan beberapa pebisnis dan investor asing tersebut.  (*)

 

Tulisan terkait:

Paradigma Ekonomi Cenderung Untungkan  Pemodal

Bagaimana Investor Asing Melihat Indonesia?

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , ,

Perusakan Hutan dan Pertumbuhan Ekonomi

Aris Ananta

23 Desember 2011

Di Jakarta Post tanggal 23 Desember tertulis

“President Susilo Bambang Yudhoyono has warned international green
groups not to meddle in the country’s domestic affairs, saying that
their campaigns against forest destruction could hamper his
government’s efforts to lift people out of poverty.”

Kampanye melawan perusakan hutan akan merugikan usaha mengurangi kemiskinan? Benarkah Presiden RI percaya hal itu? Kemiskinan siapa? Kemiskinan pembabat hutan?

Presiden juga mengatakan “…..it was impossible for the government to meet the
demands by international NGOs to stop all palm oil companies from
operating in Indonesia, as it would destroy both the economy and the
livelihoods of many people”

Kalau kita memakai paradigma pertumbuhan ekonomi, apa yang dikatakan oleh Presiden memang tepat sekali.  Mungkin Presiden belum merasakan dampak langsung dari kerusakan hutan, dan kerugian yang diakibatkan dari perkebunan kelapa sawit.

Revolusi  paradigma pembangunan memang harus segera dilakukan, kalau generasi ini tidak mau dicatat sebagai generasi yang ikut memusnahkan lingkungan hidup semata demi pertumbuhan ekonomi jangka pendek.

Mari kita renungkan kembali paradigma pembangunan kita. (*)

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , ,

PARADIGMA-BARU PEMBANGUNAN EKONOMI*

Aris   Ananta

Depok, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 13 Desember 2011

Selama ini setiap laporan perekomian selalu dimulai dengan statistik  yang berkaitan dengan pendapatan nasional (GDP).  Contohnya, berapa persen pertumbuhan ekonomi, berapa pendapatan per kapita? Kemudian, bagaimana meningkatkan ekspor dan investasi asing agar pertumbuhan ekonomi meningkat dengan cepat?

Selain itu, sering muncul perdebatan apakah perbaikan lingkungan hidup mengganggu pertumbuhan ekonomi, apakah pelaksanaan good governance, termasuk pelaksanaan demokrasi, mengganggu pertumbuhan ekonomi.  Apakah usaha meningkatkan status kesehatan masyarakat bertentangan dengan usaha mempercepat pertumbuham ekonomi?

Dalam paradigma baru, yang saya tawarkan, kita membalik cara berpikir ini.  Pendapatan nasional, pertumbuhan ekonomi, dan pendapatan perkapita bukan tujuan pembangunan ekonomi. Pendapatan nasional, pertumbuhan ekonomi, dan pendapatan per kapita sekedar salah satu  alat untuk mencapai tujuan pembangunan.  Pertumbuhan ekonomi merupakan alat yang penting, namun bukan satu satunya alat.  Dengan kata lain,   pertumbuhan ekonomi  bukan pengukur tujuan pembangunan. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, poverty, statistics, , , , , , , , , ,

SELAMAT TINGGAL PERTUMBUHAN

Aris   Ananta

Untuk  KOMPAS, 13  Juni 2011

            Era Baru telah tiba! Tanggal 24 Mei 2011  perkumpulan negara maju yang bertujuan memajukan pertumbuhan ekonomi dan perdagangan internasional, Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan, mendeklarasikan  Indeks Kebahagiaan.

           Luar biasa.Suatu revolusi besar dalam kebijakan ekonomi yang selama ini  bertumpu pada pertumbuhan ekonomi. Lebih hebat lagi, deklarasi dilakukan oleh  Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD)yang amat bergengsi. Sejak organisasi ini didirikan tahun 1961, pertumbuhan ekonomi selalu menjadi  ukuran  utama keberhasilan perekonomian and sosial.

            OECD secara resmi menyatakan selamat tinggal kepada pertumbuhan ekonomi (pertumbuhan pendapatan bruto kotor/GDP) sebagai pengukur pembangunan. Mereka memperkenalkan Your Beter Life Index, suatu indeks pengganti produk domestik bruto (pendapatan nasional). Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, statistics, , , , , , , , , , ,



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin. Click here to find out more about them.

We are researchers in the field of demography, social and economic statistics, and economics, focusing on Indonesia and Southeast Asia. Click here to find out more about OUR PUBLICATION .<br

Our research interest is the intersection of:

Categories

Archives

Visitors

  • 120,759

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 93 other followers