Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

PAK JK TERLALU TUA?

Aris Ananta

Mletiko, 27 Juni 2014

Beberapa orang mempertanyakan usia Pak JK, yang berusia 72 tahun untuk menjadi wakil presiden.

Pertanyaan ini mempunyai 3 kesalahan. Pertama, salah membaca data demografis. Kedua, belum faham kecenderungan demografis masa kini dan masa mendatang. Ketiga, pelanggaran hak azasi manusia.

Kesalahan pertama. Bung Karno menjadi presiden di tahun 1945 pada usia 45 tahun. Secara demografis, Bung Karno sudah amat tua. Pada tahun 1945, angka harapan hidup maskimal hanya 27,5 tahun. Artinya, ketika mulai jadi Presiden, Bung Karno sudah minimal 17,5 tahun lebih tua dari angka harapan hidup waktu itu.

Ketika Pak Harto menjadi Presiden di tahun 1967, usianya 46 tahun. Saat itu, angka harapan hidup di Indonesia sekitar 37,5 tahun. Jadi, Pak Harto juga lebih tua dari angka harapan hidup waktu itu, walau perbedaannya tidak sebesar ketika Bung Karno menjadi besar. Artinya, secara demografis, dibanding dengan angka harapan hidup, Pak Harto menjadi presiden di usia yang lebih muda dibanding ketika Bung Karno mulai jadi presiden.

Nah, Pak Jk sekarang berusia 72 tahun. Angka harapan di Indonesia kini minimal 72 tahun. Berarti, Pak JK sesungguhnya lebih muda dibanding dengan Pak Harto atau pun Bung Karno ketika mereka mulai jadi presiden.

Dengan kata lain, secara demografis, Pak JK masih muda. Usianya sama dengan angka harapan hidup Indonesia atau bahkan mungkin lebih rendah daripada angka harapan hidup di Indonesia.

Kesalahan kedua.Salah satu trend demografi saat ini dan masa mendatang adalah adanya penuaan pendududuk, meningkatnya jumlah dan proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas. Dengan kebijakan yang benar, peningkatan jumlah dan proporsi penduduk di atas 60 tahun ini dapat menjadi aset yang penting untuk Indonesia. Maka, kita membutuhkan Pak JK yang masih sehat, mandiri, dan produktif, dan muda.

Kesalahan ketiga. “Mencoret” orang gara gara usia adalah pelanggaran hak asasi manusia. Orang tak dapat di-“coret”, atau dipecat gara gara jenis kelamin dan usia. Promosi seseorang tak dapat dihalangi sekedar karena dia seorang perempuan. Bonus seseorang tak dapat dihalangi semata karena dia masih berumur 27 tahun. Seseorang tak dapat dihalangi untuk jadi wapres gara gara ia berusia 72 tahun. Melakukan diskriminasi atas dasar usia dan jenis kelamin adalah pelanggaran hak asasi manusia.

Marilah kita menilai orang berdasar kemampuan, bukan atas dasar usia dan jenis kelamin. Nilailah kesehatan mereka secara medis. Orang yang secara kronologis lebih tua tidak otomatis lebih lemah dari mereka yang kronologis lebih muda. Yang “tua” bisa secara biologis lebih sehat daripada yang “muda”. (*)

Baca juga

Mengapa saya pilih Jokowi

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, statistics, , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: