Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Mencari Orang Miskin: Bukan Tugas BPS

Aris Ananta

Mletiko, 2 September 2014

Beberapa tahun terakhir ini BPS (Badan Pusat Statistik) juga mendapatkan tugas untuk mencari siapa yang miskin, untuk dapat menentukan siapa yang berhak mendapatkan bantuan sosial. Artinya, BPS telah mencari informasi mengenai individu yang miskin. Dan data ini diberikan ke pemerintah untuk kepentingan pemerintah, dalam hal ini program kemiskinan.

Tugas ini sebenarnya bertentangan dengan asas “kerahasiaan” (confidentiality) dari semua survey/ sensus yang dilakukan oleh BPS dan semua lembaga survey lain. Kalau responden tidak percaya pada “kerahasiaan”, informasi di survey/ sensus dapat dipertanyakan. Kalau responden tahu bahwa data individu mereka dapat diketahui orang lain, termasuk pemerintah, mereka dapat tidak mau memberikan informasi yang sebenarnya.

Dalam tiap survey/ sensus, semua data individu diberi kode, sehingga pengguna tidak pernah tahu apa pun mengenai seorang responden. Pengguna tidak akan dapat mengetahui apakah tetangganya miskin atau tidak, atau tetangganya berpendidikan apa, dari data survey/ sensus yang hanya memakai kode untuk menandai responden. Petugas survey/ sensus juga wajib merahasiakan informasi mengenai kode tersebut, seperti seorang dokter yang tidak boleh menceriterakan penyakit pasiennya ke orang lain.
Seyogyanya, pemerintah yang baru jangan menugaskan BPS untuk mencari orang miskin. Biarkan BPS melakukan survey/ sensus yang benar, yang menjaga kerahasiaan, yang rahasia kodenya tak dapat diakses oleh siapa pun, termasuk presiden, menteri, hakim, anggota DPR, wartawan, dan peneliti. Dengan demikian, responden akan berani menjawab dengan jujur, dan kejujuran responden ini akan meningkatkan mutu data statistik kita. Akibatnya, kita akan dapat memperoleh potret Indonesia yang lebih baik.

Baca juga (*)

Advertisements

Filed under: Bahasa Indonesia, poverty, statistics, , , ,

Untuk Tim Transisi. Badan Pusat Statistik

Badan Pusat Statistik: Suatu Tonggak Informasi Independen

Aris Ananta
Mletiko, 13 September 2014

Saya kaget mendengar usul bahwa BPS (Badan Pusat Statistik) akan digabung dengan Kementerian Dalam Negeri dan Arsip Nasional Republik Indonesia. Alasannya, ketiga lembaga ini mempunyai misi yang sama. Menurut usulan ini, ketiga lembaga ini perlu digabung untuk menghemat biaya. Semoga apa yang saya dengar ini salah, dan BPS tetap independen seperti sekarang, langsung di bawah presiden. Misi BPS tidak sama dengan Misi Kementerian Dalam Negeri dan Misi Arsip Nasional Republik Indonesia.

Tugas BPS membantu seluruh penduduk Indonesia untuk dapat memahami keadaan mengenai Indonesia dengan benar, bukan sebagai alat pemerintah. BPS harus independen dari intervensi dan kepentingan pemerintah. Informasi yang dikumpulkan dan dikeluarkan oleh BPS harus independen, mencerminkan kondisi masyarakat yang sebenarnya, entah baik atau buruk untuk pemerintah. Independensi merupakan salah satu syarat penting yang harus dilakukan oleh BPS.

Syarat kedua, yang tidak kalah pentingnya, untuk mendapatkan informasi yang baik adalah “kerahasiaan” (confidentiality) responden. BPS harus dapat menjamin kerahasiaan data. Pemerintah atau kementerian apa pun harus menghargai prinsip kerahasiaan ini. Tak seorang pun mempunyai hak untuk mengetahui informasi individu seorang responden. Misalnya, BPS dapat menghitung berapa persen penduduk miskin di suatu kabupaten. Tetapi, BPS tidak boleh mengungkapkan bahwa si Didi adalah orang miskin, dan si Dadu orang kaya. Oleh sebab itu, data BPS tidak boleh digunakan untuk menentukan nama nama yang perlu bantuan kemiskinan, karena hal ini melanggar prinsip kerahasiaan. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, poverty, statistics, , , , ,

Perusakan Hutan dan Pertumbuhan Ekonomi

Aris Ananta

23 Desember 2011

Di Jakarta Post tanggal 23 Desember tertulis

“President Susilo Bambang Yudhoyono has warned international green
groups not to meddle in the country’s domestic affairs, saying that
their campaigns against forest destruction could hamper his
government’s efforts to lift people out of poverty.”

Kampanye melawan perusakan hutan akan merugikan usaha mengurangi kemiskinan? Benarkah Presiden RI percaya hal itu? Kemiskinan siapa? Kemiskinan pembabat hutan?

Presiden juga mengatakan “…..it was impossible for the government to meet the
demands by international NGOs to stop all palm oil companies from
operating in Indonesia, as it would destroy both the economy and the
livelihoods of many people”

Kalau kita memakai paradigma pertumbuhan ekonomi, apa yang dikatakan oleh Presiden memang tepat sekali.  Mungkin Presiden belum merasakan dampak langsung dari kerusakan hutan, dan kerugian yang diakibatkan dari perkebunan kelapa sawit.

Revolusi  paradigma pembangunan memang harus segera dilakukan, kalau generasi ini tidak mau dicatat sebagai generasi yang ikut memusnahkan lingkungan hidup semata demi pertumbuhan ekonomi jangka pendek.

Mari kita renungkan kembali paradigma pembangunan kita. (*)

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , ,

PARADIGMA-BARU PEMBANGUNAN EKONOMI*

Aris   Ananta

Depok, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 13 Desember 2011

Selama ini setiap laporan perekomian selalu dimulai dengan statistik  yang berkaitan dengan pendapatan nasional (GDP).  Contohnya, berapa persen pertumbuhan ekonomi, berapa pendapatan per kapita? Kemudian, bagaimana meningkatkan ekspor dan investasi asing agar pertumbuhan ekonomi meningkat dengan cepat?

Selain itu, sering muncul perdebatan apakah perbaikan lingkungan hidup mengganggu pertumbuhan ekonomi, apakah pelaksanaan good governance, termasuk pelaksanaan demokrasi, mengganggu pertumbuhan ekonomi.  Apakah usaha meningkatkan status kesehatan masyarakat bertentangan dengan usaha mempercepat pertumbuham ekonomi?

Dalam paradigma baru, yang saya tawarkan, kita membalik cara berpikir ini.  Pendapatan nasional, pertumbuhan ekonomi, dan pendapatan perkapita bukan tujuan pembangunan ekonomi. Pendapatan nasional, pertumbuhan ekonomi, dan pendapatan per kapita sekedar salah satu  alat untuk mencapai tujuan pembangunan.  Pertumbuhan ekonomi merupakan alat yang penting, namun bukan satu satunya alat.  Dengan kata lain,   pertumbuhan ekonomi  bukan pengukur tujuan pembangunan. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, poverty, statistics, , , , , , , , , ,

Indonesia Harus Berani Ubah Paradigma Pertumbuhan

Bisnis  Indonesia, 13  Desember  2011

 

DEPOK: Publik di  Indonesia harus mempelopori revolusi paradigma pembangunan di dunia, dengan tidak lagi menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan, melainkan alat untuk menciptakan tata kelola yang baik, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan.
Hal tersebut diungkapkan Senior Research Fellow Institute of Southeast Studies Singapore Aris Ananta dalam diskusi ekonomi yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, hari ini.
“Saya harap Indonesia berani mengubah paradigma pembangunan ekonomi. Bukan revolusi turun ke jalan, lewat facebook  atau twitter,  tapi revolusi pemikiran,” ujar Aris.
Dia mengkritik pola pengajaran ilmu ekonomi di seluruh dunia yang selalu menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai indikator utama keberhasilan pembangunan suatu negara. Sementara itu asumsi lainnya, seperti kemiskinan, pengangguran, good governance, dan kelestarian lingkungan hanya dijadikan bagian dari pada pembentukan PDB.
Baca selengkapnya  Indonesia Harus Berani Ubah Paradigma Pertumbuhan

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, poverty, statistics, , , , , , , , , , , , ,

Paradigma Ekonomi Cenderung Untungkan Pemodal

Jurnal Nasional, 14  Desember  2011

 

Pembangunan perekonomian Indonesia semesti lebih menitik beratkan keberpihakan kepada masyarakat miskin. Kesimpulan ini dirangkum dalam konferensi pers Indikator Ekonomi Baru yang berlangsung di Universitas Indonesia.

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Aris Ananta menilai paradigma ekonomi di Indonesia cenderung menguntungkan pemodal dan tidak memihak masyarakat miskin. “Tujuan pembangunan Indonesia adalah membangun manusia yang sejahtera. Tetapi yang terjadi sekarang malah sebaliknya,” ucapnya dalam konferensi pers Indikator Ekonomi Baru di Depok, Selasa (13/12).

Menurut dia, dalam paradigma ekonomi sekarang ini, pertumbuhan ekonomi dianggap sebagai tujuan pembangunan. Padahal indikator pertumbuhan ekonomi hanya satu alat untuk mencapai pembangunan manusia yang sejahtera.

 

Baca selengkapnya   Paradigma Ekonomi Cenderung Untungkan Pemodal

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, poverty, statistics, , , , ,

SELAMAT TINGGAL PERTUMBUHAN

Aris   Ananta

Untuk  KOMPAS, 13  Juni 2011

            Era Baru telah tiba! Tanggal 24 Mei 2011  perkumpulan negara maju yang bertujuan memajukan pertumbuhan ekonomi dan perdagangan internasional, Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan, mendeklarasikan  Indeks Kebahagiaan.

           Luar biasa.Suatu revolusi besar dalam kebijakan ekonomi yang selama ini  bertumpu pada pertumbuhan ekonomi. Lebih hebat lagi, deklarasi dilakukan oleh  Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD)yang amat bergengsi. Sejak organisasi ini didirikan tahun 1961, pertumbuhan ekonomi selalu menjadi  ukuran  utama keberhasilan perekonomian and sosial.

            OECD secara resmi menyatakan selamat tinggal kepada pertumbuhan ekonomi (pertumbuhan pendapatan bruto kotor/GDP) sebagai pengukur pembangunan. Mereka memperkenalkan Your Beter Life Index, suatu indeks pengganti produk domestik bruto (pendapatan nasional). Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, statistics, , , , , , , , , , ,



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin. Click here to find out more about them.

We are researchers in the field of demography, social and economic statistics, and economics, focusing on Indonesia and Southeast Asia. Click here to find out more about OUR PUBLICATION .<br

Our research interest is the intersection of:

Categories

Archives

Visitors

  • 142,284

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 93 other followers