Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Ramadan, Bulan yang Saya Nantikan

Aris Ananta

29 Juni 2014

Puasa di musim panas di Amerika Serikat. Sahur sebelum jam 4 pagi. Buka setelah jam 9 malam. Hidup di lingkungan yang sebagian besar bukan Muslim. Kuliah berjalan seperti biasa, seperti kalau bukan bulan puasa. Tak ada keringanan untuk menjalankan ibadah puasa. Waktu buka pun sering terjadi di tengah tengah jam kuliah.

Tetapi, tiga teman saya, semua dari Indonesia, sungguh luar biasa. Mereka mengerjakan tugas kuliah dengan baik. Seorang di antaranya bahkan amat baik. Tak pernah saya mendengar mereka mengeluh karena mereka berpuasa. Mereka belajar yang sama giatnya, bahkan lebih giat, daripada di luar bulan puasa.

Ini terjadi di tahun 1978. Ketika itu saya bersama tiga teman saya belajar di Amerika Serikat. Saya benar benar melihat kehidupan tiga teman saya dari dekat. Saya sungguh kagum. Puasa membuat tiga teman saya lebih hebat. Tidak mengeluh. Bahkan, tampak sekali, tiga teman saya ini amat menikmati puasa. Luar biasa. Saya saat itu belum berpuasa, segala macam makanan masih saya makan.

Yang lebih mengagumkan lagi, mereka sering menyuruh saya makan, dan di depan mereka. Suatu malam, kami pulang dari kuliah, naik bis, menjelang buka puasa. Sebelum naik bis, yang membutuhkan waktu 45 menit, teman saya membeli makanan, untuk berbuka puasa di bis. Ketika jam buka tiba, teman saya makan makanan itu. Ternyata, dia sadar, bukan makanan halal. Dia pun berhenti makan, dan makanan itu diberikan ke saya. Saya menolak, tak enak makan di hadapan dia yang puasa, dan sudah saat berbuka. Teman saya tetap meminta saya makan.

Ketika saya terus menolak, karena tak enak makan di depan dia yang sudah saatnya buka, teman saya bilang “Aris tidak puasa. Demi kesehatanmu, kamu harus makan!”
“Bagaimana kamu? Sehat?” tanya saya.

Dia jawab, “Saya sudah niat puasa. Saya tidak apa apa. Kamu tidak niat puasa, maka kamu harus makan”. Saya pun makan di hadapan dia, yang perutnya masih kosong sejak jam 4 pagi. Waktu itu jam 9 malam.

Luar biasa. Itu indahnya puasa!

Alhamdulillah, kini saya pun dapat menikmati indahnya puasa. Berpuasa di Singapura, negara yang mayoritasnya bukan Muslim. Puasa memang indah. Bulan Ramadan selalu saya nantikan.

Selamat berpuasa untuk kita yang beragama Islam. Semoga bulan puasa ini membawa rahmat untuk kita semua, dan semua umat manusia, dan seluruh alamat semesta.

Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Filed under: Bahasa Indonesia, , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: