Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Kemunduran Era Demokrasi

Pembaca yang baik,

Hari ini kita mendapatkan berita yang menyedihkan, mundurnya era demokrasi di Indonesia. Sistem pemilihan kepala daerah secara langsung telah menjadi salah satu ciri kemajuan demokrasi kita, yang dimulai dengan terpilihnya SBY sebagai presiden Indonesia di tahun 2004. Di akhir pemerintahan SBY, tahun 2014, DPR telah membuat UU yang membatalkan sistem pemilihan langsung. Artinya, hanya SBY yang mengalami sistem pemilihan langsung.

Semoga MK mengabulkan gugatan untuk mencabut UU yang menghapus pemilihan langsung ini. Semoga era demokrasi terus berkembang.

Berikut berita dari Kompas.

Salam,

Aris

Advertisements

Filed under: Bahasa Indonesia, ,

Pilkada Langsung dan Desentralisasi Fiskal

Wahyu Prasetyawan

KATADATA, 15 September 2014

SAAT ini Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pemilihan Kepala Daerah sedang dibahas anggota DPR yang akan berakhir masa tugasnya pada Oktober mendatang. Partai politik yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP) mengusulkan agar Pilkada langsung diganti dengan pemilihan oleh anggota DPRD. Intinya, hak rakyat untuk memilih dalam rezim otonomi daerah akan direbut oleh anggota DPRD. Tentu saja ini kemunduran jika dilihat dari kacamata demokrasi Selengkapnya …….. (*)

Filed under: Bahasa Indonesia, , ,

Untuk Tim Transisi. Badan Pusat Statistik

Badan Pusat Statistik: Suatu Tonggak Informasi Independen

Aris Ananta
Mletiko, 13 September 2014

Saya kaget mendengar usul bahwa BPS (Badan Pusat Statistik) akan digabung dengan Kementerian Dalam Negeri dan Arsip Nasional Republik Indonesia. Alasannya, ketiga lembaga ini mempunyai misi yang sama. Menurut usulan ini, ketiga lembaga ini perlu digabung untuk menghemat biaya. Semoga apa yang saya dengar ini salah, dan BPS tetap independen seperti sekarang, langsung di bawah presiden. Misi BPS tidak sama dengan Misi Kementerian Dalam Negeri dan Misi Arsip Nasional Republik Indonesia.

Tugas BPS membantu seluruh penduduk Indonesia untuk dapat memahami keadaan mengenai Indonesia dengan benar, bukan sebagai alat pemerintah. BPS harus independen dari intervensi dan kepentingan pemerintah. Informasi yang dikumpulkan dan dikeluarkan oleh BPS harus independen, mencerminkan kondisi masyarakat yang sebenarnya, entah baik atau buruk untuk pemerintah. Independensi merupakan salah satu syarat penting yang harus dilakukan oleh BPS.

Syarat kedua, yang tidak kalah pentingnya, untuk mendapatkan informasi yang baik adalah “kerahasiaan” (confidentiality) responden. BPS harus dapat menjamin kerahasiaan data. Pemerintah atau kementerian apa pun harus menghargai prinsip kerahasiaan ini. Tak seorang pun mempunyai hak untuk mengetahui informasi individu seorang responden. Misalnya, BPS dapat menghitung berapa persen penduduk miskin di suatu kabupaten. Tetapi, BPS tidak boleh mengungkapkan bahwa si Didi adalah orang miskin, dan si Dadu orang kaya. Oleh sebab itu, data BPS tidak boleh digunakan untuk menentukan nama nama yang perlu bantuan kemiskinan, karena hal ini melanggar prinsip kerahasiaan. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, poverty, statistics, , , , ,

Hatta Rajasa Yang Menyejukkan

Mletiko, 21 Juli 2014

Pembaca yang budiman,

Pagi ini saya membaca lagi berita yang menyejukkan. Kali ini dari Hatta Rajasa. Ia mengatakan kalah menang itu biasa. Ia akan mendukung siapa pun yang akan menang. Ia tidak akan mengerahkan massa.

Silakan baca…

Selamat untuk Pak Hatta. Telah muncul lagi seorang kesatria, yang membantu menyatukan kita semua, bangsa Indonesia.

Selamat membaca,

Salam

Filed under: Bahasa Indonesia, , , , , ,

SELAMAT UNTUK BANGSA INDONESIA

Aris Ananta

Mletiko, 10 Juli 2014

Selamat saya ucapkan untuk kita semua bangsa Indonesia, yang telah menyelesaikan proses kampanye dan pelaksanaa Pemilu Presiden dengan baik dan aman kemarin, tanggal 9 Juli 2014. Kita semua perlu bangga dengan pelaksanaan pemilu yang aman dan damai ini. Kontribusi kita semua lah yang telah menyebabkan terjadinya pemilu yang aman dan damai ini. Banyak ketegangan di sana sini, namun semuanya berjalan dengan aman. Ini suatu prestasi besar. Prestasi dalam proses pematangan demokrasi. Tidak banyak negara yang dapat melaksanakan hal ini.

Semoga kita semua bangsa Indonesia dapat meneruskan prestasi kita, menciptakan kedamaian dan keamanan. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, , , , , ,

Mengapa Aktif Mendukung Jokowi?

Aris Ananta
Mletiko, 5 Juli 2014

Mengapa Tiba Tiba Aktif Mendukung Jokowi?

Sudah sejak bertemu pertama kali dengan Jokowi sebagai Walikota Solo, jauh sebelum ada isu bahwa ia akan menjadi Gubernur DKI, apalagi Presiden Indonesia, saya sudah memimpikan Jokowi menjadi Presiden Indonesia. Silakan baca tulisan saya “Pak Jokowi, Selamat Ulang Tahun”

Walau begitu, saya hampir tak pernah secara terbuka memberikan dukungan pada Jokowi. Kadang kadang mengajak orang lain untuk mendukung Jokowi, itu pun dengan cara yang tidak terang terangan.

Namun, sabar ya sabar. Saya letih sekali melihat bagaimana kampanye anti Jokowi dilakukan dengan amat tidak sehat. Kalau kampanyenya saja tidak sehat, bagaimana kalau menang jadi presiden? Kalau kampanyenya selalu menyerang Non Muslim, Tionghoa, dan asing, bagaimana nanti kalau jadi presiden. Pak Prabowo tidak pernah secara terbuka dan tegas melarang kampanye yang menggunakan issue agama dan suku bangsa.

Mungkin ini sekedar strategi politik, tetapi kampanye semacam ini telah memperdalam kecurigaan antar kelompok agama, antar suku bangsa, dan dalam hubungan internasional. Kampanye semacam ini menciptakan kerawanan sosial dan politik. Atau, kerawanan ini sengaja diciptakan demi kepentingan politik?

Maka, saya putuskan untuk ikut aktif mendukung Jokowi. Lihat tulisan saya “Mengapa Saya Memilih Jokowi.” Demi Indonesia yang bineka tunggal ika, Indonesia yang warna warni. Indonesia yang demokratis, menjunjung hak azasi manusia. Indonesia yang memiliki kepribadian sendiri, tanpa harus menjadi anti asing.

Saya pun aktif memasukkan tulisan tulisan di http://www.mletiko.com ini. LIhat misalnya, “Hentikan Kampanye Yang Menggunakan Isu Sara” dan “Mempertanyakan Ketegasan Prabowo (1)” serta “Mempertanyakan Ketegasan Prabowo 2)”.

Yang menggembirakan, dalam 2 atau 3 minggu terakhir, makin banyak orang Indonesia yang kini mau terang terangan mendeklarasikan sebagai pendukung Jokowi. Bukan hanya mendukung Jokowi, tetapi mereka dengan aktif mempromosikan Jokowi. Orang orang yang dulunya apatis kini merasa punya pilihan. Dan mereka marah ketika pilihan mereka didholimi, diserang dengan cara yang tidak sehat. Mereka bangkit dan secara terbuka menyatakan dukungan pada Jokowi. Dari semua lapisan masyarakat. Dari semuga golongan agama dan suku bangsa. Fenomena yang luar biasa!

Bahkan pengamat asing yang merisaukan kembalinya order baru pun ikut terang terangan menyatakan kerisauan kalau Prabowo menang jadi presiden.

Jokowi telah menjadi suatu icon baru di Indonesia, icon demokrasi, icon kebinekaan, icon kemanusiaan, icon kesederhanaan, icon kesantunan, dan icon pemimpin yang tegas. Icon efisiensi pemerintahan, icon perlawanan terhadap korupsi.

Pemilu 2014 memang luar biasa! Di malam hari tanggal 9 Juli kita akan melihat apakah Indonesia menjadi “Order Baru Jilid 2” di bawah Presiden Prabowo, atau atau masuk ke era percepatan Reformasi dan Demokrasi dibawah Presiden Jokowi.

Semoga kita melihat kemenangan reformasi dan demokrasi. (*)

Beberapa tulisan lain:

Indonesiaku Yang Luar biasa

Prabowo’s Victory, Death of Democracy

Jokowi: pewujudan perlawanan terhadap feodalisme

Filed under: Bahasa Indonesia, English, Uncategorized, , ,

Apa Kata Investor, Pebisnis, Asing?

Aris Ananta

Mletiko, 22 Mei 2012

 

Kemarin  saya berjumpa dengan sejumlah  peneliti  Eropa yang mempelajari ekonomi dan bisnis di Asia, khususnya Asia Tenggara. Mereka antara lain mengatakan bahwa investor asing, dari luar Asia, lebih suka melakukan investasi di Vietnam dan China daripada di Indonesia.  Menurut para peneliti ini, investor asing lebih suka masyarakat yang dapat diatur. Vietnam dan China negara otoriter. Asal pemerintah pusat sudah setuju, semua menjadi mudah. Rakyat  harus mengikuti apa mau pemerintah pusat.

Lain dengan di Indonesia, kata peneliti itu menirukan pandangan para investor asing. “Indonesia negara demokrasi  (maaf, sedang belajar demokrasi)” . Benar, peneliti itu mengatakan “ Indonesia is a democratic country….. “, lalu buru buru diralat “Indonesia is a democratizing  country”. Maksudnya, Indonesia belum menjadi negara demokratis, tetapi masih pada tahap belajar menjadi neara demokrasi.  (Memang, menurut saya, Indonesia masih dalam tahap menjadi negara demokrasi.)

“Jadi, para investor lebih suka negara otoriter?” tanya saya.

Teman peneliti dari Eropa itu bilang, betul sekali. Para investor asing memang lebih suka negara otoriter seperti China dan Vietnam, daripada Indonesia yang sedang belajar demokrasi.

Cerrita ini memperkuat kesan selama ini bahwa pebisnis asing, investor asing, tidak peduli keadaan di masyarakat negara yang mereka tuju. Yang penting mereka mendapatkan keuntungan besar dari bisnisnya. Walau mereka tahu suatu negara melakukan pemerintahan otoriter,  tanpa kebebasan berpendapatan di kalangan masyarakatnya,  mereka tetap ke negara itu.  Mereka tidak senang kalau suatu negara belajar menjadi negara demokrasi. Justru di negara otoriter, bisnis mereka tinggi.  Karena mereka berbondong masuk ke negara itu, maka pertumbuhan ekonomi di negara itu pun akan cepat maju.

Apakah Indonesia akan mengikuti jalur ini, mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan kembali ke sistem  pemerintahan yang otoriter?

Sudah saatnya kita tidak menggunakan pertumbuhan ekonomi sebagai pengukur kemajuan perekonomian Indonesia. Indonesia memang sedang belajar demokrasi, dan semoga Indonesia segera menjadi negara demokratis.   Janganlah, gara gara ingin mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi, Indonesia kembali menjadi negara otoriter, seperti yang diinginkan beberapa pebisnis dan investor asing tersebut.  (*)

 

Tulisan terkait:

Paradigma Ekonomi Cenderung Untungkan  Pemodal

Bagaimana Investor Asing Melihat Indonesia?

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , ,



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin. Click here to find out more about them.

We are researchers in the field of demography, social and economic statistics, and economics, focusing on Indonesia and Southeast Asia. Click here to find out more about OUR PUBLICATION .<br

Our research interest is the intersection of:

Categories

Archives

Visitors

  • 142,284

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 93 other followers