Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Perempuan dan Pasar Kerja

“Memaksakan Perempuan Masuk Pasar Kerja bisa jadi tidak benar. Yang penting tidak ada hambatan perempuan masuk kerja. Menghargai apa pun pilihan perempuan juga bagian dari pembangunan”  Evi Nurvidya Arifin (Kompas, 31 Maret 2017). Selengkapnya, silakan baca di sini.

Advertisements

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, ,

Apinya Para Jago

Aris Ananta, 22 Januari 2017

Imlek (Chinese New Year) segera tiba. Tahun akan berganti dengan Tahun Ayam Jago.

Di tahun ini akan muncul para “Jago”, yang membusungkan dada, memamerkan kehebatan mereka.

Semoga tahun ini berisi para Jago yang penuh kasih-sayang, mudah memaafkan. Para Jago yang membawa rasa nyaman, bukan mengobarkan kemarahan dan kebencian. Para Jago yang membusungkan dada bahwa mereka toleran, tidak gampang marah. Para Jago yang bersaing dalam menciptakan kedamaian di antara semua manusia, semua mahluk hidup dan lingkungan mereka.

Tahun yang segera datang adalah juga Tahun Ayam Jago yang bersifat api. Semoga para Jago membawa api saling memaafkan, api pencerahan jiwa, api kedamaian, api kasih sayang, api persaudaraan, api kebersamaan, api keragaman. Para Jago yang anti korupsi dalam perbuatan sehari hari, yang bekerja keras dengan jujur, yang menjaga lingkungan mereka, yang selalu mengasihi siapa saja.

Kita semua adalah para Jago, tidak pandang usia, jenis kelamin, pendidikan, agama, suku bangsa dan berbagai latar belakang kita.

Selamat Imlek.

Filed under: Bahasa Indonesia, Ethnicity

Jakartaku Nan Indah

Aris Ananta, 16 Januari 2017

 

Ini bukan ulasan ilmiah. Sekedar ngobrol, berbagi perasaan. Hampir 2 tahun aku kembali hidup di Indonesia, khususnya Jakarta. Persisnya mulai tanggal 5 Februari 2015. Tiga hari kemudian, rumah direndam banjir. Air masuk rumah hampir setengah betisku. Tiga hari air baru mulai menyusut. Di luar rumah masih di kepung air. Kami bahkan sempat membeli sayur dan buah di “sungai apung”, jalanan yang menjadi sungai tetapi tukang sayur sudah berani jualan dan kami pun sudah bisa keluar rumah dengan menerobos air.

Banjir sudah jadi “nasib” Jakarta tiap tahun. Aku putuskan kembali ke Jakarta dan sudah pasrah dengan nasib ini. “Hanya setahun sekali”, kata seorang keponakanku. “Seperti berkemah,” kata seorang anakku. Aku hanya bisa senyum kecut mendengar komentar anak anak muda ini.

Namun, “nasib” memang berubah. Tahun 2016 bebas banjir. Kalau pun ada air tergenang karena hujan, air surut dengan cepat. Kalau dulu aku selalu was was akan banjir bila awan sudah gelap sekali, kini aku lebih tenang. Aku tahu, tak akan banjir seperti dulu lagi. Tak perlu bingung menaikkan kursi, dan perabot rumah tangga lagi. Kendaraan tak akan mogok di jalan.  Semoga Jakarta terus makin bebas dari banjir. Genangan air akan hilang. Jakarta akan menjadi contoh kota kota lain di Indonesia dan di negara berkembang lain.

Sungai dan danau dibenahi. Semoga suatu saat, sungai dan danau di Jakarta dapat menjadi daerah wisata dan penyangga persediaan air penduduk Jakarta.

Bukan hanya soal banjir dan air. Dua tahun hidup di Jakarta, aku juga merasakan berbagai perbaikan lain. Lalu lintas masih macet, tetapi kami kini aku makin sering menjumpai titik titik yang lancar. Fasilitas di “busway” makin baik. Para orang tua dan cacat mendapat perhatian yang ramah dari petugas. Busway memang tidak mengurangi kemacetan, tetapi telah banyak membantu penduduk Jakarta dalam mobilitas mereka sehari hari, dengan harga terjangkau. Busway membantu mengurangi rasa ketidak adilan.

Di saat aku memberikan kuliah, hampir tiap hari aku naik KRL (kereta listrik). Biayanya murah karena mendapat subsidi dari pemerintah. Belum senyaman MRT di Singapura, tetapi sudah amat bagus. Menghindar dari kamacetan. Para penumpang yang masih muda pun sering dengan gesit memberikan tempat duduk ke penumpang yang sudah lansia, ibu hamil, orangtua dengan anak anak. Memang, di jam jam tertentu penumpang berjubel, seperti halya di MRT Singapura ketika di jam jam berangkat dan pulang kantor.

Turun dari kereta di stasiun Universitas Indonesia. Aku berjalan kaki menerobos hutan kampus. Nikmat sekali. Segar. Tiba di kampus FEB. Sering saya berkeringat. Tetapi tak apa, saya membawa ganti baju. Indah sekali. Siap mengajar dengan segar.

Tempat tempat yang rawan dengan kriminalitas makin sedikit jumlahnya. Aku terpesona melihat betapa santainya penduduk Jakarta bermain HP di tempat umum, bahkan di sepeda motor… walau itu berbahaya. Di bus, di kereta, di mana saja, orang ber- HP. Bahkan membawa komputer ke mana mana. Betapa amannya Jakarta saat ini.

Aku juga senang dengan makin banyaknya tanaman di tempat umum. Mengurangi stress di jalan raya.

Tempat bebas dari asap rokok juga makin banyak. Kalau pun masih ada yang merokok, mereka biasanya sudah merasa bersalah, kalau ditegur.

Birokrasi pemerintah? Wah.. beda banget. Birokrasi pemerintah makin efisien. Kami merasakan efisiensi dan profesionalitas para petugas di birokrasi pemerintahan.

Ah.. masih banyak lagi yang aku lihat. Tetapi, catatan ini aku akhiri di sini saja. Sedikit renungan dari 2 tahun aku kembali hidup dan bekerja di Jakarta. Jakartaku yang indah dan akan makin indah. Semoga di hari hari dan tahun tahun ke depan Jakartaku akan terus makin indah.

Filed under: Bahasa Indonesia, jakarta

Merokok, Sakit Sakitan, dan Pertumbuhan Ekonomi!

Aris Ananta

28 Agustus 2016

Tidak sehat tak apa apa, karena ekonomi justru terus tumbuh dengan baik. Merokoklah. Jangan kuatir bahwa anda, pasangan anda, keluarga anda, teman anda dan orang lain akan sakit dan sakit sakitan. Ini adalah pengorbanan anda semua demi pertumbuhan ekonomi. Tetapi, siapkah anda menjadi sakit dan sakitan sambil nonton pertumbuhan ekonomi yang menakjubkan? Itu kah yang anda inginkan dari pembangunan ekonomi? Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, Uncategorized, , ,

Merokoklah, Demi Pertumbuhan Ekonomi

Pembaca yang budiman,

Merokoklah terus. Sakit dan sakitan tidak apa apa. Anda akan membantu pertumbuhan ekonomi. Demi kesejahteraan industri rokok kita diminta terus merokok. Jangan risaukan sakit dan sakit sakitan, anda pahlawan ekonomi.

Lucu ya? Semoga anda tidak mau menjadi pahlawan ekonomi seperti ini. Kasihanilah diri anda sendiri, pasangan anda, keluarga anda, dan masyarakat Indonesia.

Yuk, kita semua mengikuti gaya hidup sehat. Demi kesejahteraan kita semua. Selain itu, ada bonusnya. Kalau kita sehat, ekonomi akan tumbuh dengan berkelanjutan. Kalau kita sakit sakitan,  kita akan mengalami bencana demografi. Produktifitas turun drastis dan ekonomi juga akan berantakan.

Salam hidup sehat.

Aris

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, Uncategorized, , ,

Seminar on Demography of Indonesia’s Ethnicity

Teman teman yang budiman,

Buku Demography of Indonesia’s Ethnicity akan diseminarkan di BPS (Badan Pusat Statistik) pada tanggal 20 Oktober 2015, dari jam 9 hingga 12. Buku ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Aris Ananta,  Evi Nurvidya Arifin, M. Sairi Hasbullah, Nur Budi Handayani, dan Agus Pramono.

M. Sairi Hasbullah, Evi Nurvidya Arifin, dan Aris Ananta akan berbicara di seminar tersebut.  Dendi Ramdani  akan menjadi pembahas.

Undangan dapat dilihat di Undangan Seminar Demografi of Indonesia’s Ethnicity.

Salam,

Aris Ananta

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, Ethnicity, ,

Apa Arti Pertumbuhan Ekonomi 5,01 persen?

Aris Ananta

Mletiko, 6 November 2014

BPS baru baru ini mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan ke-3 tahun 2014 sebesar 5,01 persen. Artinya, dibanding dengan triwulan ke-3 tahun 2013, pendapatan nasional yang diukur dengan GDP naik dengan 5,01 persen.

Bloomsberg mengatakan bahwa angka ini lebih rendah dari 5,10 persen yang merupakan hasil survey yang dilakukan oleh Bloomsberg terhadap 26 ekonom.

Benarkah lebih rendah? Taksiran 26 ekonom itu memakai interval berapa? Taksiran BPS memakai interval berapa? Perbedaan dengan angka BPS sebesar 0,09 percentage point. Kalau angka 0,09 kita bandingkan dengan 5,10, perbedaannya adalah 1,8 persen. Dalam bahasa statistik, kita selalu bertanya, ini significant? Ini benar benar berbeda? Semua tergantung tingkat kesalahan 26 ekonom yang disurvey tersebut dan tingkat kesalahan yang dilakukan oleh BPS.

Lagipula, jawaban para ekonom itu merupakan harapan mereka, atau antisipasi mereka? Katakanlah perbedaan antara 5,01 dan 5,10 itu significant secara statistik. Lalu, siapa yang “salah”? Ini bukan pertanyaan yang mudah dijawab.

Ini bukan “cuma” angka, karena dapat mempunyai arti besar. Kita perlu lebih banyak statistikawan ekonomi, yang mau masuk lebih dalam ke arti statistik ekonomi dan perubahannya. (*)

Filed under: Bahasa Indonesia, statistics, ,



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin. Click here to find out more about them.

We are researchers in the field of demography, social and economic statistics, and economics, focusing on Indonesia and Southeast Asia. Click here to find out more about OUR PUBLICATION .<br

Our research interest is the intersection of:

Categories

Archives

Visitors

  • 120,783

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 93 other followers