Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

PERAN ANALISIS DEMOGRAFI DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN

14 Oktober 2013

Pengunjung Mletiko yang budiman,

Terlampir powerpoint yang saya sampaikan dalam kuliah di program studi kependudukan dan ketenagakerjaan, program pasca sarjana Universiras Indonesia, pada tanggal 1 Oktober 2013. Kuliah dihadiri mahasiswa dari beberapa angkatan, beberapa alumni program studi kependudukan dan ketenagakerjaan, serta  staf  dan mantan staf peneliti Lembaga Demografi FEUI.

Judul kuliah memakai “Perencanaan Ketenagakerjaan”, namun ini tidak secara khusus membahas ketenagakerjaan. Ketenagakerjaan dilihat sebagai bagian dari kependudukan.  Peserta kuliah diharapkan dapat mendiskusikan implikasi peran analisis demografi pada perencanaan ketenagakerjaan secara khusus.

Bahan Kuliah juga disampaikan untuk bahan masukan dalam Perencanaan Jangka Menengah Nasional (PJMN)  2015-2019 Indonesia dalam pertemuan kecil  yang diselenggarakan oleh Bappenas di Jakarta pada tanggal 2 Oktober 2013. Bahan ini pun digunakan untuk diskusi informal dengan staf Survey Meters di Yogyakarta pada tanggal 4 Oktober 2013 dan kuliah pada Fakultas Ekonomi UNS, Surakarta, pada tanggal 8 Oktober 2013.

Silakan click Peran Analisis Demografi powerpoint tersebut.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Aris Ananta

Advertisements

Filed under: ageing, Bahasa Indonesia, Demography, statistics, , ,

Emerging Patterns of Indonesia’s International Population Mobility: a note for discussion

Aris Ananta

Evi Nurvidya Arifin

Mletiko, 24 July 2013

New Feature

A new feature presented in this paper is analyzing international population mobility within the context of an overall population dynamics of a country—in this case, Indonesia. It is part of the current three mega-demographic trends in Indonesia: large and increasing number of population, ageing population, and changing pattern of population mobility (internal and international).

This note was presented at international population conference on “Migration, Urbanization, and Development”. Kuala Lumpur: Population Studies Unit, University of Malaya, 8 July 2013.  Click here for  a complete note and powerpoint presentation

(*)

Filed under: ageing, Demography, economy, English, statistics, Uncategorized, , ,

Population Dynamics and Environmental Sustainability

Aris   Ananta

5  April  2013

 

Concluding Remarks

The environmental impact of population dynamics is not only from the number of population, but also, and more importantly,  from quality of the population,  per capita consumption, and technology (including behaviour). If we insist to reduce the negative environmental impact of the number of population, then we should concentrate on the reduction of the number of population among those with the highest per capita consumption. Should we promote further reduction in fertility among those who do not have environmentally friendly consumption?

Otherwise, we can also change their behaviour. If their consumption is not environmentally friendly, then they should be the first target to change their behaviour.  This change in behaviour will motivate business to produce environmentally friendly goods and services. Then a continuing large number of population with rising human capital will become an important asset for the creation of environmental sustainability.

Family planning programmes should be strengthened with right-based approach, rather than as a means to speed up fertility decline and, then reduction in population growth rate.

Finally, to make an effective development programme, demographic information will help policy makers to know  the future number and sex-age-education  composition as well as spatial distribution of the people. Population is both the consumers and producers in development programmes (including those on environmental sustainability) and we therefore  should know their size, age-sex-education composition, spatial distribution and how they change over time.

 

To read the full note, please read Population Dynamics and Environmental Sustainability

 

Filed under: ageing, Demography, economy, English, statistics, , , , , , ,

Population Ageing in APEC Countries

Aris  Ananta

Mletiko, 2 April 2013

 

Concluding Remarks: vibrant and  healthy APEC older persons

 

Demographically, APEC in 2040 will be very different from APEC in 2010, when three of the world four largest countries, in terms of population size, are in APEC: China (first), the US (third), and Indonesia (fourth). India (non APEC) was the second. However,   in 2020s India will surpass China and becomes the largest country in the world. In 2030s, Pakistan (also non APEC) will replace Indonesia in the fourth place. Indonesia will be the fifth.

Though at different stages, all population in APEC countries (except Papua New Guinea) have and will be ageing. By 2040, East Asian countries and Singapore will take over the “domination” of older persons in APEC from the Western countries (the US, Canada, Australia, and New Zealand). The old-age dependency ratio in these Asian countries will be at least 40, meaning that the older persons will form at least 40 per cent of the working age population. Outside East Asia and Singapore, many other APEC countries will already have old-age dependency ratio as high as the US in 2010, more than 20. Read the rest of this entry »

Filed under: ageing, Demography, economy, English, statistics, ,

BANYAK ANAK DI INDONESIA?

Aris   Ananta

Mletiko, 28 Januari 2013

 

Tadi saya bertemu dengan seorang ilmuwan sosial asing (bukan orang Indonesia) dari suatu universitas ternama. Dia lancar berbahasa Indonesia, sering ke Indonesia, dan tahu banyak mengenai sosial politik di Indonesia.

 

Yang menarik adalah ketika dia mengatakan bahwa angka kelahiran Indonesia masih terlalu tinggi. Saya beritahu dia bahwa angka kelahiran total (Total Fertility Rate- TFR) di Indonesia sudah sekitar 2,4. Mungkin lebih rendah dari itu. Angka ini sudah rendah, tak jauh dari replacement level fertility, yaitu pada angka sekitar 2,1. Kalau lebih rendah dari replacement level, Indonesia akan segera mengalami masalah ageing, kekurangan tenaga kerja muda.

 

Dia tidak percaya pada statistik yang saya katakan. Alasannya? Dia pernah mengunjungi suatu desa di pelosok Indonesia.  Ternyata, dia melihat di satu rumah terdapat banyak anak, sampai tujuh orang. Saya katakan, dalam rumah tangga itu ada berapa perempuan? Kita mengukur angka kelahiran dari jumlah bayi per perempuan. Dia bilang, dia tidak memperhatikan. Mungkin aja ada poligami…………. (Dia tidak sadar bahwa dalam satu rumah tangga bisa saja ada lebih dari satu keluarga.  Bisa juga ada anak orang lain yang numpang di situ, seperti keponakan atau lainnya.).

 

Saya menanya dia lebih lanjut, kalau pun benar angka kelahiran ternyata tinggi di desa yang di pelosok itu, apakah ia berani membuat kesimpulan untuk Indonesia. Dan dia mengangguk dengan penuh yakin. Saya sedih. Saya kaget. Berani sekali dia membuat kesimpulan itu, dari kunjungan ke suatu atau beberapa desa menjadi kesimpulan nasional.

 

Dia ini ilmuwan sosial yang banyak dikenal orang di Indonesia. Pengaruhnya besar di Indonesia. Tetapi, mengapa membuat kesimpulan seperti itu? Dengan melihat “kenyataan” (itu pun dapat dipertanyakan) di suatu desa (atau mungkin dua atau tiga desa), dia berani menyimpulkan untuk Indonesia, dan mempertanyakan data statistik nasional yang dikumpulkan dengan sensus penduduk. Untunglah, dia bukan seorang demografer.

 

Saya memberitahu dia bahwa di banyak daerah di Indonesia, seperti kabupaten Gunung Kidul di Yogyakarta,   angka kelahiran sudah jauh di bawah replacement level. Hal ini terjadi karena angka kelahiran yang amat rendah ditambah migrasi keluar yang tinggi. Dia mengerti hal ini.

 

Lalu  dia mengatakan bahwa , masalah ageing di Indonesia adalah masalah pedesaan. Tidak terjadi di pekotaan. Melihat kepadatan penduduk yang tinggi di perkotaan, dia yakin bahwa Indonesia masih mengalami pertumbuhan penduduk yang tinggi seperti di tahun 60-an dan 70-an.  Saya gagal menerangkan ke dia  bahwa jumlah penduduk yang kini masih naik itu karena dampak tahun 60-an dan 70-an. Jumlah anak per perempuan sudah kecil, tetapi jumlah perempuannya masih banyak, maka jumlah anak secara keseluruhan masih terus meningkat. Dalam bahasa demografi, hal ini disebut population momentum. Ini lain dengan population explosion, yang diakibatkan karena angka kelahiran yang tinggi sekitar 5 atau 6.

 

Ilmuwan sosial itu tidak faham akan perbedan itu, dan dia ikut mendorong pemerintah Indonesia untuk terus mempercepat penurunan angka kelahiran. Dia tidak dapat mengerti bahwa kalau angka, yang sudah rendah di Indonesia, terus menurun dengan cepat, Indonesia segera mengalami kekurangan tenaga kerja muda. Tentu saja, Indonesia masih memperlukan perbaikan dalam program Keluarga Berencana, membantu keluarga seperti di pelosok itu, dan pasangan lain yang ingin melakukan kontrasepsi tetapi tidak mampu mendapatkan pelayanan kontrasepsi yang sehat, murah, dan nyaman. Namun, tujuan program Keluarga Berencana tidak lagi mempercepat penurunan angka kelahiran total, karena angka kelahiran sudah rendah, mendekati replacement level  *

 

Filed under: ageing, Bahasa Indonesia, Demography, statistics, , , ,

Some Policies for Ageing Population

Dear friends,

 

Below is my powerpoint  “Some Policies for Ageing Population” presented at a roundtable discussion on “A New Draft of the Population Policy in Thailand”. Bangkok: UNFPA, 26 August 2012.

 

Some Policies for Ageing Population

 

Best regards,

 

Aris Ananta

 

 

Filed under: ageing, Demography, economy, English, international migration, migration, , ,

SUARA LANSIA (VOICE OF OLDER PEOPLE)

Aris Ananta

Mletiko, 18 Mei 2012

 

Ketika Deven, bayi yang  baru berumur beberapa hari, menangis, orang di sekililingnya tidak merasa terganggu. Bahkan,  mereka senang melihat Deven menangis. Lucu, penuh tenaga. Padahal, Deven tidak bisa apa-apa. Hanya tiduran, menggerak –gerakan tangan dan kaki,  membuka tutup mata. Deven harus diberi makan (ASI). Harus dibantu mengganti pakaian, harus dibantu ketika buang air. Dan sebagainya, dan sebagainya…. Pendeknya, Deven amat tergantung pada orang lain untuk mengerjakan semua kegiatan dia sehari hari.

Orang senang merawat Deven.  Orang juga berharap Deven tumbuh dan suatu ketika dapat melakukan sendiri semua kegiatannya.

Namun, lain halnya dengan Nenek Tita, berumur 80 tahun, yang sudah mengalami demensia, hanya duduk di kursi roda. Rumahnya sempit dan tidak banyak ruang gerak untuk kursi roda. Dia buang air besar dan kecil di popok, dan harus ada orang lain yang membantu membersihkan popoknya. Untung masih bisa makan sendiri. Suami sudah meninggal. Satu satunya anak harus bekerja mencari nafkah, dari pagi sampai malam. Ia hanya ditemani seorang perawat bayaran.

Nenek Tita sering marah marah. Minta makanan yang tidak menyehatkan walau ketika muda ia amat menekankan pada makanan sehat. Ditambah dengan dimensia-nya, mengurus Nenek Tita sangat meletihkan. Tak ada “kelucuan” seperti ketika orang merawat Deven.  Tak ada harapan bahwa Nenek akan segera “normal” kembali, dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Marah marah Nenek ini juga membuat jengkel, sangat berbeda dengan marah Deven.

Memang, merawat (care) lansia  dan merawat bayi sangat berbeda.  Dua duanya bisa sama sama tidak bisa apa-apa. Dua duanya bisa sama sama membutuhkan bantuan kita. Tetapi, bayi sering memberikan rasa “lucu” dan menarik. Tetapi, lansia? Sering sudah tidak “lucu” lagi. Bahkan, lansia  juga sering memarahi orang yang merawat mereka. Marahnya lansia  sudah tidak “lucu”, tidak seperti marahnya bayi.

Oleh sebab itu, care-givers atau carers untuk para orang tua sering merasa letih, bosan. (Saya belum mendapatkan terjemahan care-giver atau carer. Perawat sering diartikan sebagai nurse, tetapi care giver atu carer bisa saja anggota keluarga, seperti suami/ istri, anak/ menantu, cucu, adik, keponakan, atau teman. Oleh sebab itu, di sini saya masih menggunakan istilah care-giver.)  Keletihan dan kebosanan  akan makin terjadi kalau care-giver tidak memahami keadaan para lansia  yang sakit.

Belum lama, pada tanggal 7 hingga 11 May 2012.  di Yangon, Myanmar, telah diselenggarkan Konferensi Regional se Asia Pasifik berjudul “Rapid Ageing: A Caring Future”. Diselenggarakan oleh HelpAge dan pemerintah Myanmar. Dalam konferensi ini para peserta berusaha memahami “Suara Para Lansia – Voice of Older People). Menarik sekali, dalam konferensi ini disampaikan perlunya komunikasi dua arah, perlunya memahami keadaan pasien, para lansia yang sakit. Para lansia sering dalam keadaan sunyi, terasing, tak dapat berbuat apa-apa. Mereka juga sering menjengkelkan para care-giver.

Dalam hal begini, rasa sayang (compassion) menjadi penting sekali. Tanpa rasa sayang, pekerjaan sebagai care giver untuk para lansia  menjadi pekerjaan yang sangat melelahkan. Para suami/ istri dan anggota keluarga lainnya, tanpa persaan sayang, akan merasa sangat terganggu dengan sakitnya para lansia. Sakitnya para lansia menyebabkan peningkatan biaya, habisnya waktu untuk terus menerus mengurusi mereka. Apalagi, kalau sakit para lansia ini tidak dapat disembuhkan dan para lansia  ini akan masih hidup lebih lama.

Dengan angka kelahiran yang rendah, dan penduduk Indonesia hidup lebih lama,  kita akan makin sering menjumpai lansia  yang sakit untuk waktu yang lama, yang selalu membutuhkan perawatan kita, yang membutuhkan care dari anggota keluarga. Mampukah para anggota keluarga memberikan perawatan pada lansia? Atau kah, pemerintah harus turun tangan memberikan profesional care giver untuk para lansia yang sakit sakitan?

Di sini lah perdebatannya. Dulu penduduk Indonesia didorong untuk ber-Keluarga Berencana. Sekarang angka kelahiran sudah rendah dan muncul isu baru, penuaan penduduk—makin banyak lansia yang hidup makin lama. Kalau mereka sakit sakitan, mereka jadi beban keluarga dan masyarakat.  Siapkah keluarga merawat anggota keluarga yang sudah lansia  dan sakit sakitan dalam waktu yang lama?  Apalagi, tidak jarang kita dengar bahwa hubungan antara lansia  yang sakit sakitan dan anggota keluarga yang lain  belum tentu harmonis. Ketidak-harmonisan ini dapat memperparah perawatan lansia oleh anggota keluarga.  Hal ini amat berbeda dengan bayi, yang tidak mempunyai perselisihan dengan orang di sekitarnya.

Bagaimana menciptakan rasa sayang (compasion) dalam perawatan terhadap  lansia? Perlu ada pendidikan khusus? Dalam konferensi ini dibahas berbagai cara untuk meningkatkan jumlah dan mutu care-giver bagi  lansia dan meningkatkan kesadaran dan keahlian tiap anggota rumah tangga untuk dapat merawat lansia di rumah tangga mereka.  Bagaimana menumbuhkan perawatan untuk para lansia dengan rasa sayang, yang mungkin mirip ketika merawat bayi. Ini tantangan untuk semua penduduk, termasuk yang muda, karena mereka juga akan menjadi lansia.

Semua pertanyaan  belum terjawab. Namun,  semua hal ini akan kita alami. Salah satu cara mengelak dari menjadi beban untuk orang lain adalah dengan melakukan program penuaan aktif (active ageing). Kalau kita tetap sehat dan dapat melakukan kegiatan sehari hari tanpa bantuan orang lain, kita tidak akan mengganggu orang lain. Kita tidak membutuhkan care giver.

Pola active ageing memang dimulai sejak bayi dalam kandungan.(*)

 

Tulisan terkait:

Menua dengan Aktif: Tantangan Masa Depan

Three Pillars of Active Ageing in Indonesia

Financing Indonesia’s Ageing Population

 

 

Filed under: ageing, Bahasa Indonesia, Demography, economy, poverty, , , ,



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin. Click here to find out more about them.

We are researchers in the field of demography, social and economic statistics, and economics, focusing on Indonesia and Southeast Asia. Click here to find out more about OUR PUBLICATION .<br

Our research interest is the intersection of:

Categories

Archives

Visitors

  • 139,998

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 93 other followers