Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

KRISIS GLOBAL: APA YANG HARUS KITA PERBUAT?

Aris Ananta

4 April 2012

Dunia dalam kondisi yang tidak menentu. Dalam waktu yang sama, kita semua akan menghadapi empat macam krisis global, yang bermuara dari masalah dan lokasi geografis yang berbeda-beda. Kesemuanya bersumber dari “keserakahan” manusia, yang dapat disebut sebagai krisis kemanusiaan. Manusia yang serakah tak pernah puas dengan apa yang mereka miliki. Untuk memperoleh apa yang mereka ingingkan, mereka tak peduli dengan dampak negatif pada lingkungan, pada masyarakat, bahkan pada keluarga dan dirinya sendiri. Keinginan mereka  terus meningkat dan makin sulit dipuaskan, walau telah melampaui kemampuan mereka  untuk membiayai konsumsi tersebut. Mereka berani berhutang dan mereka ini sasaran empuk para pemberi hutang.

Selanjutnya, silakan baca Krisis Global: Apa yang Harus Kita Perbuat?

Advertisements

Filed under: economy, , , , , , , , , , , ,

Indonesia Harus Berani Ubah Paradigma Pertumbuhan

Bisnis  Indonesia, 13  Desember  2011

 

DEPOK: Publik di  Indonesia harus mempelopori revolusi paradigma pembangunan di dunia, dengan tidak lagi menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan, melainkan alat untuk menciptakan tata kelola yang baik, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan.
Hal tersebut diungkapkan Senior Research Fellow Institute of Southeast Studies Singapore Aris Ananta dalam diskusi ekonomi yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, hari ini.
“Saya harap Indonesia berani mengubah paradigma pembangunan ekonomi. Bukan revolusi turun ke jalan, lewat facebook  atau twitter,  tapi revolusi pemikiran,” ujar Aris.
Dia mengkritik pola pengajaran ilmu ekonomi di seluruh dunia yang selalu menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai indikator utama keberhasilan pembangunan suatu negara. Sementara itu asumsi lainnya, seperti kemiskinan, pengangguran, good governance, dan kelestarian lingkungan hanya dijadikan bagian dari pada pembentukan PDB.
Baca selengkapnya  Indonesia Harus Berani Ubah Paradigma Pertumbuhan

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, poverty, statistics, , , , , , , , , , , , ,

Paradigma Pembangunan Ekonomi Dinilai Salah

Koran  Jakarta, 14 Desember 2011

DEPOK – Telah terjadi kesalahan paradigma dalam pembangunan ekonomi Indonesia, yakni menganggap pertumbuhan sebagai tujuan. Padahal, pertumbuhan hanyalah salah satu alat untuk mencapai pembangunan. “Seharusnya, paradigma yang dikembangkan adalah pembangunan ekonomi yang bertujuan untuk menyejahterakan rakyat,” kata Guru Besar FEUI Aris Ananta dalam acara “Research Day” FEUI di Depok, Selasa (13/12).

Baca selanjutnya di  Paradigma Pembangunan Ekonomi Dinilai Salah

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, statistics, , , , , ,

SELAMAT TINGGAL PERTUMBUHAN

Aris   Ananta

Untuk  KOMPAS, 13  Juni 2011

            Era Baru telah tiba! Tanggal 24 Mei 2011  perkumpulan negara maju yang bertujuan memajukan pertumbuhan ekonomi dan perdagangan internasional, Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan, mendeklarasikan  Indeks Kebahagiaan.

           Luar biasa.Suatu revolusi besar dalam kebijakan ekonomi yang selama ini  bertumpu pada pertumbuhan ekonomi. Lebih hebat lagi, deklarasi dilakukan oleh  Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD)yang amat bergengsi. Sejak organisasi ini didirikan tahun 1961, pertumbuhan ekonomi selalu menjadi  ukuran  utama keberhasilan perekonomian and sosial.

            OECD secara resmi menyatakan selamat tinggal kepada pertumbuhan ekonomi (pertumbuhan pendapatan bruto kotor/GDP) sebagai pengukur pembangunan. Mereka memperkenalkan Your Beter Life Index, suatu indeks pengganti produk domestik bruto (pendapatan nasional). Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, statistics, , , , , , , , , , ,

EKONOMI KERAKYATAN dan PARADIGMA PEMBANGUNAN

Pengantar

Belum lama ini seorang kawan, yang bukan seorang ekonom,  meminta saya untuk menulis mengenai ekonomi kerakyatan. Saya kemudian mengundang teman ini untuk mampir ke mletiko, karena semua tulisan saya sebenarnya bertumpu pada ekonomi kerakyatan, bukan pada ekonomi arus-utama. Walau begitu saya tidak pernah memakai istilah ekonomi kerakyatan. Saya lebih mengacu pada pembangunan yang bertumpukan tiga pilar utama, yang sama pentingnya: people centre development, environmentally friendly development, dan good governance.

Namun, saya kemudian menyadari bahwa tak satu pun tulisan saya di mletiko yang membahas paradigma ini secara utuh. Saya kemudian ingat tulisan saya di Radar Banjarmasin, pada tanggal 12 Maret 2008. Isi makalah ini saya sampaikan dalam suatu seminar di Banjarmasin yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat pada tanggal yang sama.

Tulisan tersebut dapat dibaca di  WacanaParadigmaPembangunan

Semoga tulisan ini  dapat menggugah kita semua untuk mempertajam wacana ini.

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, environment, , , , , , , ,

KEBIJAKAN dan PENGUKURAN PEMBANGUNAN EKONOMI

Aris Ananta

 

SEPUTAR   INDONESIA, 15  Juni  2010

Empat hari yang lalu, Karom — seorang ekonom yang bukan  orang Indonesia– berbincang santai, tetapi agak serius, dengan saya. Dia merupakan pemerhati masalah ekonomi-politik  global.  Dia juga mengikuti perkembangan ekonomi-politik  Indonesia, dan  kagum sekali pada Indonesia. Dia mengatakan, ekonomi Indonesia telah  tumbuh dengan baik dan sekarang masuk sebagai  anggota G-20 yang sangat berpengaruh pada kebijakan ekonomi dunia.   Menurut dia,  Indonesia berhasil dalam proses demokratisasi sehingga   Indonesia akan muncul menjadi negara Islam yang demokratis dan disegani di dunia. Ini semua, katanya, karena perekonomian Indonesia tumbuh dengan baik, ditambah dengan jumlah penduduk yang besar. Selain itu,  politik di Indonesia juga sudah baik, stabil, dan tenang tenang saja.

           Saya  menyela dan mengatakan, bahwa dari luar atau dari permukaan, politik  Indonesia terlihat tenang. Namun, sesungguhnya  di bawah permukaan, sedang terjadi pertarungan antar elite politik dan bisnis yang amat panas. Pertarungan antar kepentingan pribadi dan kelompok mempersiapkan  untuk Pemilu  2014.  Ada juga pertarungan antara mereka yang reformis dan mereka yang menikmati kondisi pemerintahan seperti sekarang. Berbagai pihak berusaha saling membuka “dosa” lawan lawan mereka. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, poverty, , , , , , , , , , ,

Integrasi Ekonomi Dalam Negeri dan Krisis Global

Aris  Ananta

SEPUTAR    INDONESIA, 25  Mei 2010

BANYAK krisis ekonomi dunia yang bermula dari krisis keuangan. Bukan tidak mungkin bahwa krisis keuangan di Eropa saat ini juga dapat diikuti krisis ekonomi. Kalau krisis keuangan di Eropa berkelanjutan, ekonomi Eropa akan menghadapi masalah. Akibatnya, impor dari Eropa akan menurun.

Negara yang banyak mengekspor ke kawasan itu juga akan ikut terganggu. Misalnya, China yang akan mengalami dampak besar karena banyak mengekspor ke Eropa. Keadaan ini dapat terus “menular”. Indonesia pun dapat terkena dampak krisis di Eropa ini melalui penurunan ekspor, baik yang secara langsung ke Eropa maupun ke negara lain yang banyak mengekspor ke Eropa.

Dalam krisis ekonomi global 2008-2009 lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia termasuk salah satu yang terbaik di dunia. Meski begitu, pertumbuhan ekonomi menurun karena ekspor yang juga menurun. Indonesia dapat bertahan dari krisis antara lain karena tidak terlalu bergantung pada ekspor.  Sektor ekonomi dalam negeri telah membantu Indonesia bertahan dari dampak krisis. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , ,



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin. Click here to find out more about them.

We are researchers in the field of demography, social and economic statistics, and economics, focusing on Indonesia and Southeast Asia. Click here to find out more about OUR PUBLICATION .<br

Our research interest is the intersection of:

Categories

Archives

Visitors

  • 142,284

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 93 other followers