Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Third Demographic Transition: Call for Papers

24 April 2017

CALL FOR PAPERS

Population Review is seeking quantitative research papers on the Third Demographic Transition (TDT). As originally discussed by Professor David Coleman in 2006, the TDT is underpinned by the assumption that population mobility, particularly migration, alters the ethnic/race composition of a population in developed countries, resulting in positive and negative socioeconomic consequences.  In 2016, Professor Aris Ananta found that a similar pattern materialized in developing countries (e.g. Indonesia).

 

This call for papers seeks high-quality contributions on the TDT as it applies to both developed and developing countries. Papers may include a topic within a specific country, a collection of countries or an entire geographical region. Papers that survive the peer-review process will be compiled into a Special Collection, which will be accessible online at www.populationreview.com.

For more detailed information, please read TDT. Call for Papers

Filed under: Demography, English, Ethnicity, internal migration, international migration, migration, statistics

MIGRATION AND VIOLENCE IN INDONESIA

Aris  Ananta

For ISEAS  Newsletter, Vol II, 2010

“Most often, what appears to be religious conflict is political rivalry using religion as a strategy to create social and political instability”

Read the article in ISEAS Newsletter, PAGE 7

Filed under: English, internal migration, migration, , , , , , , , , ,

Business Must Learn From Batam Unrest

Evi  Nurvidya  Arifin

Jakarta Globe, 1  May 2010

The labor rampage in Batam on April 22 indicated a last-ditch, desperate attempt by enraged Indonesian workers to fight wage discrimination, wage inequality and a feeling of injustice inside their company. The incident was isolated but the feelings are not. In the globalized economy, our citizens pay globalized prices for many goods and services, yet their income is decidedly local.

The Drydocks World Graha incident was just the tip of the iceberg. The firm is managed by Singapore-based Drydocks World SE Asia, a Dubai-owned firm, and employs tens of thousands of Indonesians and foreign workers.

The riot was sparked after a non-Indonesian supervisor allegedly made a racist statement, berating one of the Indonesian workers for making a mistake. Reading various news reports, it seems that the supervisor frequently uttered such racist statements to his subordinates. This insensitivity combined with pent-up unrest about issues of wage disparity to set off the workers .

There is one crucial feature about Batam: Its development rests largely on the backs of migrants, either those who come from throughout the archipelago or from other countries. Read the rest of this entry »

Filed under: Demography, economy, English, internal migration, international migration, , , , , ,

Merenungi Statistik: Jalan Macet dan Sariawan

Aris Ananta

Dari Singapura, di hari ini, tanggal 21 September 2009, saya membayangkan keriuhan dan keramaian di Indonesia, terutama di kota kota kecil dan pedesaan. Jalanan yang padat dan penuh suka cita. Dari cerita cerita di koran, makin tahun kepadatan lalu linta saat lebaran memang terus meningkat. Ini memang mengagumkan. “Pertanda ekonomi kita makin baik”. Lagipula, orang tidak mengeluh bukan?

Lamunan ini mengingatkan pada tulisan saya di blog ini beberapa saat yang lalu, soal jalan macet dan pertumbuhan ekonomi. Saya mengritik penggunaan statistik penjualan mobil sebagai indikator pembangunan ekonomi. Saya katakan, kalau statistik ini dipakai, tentu saja jalan di Jakarta dan kota kota lain akan bertambah macet.

Beberapa kawan yang membaca tulisan itu telah memprotes saya. Kata mereka, statistik penjualan mobil itu memang memperlihatkan permintaan di masyarakat. Peningkatan penjualan mobil berarti memperlihatkan telah terjadinya peningkatan pendapatan masyarakat, bahwa perekonomian terus maju. Kalau jalanan jadi macet, demikian kata teman tersebut, yang salah bukan kemajuan ekonominya, tetapi sistem transportasi yang jelek. Tampaknya, teman itu mengasumsikan bahwa para ekonom memang tidak menaruh perhatian pada hal hal seperti kemacetan lalu lintas.

Saya kemudian teringat cerita yang dulu, di tahun 90-an, sering saya sampaikan waktu memberi kuliah Ekonomi Kependudukan di FE-UI, waktu memberi kuliah kependudukan di Program Studi Kependudan dan Ketenagakerjaan di UI, dan dalam berbagai seminar mengenai penduduk dan pembangunan.

Alkisah, ada seorang kawan yang sangat senang makan makanan yang pedas. Kalau makan, sambalnya banyaaaak sekali. Namun, kasihan, dia juga sering menderita sariawan. Tidak tanggung tanggung, dia sering mengalami tujuh sariawan sekaligus di mulutnya. Kiri atas dan bawah, kanan atas dan bawah, lidah bagian atas dan bawah, dan juga di bibir. Bayangkan, dengan begitu banyak luka sariawan di mulutnya, dia makan sambal yang demikian banyaknya. Tentu amat amat sakit. Teman itu sudah tidak dapat menikmati sambal ketika dia mengalami sariawan.

Siapa yang salah? Sariawan atau sambalnya? Apakah sambal menyebabkan kawan itu menderita? Jawabnya bisa ya, bisa tidak. Kalau dia tidak menderita sariawan, sambal itu memberikan kenikmatan luar biasa untuknya. Kalau dia menderita sariawan, sambal itu menjadi sumber penderitaan yang luar biasa.

Penyelesaiannya: ya..sembuhkan sariawan itu, agar dapat selalu menikmati sambal. Atau, sementara sariawan berjangkit, jangan makan sambal dulu.

Soal sambal dan sariawan ini mungkin dapat menerangkan soal jalan macet dan pertumbuhan ekonomi yang saya tulis di blog ini.

Pertumbuhan ekonomi itu bagaikan sambal dan jalan macet itu sariawan. Kalau tahu sedang menderita sariawan, mengapa memaksakan makan sambal? Kalau teman itu memaksakan makan sambal, teman itu tentu menderita sekali. Kecuali bahwa dia mengatakan pada diri sendiri bahwa kelezatan makanan adalah berapa banyak sambal yang dapat kita lahap, tidak pandang penderitaan yang kita alami karena sakit yang disebabkan kombinasi sariawan dan sambal.

Kita pun dapat memaksakan pertumbuhan ekonomi yang diukur dengan penjualan mobil, sambil menderita kemacetan lalu lintas, dan menghibur diri…”ini tandanya ekonomi kita bagus”

Pembangunan semacam ini kah yang kita inginkan? Kita tetap ingin makan sambal walau menderita sariawan? Kalau memang itu yang kita inginkan, ya…kita harus bersyukur bahwa Jakarta makin macet.

Karena kita tahu sistem transportasi masih jelek, kita jangan mendorong penjualan mobil. Kita perlu mencari sumber pertumbuhan ekonomi yang lain. Saya tidak percaya bahwa para ekonom tidak peduli dengan masalah kemacetan lalu lintas. Saya tidak percaya bahwa para ekonom sekedar ingin menaikkan pertumbuhan ekonomi, apa pun dampaknya, termasuk dampak pada kemacetan lalu lintas.

Semoga “kepercayaan” saya ini memang masuk akal. Semoga kemacetan di Jakarta dan kota kota lain di Indonesia dapat berkurang. Semoga lebaran tahun depan tidak sepadat tahun ini, sehingga memungkinkan lebih banyak orang untuk saling bersilaturahmi.

Singapura, 21 September 2009

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, internal migration, migration, Uncategorized, , , ,

Demographic Changes and International Labor Mobility in Indonesia

Demographic Changes and International Labor Mobility in Indonesia

By Aris Ananta and Evi Nurvidya Arifin

This paper aims to contribute a better understanding on the demographic and mobility transitions in Indonesia. It describes the relatively fast demographic transition and the accompanying change in migration pattern in Indonesia, a multiethnic and multi-religious country. The discussion on mobility transition includes both internal and international migration. The discussion on the stages of the demographic transition is not limited to the “first demographic transition”, but also included the “second demographic transition”. The first transition is completed when the population reaches replacement level of fertility, usually with TFR (total fertility rate) about 2.2. Van de Kaa (1987) coined the terms “second demographic transition” when the population is already below replacement level of fertility, with TFR lower than 2.2 per woman and IMR (infant mortality rate) less than 30 per 1000 live births. The shift to the second demographic transition indicates a shift from the dominant role of community to that of individual behaviour and decision.

Read the rest of this entry »

Filed under: English, internal migration, international migration, migration, publications, , , ,



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin. Click here to find out more about them.

We are researchers in the field of demography, social and economic statistics, and economics, focusing on Indonesia and Southeast Asia. Click here to find out more about OUR PUBLICATION .<br

Our research interest is the intersection of:

Categories

Archives

Visitors

  • 112,821

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 93 other followers