Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Orang Indonesia Harus Punya Anak Berapa?

Aris Ananta

Mletiko, 22 Juni 2014

Saya amat sedih bahwa di jaman sekarang orang masih bicara peledakan penduduk sebagai salah satu isu pembangunan di Indonesia. Apalagi yang bicara adalah salah seorang capres, Prabowo Subianto.

Sesungguhnya, peledakan penduduk adalah isu pembangunan di tahun 60-an, 70-an, dan 80-an, mungkin 90-an. Sekarang sudah bukan merupakan isu pembangunan.

Bukankah jumlah penduduk yang besar justru menjadi pasar yang besar dan menyumbang pada kekuatan ekonomi yang didengung dengungkan oleh Pak Prabowo?

Lagipula, kalau orang Indonesia terus disuruh menurunkan jumlah kelahiran, mereka akan disuruh mempunyai satu anak saja? Sekarang saja, paling paling 3 anak. Kalau orang Indonesia terus diarahkan untuk menurunkan jumlah anak, suatu ketika kita akan bingung karena jumlah penduduk kita menurun.

Angka kelahiran orang Jawa, Madura, dan Bali sudah dibawah replacement level. Artinya, kalau pun tidak menurun lagi, 30 tahun lagi jumlah penduduk orang Jawa, Madura, dan Bali akan menurun. Kalau mereka disuruh menurunkan angka kelahiran mereka lagi, jumlah mereka akan turun dengan lebih cepat. Ini bisa menimpulkan konflik politik.

Apakah kita akan meniru RRC, dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan sekarang kebingungan karena angka kelahiran yang terlalu kecil?

Semoga, kalau jadi presiden, Pak Prabowo tidak menjadikan penurunan angka kelahiran sebagai salah satu target pembangunan. Ajarkan masyarakat untuk melakukan perencanaan keluarga yang rasional, dan sediakan kontrasepsi yang murah, aman, dan efektif. Soal mau pakai atau tidak, kalau sudah tahu cara membuat perencanaan rasional, adalah hak tiap individu. (*)

Advertisements

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, Uncategorized, , , , , ,

Migrants and Political Instability in Indonesia

Aris Ananta

For Asia Sentinel, 12 August 2011

Papua the latest flashpoint 

As Indonesia grows richer and its citizens acquire increasing mobility, domestic migration between the country’s five major islands and 30 smaller island clusters, which feature as many as1,000 distinct ethnic groups, is causing rising political tension and driving concerns about environmental degradation. Read the rest of this entry »

Filed under: Demography, economy, English, migration, , , , ,

TRADE OFF BETWEEN ENVIRONMENTAL AND DEVELOPMENTAL GOALS?

Aris  Ananta

For  Mletiko, 22 December  2010

It is very encouraging to hear that the Indonesia’s Minister of Trade, Mari Pengestu, has urged the palm oil industrialists to do their business without sacrificing the environment. The minister asked the industrialists, who just convened in Bali, Indonesia, to improve the international image of Indonesia. Until now, Indonesia has been accused of sacrificing its environments for its economic growth, including the growth of the palm-oil industries.

Sadly,  some participants of the conference  believed that there were two opposing groups. One is the government of Indonesia, who was concerned with social and economic development. Another group comprises the  NGOs who  were interested on environment.  This dichotomy may have led to a perception that the government of Indonesia did not care about environmental goals, while the NGOs did not pay attention to social and economic development issues.

We also heard   statements implying that  though the industries have been harmful to the environments, they have contributed a lot to economic growth, social development, and employment creation.   They also argued that  Indonesia is a still a low-income country. Indonesia  needs to grow and therefore, Indonesia should be allowed to destroy its environment for the benefit of growth. They implicitly said that the “benefit” from the industries can compensate the suffering of the people from the environmental degradation. They  do not know that the poor usually suffers the most from environmental degradation, though in the short term the poor may seem to enjoy the destruction of the environment. This is similar to the arguments used by cigarette industries to defend their businesses. Read the rest of this entry »

Filed under: economy, English, environment, , , , , , , , , ,

Makanan Vegetarian dan Sampah Organik

Aris  Ananta

9  Agustus 2010

Pemilik warung vegetarian ini tampak amat serius dengan lingkungan hidup. Persis di depan warungnya terdapat kotak  sampah organik.  Warung ini terletak di Jalan Imam Bonjol, Denpasar, Bali.  Strategi pemasaran yang amat unik!

Dua gambar tersebut saya ambil pada tanggal 6 Agustus 2010.

Filed under: Bahasa Indonesia, , , , ,

Contraceptive Discontinuation in Bali, Indonesia

Evi Nurvidya Arifin

Family planning program through promoting the use of contraceptive use have played an important role in reducing fertility in many countries. In the early stage of an implementation of the program, its focus is to motivate couples to adopt contraceptive use. Therefore, contraceptive prevalence has been used as an indicator to evaluate the implementation of family planning program. However, as contraceptive use increases and becomes strongly established in societies, it is recognized that its success cannot be adequately measured by an increase in the contraceptive prevalence. The focus should be shifted to encourage couples to maintain the use (Kost, 1993). The use can be maintained by giving couples counseling when problems appear and providing them with a range of contraceptive options to suit their needs (Curtis and Hammerslough, 1995; Curtis and Blanc, 1997).

In other words, the focus on quality of care has become more important than simply on contraceptive prevalence, with contraceptive continuation as one of the outcomes of the quality of care (Blanc, Curtis, and Croft, 1999). Therefore, studies on contraceptive discontinuation have become increasingly more relevant.

Bali is selected because of both substantial and practical reasons. On the substantial grounds, Bali has achieved below replacement level since the beginning of the 1990’s with contraceptive prevalence rates more than 70%, and hence attention should have focused more on quality care (including contraceptive continuation). Furthermore, Indonesia is a very heterogeneous society and attention to a particular region within Indonesia has become a more relevant approach to study Indonesia. In particular, the government of Indonesia has been implementing regional autonomy since 2001.

As in other event history analyses, the length of time before the occurrence of an event is very important as in Curtis and Blanc’s study. Because Indonesia is a very large country, the approach of using one month as the segment has resulted in the explosion of the number of observations. Therefore, for a practical reason, the analysis is then limited to Bali, so that the data set becomes manageable.

This paper uses contraceptive calendar data collected in the 1991 and 1994 Indonesia Demographic and Health Surveys.

The cumulative probability of discontinuation at the first 12 months of the initiation of use in 1986-1991 was 19.3%, increased to 24.9% in 1989-94. Side effects and health concerns are the most common reasons to discontinue. With a multilevel discrete-time competing risks hazard model, the study found that contraceptive method chosen and duration of use are strongly associated with contraceptive discontinuation. Socio-economic and demographic factors are also important in this matter. Unobserved heterogeinity at woman level significantly affects contraceptive discontinuation.

This is an extended abstract of the paper entitled “Factor Associated with Contraceptive Discontinuation in Bali, Indonesia: A Multi-level Discrete-time Competing Risks Hazard Model”, Asian MetaCentre Research Paper Series no.15.

Filed under: Demography, English, , , , , ,

Ekonomi Ramah Lingkungan

Aris Ananta

Nunun (bukan nama sebenarnya) seorang yang penuh dedikasi pada pekerjaannya. Bekerja keras, tidak pantang lelah. Kalau pun dia merasa letih, dia atasi dengan minum kopi. Nunun lalu merasa segar lagi, dan bekerja keras lagi. Setelah pekerjaan selesai, dia baru istirahat. Di saat lain, muncul lagi kegiatan yang sangat menyita waktu dan tenaga dia. Lagi lagi dia atasi semua ini dengan minum kopi.
Namun, tubuh tidak dapat terus dipaksa. Kopi hanya dapat mempertahankan kesegaraan Nunun untuk sementara. Akhirnya, dia sakit. Dia tidak bisa bekerja lagi. Pekerjaan dia berantakan.

Nunun masih untung. Dia masih dapat pulih lagi, walau butuh waktu yang lama. Banyak kasus yang tidak seberuntung Nunun. Mereka terkena sakit parah seperti tekanan darah tinggi dan jantung. Kalau pun dapat sembuh,mereka tak dapat lagi bekerja seperti sediakala. Lebih parah lagi, ada pula yang kemudian meninggal dunia.

Bayangkan banyaknya kerugian yang muncul akibat sakitnya, atau meninggalnya, orang orang yang bekerja penuh dedikasi itu. Kalau mereka tetap sehat, mereka masih dapat berproduksi dengan baik. Gara gara sakit (bahkan meninggal), banyak pekerjaan yang tak dapat mereka kerjakan lagi. Mereka rugi, masyarakat banyak pun rugi.

Banyak kasus semacam ini di sekitar kita. Itu pula yang terjadi dengan pembangunan yang tidak ramah lingkungan. Pembangunan yang mengejar pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya, 7 atau 8 persen atau bahkan lebih, dan mengabaikan kondisi lingkungan ibarat Nunun, si pekerja keras yang penuh dedikasi tetapi tidak memperhatikan kondisi tubuhnya. Ekonomi yang dibangun dengan merusak lingkungan hanya akan bertahan sementara. Akhirnya, setelah lingkungan benar benar rusak, ekonomi pun akan ikut hancur. Masyarakat menderita.

Fungsi lingkungan hidup dalam pembangunan ekonomi bagaikan fungsi kesehatan untuk pekerjaan kita. Kita perlu sehat agar pekerjaan kita berhasil. Berhasil bukan hanya untuk sementara waktu, tetapi untuk waktu yang lebih lama.

Selain itu, sehat sendiri merupakan sumber kebahagiaan. Itu pula dengan kondisi lingkungan hidup kita. Lingkungan hidup yang baik merupakan hal yang amat penting untuk terjadinya pembangunan ekonomi jangka panjang. Namun, selain itu, yang lebih penting lagi, dengan lingkungan hidup yang lebih baik, hidup kita pun menjadi lebih baik, walau pertumbuhan ekonomi tidak tinggi.

Pertanyaannya adalah apakah kita mau mengorbankan kesehatan kita demi pekerjaan kita, seperti yang terjadi dengan Nunun? Apakah kita mau mengorbankan kondisi lingkungan hidup kita demi pertumbuhan ekonomi?

Sayangnya, sebagian ekonom tidak mau “mengorbankan” pertumbuhan ekonomi demi lingkungan hidup yang baik. Buat mereka, pertumbuhan ekonomi adalah panglima. Lihat saja, program ekonomi sering dimulai dengan target pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Keberhasilan pembangunan ekonomi diukur dengan kemampuan mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Ini persis yang dikerjakan Nunun, bekerja keras tanpa memperhitungkan kondisi kesehatan. Bahkan, Nunun juga menghancurkan kesehatannya dengan minum kopi terus menerus. Ini lah yang terjadi dengan berbagai program ekonomi yang menghasilkan pertumbuhan tinggi dengan merusak lingkungan.

Mungkin, pertanyaan kongkritnya adalah bagaimana melaksanakan hal ini. Salah satu contoh, adalah bagaimana mengembangkan proyek turisme bebas dari asap rokok. Mungkinkah suatu daerah menjadi terkenal sebagai daerah turisme yang bebas dari asap rokok? Dan, kemudian, daerah akan dikunjungi oleh mereka yang mencintai daerah yang bersih dari asap rokok? Hal ini sangat mungkin terjadi karena kesadaran terhadap bebas asap rokok sudah makin meningkat. Dearah yang bebas asap rokok ini pun dapat menarik turis asing karena di dunia ini kecintaan pada udara yang bebas asap rokok telah meningkat dengan luar biasa. Apalagi bila mendapat bantuan dari pemerintah setempat dan pemerintah Indonesia.

Namun, ironis, kadang kadang kita mendengar bahwa orang ingin berkunjung ke Indonesia karena Indonesia adalah “surga para perokok”. Orang dapat dengan mudah merokok dan merusak mutu udara kita. Alasan yang kita dengar, kita membutuhkan uang mereka. Akibatnya, kita lalu takut melarang orang merokok, kuatir turis tidak akan datang lagi, dan pertumbuhan ekonomi kita akan terganggu. Tetapi, apakah kita rela kondisi lingkungan kita dirusak dengan arus rokok yang terus berdatangan ke Indonesia, semata demi uang jangka pendek?

Sesungguhnya berupaya menciptakan turisme tanpa rokok tidak harus berarti menurunkan penghasilan. Sekarang, termasuk dan terutama di dunia internasional, kesadaran tentang pentingnya bebas dari asap rokok makin meningkat. Oleh sebab itu, kita tidak perlu kuatir menciptakan daerah turisme yang bebas asap rokok. Para perokok memang akan menjauh dari kita, tetapi, turis lain, yang mencintai udara bebas asap rokok, akan berdatangan. Ekonomi pun tumbuh, bersamaan dengan peningkatakan mutu udara kita.

Asap rokok hanya lah satu contoh kasus perusakan lingkungan. Kesadaran perlunya lingkungan hidup yang baik (bukan hanya bebas dari asap rokok) pun telah terus meningkat, termasuk di dunia internasional. Gaya hidup yang ramah lingkungan makin dicari orang. Kita pun dapat terus membantu memasarkan gaya hidup ramah lingkungan ini, agar gaya hidup ramah lingkungan menjadi trendy. Permintaan akan barang dan jasa yang ramah lingkungan pun akan meningkat. Kita pun kemudian menciptakan barang dan jasa yang ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat ini.

Perekonomian akan tumbuh, produksi barang dan jasa berlimpah, yang semuanya adalah barang dan jasa yang ramah lingkungan, yang memuaskan gaya hidup ramah lingkungan.

Kita dapat menciptakan pembangunan ekonomi yang ramah lingkungan, yang bermanfaat untuk rakyat kita sendiri. Kalau lingkungan kita rusak, kita sendiri yang menderita dengan banyak isu seperti masalah kesehatan, banjir, tanah longsor, serta polusi udara dan air.

Mari kita laksanakan pembangunan ekonomi yang ramah lingkungan. Pertumbuhan ekonomi antara 4 dan 5 persen sudah bagus asalkan terjadi perbaikan dalam kondisi lingkungan hidup. Adalah bonus, bahwa ekonomi dapat tumbuh di atas 5 per sen. Pemerintah seyogyanya menjadikan kemajuan dalam kondisi lingkungan hidup sebagai salah satu indikator utama keberhasilan pemerintah setempat dan pemerintah Indonesia. Statistik lingkungan hidup dapat dilaporkan setiap 3 bulan bersamaan dengan laporan pertumbuhan ekonomi.

Kita telah menciptakan Kawasan Ekonomi Khusus (Special Economic Zones) di Batam, Bintan, dan Karimun, untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang tingi. Pemerintah Kepulauan Riau, pemerintah Indonesia, dan pemerintah Singapura berusaha membuat ketiga daerah ini melonjak dengan cepat dalam pembangunan ekonomi, dalam arti mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Berbagai fasilitas khusus diberikan untuk tiga daerah ini. Kalau berhasil, program semacam ini akan diperluas ke daerah daerah lain di Indonesia.

Namun, masalah lingkungan hidup tampaknya belum mendapatkan perhatian khusus dalam proyek Kawasan Ekonomi Khusus itu. Apakah ketiga daerah itu akan mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan mengorbankan kondisi lingkungan hidup di daerah itu? Kalau hal itu yang terjadi, apakah pertumbuhan ekonomi tersebut akan berkelanjutan? Semoga perencanaan dan pelaksaan Kawasan Ekonomi Khusus di Batam, Bintan, dan Karimun telah memperhatikan kondisi lingkungan hidup. Semoga proyek ini juga memberi perhatian prima pada peningkatkan lingkungan hidup di kawasann tersebut.

Sudah saatnya kita menciptakan proyek “Kawasan Ekonomi Ramah Lingkungan”. Tekanannya bukan pada pengejaran pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi pada pencapaian kondisi lingkungan hidup yang baik. Tentu saja, ekonomi di kawasan ini harus tumbuh, tetapi pertumbuhan yang tinggi bukan lah target utama pembangunan di daerah ini. Pemerintah Indonesia dan pemerintah Kepulauan Riau telah berani bereksperimen dengan Kawasan Ekonomi Khusus. Maka, pemerintah Indonesia pun, bekerjasama dengan pemerintah setempat, dapat pula membuat eksperimen dengan menciptakan Kawasan Ekonomi Ramah Lingkungan, yang bertujuan utama meningkatkan kondisi lingkungan hidup.

Kita pilih daerah yang dapat dijadikan pilot project. Kita berikan fasilitas khusus agar daerah itu dapat berkembang dengan kondisi lingkungan yang bagus. Kalau berhasil, proyek ini diperluas ke daerah lain. Kita pun dapat bekerja sama dengan pemerintah negara lain untuk menciptakan “Kawasan Ekonomi Ramah Lingkungan” di Indonesia. Mungkin, Bali dapat dijadikan sebagai salah satu kawasan tersebut. Bali memiliki banyak potensi untuk menjadi contoh keberhasilan dalam pembangunan ekonomi yang ramah lingkungan.

22 November 2009

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , ,



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin. Click here to find out more about them.

We are researchers in the field of demography, social and economic statistics, and economics, focusing on Indonesia and Southeast Asia. Click here to find out more about OUR PUBLICATION .<br

Our research interest is the intersection of:

Categories

Archives

Visitors

  • 142,284

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 93 other followers