Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

SELAMAT PASKAH

14 April 2017

Untuk pembaca yang beragama Kristen/ Katolik, kami ucapkan Selamat Merayakan Paskah. Semoga Paskah ini menyumbang pada perdamaian dan kasih sayang untuk semua mahluk di dunia, kini dan masa mendatang.

Filed under: Uncategorized

Chinese Indonesians: How Many,Who and Where

Just Published on line

Evi Nuvidya Arifin, M. Sairi Hasbullah, and Agus Pramono. “Chinese Indonesians: How Many and Where”, Asian Ethnicity, 2016, on-line.

This paper provides new statistics to the debate on percentage of Chinese Indonesians, using the latest 100% data set of the 2010 population census. It reveals that the statistics is closer to the low side of the debate, less than 2.0%, rather than the high side of 3.0% and more. Ethnicity is here self-defined by the respondents. With 1.2%, the Chinese Indonesians ranked as the 15th largest group of more than 600 ethnic groups. This paper also produces statistics at the district level, the first ever statistics on Chinese Indonesians. It finds that some provinces and districts have large percentages of Chinese Indonesians, but the respective total population are relatively small to the total Indonesia’s population. Majority of provinces and districts (25 out of 33 provinces and 415 out of 497 districts) have lower percentage of Chinese than the national figure.

Filed under: Demography, English, Ethnic Diversity, Indonesia, Statistics, Ethnicity, Uncategorized,

Merokok, Sakit Sakitan, dan Pertumbuhan Ekonomi!

Aris Ananta

28 Agustus 2016

Tidak sehat tak apa apa, karena ekonomi justru terus tumbuh dengan baik. Merokoklah. Jangan kuatir bahwa anda, pasangan anda, keluarga anda, teman anda dan orang lain akan sakit dan sakit sakitan. Ini adalah pengorbanan anda semua demi pertumbuhan ekonomi. Tetapi, siapkah anda menjadi sakit dan sakitan sambil nonton pertumbuhan ekonomi yang menakjubkan? Itu kah yang anda inginkan dari pembangunan ekonomi? Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, Uncategorized, , ,

Merokoklah, Demi Pertumbuhan Ekonomi

Pembaca yang budiman,

Merokoklah terus. Sakit dan sakitan tidak apa apa. Anda akan membantu pertumbuhan ekonomi. Demi kesejahteraan industri rokok kita diminta terus merokok. Jangan risaukan sakit dan sakit sakitan, anda pahlawan ekonomi.

Lucu ya? Semoga anda tidak mau menjadi pahlawan ekonomi seperti ini. Kasihanilah diri anda sendiri, pasangan anda, keluarga anda, dan masyarakat Indonesia.

Yuk, kita semua mengikuti gaya hidup sehat. Demi kesejahteraan kita semua. Selain itu, ada bonusnya. Kalau kita sehat, ekonomi akan tumbuh dengan berkelanjutan. Kalau kita sakit sakitan,  kita akan mengalami bencana demografi. Produktifitas turun drastis dan ekonomi juga akan berantakan.

Salam hidup sehat.

Aris

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, Uncategorized, , ,

Hak Pejalan Kaki

 

13 Juli 2016

Pembaca yang budiman,

Barusan saya membaca berita, pemerintah DKI hendak mengembalikan hak pejalan kaki dan penyandang disabilitas. Selama ini, pejalan kaki tidak mempunyai hak berjalan sama sekali. Bukan hanya di Jakarta, di kota kecil pun demikian. Bahkan di lorong lorong kecil, sepeda motor telah merampas hak orang untuk berjalan kaki.

Semoga rencana pemerintah DKI berjalan dengan lancar. Orang dapat berjalan kaki. Jalan kaki  murah, menyehatkan, tidak mengotori lingkungan dengan hemat energi. Silakan baca berita berikut ini. Click di sini.

 

Mari kita dukung program ini.

Salam,

Aris

 

 

 

 

Filed under: Uncategorized

New Publication on Ageing

Dear Readers,

We have just published “The Past Three Population Censuses: A Deepening Ageing Population in Indonesia”. In Contemporary Demographic Transformation in China, India and Indonesia. Edited by Christophe Z. Guilmoto and Gavin W. Jones.  New York: Springer, 2016.

About the Chapter

This chapter highlights a deepening ageing population in Indonesia between 1990 and 2010, a period witnessing a political change from an authoritarian regime to a democratizing one. This transition brought a drastic shift in population policy, with a much weaker family planning programmes than during the authoritarian regime. Our assessment from the latest 2010 census suggests that the proportion of population aged 60 year and above was 7.6 percent in 2010, rising from 6.3 per cent in 1990; while the number increased to 18.0 million from 11.3 million. The growth rate of older persons for this period is well above the rate of the general population, 4.7 percent vs 2.9 percent annually.

This chapter also shows a large variation in the age structure of the sub-national population. The structure at the national level remains heavily affected by changes in fertility and mortality only. However, changes at sub-national levels, particularly district level, have also been determined by migration.

The latest census also depicts a significant improvement in educational attainment of older persons, as those without schooling decreased to 31.6 percent from 58.5 percent in 1990. At the same period, participation of the elderly in the labour market rose from 48.1 percent to 51.2 percent in the same period. Furthermore, working as self-employed in the agricultural sector remains to be the main source of financial well-being for the older persons.

Filed under: ageing, Demography, English, Uncategorized, , , , , ,

Mengapa Aktif Mendukung Jokowi?

Aris Ananta
Mletiko, 5 Juli 2014

Mengapa Tiba Tiba Aktif Mendukung Jokowi?

Sudah sejak bertemu pertama kali dengan Jokowi sebagai Walikota Solo, jauh sebelum ada isu bahwa ia akan menjadi Gubernur DKI, apalagi Presiden Indonesia, saya sudah memimpikan Jokowi menjadi Presiden Indonesia. Silakan baca tulisan saya “Pak Jokowi, Selamat Ulang Tahun”

Walau begitu, saya hampir tak pernah secara terbuka memberikan dukungan pada Jokowi. Kadang kadang mengajak orang lain untuk mendukung Jokowi, itu pun dengan cara yang tidak terang terangan.

Namun, sabar ya sabar. Saya letih sekali melihat bagaimana kampanye anti Jokowi dilakukan dengan amat tidak sehat. Kalau kampanyenya saja tidak sehat, bagaimana kalau menang jadi presiden? Kalau kampanyenya selalu menyerang Non Muslim, Tionghoa, dan asing, bagaimana nanti kalau jadi presiden. Pak Prabowo tidak pernah secara terbuka dan tegas melarang kampanye yang menggunakan issue agama dan suku bangsa.

Mungkin ini sekedar strategi politik, tetapi kampanye semacam ini telah memperdalam kecurigaan antar kelompok agama, antar suku bangsa, dan dalam hubungan internasional. Kampanye semacam ini menciptakan kerawanan sosial dan politik. Atau, kerawanan ini sengaja diciptakan demi kepentingan politik?

Maka, saya putuskan untuk ikut aktif mendukung Jokowi. Lihat tulisan saya “Mengapa Saya Memilih Jokowi.” Demi Indonesia yang bineka tunggal ika, Indonesia yang warna warni. Indonesia yang demokratis, menjunjung hak azasi manusia. Indonesia yang memiliki kepribadian sendiri, tanpa harus menjadi anti asing.

Saya pun aktif memasukkan tulisan tulisan di http://www.mletiko.com ini. LIhat misalnya, “Hentikan Kampanye Yang Menggunakan Isu Sara” dan “Mempertanyakan Ketegasan Prabowo (1)” serta “Mempertanyakan Ketegasan Prabowo 2)”.

Yang menggembirakan, dalam 2 atau 3 minggu terakhir, makin banyak orang Indonesia yang kini mau terang terangan mendeklarasikan sebagai pendukung Jokowi. Bukan hanya mendukung Jokowi, tetapi mereka dengan aktif mempromosikan Jokowi. Orang orang yang dulunya apatis kini merasa punya pilihan. Dan mereka marah ketika pilihan mereka didholimi, diserang dengan cara yang tidak sehat. Mereka bangkit dan secara terbuka menyatakan dukungan pada Jokowi. Dari semua lapisan masyarakat. Dari semuga golongan agama dan suku bangsa. Fenomena yang luar biasa!

Bahkan pengamat asing yang merisaukan kembalinya order baru pun ikut terang terangan menyatakan kerisauan kalau Prabowo menang jadi presiden.

Jokowi telah menjadi suatu icon baru di Indonesia, icon demokrasi, icon kebinekaan, icon kemanusiaan, icon kesederhanaan, icon kesantunan, dan icon pemimpin yang tegas. Icon efisiensi pemerintahan, icon perlawanan terhadap korupsi.

Pemilu 2014 memang luar biasa! Di malam hari tanggal 9 Juli kita akan melihat apakah Indonesia menjadi “Order Baru Jilid 2” di bawah Presiden Prabowo, atau atau masuk ke era percepatan Reformasi dan Demokrasi dibawah Presiden Jokowi.

Semoga kita melihat kemenangan reformasi dan demokrasi. (*)

Beberapa tulisan lain:

Indonesiaku Yang Luar biasa

Prabowo’s Victory, Death of Democracy

Jokowi: pewujudan perlawanan terhadap feodalisme

Filed under: Bahasa Indonesia, English, Uncategorized, , ,



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin. Click here to find out more about them.

We are researchers in the field of demography, social and economic statistics, and economics, focusing on Indonesia and Southeast Asia. Click here to find out more about OUR PUBLICATION .<br

Our research interest is the intersection of:

Categories

Archives

Visitors

  • 112,821

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 93 other followers