Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

AZAB DARI ASAP: SIAPA BERTANGGUNG-JAWAB?

Aris  Ananta

27  Juni 2013

Asap telah membaw azab, khususnya mereka yang terkena hembusan asap dari hutan/ perkebunan yang terbakar di Sumatra.  Azab itu makin terdengar nyaring ketika yang terkena adalah para elit.  Ketika asap menyelimuti Dumai, Riau, azab orang orang disitu tidak diketahui oleh orang orang di dunia, bahkan di Indonesia sendiri.  Kalau pun terdengar, perhatian tidak besar. Pemerintah Indonesia pun tidak memberikan perhatian yang memadai.

Namun, ketika masyarat di luar Indonesia, yang mempunyai kekuatan ekonomi dan politik yang besar,  terkena, perhatian masyarakat, termasuk di Indonesia, pun meningkat. Lihatlah berita dan diskusi di media Indonesia mengenai hal ini, setelah azab dari asap ini merambah ke negara lain. Read the rest of this entry »

Advertisements

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , ,

PARADIGMA-BARU PEMBANGUNAN EKONOMI*

Aris   Ananta

Depok, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 13 Desember 2011

Selama ini setiap laporan perekomian selalu dimulai dengan statistik  yang berkaitan dengan pendapatan nasional (GDP).  Contohnya, berapa persen pertumbuhan ekonomi, berapa pendapatan per kapita? Kemudian, bagaimana meningkatkan ekspor dan investasi asing agar pertumbuhan ekonomi meningkat dengan cepat?

Selain itu, sering muncul perdebatan apakah perbaikan lingkungan hidup mengganggu pertumbuhan ekonomi, apakah pelaksanaan good governance, termasuk pelaksanaan demokrasi, mengganggu pertumbuhan ekonomi.  Apakah usaha meningkatkan status kesehatan masyarakat bertentangan dengan usaha mempercepat pertumbuham ekonomi?

Dalam paradigma baru, yang saya tawarkan, kita membalik cara berpikir ini.  Pendapatan nasional, pertumbuhan ekonomi, dan pendapatan perkapita bukan tujuan pembangunan ekonomi. Pendapatan nasional, pertumbuhan ekonomi, dan pendapatan per kapita sekedar salah satu  alat untuk mencapai tujuan pembangunan.  Pertumbuhan ekonomi merupakan alat yang penting, namun bukan satu satunya alat.  Dengan kata lain,   pertumbuhan ekonomi  bukan pengukur tujuan pembangunan. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, poverty, statistics, , , , , , , , , ,

Indonesia Harus Berani Ubah Paradigma Pertumbuhan

Bisnis  Indonesia, 13  Desember  2011

 

DEPOK: Publik di  Indonesia harus mempelopori revolusi paradigma pembangunan di dunia, dengan tidak lagi menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan, melainkan alat untuk menciptakan tata kelola yang baik, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan.
Hal tersebut diungkapkan Senior Research Fellow Institute of Southeast Studies Singapore Aris Ananta dalam diskusi ekonomi yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, hari ini.
“Saya harap Indonesia berani mengubah paradigma pembangunan ekonomi. Bukan revolusi turun ke jalan, lewat facebook  atau twitter,  tapi revolusi pemikiran,” ujar Aris.
Dia mengkritik pola pengajaran ilmu ekonomi di seluruh dunia yang selalu menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai indikator utama keberhasilan pembangunan suatu negara. Sementara itu asumsi lainnya, seperti kemiskinan, pengangguran, good governance, dan kelestarian lingkungan hanya dijadikan bagian dari pada pembentukan PDB.
Baca selengkapnya  Indonesia Harus Berani Ubah Paradigma Pertumbuhan

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, poverty, statistics, , , , , , , , , , , , ,

The Indonesian Development Experience

20 September, 2011

Buku ini diluncurkan pada tanggal 23 September 2011, hari ulang tahun Pak Widjojo Nitisastro yang ke 84. Peluncuran buku dilakukan di Auditorium Soeria Atmadja FEUI, Depok, sebagai bentuk kerja sama antara Lembaga Demografi, Fakultas Ekonomi UI, dan Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS), Singapura. Beberapa pembicara dari berbagai generasi dihadirkan, yaitu Prof Arsjad Anwar, Dr. Thee Kian Wie, Prof Kartomo Wirusuhardjo, Dr. Nisasapti Triaswati, and Dr. Aris Ananta.

Dekan FEUI, Dr. Firmansyah, dalam sambutannya seperti diberitakan KOMPAS menyampaikan bahwa pak “Widjojo merupakan inspirasi bagi kalangan ekonom Indonesia. Semangatnya untuk terus membangun ekonomi Indonesia tak pernah lekang oleh waktu, dan terus menularkannya kepada generasi muda untuk menuntaskan pekerjaan itu.”

This book is a rich selection of speeches and writings of Professor Widjojo Nitisastro of the University of Indonesia, who has radically changed the command economy under Soekarno into development planning using economic analysis under Soeharto. He is one of the most respected and influential economists of the twentieth century. He is also the first Indonesian demographer. This background has contributed to his wide focus on development issues such as poverty, food security, education, health, and family planning. This book provides invaluable insight for all who are interested in Indonesia’s economic development. It is divided into six parts: Indonesia’s Development Plan; Implementation of Indonesian Development; Facing Economic Crises; Foreign Debt Management; Equity and Development; and Indonesia and the World.

 

Filed under: economy, English, , , , ,

LEBIH BANYAK UANG, LEBIH MAHAL KEBUTUHAN

Aris  Ananta

Untuk Indonesia Finance Today, 25 Mei 2011

Jika kita percaya bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita adalah cara terbaik untuk mengukur kemakmuran, maka Indonesia diproyeksikan menjadi negara yang lebih kaya. Tahun lalu, seperti yang ditunjukkan tabel, Produk Domestik Bruto per kapita Indonesia adalah US$ 3.000. Setiap hari rata-rata seorang warga negara Indonesia hidup dengan uang sekitar US$ 8,22 pada 2010. 

          Indonesia akan menjadi “lebih kaya” pada 2014 dengan Produk Domestik Bruto per kapita sebesar US$ 5.000. Artinya, seseorang akan hidup dengan uang sekitar US$ 13,70 per hari pada 2014, atau kenaikan lebih dari US$ 5 per hari dibanding 2010.  Yang lebih menggembirakan adalah proyeksi pada 2025, ketika Produk Domestik Bruto per kapita akan mencapai US$ 14.900, atau setiap orang rata-rata bisa hidup dengan US$ 40,82 per hari, atau nyaris lima kali lipat dibanding 2010. Kemudian pada 2045, seratus tahun setelah Indonesia merdeka, Produk Domestik Bruto per kapita menjadi US$ 46.900 atau seseorang akan hidup dengan US$ 128,50 per hari, 15 kali lebih besar dibanding 2010.

        Dari mana angka angka  ini dipersiapkan? Apa asumsinya?  Silakan membaca catatan  pendek ini selengkapnya.

Lebih Banyak Uang, Lebih Mahal Kebutuhan

Selamat membaca.

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, statistics, Uncategorized, , , , , , , , , , , ,

PENAGIH UTANG DAN MELEK HURUF KEUANGAN

Aris  Ananta

Untuk MLETIKO, 27 April 2011

Trauma tidak juga hilang setiap kali kata penagih utang (debt collector) disebut. Hal itu seperti rekaman video yang diputar ulang. Adi sebenarnya tidak berutang, dan dia pun bukan tipe orang yang suka berutang.
Tetapi, dia sempat berhubungan dengan penagih utang yang menyebabkan trauma.Adi ingat betul ketika dia dihubungi sekelompok orang yang mengaku dari bagian hukum suatu toko perabot rumah tangga yang mempunyai reputasi internasional.Mereka mengatakan Adi punya utang. Padahal, yang sesungguhnya terjadi adalah kealpaan petugas toko itu untuk meminta bayaran ketika ia mengirim dan memasang lemari pesanan Adi. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , , , , , ,

PERTUMBUHAN PENDUDUK DAN KETAHANAN PANGAN

 

Aris  Ananta

Untuk INDONESIA  FINANCE  TODAY, 12 April 2011

Berdasarkan data sensus penduduk 2010, Indonesia memiliki 237 juta jiwa penduduk. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah dan dapat mencapai 280 juta pada 2030. Karena itu, beberapa pengamat dan penentu kebijakan mulai khawatir terhadap ledakan penduduk di Indonesia. Mereka mengira ledakan penduduk ini dapat menghalangi berbagai proyek-proyek pembangunan yang tengah dilakukan di Indonesia, termasuk ketahanan pangan.

        Masalah dinamika penduduk dan ketahanan pangan sudah banyak dibahas sejak lama. Bahkan pada abad ke-19, Thomas Robert Malthus menyebutkannya dalam tulisannya yang terkenal “An Essay on the Principles of Population.” Dia menuliskan bahwa jumlah populasi di Eropa terus tumbuh dengan rasio geometrik, sementara produksi pangan tumbuh dengan rasio aritmatik. Tingkat pertumbuhan penduduk yang lebih cepat dibanding produksi pangan akan menyebabkan kelangkaan pangan. Kelangkaan ini akan memicu perang, kerusuhan, dan kematian. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, poverty, , , , , , , , ,



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin. Click here to find out more about them.

We are researchers in the field of demography, social and economic statistics, and economics, focusing on Indonesia and Southeast Asia. Click here to find out more about OUR PUBLICATION .<br

Our research interest is the intersection of:

Categories

Archives

Visitors

  • 142,284

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 93 other followers