Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

THE STATISTICAL REVOLUTION IS FINALLY HERE

Aris  Ananta

For The Jakarta Globe, 2 December  2010

World elites have gathered in Cancun, Mexico, to discuss solutions to the accumulating problems of rapid climate change. Some are pessimistic that this round of talks will result in concrete binding agreements. However, I see light in this gathering of world political power because of some important changes in, of all things, the world of statistical measurement. The influential World Bank has begun a revolution in the development paradigm by changing the way development is measured.

This is not only a statistical improvement, but a radical reorientation that overhauls not just the metrics but the way development is seen in mainstream economics with potentially far-reaching consequences. Read the rest of this entry »

Advertisements

Filed under: economy, English, statistics, , , , , , , , , , , , ,

PAKET STIMULUS UNTUK SIAPA?

Aris  Ananta

Seputar Indonesia,  6 Juli 2010

PERLUKAH paket stimulus? Karena semua negara telah memberikan paket stimulus saat terjadinya krisis global baru-baru ini pertanyaannya diubah, “Masih perlukah paket stimulus tersebut?” Itulah yang antara lain yang terjadi dalam sidang G-20 di Toronto, Kanada, baru lalu.
Perdebatan lama dengan warna baru. Sebelum depresi besar pada 1930-an, pemikiran ekonomi dikuasai oleh mereka yang amat percaya kekuatan pasar. Pemerintah dinilai tidak boleh campur tangan dalam perekonomian. Semakin sedikit campur tangan pemerintah, semakin baiklah perekonomian. Mereka percaya bahwa ekonomi akan membaik dengan sendirinya manakala terjadi resesi bahkan depresi.Namun, depresi besar tersebut telah menimbulkan pemikiran radikal yang dipelopori Keynes, yang akhirnya menghasilkan apa yangkinidisebut “ekonomimakro”. Keynes berpendapat bahwa depresi tidak akan dapat diselesaikan tanpa campur tangan pemerintah. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , ,

Widjojo Nitisastro and changes to development paradigms

The Jakarta Post
Sunday, January 31, 2010

Aris Ananta, Contributor, Jakarta

Widjojo Nitisastro is a humble man, not well known outside his circle. However, quietly, he made a very important contribution to the Indonesian economy, as the main architect of the Indonesian economy at the beginning of the New Order in 1966.

A book of his notes, Pengalaman Pembangunan Indonesia. Kumpulan Tulisan dan Uraian Widjojo Nitisastro (Indonesian Development Experiences. A Collection of Writing and Notes of Widjojo Nitisastro), was launched in Jakarta on Jan. 14.

Times change, and so do issues and challenges. In turn, paradigms must change too. History shows that crises often force us to adopt paradigm changes. Unfortunately, not all crises result in paradigm changes. Without paradigm changes, deeper and longer crises may occur. This phenomenon is also observed in the history of economic ideas. Read the rest of this entry »

Filed under: economy, English, publications, , , , , , , , ,

PERUBAHAN PARADIGMA PEMBANGUNAN: WIDJOJO NITISASTRO

Aris Ananta

Pada tanggal 14 Januari 2010 yang lalu telah diluncurkan buku Pengalaman Pembangunan Indonesia. Kumpulan Tulisan dan Uraian Widjojo Nitisastro di Jakarta. Widjojo Nitisasarto adalah tokoh ekonomi yang menjadi arsitek perubahan paradigma sistem perekonomian Indonesia pada pertengahan 1960an. Menarik untuk sedikit menyimak apa yang terjadi pada saat itu.

Paradigma pembangunan selalu dan harus berubah dari waktu ke waktu, sesuai dengan tuntutan jaman dan permasalahan. Terjadinya krisis yang besar sering dan memaksakan munculnya paradigma baru. Tanpa paradigma baru, krisis yang sama dan lebih besar akan terjadi lagi.

Demikian juga dalam pemikiran ekonomi. Di tahun 1930-an J. M. Keynes telah melakukan revolusi dalam paradigma pemikiran ekonomi. Revolusi pemikirannya, setelah dikuantifikasikan oleh Samuelson dan kawan kawan, kemudian menjadi terkenal dengan yang disebut Teori Ekonomi Makro, yang kini diajarkan di seluruh dunia.

Pada saat itu sedang terjadi krisis ekonomi yang amat besar, yang sering disebut dengan Great Depression. Negara kaya seperti Amerika Serikat dan Eropa terjerembab dalam kesulitan ekonomi yang besar. Saat itu paradigmanya adalah peran pemerintah yang sekecil kecilnya. Saat itu, para ekonom mempercayakan kegiatan ekonomi sepenuhnya pada kekuatan pasar. Ekonomi yang menurun, menurut paradigma saat itu, akan pulih dengan sendirinya. Ekonomi yang memanas akan dengan sendirinya kembali normal, asalkan pemerintah tidak ikut campur tangan. Namun, di tahun 1930-an itu, ekonomi yang terus menurun tidak kunjung baik, dan bahkan dari masa ke masa, keadaan ekonomi makin parah.

Di saat seperti itu lah muncul J. M Keynes, yang memperkenalkan paradigma baru, bahwa pemerintah harus turun tangan untuk mengatasi krisis saat itu. Pemerintah harus menciptakaan permintaan, harus mengeluarkan uang, agar ekonomi tumbuh lagi. Di jaman sekarang, pemikiran ini dikenal dengan istilah stimulus package.

Namun , usaha J. M Keynes ini tidak begitu saja diimplementasikan. Dukungan kuat dari tokoh politik sangat perlu untuk mengimplementasikan perubahan paradigma pemikiran. Baru dengan dukungan penuh dari Franklin D. Roosevelt, presiden Amerika Serikat waktu itu, pemikiran Keynes dijalankan. Dan sejak saat itu, ekonomi Amerika Serikat dan dunia, segera mengalami pemulihan. Ekonomi dunia kemudian mengikuti paradigma pasar dengan campur tangan pemerintah.

Namun, tidak semua negara mengikuti paradigma pasar dengan campur tangan pemerintah. Negara yang menganut sistem sosialis/ komunis cenderung tidak mempercayai penggunaan mekanisme pasar sama sekali. Mereka percaya bahwa semua kegiatan ekonomi diatur oleh pemerintah pusat. Contoh paling jelas adalah apa yang dilakukan oleh Uni Soviet (sebelum pecah menjadi banyak negara). Pusat lah yang menentukan semua kegiatan ekonomi sampai pada unit mikro yang terkencil. Harga tidak berperan dalam mengalokasi barang dan jasa.

Indonesia sebelum tahun 1966 juga cenderung menggunakan sistim perencanaan terpusat, yang mengabaikan mekanisme pasar. Ditambah dengan situasi ”perang” melawan Amerika Serikat, Inggris, dan negara tetangga (Malaysia dan Singapura), situasi ekonomi di awal 1960s sangat kacau. Telah terjadi hiper-inflasi, kenaikan harga yang amat cepat. Rata-rata harga di Desember 1965 tujuh kali lipat rata rata harga di Desember 1964. Bayangkan. Pada bulan Desember 1964, sejumlah uang dapat menghidupi suami istri dengan lima orang anak. Namun, dengan harga yang menjadi tujuh kali lipat, uang yang sama itu hanya dapat membiayai satu anggota keluarga.

Di saat itu lah muncul paradigma baru untuk perekonomian Indonesia. Pada tanggal 10 Agustus 1963, Prof. Dr. Widjojo Nitisastro dalam pengukuhannya sebagai guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menyampaikan pidato yang berjudul ”Analisa Ekonomi dan Perencanaan Pembangunan”. Kalau di saat ini mahasiswa ekonomi Fakultas Ekonomi UI membaca pidato ini, mungkin mereka akan merasa bahwa yang disampaikan oleh Widjojo Nitisasatro tidak hebat, biasa biasa saja. Mereka semua, para mahasiswa itu, tentu sudah amat faham dengan yang disampaikan dalam pidato itu.

Namun, kita perlu melihat situasi yang terjadi di awal tahun 1960-an. Widjojo Nitisastro dan kawan kawan di Fakultas Ekonomi UI menghadapi situasi yang jauh berbeda dengan saat ini. Kekuasaan politik saat itu sangat curiga pada Amerika Serikat, sementara Widjojo dan kawan kawan menyelesaikan studinya di Amerika Serikat. Lebih lanjut, Widjojo menyarankan perubahan paradigma. Di jaman itu politik adalah panglima. Sukarno, presiden Indonesia waktu itu, tidak menghargai analisis ekonomi. Dalam suasana seperti itulah, dalam pidatonya, Widjojo Nitisastro menyarankan pentingnya analisis ekonomi untuk Indonesia. Lebih lanjut, Widjojo Nitisastro memperkenalkan penggunaan mekanisme pasar dalam kebijakan pembangunan Indonesia. Ia tidak menyerahkan kepada pasar sepenuhnya, tetapi bagaimana mengkombinasikan perencanaan dari pemerintah pusat dan kekuatan pasar.

Pada saat sekarang ini, tentu saja, analisis ekonomi dan penggunaan pasar sudah menjadi barang tiap hari, dan bukan barang baru lagi untuk Indonesia. Namun, saat itu, memperkenalkan analisis ekonomi dan penggunaan pasar merupakan tabu politik.

Kalau Keynes memperkenalkan peran serta pemerintah kepada dunia yang percaya sepenuhnya ke pasar pada tahun 1930-an, Widjojo memperkenalkan sistem pasar pada perencanaan pembangunan. Keduanya melakukan kombinasi pasar dan campur tangan pemerintah. Widjojo Nitisastro boleh dikatakan sebagai seorang Keynesian, pengikut pemikiran Keynes.

Seperti halnya dengan J. M. Keynes, ide Widjojo Nitisastro juga sulit diterapkan karena pada saat itu tak ada dukungan dari elit politik. Bukan hanya tak ada dukungan, bahkan, saat itu, elit politik memusuhi Widjojo Nitisstro dan ide idenya. Baru kemudian, setelah terjadi perubahan politik, dari Sukarno ke Suharto, ide perubahan paradigma tersebut mendapat dukungan politik. Suharto mendukung penuh ide Widjojo Nitisastro. Bahkan, akhirnya, sebagian besar Ketetapan MPRS Nomor XXIII/ 1966 yang kemudian menjadi landasan hukum pembangunan ekonomi Indonesia di awal Order Baru, berasal dari ide Widjojo Nitisastro dan kawan kawan di Fakultas Ekonomi UI. Tentu saja, di jaman sekarang, pemikiran tersebut bukanlah hal yang luar biasa, seperti juga bahwa pemikiran Keynes sudah menjadi hal yang sehari hari bagi para ekonom dan mahasiswa ekonomi.

Kemampuan dan keberanian Widjojo Nitisastro untuk memulai sesuatu yang baru tidak bermula di tahun 60-an. Dalam penulisan disertasinya, Widjojo Nitisastro juga melakukan sesuatu yang waktu itu masih amat langka. Disertasinya (tahun 1961) berjudul ”Migration, Population Growth, and Economic Development: a Study of the Economic Consequences of Alternative Pattern of Inter-island Migration”. Selain disertasi, studi Widjojo Nitisastro mengenai demografi juga menghasilkan buku Population Trends in Indonesia, yang kemudian menjadi amat terkenal dalam kepustakaan demografi di Indonesia.

Di jaman sekarang, mahasiswa demografi akan merasakan bahwa kedua karya ini sebagai “biasa biasa” saja, karena mereka, saat ini, telah sangat terbiasa dengan apa yang dilakukan Widjojo Nitisastro dalam dua buku tersebut. Namun, saat itu, di akhir 1950-an dan awal 1960-an, data demografi teramat langka, terutama untuk Indonesia. Widjojo memasuki hutan demografi tanpa angka, dan ia mulai merintis mengumpulkan dan menghasilkan angka.

Kemudian, setelah Widjojo Nitisastro menjadi Ketua Tim Bidang Ekonomi dan Keuangan dari Staf Pribadi Ketua Presidium Kabinet Republik Indonesia, di era politik di bawah Suharto, pada tahun 1996, hasil karya demografi tersebut dikembangkan oleh Lembaga Demografi, Fakultas Ekonomi UI, yang didirikan antara lain oleh Widjojo Nitisastro. Kemudian, data demografi tersebut menjadi dasar yang amat penting dalam perencanaan pembangunan Indonesia.

Jaman sekarang, situasi, permasalahan, dan tantangan sudah jauh berbeda dengan apa yang terjadi di jaman J. M. Keynes, tahun 1930-an, dan jaman Widjojo Nitisastro, tahun 1960-an. Namun, satu hal yang masih relevan: perubahan paradigma selalu diperlukan, untuk menghadapi situasi, permasalahan, dan tantangan yang berbeda, terutama di saat krisis.

Berbagai krisis yang melanda dunia, dan Indonesia, akhir akhir ini tampaknya juga memerlukan perubahan paradigma. Adakah paradigma baru dan apakah elit politik akan mendukung paradigma baru? Indonesia, sebagai anggota G-20, dapat memberikan sumbangan pemikiran perubahan paradigma pemikiran ekonomi untuk kepentingan global, termasuk Indonesia. Bedanya, kalau di jaman J. M Keynes dan Widjojo Nitisastro para ekonom dapat bekerja sendirian dalam pembuatan paradigma baru, di jaman sekarang, paradigma baru harus merupakan pemikiran yang inter-disiplin, yang harus melibatkan pemikiran di banyak disiplim ilmu pengetahuan, bukan hanya ilmu ekonomi.

Buku ini sungguh layak untuk dibaca dan dipahami. Banyak hal lain menarik dari buku ini.

(20 Januari 2010)

Baca juga  Widjono Nitisasatro and Changes in Development Paradigm

Baca lebih lanjut mengenai Widjojo Nitisastro

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, Uncategorized, , , , , , ,

In Need of Revolutionary Ideas

Aris Ananta

J. M. Keynes, an economist, made a revolution to the ideas and teaching of economics in the 1930s. Because of him, we now know “macro-economics”, which has been taught everywhere in the world, including Indonesia. It is a must for everybody who learns economics, including a very short introduction to economics.

Economic paradigms have always changed following the world crises. That is what Keynes did in 1930s. The main-stream economics until 1930s was that of no government intervention. Government intervention was a taboo. Yet, the great depression had shown that the government had to intervene, to boost aggregate demand through increased government spending. This is what is currently famous as “stimulus package”, the main message in his famous book General Theory of Employment, Interest, and Money, published in 1936, that the government must intervene to bring the economy out of thendepression. Since then, there had been an increasing number of Keynesian economists.

In the last two decades, pioneered by Margaret Thatcher and Ronald Reagan, the mainstream economists have again been dominated by those who saw government intervention as a taboo. The spirit of pre-great depression had overwhelmed everybody everywhere in the world.

However, Keynes seems to have emerged from the grave during the recent world recession, along with his so many disciples and new converts. Almost all countries are now engaged in economic stimulus packages. Even, some countries have felt the pressure to increase their stimulus package, otherwise they may be seen as odd or weird countries.

Keynes has revolutionized economics theory and reformed world economic policies. However, today world architecture is very different from that of Keynes. This time, the issue does not deal with economics alone. It has political, social, and business aspects. Inter-disciplinary groups of scholars need to work toward a new development paradigm. Even, within the Faculty of Economics, there should be close interaction among those in the department of economics, department of management, and department of accountancy. Are there courses which integrate “micro” and “macro” views on economic development? Are there courses which see economic development from a wider perspective, by considering the traditionally called “non-economic factors”?

One urgent need is to re-examine the growth orientation in the teaching of macro-economics. The main dependent variable in the established macro-economics is income—how to increase national income. Keynes’ ideas are also in the tradition of how to increase income or stimulate growth.

An alternative to the growth model is the one which does not put economic growth as the most important indicator of development. In this model, economic growth (and income per capita) is only one of many other important inputs in development. Economic growth is not the objective of development. Economic growth (and increase in income) should not be the main dependent variable in macro-economic analysis.

Sen (1999), for example, argued that development should not be measured with narrow indicators such as rising gross national product, industrialization, technological progress, and social modernization. All of these are important, but they are simply means of achieving broader, and more important, goals of development. Sen saw development as a process of the expansion of the real freedom enjoyed by the people. With Sen’s approach, the conventional macro economic variables are simply means of development. In other words, most text books on macro-economics do not actually talk about development, but only deal with some important means of development.

Therefore, during the recent crisis, each country should also try to find its own solution, to first help its own economy, rather than relying on and blaming external factors. This is the time to re-examine conventional ideas and to re-create revolutionary ideas, as Keynes did in 1930s.

However, the world has been experiencing an unprecedented global crisis that never happened after the great depression. This time, we need more than one Keynes. We need a group of people from various disciplines to come up with a revolutionary development paradigm.
Are we, economists, prepared to relearn economics, particularly macro-economics? Are we willing to consider “non-economic” variables such as health and education in our main stream economic analysis?

A colleague mocked me that I wanted to be a noble prize winner with this endeavour. I replied that, at my age and my capacity, a nobel prize winner is of course not in my reach. However, we should contribute something, whatever little it may be. I really hope I can mletik (“spark”) you to join the world wide effort to create a new development paradigm. Unlike in 1930s, we need more then one economist and, of course, we need non-economists.

13 September 2009

Filed under: English, Uncategorized, , , ,



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin. Click here to find out more about them.

We are researchers in the field of demography, social and economic statistics, and economics, focusing on Indonesia and Southeast Asia. Click here to find out more about OUR PUBLICATION .<br

Our research interest is the intersection of:

Categories

Archives

Visitors

  • 141,475

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 93 other followers