Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Bulan Puasa Hampir Usai

Aris Ananta

Mletiko, 18 Juli 2014

Tak terasa, kita sudah hampir memasuki minggu keempat bulan puasa. Sebentar lagi, Idul Fitri tiba. Perasaaan bercampur. Senang untuk menyambut Idul Fitri. Tetapi, galau meninggalkan bulan puasa, yang selalu saya nantikan.

Puasa kali ini puasa yang penuh tantangan. Ketidakpastian politik memecah bangsa Indonesia menjadi dua kelompok. Sekompok teman dekat tiba tiba merasa ada jarak di antara mereka. Mereka saling melihat, teman mereka ada di kelompok mana. Kalau di kelompok berbeda, mereka akan lebih hati hati untuk berbicara. Polarisasi (pengelompokan menjadi dua kutup yang berseberangan) dapat terjadi juga di suatu keluarga. Bahkan ada orang pacaran yang kemudian putus. Lebih parah kalau polarisasi terjadi antara suami dan istri.

Pertemanan di media sosial lebih seru lagi. Yang dulu friend bisa menjadi unfriend. Ada contact yang kemudian di-delete. Di media sosial, kita lebih susah memisahkan teman. Semua yang ada di contact akan membaca apa yang kita tulis. Maka, orang yang berseberangan dengan kita bisa muak dengan posting-an kita.

Keindahan suasana bulan puasa menjadi terganggu. Menjelang pilpres, polarisasi makin tajam. Saya semula berharap bahwa bulan puasa dapat meredam hal ini. Ternyata tidak terjadi. Saya kemudian berharap bahwa pilpres tanggal 9 Juli akan mengakhiri polarisasi ini. Ternyata juga tidak terjadi. Dan makin panas.

Akankah polarisasi berakhir setelah pengumuman dari KPU tanggal 22 Juli? Dapatkah yang kalah legowo, dengan segala kerendahan hati, menerima kekalahan? Dapatkah yang menang membatasi kegembiraan mereka, dan mau merangkul yang kalah?

Mumpung bulan puasa belum berakhir. Kita dapat mulai saling memaafkan. Kita maafkan teman kita, suadara kita, dan kita sendiri. Agar suasana dapat teduh. Agar di saat Idul Fitri, semua kita sudah dapat bermaaf-maafan dengan ihklas.

Semoga para elit politik dapat mendengarkan kata hati mereka. Kalau mereka tahu bahwa mereka kalah, tak usahlah mereka menempuh jurus hukum untuk terus mencoba menang. Lebih jelek lagi adalah kalau yang kalah malah terus memecah belah masyarakat dan menciptakan ketidak-stabilan sosial dan politik. Usaha itu hanya akan membuat rakyat tetap terbelah dan makin terbelah. Dalam setiap pertandingan, kalah adalah salah satu kemungkinan yang dapat terjadi. Kita memang harus siap kalah kalau kalau kita ikut bertanding. Demokrasi mengajarkan kita untuk menjadi pekalah yang baik (a good loser). Para petinggi politik perlu mengajari pengikutnya untuk belajar kalah. Menerima kekalahan bagian dari pertandingan dan demokrasi. Kedua kelompok telah berjanji untuk menjunjung demokrasi.

Saya kehilangan suasana bulan puasa yang indah. Namun, mungkin, justru ini ujian untuk kita semua? Mungkin, di sini lah indahnya bulan puasa kali ini. Untuk benar benar belajar saling memaaafkan, dalam suasana yang amat terpolarisasi. Saling memahami perbedaan.

Selamat melanjutkan ibadah puasa yang indah ini. Mohon maaf lahir dan batin (*)

Filed under: Bahasa Indonesia, , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: