Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Merokok, Sakit Sakitan, dan Pertumbuhan Ekonomi!

Aris Ananta

28 Agustus 2016

Tidak sehat tak apa apa, karena ekonomi justru terus tumbuh dengan baik. Merokoklah. Jangan kuatir bahwa anda, pasangan anda, keluarga anda, teman anda dan orang lain akan sakit dan sakit sakitan. Ini adalah pengorbanan anda semua demi pertumbuhan ekonomi. Tetapi, siapkah anda menjadi sakit dan sakitan sambil nonton pertumbuhan ekonomi yang menakjubkan? Itu kah yang anda inginkan dari pembangunan ekonomi?

 

Ketika sebagian dari kita marah marah terhadap rencana menaikkan harga rokok menjadi 50 ribu rupiah per bungkus, saya ingat sebagian teori ekonomi makro yang pernah saya pelajari. Kami, para ekonom, mengenal apa yang disebut aggregate demand, permintaan terhadap barang dan jasa di suatu masyarakat. Dalam bahasa sehari hari, aggregate demand yang menurun disebut dengan ekonomi yang lesu; aggregate demand yang membaik pertanda ekonomi yang bergairah. Aggregate demand antara lain dipengaruhi oleh tingkat konsumsi masyarakat. Makin tinggi tingkat konsumsi masyarakat, makin tinggi aggregate demand, dan makin tinggi pula pertumbuhan ekonomi kita. Maka, menurut teori ini, hidup boros (konsumtif) itu justru meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

 

Oleh sebab itu, saya dapat mengerti mengapa mereka yang marah marah. Menurut mereka, amat jelas bagaimana konsumsi rokok mendorong pertumbuhan ekonomi. Pertama, kalau orang makin tidak peduli pada kesehatan, dan makin kecanduan pada rokok, maka penjualan rokok akan makin luar biasa. Maka aggregate demand akan naik. Pertumbuhan ekonomi naik. Kedua, untuk terus meningkatkan jumlah perokok (dan jumlah orang sakit dan sakit sakitan), industri rokok pun berani mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk reklame. Hal ini menyuburkan dunia persurat-kabaran, televisi, dan berbagai media masa lainnya. Ini juga mendorong pertumbuhan ekonomi, dan makin banyak orang yang akan sakit dan sakit sakitan.

 

Ketiga, kalau para perokok pasif dan aktif menjadi sakit dan sakit sakitan, mereka akan meningkatkan konsumsi obat obatan dan pelayanan kesehatan. Industri obat obatan dan pelayanan kesehatan menjadi bergairah dan ekonomi tumbuh cepat. Selama orang hanya sakit dan sakit sakitan (tidak meninggal), perekonomian akan tumbuh melalui pertumbuhan industri obat obatan dan pelayanan kesehatan. Hal ini bagus untuk pertumbuhan ekonomi. Kalau anda tidak punya uang? Tak masalah, sekarang ada BPJS. Singkatnya, kalau anda sakit, anda menyumbang pada pertumbuhan ekonomi. Kalau sakit anda tidak kunjung sembuh, selama tidak meninggal, perekonomian akan lebih diuntungkan.

 

Mereka yang marah juga menyebutkan keuntungan lain dari merokok. Industri rokok merupakan industri yang amat besar di Indonesia. Penyumbang pendapatan negara yang besar. Kalau industri ini bangkrut, pendapatan negara juga berkurang banyak. Pertumbuhan ekonomi juga berkurang. Jadi, menurut teori ini, kita jangan bicara kesehatan, pikirkan pertumbuhan ekonomi, pikirkan pendapatan negara, pikirkan kelangsungan industri rokok, pikirkan kesejahteraan pekerja dan petani, pikirkan keuntungan para pengusaha rokok. Jangan kuatir anda akan sakit sakitan dan menderita, anda berkorban demi pertumbuhan ekonomi.

 

Namun, kalau kita sadar bahwa sekali sakit, sulit sekali kita pulih seperti biasa, maka biaya pengobatan itu amat besar. Biaya yang harus kita keluarkan untuk memulihkan kesehatan seperti sedia kala akan amat besar, jauh lebih besar dari keuntungan dari pertumbuhan ekonomi dan sumbangan cukai rokok. Apalagi kalau kita menghitung biaya yang hilang karena produktivitas yang turun drastis. Lebih parah lagi, juga ada kesejahteraan yang hilang karena harus sakit. Juga hilangnya kesejahteraan keluarga dan teman karena melihat anda sakit sakitan. Siapa yang mengurus anda yang sakit sakitan?

 

Oleh sebab itu pendapat bahwa yang mendorong peningkatan konsumsi rokok demi   pertumbuhan ekonomi  merupakan pemikiran ekonomi yang sempit dan sudah ketinggalan jaman. Di jaman sekarang kita bicara ekonomi yang berkelanjutan (sustainable economy), tidak berorientasi pada pertumbuhan ekonomi Pertumbuhan ekonomi adalah alat, bukan tujuan. Kesehatan adalah salah satu tujuan utama pembangunan. Pertumbuhan ekonomi tak boleh merusak kesehatan. Pertumbuhan ekonomi yang merusak kesehatan bertentangan dengan pembangunan yang berkelanjutan.

 

Singkat kata, kita mau pertumbuhan ekonomi tinggi (belum tentu untuk kita), tetapi kita harus sakit dan sakit sakitan?

 

Semoga harga rokok benar benar menjadi mahal. Reklame rokok diberi pajak yang tinggi. Ruang untuk para perokok perlu makin dibatasi, terutama di tempat tempat untuk umum. Semoga makin berkurang jumlah perokok.  Semoga masyarakat Indonesia akan sehat dan sejahtera, dan itu lah salah satu tujuan utama pembangunan ekonomi kita. Ada bonus, kalau kita sehat dan sejahtera, pertumbuhan ekonomi pun akan berkelanjutan.

 

 

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, Uncategorized, , ,

One Response

  1. geminimrmr says:

    Artikelnya bermakna, ringan tetapi dalam maknanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: