Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Mengapa Aktif Mendukung Jokowi?

Aris Ananta
Mletiko, 5 Juli 2014

Mengapa Tiba Tiba Aktif Mendukung Jokowi?

Sudah sejak bertemu pertama kali dengan Jokowi sebagai Walikota Solo, jauh sebelum ada isu bahwa ia akan menjadi Gubernur DKI, apalagi Presiden Indonesia, saya sudah memimpikan Jokowi menjadi Presiden Indonesia. Silakan baca tulisan saya “Pak Jokowi, Selamat Ulang Tahun”

Walau begitu, saya hampir tak pernah secara terbuka memberikan dukungan pada Jokowi. Kadang kadang mengajak orang lain untuk mendukung Jokowi, itu pun dengan cara yang tidak terang terangan.

Namun, sabar ya sabar. Saya letih sekali melihat bagaimana kampanye anti Jokowi dilakukan dengan amat tidak sehat. Kalau kampanyenya saja tidak sehat, bagaimana kalau menang jadi presiden? Kalau kampanyenya selalu menyerang Non Muslim, Tionghoa, dan asing, bagaimana nanti kalau jadi presiden. Pak Prabowo tidak pernah secara terbuka dan tegas melarang kampanye yang menggunakan issue agama dan suku bangsa.

Mungkin ini sekedar strategi politik, tetapi kampanye semacam ini telah memperdalam kecurigaan antar kelompok agama, antar suku bangsa, dan dalam hubungan internasional. Kampanye semacam ini menciptakan kerawanan sosial dan politik. Atau, kerawanan ini sengaja diciptakan demi kepentingan politik?

Maka, saya putuskan untuk ikut aktif mendukung Jokowi. Lihat tulisan saya “Mengapa Saya Memilih Jokowi.” Demi Indonesia yang bineka tunggal ika, Indonesia yang warna warni. Indonesia yang demokratis, menjunjung hak azasi manusia. Indonesia yang memiliki kepribadian sendiri, tanpa harus menjadi anti asing.

Saya pun aktif memasukkan tulisan tulisan di http://www.mletiko.com ini. LIhat misalnya, “Hentikan Kampanye Yang Menggunakan Isu Sara” dan “Mempertanyakan Ketegasan Prabowo (1)” serta “Mempertanyakan Ketegasan Prabowo 2)”.

Yang menggembirakan, dalam 2 atau 3 minggu terakhir, makin banyak orang Indonesia yang kini mau terang terangan mendeklarasikan sebagai pendukung Jokowi. Bukan hanya mendukung Jokowi, tetapi mereka dengan aktif mempromosikan Jokowi. Orang orang yang dulunya apatis kini merasa punya pilihan. Dan mereka marah ketika pilihan mereka didholimi, diserang dengan cara yang tidak sehat. Mereka bangkit dan secara terbuka menyatakan dukungan pada Jokowi. Dari semua lapisan masyarakat. Dari semuga golongan agama dan suku bangsa. Fenomena yang luar biasa!

Bahkan pengamat asing yang merisaukan kembalinya order baru pun ikut terang terangan menyatakan kerisauan kalau Prabowo menang jadi presiden.

Jokowi telah menjadi suatu icon baru di Indonesia, icon demokrasi, icon kebinekaan, icon kemanusiaan, icon kesederhanaan, icon kesantunan, dan icon pemimpin yang tegas. Icon efisiensi pemerintahan, icon perlawanan terhadap korupsi.

Pemilu 2014 memang luar biasa! Di malam hari tanggal 9 Juli kita akan melihat apakah Indonesia menjadi “Order Baru Jilid 2” di bawah Presiden Prabowo, atau atau masuk ke era percepatan Reformasi dan Demokrasi dibawah Presiden Jokowi.

Semoga kita melihat kemenangan reformasi dan demokrasi. (*)

Beberapa tulisan lain:

Indonesiaku Yang Luar biasa

Prabowo’s Victory, Death of Democracy

Jokowi: pewujudan perlawanan terhadap feodalisme

Advertisements

Filed under: Bahasa Indonesia, English, Uncategorized, , ,

Indonesiaku yang Luar Biasa!

Teman teman,

Ada tulisan menarik dari Goenawan Mohammad, dari facebooknya. Indonesiaku memang luar biasa.

Anda salah satu dari mereka? Semoga.

Selamat membaca.

Salam kesantunan dan kesederhanaan,

Aris

FENOMENA 2014, Goenawan Mohamad
.
June 28, 2014 at 3:20am

Jika ada sesuatu yang baru dalam pemilihan presiden 2014, itu adalah banyaknya warganegara yang masuk ke gelanggang pertarungan dan jadi relawan. Dengan perasaan yang intens.

Terutama di kalangan generasi muda. Tak kenal lelah. Mengeluarkan dana sendiri. Mengalokasikan waktu dan tenaga tanpa hitungan untung rugi. Datang ke pertemuan-pertemuan. Mendesain dan memproduksi poster, stiker, spanduk, selebaran; mencetak buletin, menulis di media sosial, di Twitter, Face Book dan dalam ribuan blog di internet; membuat Iklan di radio dalam 20 bahasa daerah; mengkreasi pelbagai film pendek di YouTube; membuat komik, membuat pertunjukan musik, atau membaca puisi.

Dan tak kurang dari itu, sebagian lagi berjalan menyusur wilayah ke wilayah, menemui kiyai, menemui buruh dan tani, dan entah siapa lagi. Untuk mengajak.

Mereka berusaha keras untuk memenangkan Jokowi — terutama ketika tampak tanda-tanda Jokowi bisa kalah. Mereka sadar dana kampanye Jokowi-Kalla tak sebesar dana kampanye Prabowo-Hatta. Mereka merasa organisasi resmi Tim Sukses tidak tangkas dan tak rapi dan tak sesiap kubu pesaing. Tapi mereka tampaknya tak hendak berpanjang-panjang mengeluhkan itu.

Tak kurang dari itu, mereka melihat sendiri bagaimana fitnah-fitnah tentang Jokowi tersebar secara sistematis dan merasuk ke kepala banyak orang. “Menurut saya”, kata seorang relawan yang pada jam-jam kantor menjadi sopir, “itu mah kezaliman.”

Mereka, para relawan itu, bukan orang-orang yang dibayar. Mereka bukan orang-orang yang dikomando. Ungkapan mereka spontan. Beraneka-ragam. Kaya akan ide dan humor — meskipun kadang-kadang sengit dan kasar.

Dan yang tak kalah mengharukan: mereka bersuara dari seluruh penjuru dunia, di mana ada warganegara Indonesia tinggal.

Apa yang menyebabkan fenomena politik 2014 ini?

Rasanya jawabnya sederhana: jutaan warganegara itu telah lama muak dengan tokoh politik yang korup dan itu-itu juga. Mereka berharap dalam diri Jokowi ada harapan yang lain.

Tentu, berlebihan jika menganggap Jokowi seorang ratu adil yang bisa memenuhi impian semua orang. Tapi tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa ribuan relawan itu, yang siang malam bekerja, sedang menolak putus asa.

Mereka masih ingin percaya bahwa Indonesia masih bisa diperbaiki. Ya, Indonesia: negeri mereka satu-satunya.

Filed under: Bahasa Indonesia, Uncategorized, , , ,

Orang Indonesia Harus Punya Anak Berapa?

Aris Ananta

Mletiko, 22 Juni 2014

Saya amat sedih bahwa di jaman sekarang orang masih bicara peledakan penduduk sebagai salah satu isu pembangunan di Indonesia. Apalagi yang bicara adalah salah seorang capres, Prabowo Subianto.

Sesungguhnya, peledakan penduduk adalah isu pembangunan di tahun 60-an, 70-an, dan 80-an, mungkin 90-an. Sekarang sudah bukan merupakan isu pembangunan.

Bukankah jumlah penduduk yang besar justru menjadi pasar yang besar dan menyumbang pada kekuatan ekonomi yang didengung dengungkan oleh Pak Prabowo?

Lagipula, kalau orang Indonesia terus disuruh menurunkan jumlah kelahiran, mereka akan disuruh mempunyai satu anak saja? Sekarang saja, paling paling 3 anak. Kalau orang Indonesia terus diarahkan untuk menurunkan jumlah anak, suatu ketika kita akan bingung karena jumlah penduduk kita menurun.

Angka kelahiran orang Jawa, Madura, dan Bali sudah dibawah replacement level. Artinya, kalau pun tidak menurun lagi, 30 tahun lagi jumlah penduduk orang Jawa, Madura, dan Bali akan menurun. Kalau mereka disuruh menurunkan angka kelahiran mereka lagi, jumlah mereka akan turun dengan lebih cepat. Ini bisa menimpulkan konflik politik.

Apakah kita akan meniru RRC, dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan sekarang kebingungan karena angka kelahiran yang terlalu kecil?

Semoga, kalau jadi presiden, Pak Prabowo tidak menjadikan penurunan angka kelahiran sebagai salah satu target pembangunan. Ajarkan masyarakat untuk melakukan perencanaan keluarga yang rasional, dan sediakan kontrasepsi yang murah, aman, dan efektif. Soal mau pakai atau tidak, kalau sudah tahu cara membuat perencanaan rasional, adalah hak tiap individu. (*)

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, Uncategorized, , , , , ,

EMPAT KRITIK PADA “BONUS DEMOGRAFI”

Aris   Ananta

Evi Nurvidya Arifin

Mletiko, 13 Oktober 2013

Akhir-akhir ini makin banyak orang bertanya ke kami, mengenai “Bonus Demografi” (Demographic Bonus) dan “Jendela Peluang Demografi” (Demographic Window of Opportunity). Ada yang membedakan dua istilah ini. Ada pula yang menyamakan. Dalam tulisan ini, kami menganggap dua istilah ini mengacu pada konsep yang sama.

Istilah “bonus demografi” ini sering digunakan di Indonesia, dan di banyak negara lain.  Demografer yang membawa pemikiran ini biasanya  berasal dari Amerika Serikat (walau tidak semuanya), termasuk dari Population Council, di New York. Demografer dari Eropa biasanya kurang berminat pada konsep dan analisis Bonus Demografi.

Berikut ini empat kritik kami pada “Bonus Demografi”: kelemaham dalam konsep, ketidak-jelasan kriteria indikator bonus demografi, kerancuan arti produktif dan tidak produkif, dan tak adanya relevansi dalam pembuatan kebijakan. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, Uncategorized, , , ,

Emerging Patterns of Indonesia’s International Population Mobility: a note for discussion

Aris Ananta

Evi Nurvidya Arifin

Mletiko, 24 July 2013

New Feature

A new feature presented in this paper is analyzing international population mobility within the context of an overall population dynamics of a country—in this case, Indonesia. It is part of the current three mega-demographic trends in Indonesia: large and increasing number of population, ageing population, and changing pattern of population mobility (internal and international).

This note was presented at international population conference on “Migration, Urbanization, and Development”. Kuala Lumpur: Population Studies Unit, University of Malaya, 8 July 2013.  Click here for  a complete note and powerpoint presentation

(*)

Filed under: ageing, Demography, economy, English, statistics, Uncategorized, , ,

RELATIVITAS KENIKMATAN

Aris Ananta

25 Juni 2013

Singapura sedang dilanda asap. Asap ini berasal dari perkebunan yang terbakar (atau dibakar?) di Sumatra. Kebetulan, arah angin tidak menguntungkan Singapura. Udara Singapura biasanya amat baik dengan PSI (Pollutant Sandards Index) di bawah 50. PSI di antara 50 dan 100 berarti kualitas udara moderat. Di atas 100, tidak sehat. Di atas 200, sangat tidak sehat. Di atas 300, berbahaya.

Ketika PSI mencapai 110, index yang menunjukkan kualitas udara yang tidak sehat,   rasa tidak enak  saya alami kalau saya berada di luar rumah. Namun, saya tetap tidak menderita. Saya masih normal normal saja, walau udara terasa kurang enak. Namun, PSI terus naik. Di suatu sore, Rabu, 19 Juni 2013,  ketika saya berada di jalanan,  saya sangat menderita. Saya hanya dapat berjalan sangat pelahan. Kalau berjalan cepat, saya susah bernafas.  Ternyata, saat itu PSI telah naik di atas 200, yang sangat tidak sehat.

Hari Jumat , 21 Juni, sekitar jam 8.30 pagi. Ketika saya jalan kaki dari bus stop ke kantor saya, yang telah saya lalui selama lama bertahun-tahun dengan suka cita, saya merasakan penderitaan yang besar. Kok nggak sampai sampai ya? Saya memang jalan pelahan sekali, nafas tak enak.  Siang jam 11 saya berada di luar gedung lagi. Dan benar benar penderitaan yang amat sangat. Mata pun pedih. Ternyata, saat itu, PSI telah mencapai 401!

Menariknya, sore hari, sekitar jam 6, saya berada di luar gedung lagi. Dan..oh..indah sekali. Udara tampak cerah. Gedung tidak diselimuti asap lagi. Dan nafas enak sekali. Ingin rasanya melakukan olah oraga, menikmati udara yang indah itu.

Saya kemudian tahu, sore itu, sesungguhnya kualitas udara masih “sangat tidak sehat”, masih sekitar 200. Namun, mengalami udara dengan PSI sekitar 200 setelah beberapa jam sebelumnya mengalami PSI 400 memang berbeda dengan mengalami PSI sekitar 200 setelah memingkat dari PSI sekitar 100.

Kenikmatan memang amat relatif. (*)

Filed under: Bahasa Indonesia, Uncategorized, , ,

Green Economy and Business

26 March 2013

Dear readers,

Attached is my powerpoint presented at International Conference on  Green World in Business and Technology. Yogyakarta, Ahmad Dahlan University, 23  March 2013.  Click Green Economy and Business

Some main points:

1. We need capitalists with heart  to create a sustainable environment

2. Green business is a promising, lucrative business

3. Green business needs innovation, creativity, passion and love

4. Passion and love are needed to produce justice

5. Green business can be done by both large enterprises and medium/ small enterprises.

 

I hope the powerpoint is useful for you, to help creating sustainable environment.

 

Best regards,

Aris Ananta

 

 

 

Filed under: economy, English, poverty, Uncategorized, , , , , ,



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin. Click here to find out more about them.

We are researchers in the field of demography, social and economic statistics, and economics, focusing on Indonesia and Southeast Asia. Click here to find out more about OUR PUBLICATION .<br

Our research interest is the intersection of:

Categories

Archives

Visitors

  • 141,475

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 93 other followers