Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Jangan Sembarangan dengan Statistik

Pembaca yang budiman,

Tampaknya kemampuan membaca statistik makin diperlukan di era globalisasi dan demokratisasi ini. Kalau tidak, statistik dapat disalahgunakan. Perdebatan soal statistik kini memanas berkaitan dengan quick count, yang memberikan prediksi kemenangan salah satu capres-cawapres. Perdebatan juga menyangkut lembaga yang melakukan survey. Memang, mutu suatu statistik sangat tergantung pada mutu penghasil statistik itu– kejujurannya, keahliannya, pengalamannya, rekam jejaknya, dan independensinya.

Berikut ini tulisan menarik dari Suara Pembaruan, 9 Juli 2014.

Selamat membaca.

Salam,

Aris

Suara Pembaruan, Rabu, 9 Juli 2014 | 20:18

Tipu Muslihat Lembaga Survei
Ada Upaya Mendelegitimasi Kemenangan Jokowi-JK

Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo menegaskan, ada kepentingan antara lembaga survei tertentu dengan salah satu pasangan capres melalui quick count untuk mendeligitimasi kemenangan Jokowi-JK.

“Saya pribadi sebagai salah satu orang yang menekuni bidang riset, cukup memahami bagaimana menilai hasil quick count yang lebih bisa dipercaya. Saya juga mengenal sebagian orang di lembaga yang melakukan quick count itu dan cukup memahami mereka.”

“Maka dalam konteks quick count ini, saya kurang percaya ada perbedaan metodologi. Justru saya cenderung melihat ada kepentingan antara lembaga survei tertentu dengan salah satu pasangan capres melalui quick count untuk mendeligitimasi kemenangan Jokowi-JK,” katanya.

Karyono Wibowo menjelaskan, ada beberapa alasan data quick count bisa berbeda.

Pertama, karena lembaganya partisan, memihak salah satu pasangan kandidat, sehingga data yang disajikan hasil rekayasa.

“Perbedaanyanya ada yang mencolok, ada yang soft, dan model ini biasanya bermain di ambang batas margin error,” katanya.

Kedua, karena adanya kesalahan metodologi. Kesalahan ini tak disengaja karena merupakan kesalahan metode.

Ketiga, adanya human error atau kesalahan yang disebabkan karena kesalahan atau keteledoran manusia.

“Setidaknya ketiga faktor itulah yang dapat memengaruhi data quick count bisa berbeda. Yang membahayakan, apabila selisih perolehan suaranya tipis, sehingga hal ini rawan dimanfaatkan untuk memanipulasi suara,” katanya.

Hasil quick count yang berbeda, kata dia, bisa digunakan untuk melegitimasi kecurangan baik melalui rekapitulasi suara atau dengan cara lain.

Namun, yang tak kalah membahayakan adalah efek dari perbedaan data tersebut telah membuat resah masyarakat dan bisa memicu konflik sosial.

“Saya mengimbau kepada lembaga survei yang melakukan quick count harus mempertanggungjawabkan hasil quick count secara ilmiah. Jangan main-main dengan data quick count. Karena jika terjadi konflik sosial akibat perbedaan data, maka lembaga tersebut tidak hanya sekadar mempertanggung jawabkan secara ilmiah, tapi harus mempertanggung jawabkan juga secara hukum. Lembaga survei harus mengawal proses demokrasi, bukan menodai proses demokrasi,” katanya. [L-8]

Filed under: Bahasa Indonesia, statistics, , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: