Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Apa Arti Pertumbuhan Ekonomi 5,01 persen?

Aris Ananta

Mletiko, 6 November 2014

BPS baru baru ini mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan ke-3 tahun 2014 sebesar 5,01 persen. Artinya, dibanding dengan triwulan ke-3 tahun 2013, pendapatan nasional yang diukur dengan GDP naik dengan 5,01 persen.

Bloomsberg mengatakan bahwa angka ini lebih rendah dari 5,10 persen yang merupakan hasil survey yang dilakukan oleh Bloomsberg terhadap 26 ekonom.

Benarkah lebih rendah? Taksiran 26 ekonom itu memakai interval berapa? Taksiran BPS memakai interval berapa? Perbedaan dengan angka BPS sebesar 0,09 percentage point. Kalau angka 0,09 kita bandingkan dengan 5,10, perbedaannya adalah 1,8 persen. Dalam bahasa statistik, kita selalu bertanya, ini significant? Ini benar benar berbeda? Semua tergantung tingkat kesalahan 26 ekonom yang disurvey tersebut dan tingkat kesalahan yang dilakukan oleh BPS.

Lagipula, jawaban para ekonom itu merupakan harapan mereka, atau antisipasi mereka? Katakanlah perbedaan antara 5,01 dan 5,10 itu significant secara statistik. Lalu, siapa yang “salah”? Ini bukan pertanyaan yang mudah dijawab.

Ini bukan “cuma” angka, karena dapat mempunyai arti besar. Kita perlu lebih banyak statistikawan ekonomi, yang mau masuk lebih dalam ke arti statistik ekonomi dan perubahannya. (*)

Advertisements

Filed under: Bahasa Indonesia, statistics, ,

UKURAN KEKAYAAN NASIONAL

Aris Ananta

Seputar Indonesia, 24 Mei 2012

 

Pasar keuangan dunia, termasuk Asia Tenggara, guncang lagi. Akankah pasar keuangan dunia jatuh drastis lagi seperti pada 2009? Kita ingat bahwa krisis global pada 2009 segera secara cepat menjalar ke seluruh dunia garagara bangkrutnya Lehman Brothers di Amerika Serikat.
Kini ada kemungkinan pemerintah Yunani akan bangkrut, dan diikuti dengan kebangkrutan negara lain seperti Spanyol, Italia, dan Portugal. Kebangkrutan empat negara ini dapat mengguncang perekonomian Eropa yang kemudian berdampak pada perekonomian dunia. Kalau pada 2009 Indonesia dapat menghindar dari dampak yang luar biasa dari krisis global, akankah Indonesia mampu mengulangi prestasi ini?

Pada 2009, ketika banyak negara mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi yang dahsyat, bahkan banyak yang mengalami pertumbuhan ekonomi negatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya menurun sedikit,masih mencapai 4,5%.Kalau krisis global (yang kedua, setelah yang pertama pada 2009) benar-benar terjadi tahun ini, bisakah pertumbuhan ekonomi dipertahankan pada 4,5% atau bahkan lebih?

Namun, tulisan ini tidak akan membahas berapa persen pertumbuhan ekonomi Indonesia kalau krisis global kedua benar-benar terjadi. Ada hal yang jauh lebih penting untuk diperhatikan dalam memahami perekonomian Indonesia: benarkah pertumbuhan ekonomi pengukur utama pembangunan ekonomi kita? Saat ini sudah makin banyak ekonom di dunia yang merasakan kekecewaan pada pertumbuhan ekonomi sebagai pengukur utama pembangunan ekonomi.

Para ekonom dunia seperti Joseph Stiglitz,Amartya Sen, dan Jean-Paui Fitoussi pada 2009 telah menghasilkan laporan yang menyarankan alternatif pengukuran pembangunan ekonomi—bukan dengan pertumbuhan ekonomi. OECD (organisasi ekonomi negara kaya),yang dibentuk pada 1961 dengan tujuan melanggengkan pertumbuhan ekonomi di negara anggota mereka,pun sejak 2010 telah menggunakan 11 indikator,bukan hanya pertumbuhan ekonomi, untuk mengukur kemajuan perekonomian mereka.

Bulan depan,Juni 2012,Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan menyelenggarakan konferensi mengenai Pembangunan yang Berkelanjutan (Sustainable Development) di Rio de Janeiro, Brasilia. Pada konferensi yang juga disebut dengan Rio+20 Conference pada 2012 akan disampaikan hasil penelitian mengenai kekayaan nasional yang inklusif (inclusive wealth).

Dalam laporan ini diperlihatkan ketidakpuasan para penulis terhadap indikator konvensional seperti produksi domestik bruto (gross domestic product) yang hanya melihat sisi produksi. Produk domestik bruto merupakan pengukuran jangka pendek. Mungkin saja suatu saat pendapatan tinggi, tetapi tidak berkelanjutan. Karena itu,mereka menyatakan perlunya mengukur kekayaan suatu negara, bukan sekadar pendapatan.

Mereka memberi contoh, ada negara yang pertumbuhan ekonominya tinggi, tetapi sumber daya alamnya habis dengan cepat.Kalau kita mengukur keberhasilan pembangunan ekonomi dengan kekayaan, negara itu tidak perlu berbangga dengan pertumbuhan ekonominya yang tinggi karena kekayaan mereka (dalam hal ini sumber daya alam) habis dengan cepat. Banyak negara, termasuk Indonesia,yang bangga dengan sumber daya alam mereka.

Mereka “pasarkan” sumber daya alam itu ke pasar dunia agar menarik investasi di sumber daya alam. Akibatnya, investasi asing meningkat luar biasa. Ekspor sumber daya alam meningkat dengan amat cepat.Pertumbuhan ekonomi melaju. Sialnya, suatu saat, sumber daya alam itu habis,dan masyarakat di negara itu tidak dapat lagi menikmati sumber daya alam yang berlimpah karena telah habis diekspor.

Di pihak lain, pengukuran kekayaan memperhatikan apa yang terjadi sekarang dan masa mendatang.Pembangunan ekonomi bukan mempercepat pertumbuhan ekonomi masa kini tanpa memperhatikan apa yang terjadi di masa depan, untuk generasi anakcucu- cicit. Dalam laporan yang sedang disiapkanuntukkonferensiPBB pada Juni itu terdapat empat macam modal untuk mengukur kekayaan.

Pertama,modal alam, yang mencakup semua sumber daya alam,tanah,dan lingkungan. Kedua, modal konvensional, yaitu modal yang diproduksi seperti bangunan dan mesin. Ketiga, modal manusia, yang terdiri atas berbagai hal seperti pendidikan dan kesehatan.Keempat, modal sosial yang mencakup berbagai hal seperti kelembagaan dan jaringan kerja.

Empat modal tersebut harus diukur untuk mengetahui kekayaan suatu daerah/negara. Untuk mengukur keberhasilan pembangunan, statistik kekayaan per kapita harus digunakan untuk mengganti statistik pendapatan per kapita; dan kenaikan kekayaan menjadi pengganti pertumbuhan ekonomi. Laporantersebutakanmenggambarkan jumlah dan perubahan kekayaan 20 negara di dunia,yang mencakup 72% dari seluruh pendapatan nasional di dunia dan 56% penduduk dunia selama19 tahun.

Brasil dan India, sebagai contoh,mengalami pertumbuhan ekonomi yang cepat, tetapi dengan biaya yang besar pula selama 1990–2008. Pada masa itu modal alam menurun dengan 25% di Brasil dan 31% di India. Indonesia belum termasuk negara yang dibahas dalam laporan tersebut.Ada baiknya, Indonesia mengambil inisiatif untuk segera menghitung kekayaan Indonesia pada tingkat nasional, provinsi, dan kota/ kabupaten. Statistik ini dapat digunakan untuk pengganti pendapatan nasional.

Dengan kata lain,kemajuan pembangunan Indonesia diukur dengan peningkatan kekayaan dan kekayaan per kapita, bukan pertumbuhan pendapatan dan pendapatan per kapita. Selanjutnya, dalam usaha mengurangi dampak negatif krisis global kedua yang mungkin terjadi, Indonesia tidak perlu berfokus pada pertumbuhan pendapatan nasional. Sebaliknya, Indonesia sebaiknya menitikberatkan pada peningkatan kekayaan (yang diukur dengan empat modal tadi).

Krisis keuangan dan ekonomi dunia ini justru dapat digunakan sebagai momentum yang tepat untuk mengganti pengukuran pembangunan ekonomi di Indonesia. Pergantian pengukuran ini juga berarti pergantian kebijakan pembangunan ke arah pembangunan yang berkelanjutan. Kita tidak perlu kaget dan marah kalau dengan statistik kekayaan ini ternyata pembangunan Indonesia tidak sehebat yang dibayangkan dengan statistik pendapatan nasional.

Kita memang sedih, tetapi statistik ini akan lebih mampu memperlihatkan apa yang telah terjadi sehingga perekonomian Indonesia dapat maju secara berkelanjutan. (*)

 

Tulisan terkait:

Orang Indonesia Makin Kaya?

UN’s Revolution on Measuring Development

Perusakan Hutan dan Pembangunan Ekonomi

Your Better Life Index

Indonesian Economy: entering a new era

Pembangunan Tanpa Pendapatan Nasional

The Statistical Revolution is Finally Here

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, poverty, statistics, , , , , , , , , , ,

Pembangunan Tanpa Pendapatan Nasional?

11 Januari  2011

Para Pengunjung Mletiko yang baik,

Mungkinkah kita mengukur pembangunan nasional tanpa menggunakan statistik pendapatan? Menurut UNDP (United Nations Development Programme), memang mestinya begitu.

HDI (Human Development Index) selama ini diukur dengan tiga komponen: pendidikan, kesehatan, dan pendapatan. Namun, dalam Human Development Report 2010, UNDP juga menghitung HDI tanpa pendapatan. Dengan kata lain HDI hanya dihitung dari kesehatan dan pendidikan. UNDP berpendapat bahwa pendapatan hanyalah sarana, bukan tujuan,  dalam mencapai tujuan pembangunan.   Ini revolusi pemikiran ekonomi yang besar.

Selengkapnya, dapat dibaca tulisan berikut ini.

http://hdr.undp.org/en/humandev/lets-talk-hd/

Untuk mendapatkan Human Development Report 2010  secara lengkap dan gratis, silakan click

http://hdr.undp.org/en/reports/global/hdr2010/

Baca juga  https://mletiko.com/2011/01/11/beban-ekonomi-pengeroposan-penduduk/

Selamat menikmati.

Salam,

Aris Ananta

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , ,

MENGAPA CHINA MENGIMPOR BATUBARA DARI INDONESIA?

Aris  Ananta

Seputar  Indonesia, 7  September 2010

China bukan saja mengimpor (membeli) batu bara dari Indonesia, mereka juga berinvestasi di sektor penggalian batu bara di Indonesia.

Mereka juga berminat melakukan berbagai macam investasi untuk memudahkan mendapatkan batu bara dari Indonesia. Apakah mengalami kekurangan persediaan batu bara? Atau mereka punya niat baik membantu perekonomian Indonesia melalui peningkatan ekspor dan investasi asing (foreign direct investment/ FDI)? Bukan itu alasannya. Alasan yang benar: mereka tidak ingin merusak lingkungan mereka sendiri dengan peningkatan penggalian batu bara yang luar biasa.Mereka membutuhkan batu bara untuk mendorong peningkatan ekonomi mereka yang luar biasa, maka mereka memutuskan untuk mencari dan menggali batu bara dari negara lain, termasuk Indonesia dan Vietnam. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , , , , , ,

Investasi Asing, Ekspor, dan Pendapatan Nasional

Aris  Ananta

SEPUTAR    INDONESIA, 13  April  2010

Mengapa suatu negara tetap miskin dan sulit maju? Ada yang mengatakan bahwa agar suatu perekonomian maju, masyarakat di perekonomian itu harus mampu melakukan investasi. Namun, rakyat di negara miskin tidak punya tabungan.
Karena tidak mempunyai tabungan, mereka tidak dapat berinvestasi. Karena tidak dapat berinvestasi, mereka tetap miskin. Lingkaran seperti ini sering disebut dengan perangkap kemiskinan. Oleh sebab itu, menurut teori ini, cara keluar dari perangkap kemiskinan adalah mendatangkan investasi dari luar masyarakat itu sendiri. Artinya perlu investasi asing. Dengan masuknya investasi asing, kesempatan menaikkan pendapatan dan keluar dari kemiskinan dapat meningkat. Penyelesaian lain untuk keluar dari perangkap kemiskinan adalah melalui keluarga berencana. Keluarga di negara miskin biasanya mempunyai banyak anak.  Akibatnya, konsumsi terlalu tinggi, sehingga tak ada yang ditabung. Dengan keluarga berencana, pengeluaran untuk anak dapat dikurangi.

Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , , , ,



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin. Click here to find out more about them.

We are researchers in the field of demography, social and economic statistics, and economics, focusing on Indonesia and Southeast Asia. Click here to find out more about OUR PUBLICATION .<br

Our research interest is the intersection of:

Categories

Archives

Visitors

  • 142,284

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 93 other followers