Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Apa Arti Pertumbuhan Ekonomi 5,01 persen?

Aris Ananta

Mletiko, 6 November 2014

BPS baru baru ini mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan ke-3 tahun 2014 sebesar 5,01 persen. Artinya, dibanding dengan triwulan ke-3 tahun 2013, pendapatan nasional yang diukur dengan GDP naik dengan 5,01 persen.

Bloomsberg mengatakan bahwa angka ini lebih rendah dari 5,10 persen yang merupakan hasil survey yang dilakukan oleh Bloomsberg terhadap 26 ekonom.

Benarkah lebih rendah? Taksiran 26 ekonom itu memakai interval berapa? Taksiran BPS memakai interval berapa? Perbedaan dengan angka BPS sebesar 0,09 percentage point. Kalau angka 0,09 kita bandingkan dengan 5,10, perbedaannya adalah 1,8 persen. Dalam bahasa statistik, kita selalu bertanya, ini significant? Ini benar benar berbeda? Semua tergantung tingkat kesalahan 26 ekonom yang disurvey tersebut dan tingkat kesalahan yang dilakukan oleh BPS.

Lagipula, jawaban para ekonom itu merupakan harapan mereka, atau antisipasi mereka? Katakanlah perbedaan antara 5,01 dan 5,10 itu significant secara statistik. Lalu, siapa yang “salah”? Ini bukan pertanyaan yang mudah dijawab.

Ini bukan “cuma” angka, karena dapat mempunyai arti besar. Kita perlu lebih banyak statistikawan ekonomi, yang mau masuk lebih dalam ke arti statistik ekonomi dan perubahannya. (*)

Advertisements

Filed under: Bahasa Indonesia, statistics, ,

A New Tripple-Win Option for the Environment of the Poor

 

Mletiko, 30 November 2013

This is the title of Chapter 1 of the just published edited book The Environment of the Poor in Southeast Asia, East Asia, and the Pacific. The editors (Aris Ananta, Armin Bauer, and Myo Thant) concluded that there is no trade-off between poverty reduction, improving the quality of the environment, and climate change mitigation and adaptation. They argued that it is possible to have a triple-win option, to simultaneously reduce poverty and inequality, improving the quality of environment, and mitigating as well adapting to climate change.

To make this option implemented successfully, policy makers need to go beyond conventional growth-oriented economic development models. Policy makers should make a broader set of development indicators. This set of indicator should include reduction of poverty and inequality, improvement in the quality of environment, and better mitigation as well as adaption to climate change.

Policy makers should have strong and far-sighted public policies. Simultaneously, private sectors should be encouraged to invest in environmently friendly businesses.

The book provides empirical evidence and observations from sixteen case studies in Southeast and East Asia, and the Pacific. It argues that a spatial approach focussing on the environments in which the poor and vulnerable live would trigger changes for development policies and implementation that better balance environment and social concerns. The post-2015 development agenda should bring the environment and poverty agenda closer. (*)

This book emerged from a cooperation of the Asian Development Bank (ADB) with the Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) in partnership with experts from research institutes and think-tanks in the Asian region.

Filed under: economy, English, poverty, , , , , , , ,

YOUR BETTER LIFE INDEX

 

Dear  Friends,

A New Era Has Come! Say good bye to National Income (GDP).

Read the following

OECD Launches Your Better Life Index

 

 
Best regards,
 
Aris  Ananta 

Filed under: economy, English, statistics, , , , ,

Investasi Asing, Ekspor, dan Pendapatan Nasional

Aris  Ananta

SEPUTAR    INDONESIA, 13  April  2010

Mengapa suatu negara tetap miskin dan sulit maju? Ada yang mengatakan bahwa agar suatu perekonomian maju, masyarakat di perekonomian itu harus mampu melakukan investasi. Namun, rakyat di negara miskin tidak punya tabungan.
Karena tidak mempunyai tabungan, mereka tidak dapat berinvestasi. Karena tidak dapat berinvestasi, mereka tetap miskin. Lingkaran seperti ini sering disebut dengan perangkap kemiskinan. Oleh sebab itu, menurut teori ini, cara keluar dari perangkap kemiskinan adalah mendatangkan investasi dari luar masyarakat itu sendiri. Artinya perlu investasi asing. Dengan masuknya investasi asing, kesempatan menaikkan pendapatan dan keluar dari kemiskinan dapat meningkat. Penyelesaian lain untuk keluar dari perangkap kemiskinan adalah melalui keluarga berencana. Keluarga di negara miskin biasanya mempunyai banyak anak.  Akibatnya, konsumsi terlalu tinggi, sehingga tak ada yang ditabung. Dengan keluarga berencana, pengeluaran untuk anak dapat dikurangi.

Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , , , ,



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin. Click here to find out more about them.

We are researchers in the field of demography, social and economic statistics, and economics, focusing on Indonesia and Southeast Asia. Click here to find out more about OUR PUBLICATION .<br

Our research interest is the intersection of:

Categories

Archives

Visitors

  • 142,284

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 93 other followers