Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Sustainable and Just Social Protection in Southeast Asia

13 December 20120

Dear readers,

The ASEAN  Economic Bulletin, volume 20, number, December 2012 is just published. This is a special edition on Sustainable and Just Social Protection in Southeast Asia with  Aris Ananta as the editor.  However, because of space limitation, this edition only includes five countries: Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapore, and Vietnam.

This edition sees that poverty remains a continuing crisis in Southeast Asia, regardless of the timing and severity of the global economic crisis.  Moreover, being poor and falling into poverty is often beyond an individual’s capacity to avoid. Who should help these individuals and how much help should be given — the individuals themselves, their families, their friends, their communities, and/or their governments? A just and financially sustainable social protection system is perhaps an answer to those questions.

The first paper serves as an introduction to the five country papers.  It provides an analytical background for the country papers. It discusses what social protection is, reviews an analytical framework of a continuum pioneered by Esping-Anderson (1990), and attempts to locate where the five Southeast Asian countries are in the continuum.

The “Background” and “Concluding Remarks” of the first chapter can be opened here .

Sustainable and Just Social Protection in Southeast Asia

 

Here are the authors and titles of the five country papers:

Muliadi Widjaja. “Indonesia: In Search for a Placement-Support Social Protection”

Ragayah Haji Mat Zin. “Malaysia: Towards a Social Protection System in an Advanced Equitable Society”

Chew Soon Beng. “Employment-based Social Protection in Singapore: Issues and Prospects”

Yongyuth Chalamwong and Jidapa Meepien. “Poverty and Just Social Protection in Thailand”

Giang Thanh Long. “Delivering Social Protection to the Poor and Vulnerable Groups in Vietnam”

 

Any comment is welcome.

Best regards,

Aris  Ananta

 

Advertisements

Filed under: economy, English, poverty, , , , , , , , ,

UKURAN KEKAYAAN NASIONAL

Aris Ananta

Seputar Indonesia, 24 Mei 2012

 

Pasar keuangan dunia, termasuk Asia Tenggara, guncang lagi. Akankah pasar keuangan dunia jatuh drastis lagi seperti pada 2009? Kita ingat bahwa krisis global pada 2009 segera secara cepat menjalar ke seluruh dunia garagara bangkrutnya Lehman Brothers di Amerika Serikat.
Kini ada kemungkinan pemerintah Yunani akan bangkrut, dan diikuti dengan kebangkrutan negara lain seperti Spanyol, Italia, dan Portugal. Kebangkrutan empat negara ini dapat mengguncang perekonomian Eropa yang kemudian berdampak pada perekonomian dunia. Kalau pada 2009 Indonesia dapat menghindar dari dampak yang luar biasa dari krisis global, akankah Indonesia mampu mengulangi prestasi ini?

Pada 2009, ketika banyak negara mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi yang dahsyat, bahkan banyak yang mengalami pertumbuhan ekonomi negatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya menurun sedikit,masih mencapai 4,5%.Kalau krisis global (yang kedua, setelah yang pertama pada 2009) benar-benar terjadi tahun ini, bisakah pertumbuhan ekonomi dipertahankan pada 4,5% atau bahkan lebih?

Namun, tulisan ini tidak akan membahas berapa persen pertumbuhan ekonomi Indonesia kalau krisis global kedua benar-benar terjadi. Ada hal yang jauh lebih penting untuk diperhatikan dalam memahami perekonomian Indonesia: benarkah pertumbuhan ekonomi pengukur utama pembangunan ekonomi kita? Saat ini sudah makin banyak ekonom di dunia yang merasakan kekecewaan pada pertumbuhan ekonomi sebagai pengukur utama pembangunan ekonomi.

Para ekonom dunia seperti Joseph Stiglitz,Amartya Sen, dan Jean-Paui Fitoussi pada 2009 telah menghasilkan laporan yang menyarankan alternatif pengukuran pembangunan ekonomi—bukan dengan pertumbuhan ekonomi. OECD (organisasi ekonomi negara kaya),yang dibentuk pada 1961 dengan tujuan melanggengkan pertumbuhan ekonomi di negara anggota mereka,pun sejak 2010 telah menggunakan 11 indikator,bukan hanya pertumbuhan ekonomi, untuk mengukur kemajuan perekonomian mereka.

Bulan depan,Juni 2012,Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan menyelenggarakan konferensi mengenai Pembangunan yang Berkelanjutan (Sustainable Development) di Rio de Janeiro, Brasilia. Pada konferensi yang juga disebut dengan Rio+20 Conference pada 2012 akan disampaikan hasil penelitian mengenai kekayaan nasional yang inklusif (inclusive wealth).

Dalam laporan ini diperlihatkan ketidakpuasan para penulis terhadap indikator konvensional seperti produksi domestik bruto (gross domestic product) yang hanya melihat sisi produksi. Produk domestik bruto merupakan pengukuran jangka pendek. Mungkin saja suatu saat pendapatan tinggi, tetapi tidak berkelanjutan. Karena itu,mereka menyatakan perlunya mengukur kekayaan suatu negara, bukan sekadar pendapatan.

Mereka memberi contoh, ada negara yang pertumbuhan ekonominya tinggi, tetapi sumber daya alamnya habis dengan cepat.Kalau kita mengukur keberhasilan pembangunan ekonomi dengan kekayaan, negara itu tidak perlu berbangga dengan pertumbuhan ekonominya yang tinggi karena kekayaan mereka (dalam hal ini sumber daya alam) habis dengan cepat. Banyak negara, termasuk Indonesia,yang bangga dengan sumber daya alam mereka.

Mereka “pasarkan” sumber daya alam itu ke pasar dunia agar menarik investasi di sumber daya alam. Akibatnya, investasi asing meningkat luar biasa. Ekspor sumber daya alam meningkat dengan amat cepat.Pertumbuhan ekonomi melaju. Sialnya, suatu saat, sumber daya alam itu habis,dan masyarakat di negara itu tidak dapat lagi menikmati sumber daya alam yang berlimpah karena telah habis diekspor.

Di pihak lain, pengukuran kekayaan memperhatikan apa yang terjadi sekarang dan masa mendatang.Pembangunan ekonomi bukan mempercepat pertumbuhan ekonomi masa kini tanpa memperhatikan apa yang terjadi di masa depan, untuk generasi anakcucu- cicit. Dalam laporan yang sedang disiapkanuntukkonferensiPBB pada Juni itu terdapat empat macam modal untuk mengukur kekayaan.

Pertama,modal alam, yang mencakup semua sumber daya alam,tanah,dan lingkungan. Kedua, modal konvensional, yaitu modal yang diproduksi seperti bangunan dan mesin. Ketiga, modal manusia, yang terdiri atas berbagai hal seperti pendidikan dan kesehatan.Keempat, modal sosial yang mencakup berbagai hal seperti kelembagaan dan jaringan kerja.

Empat modal tersebut harus diukur untuk mengetahui kekayaan suatu daerah/negara. Untuk mengukur keberhasilan pembangunan, statistik kekayaan per kapita harus digunakan untuk mengganti statistik pendapatan per kapita; dan kenaikan kekayaan menjadi pengganti pertumbuhan ekonomi. Laporantersebutakanmenggambarkan jumlah dan perubahan kekayaan 20 negara di dunia,yang mencakup 72% dari seluruh pendapatan nasional di dunia dan 56% penduduk dunia selama19 tahun.

Brasil dan India, sebagai contoh,mengalami pertumbuhan ekonomi yang cepat, tetapi dengan biaya yang besar pula selama 1990–2008. Pada masa itu modal alam menurun dengan 25% di Brasil dan 31% di India. Indonesia belum termasuk negara yang dibahas dalam laporan tersebut.Ada baiknya, Indonesia mengambil inisiatif untuk segera menghitung kekayaan Indonesia pada tingkat nasional, provinsi, dan kota/ kabupaten. Statistik ini dapat digunakan untuk pengganti pendapatan nasional.

Dengan kata lain,kemajuan pembangunan Indonesia diukur dengan peningkatan kekayaan dan kekayaan per kapita, bukan pertumbuhan pendapatan dan pendapatan per kapita. Selanjutnya, dalam usaha mengurangi dampak negatif krisis global kedua yang mungkin terjadi, Indonesia tidak perlu berfokus pada pertumbuhan pendapatan nasional. Sebaliknya, Indonesia sebaiknya menitikberatkan pada peningkatan kekayaan (yang diukur dengan empat modal tadi).

Krisis keuangan dan ekonomi dunia ini justru dapat digunakan sebagai momentum yang tepat untuk mengganti pengukuran pembangunan ekonomi di Indonesia. Pergantian pengukuran ini juga berarti pergantian kebijakan pembangunan ke arah pembangunan yang berkelanjutan. Kita tidak perlu kaget dan marah kalau dengan statistik kekayaan ini ternyata pembangunan Indonesia tidak sehebat yang dibayangkan dengan statistik pendapatan nasional.

Kita memang sedih, tetapi statistik ini akan lebih mampu memperlihatkan apa yang telah terjadi sehingga perekonomian Indonesia dapat maju secara berkelanjutan. (*)

 

Tulisan terkait:

Orang Indonesia Makin Kaya?

UN’s Revolution on Measuring Development

Perusakan Hutan dan Pembangunan Ekonomi

Your Better Life Index

Indonesian Economy: entering a new era

Pembangunan Tanpa Pendapatan Nasional

The Statistical Revolution is Finally Here

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, poverty, statistics, , , , , , , , , , ,

SUARA LANSIA (VOICE OF OLDER PEOPLE)

Aris Ananta

Mletiko, 18 Mei 2012

 

Ketika Deven, bayi yang  baru berumur beberapa hari, menangis, orang di sekililingnya tidak merasa terganggu. Bahkan,  mereka senang melihat Deven menangis. Lucu, penuh tenaga. Padahal, Deven tidak bisa apa-apa. Hanya tiduran, menggerak –gerakan tangan dan kaki,  membuka tutup mata. Deven harus diberi makan (ASI). Harus dibantu mengganti pakaian, harus dibantu ketika buang air. Dan sebagainya, dan sebagainya…. Pendeknya, Deven amat tergantung pada orang lain untuk mengerjakan semua kegiatan dia sehari hari.

Orang senang merawat Deven.  Orang juga berharap Deven tumbuh dan suatu ketika dapat melakukan sendiri semua kegiatannya.

Namun, lain halnya dengan Nenek Tita, berumur 80 tahun, yang sudah mengalami demensia, hanya duduk di kursi roda. Rumahnya sempit dan tidak banyak ruang gerak untuk kursi roda. Dia buang air besar dan kecil di popok, dan harus ada orang lain yang membantu membersihkan popoknya. Untung masih bisa makan sendiri. Suami sudah meninggal. Satu satunya anak harus bekerja mencari nafkah, dari pagi sampai malam. Ia hanya ditemani seorang perawat bayaran.

Nenek Tita sering marah marah. Minta makanan yang tidak menyehatkan walau ketika muda ia amat menekankan pada makanan sehat. Ditambah dengan dimensia-nya, mengurus Nenek Tita sangat meletihkan. Tak ada “kelucuan” seperti ketika orang merawat Deven.  Tak ada harapan bahwa Nenek akan segera “normal” kembali, dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Marah marah Nenek ini juga membuat jengkel, sangat berbeda dengan marah Deven.

Memang, merawat (care) lansia  dan merawat bayi sangat berbeda.  Dua duanya bisa sama sama tidak bisa apa-apa. Dua duanya bisa sama sama membutuhkan bantuan kita. Tetapi, bayi sering memberikan rasa “lucu” dan menarik. Tetapi, lansia? Sering sudah tidak “lucu” lagi. Bahkan, lansia  juga sering memarahi orang yang merawat mereka. Marahnya lansia  sudah tidak “lucu”, tidak seperti marahnya bayi.

Oleh sebab itu, care-givers atau carers untuk para orang tua sering merasa letih, bosan. (Saya belum mendapatkan terjemahan care-giver atau carer. Perawat sering diartikan sebagai nurse, tetapi care giver atu carer bisa saja anggota keluarga, seperti suami/ istri, anak/ menantu, cucu, adik, keponakan, atau teman. Oleh sebab itu, di sini saya masih menggunakan istilah care-giver.)  Keletihan dan kebosanan  akan makin terjadi kalau care-giver tidak memahami keadaan para lansia  yang sakit.

Belum lama, pada tanggal 7 hingga 11 May 2012.  di Yangon, Myanmar, telah diselenggarkan Konferensi Regional se Asia Pasifik berjudul “Rapid Ageing: A Caring Future”. Diselenggarakan oleh HelpAge dan pemerintah Myanmar. Dalam konferensi ini para peserta berusaha memahami “Suara Para Lansia – Voice of Older People). Menarik sekali, dalam konferensi ini disampaikan perlunya komunikasi dua arah, perlunya memahami keadaan pasien, para lansia yang sakit. Para lansia sering dalam keadaan sunyi, terasing, tak dapat berbuat apa-apa. Mereka juga sering menjengkelkan para care-giver.

Dalam hal begini, rasa sayang (compassion) menjadi penting sekali. Tanpa rasa sayang, pekerjaan sebagai care giver untuk para lansia  menjadi pekerjaan yang sangat melelahkan. Para suami/ istri dan anggota keluarga lainnya, tanpa persaan sayang, akan merasa sangat terganggu dengan sakitnya para lansia. Sakitnya para lansia menyebabkan peningkatan biaya, habisnya waktu untuk terus menerus mengurusi mereka. Apalagi, kalau sakit para lansia ini tidak dapat disembuhkan dan para lansia  ini akan masih hidup lebih lama.

Dengan angka kelahiran yang rendah, dan penduduk Indonesia hidup lebih lama,  kita akan makin sering menjumpai lansia  yang sakit untuk waktu yang lama, yang selalu membutuhkan perawatan kita, yang membutuhkan care dari anggota keluarga. Mampukah para anggota keluarga memberikan perawatan pada lansia? Atau kah, pemerintah harus turun tangan memberikan profesional care giver untuk para lansia yang sakit sakitan?

Di sini lah perdebatannya. Dulu penduduk Indonesia didorong untuk ber-Keluarga Berencana. Sekarang angka kelahiran sudah rendah dan muncul isu baru, penuaan penduduk—makin banyak lansia yang hidup makin lama. Kalau mereka sakit sakitan, mereka jadi beban keluarga dan masyarakat.  Siapkah keluarga merawat anggota keluarga yang sudah lansia  dan sakit sakitan dalam waktu yang lama?  Apalagi, tidak jarang kita dengar bahwa hubungan antara lansia  yang sakit sakitan dan anggota keluarga yang lain  belum tentu harmonis. Ketidak-harmonisan ini dapat memperparah perawatan lansia oleh anggota keluarga.  Hal ini amat berbeda dengan bayi, yang tidak mempunyai perselisihan dengan orang di sekitarnya.

Bagaimana menciptakan rasa sayang (compasion) dalam perawatan terhadap  lansia? Perlu ada pendidikan khusus? Dalam konferensi ini dibahas berbagai cara untuk meningkatkan jumlah dan mutu care-giver bagi  lansia dan meningkatkan kesadaran dan keahlian tiap anggota rumah tangga untuk dapat merawat lansia di rumah tangga mereka.  Bagaimana menumbuhkan perawatan untuk para lansia dengan rasa sayang, yang mungkin mirip ketika merawat bayi. Ini tantangan untuk semua penduduk, termasuk yang muda, karena mereka juga akan menjadi lansia.

Semua pertanyaan  belum terjawab. Namun,  semua hal ini akan kita alami. Salah satu cara mengelak dari menjadi beban untuk orang lain adalah dengan melakukan program penuaan aktif (active ageing). Kalau kita tetap sehat dan dapat melakukan kegiatan sehari hari tanpa bantuan orang lain, kita tidak akan mengganggu orang lain. Kita tidak membutuhkan care giver.

Pola active ageing memang dimulai sejak bayi dalam kandungan.(*)

 

Tulisan terkait:

Menua dengan Aktif: Tantangan Masa Depan

Three Pillars of Active Ageing in Indonesia

Financing Indonesia’s Ageing Population

 

 

Filed under: ageing, Bahasa Indonesia, Demography, economy, poverty, , , ,

Financing Indonesia’s Ageing Population

Aris Ananta

Mletiko, 14 May 2012

“Financing Indonesia’s Ageing Population”  appearing in Southeast Asian Affairs 2012, edited by Daljit Singh and Pushpa Thambipillai,  has just been published by the Institute of Southeast Asian Studies, Singapore,  2012.

The chapter  has the following sections: Ageing Population in Indonesia;  Threat of Population Explosion in Indonesia in the 1960s; Threat of Population Explosion of Older Persons in 2010s; From Liability to Asset; Two Policy Options for Financing the Ageing Population in Indonesia (alternative demographic scenarios and  an integrated policy package for the whole population); and Concluding Remarks.

The sub-section on “integrated policy package for the whole population” includes: Promotion of Active Ageing; Abolishment of Retirement Age, Seniority System, and Juniority System; Development of Market-based Insurance and Pensions; and Creation of Affordable and Just Universal Social Protection and Pensions for Everybody.

The following is the concluding remarks of the chapter.

Concluding  Remarks

In the 1960s and 1970s, Indonesia has policies on how to finance the baby boomers when they were young and unproductive, with its strong family planning programme.  However, the current government has not been sufficiently prepared to face the the threat of explosion of older persons, when the baby-boom generations become old and unproductive. Today Indonesia faces a different question: how to finance the rising number and percentage of the baby boomers who will soon become older persons. Indonesia will again have a high dependency ratio. This time, the high dependency ratio will reflect older persons, who still consume but have stopped producing. The economic consequences of the explosion of older persons can become disastrous for the younger persons, as the younger persons need to shoulder much heavier burdens to take care of the older persons.

This chapter provides recommendations on how to manage the economic consequences of the explosion of older persons with a life-long approach, considering all ages of the population and not only the older persons.

In short, the policy is to transform the older persons from a liability to an asset.  (*)

Filed under: ageing, economy, English, poverty, , , ,

FOOD SECURITY: Suatu Cara Pandang

Pengujung Mletiko yang budiman,

 

Presiden telah menginstruksikan bahwa Indonesia harus dapat menghasilkan surplus 10 juta ton beras di tahun 2014. Terlampir power point (yang telah sedikit saya revisi) berjudul “Food Security: Suatu Cara Pandang” yang saya presentasikan sebagai salah satu keynote di workshop berjudul “Workshop Systems Modelling untuk Kebijakan Prioritas Nasional: Menuju Surplus 10 juta ton beras di 2014”. Jakarta: UKP4, 25 Februari 2012.

Karena terlalu besar, file saya bagi dua menjadi Food Security Suatu Cara Pandang – 1 dan Food Security Suatu Cara Pandang – 2

 

Semoga berguna.

 

Salam,

 

Aris

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, poverty, statistics, , , , , , , , ,

Poverty and Global Recession in Southeast Asia

Just  Published

Edited by  Aris   Ananta and Richard Barichello

About the Book

Financial crises after financial crises have occurred, with widening impact and deepening severity. This book started  with an  objective to understand the impact of high inflation on poverty in Southeast Asia. However, global inflation moved quickly into recession in 2008. Southeast Asia was not an exception.

This book then refocused the title to Poverty and Global Recession in Southeast Asia. It is a modest attempt to contribute a better understanding of poverty and food security in Southeast Asia during the 20089-09 global recession, considering both recent development and the previous major crisis of 19979-98. The book may also help to anticipate some possible impacts of future global recession on food and poverty, not only in Southeast Asia, but also in many other countries in the world.

The book was published by Institute of  Southeast Asian Studies, Singapore, 2012. (*)


Filed under: economy, English, poverty, , , , , , , , , , , , , , ,

PARADIGMA-BARU PEMBANGUNAN EKONOMI*

Aris   Ananta

Depok, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 13 Desember 2011

Selama ini setiap laporan perekomian selalu dimulai dengan statistik  yang berkaitan dengan pendapatan nasional (GDP).  Contohnya, berapa persen pertumbuhan ekonomi, berapa pendapatan per kapita? Kemudian, bagaimana meningkatkan ekspor dan investasi asing agar pertumbuhan ekonomi meningkat dengan cepat?

Selain itu, sering muncul perdebatan apakah perbaikan lingkungan hidup mengganggu pertumbuhan ekonomi, apakah pelaksanaan good governance, termasuk pelaksanaan demokrasi, mengganggu pertumbuhan ekonomi.  Apakah usaha meningkatkan status kesehatan masyarakat bertentangan dengan usaha mempercepat pertumbuham ekonomi?

Dalam paradigma baru, yang saya tawarkan, kita membalik cara berpikir ini.  Pendapatan nasional, pertumbuhan ekonomi, dan pendapatan perkapita bukan tujuan pembangunan ekonomi. Pendapatan nasional, pertumbuhan ekonomi, dan pendapatan per kapita sekedar salah satu  alat untuk mencapai tujuan pembangunan.  Pertumbuhan ekonomi merupakan alat yang penting, namun bukan satu satunya alat.  Dengan kata lain,   pertumbuhan ekonomi  bukan pengukur tujuan pembangunan. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, poverty, statistics, , , , , , , , , ,



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin. Click here to find out more about them.

We are researchers in the field of demography, social and economic statistics, and economics, focusing on Indonesia and Southeast Asia. Click here to find out more about OUR PUBLICATION .<br

Our research interest is the intersection of:

Categories

Archives

Visitors

  • 142,284

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 93 other followers