Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

PAK JOKOWI, SELAMAT ULANG TAHUN

Aris Ananta

Mletiko, 20 Juni 2014

Saya satu dari sekian banyak pengagum anda. Sekedar ingin ikut mengucapkan selamat ulang tahun. 21 Juni 2014.

Anda pasti lupa dengan saya dan istri saya. Kita bertemu di kantor anda, ketika anda menjadi walikota Solo untuk periode ke-dua. Waktu itu sama sekali belum ada isu bahwa anda akan menjadi gubernur DKI Jakarta. Kita ngobrol soal implementasi program anda di Solo.

Sebelum pergi ke Solo, saya dan istri sudah mendengar banyak tentang anda, tentang Solo. Sebagai seorang ekonom, saya senang sekali mendengar bagaimana dengan anggaran yang terbatas anda dapat memberikan pelayanan kesehatan dan pendidikan yang murah, bahkan gratis. Bagaimana anda dapat menertibkan kota Solo, menjadi kota yang layak huni, livable city. Anda menertibkan Solo dengan cara demokratis, bukan dengan kekerasan. Anda mementingkan musyawarah. Pedagang kaki lima yang membuat jalan semrawut mau pindah dengan senang hati. Luar biasa!

Ini adalah people centred development yang selama ini saya katakan dan tulis. Jokowi telah melaksanakan! Darimana dia belajar ini?

Dia memperhatikan aspek keadilan dalam tiap proses pembangunan. Dia sangat memperhatikan kepentingkan kelompok bawah. Dia menghentikan pembangunan mal, yang juga merusak lingkungan. Inilah environmentally friendly development, yang sering saya omongkan. Aspek keadilan pun, tak ketinggalan dia laksanakan. Saya hanya terbatas pada bicara dan menulis makalah. Jokowi melaksanakan.

Jokowi tidak menulis makalah mengenai bagaimana mengubah paradigma pembangunan, dari growth oriented development menjadi people centred development, environmentally friendly development, dan justice. Tetapi, Jokowi melaksanakan itu semua.

Ketika saya dan istri ke Solo, sebelum ketemu anda, kami sudah terkaget kaget betapa semua orang yang kami temui pasti dengan sumringah, penuh antusiasme, ketika kami tanya “Bagaimana Jokowi?” Ini bukan statistik yang representatif, tetapi sangat mengejutkan juga bagaimana orang Solo amat menyukai anda, dari semua lapisan.

Ketika hal ini saya sampaikan ke teman di Fakultas Ekonomi UNS, teman tersebut kemudian mengatur pertemuan kami dengan anda. Anda pun mau!

Setelah berbincang bincang kira kira 30 menit, kami pamitan pulang dengan rasa berbunga bunga. “Ada ya, orang seperti Jokowi”.

Saya katakana ke istri saya, “Kalau saja Jokowi jadi Presiden Indonesia, alangkah indahnya…….”

Tetapi, apa mungkin?

Saya dan istri berdikusi, dan akhirnya kami simpulkan “Mungkin saja dia jadi Presiden. Orang ingin perubahan. Orang Indonesia ingin Presiden seperti Jokowi. Yang tidak banyak omong. Tidak banyak wacana. Tetapi langsung melaksanakan. Dengan cara yang manusiawi. Santun. Sederhana.”

Ternyata, tak lama kemudian, anda dicalonkan jadi gubernur DKI. Tentu saja kami dukung sepenuhnya. Anda berhasil menjadi gubernur DKI.

Lagi lagi anda tunjukkan, anggaran dan teknologi bukan kendala. Teknologi yang anda pakai bukan teknologi unggul. Mengeruk sungai dan danau tidak perlu teknologi maju. Tetapi, anda menerapkan usaha pengerukan sungai. Banyak lagi contoh yang telah anda kerjakan. Dengan uang terbatas dan teknologi seadanya, anda memberesi banyak tempat di Jakarta.

Memang, Pak, yang jadi masalah bukan anggaran dan teknologi. Tetapi kemauan politik kita. Niat kita. Dalam Bahasa Inggris, it is not fiscal space, but political space. Dan anda telah mendobrak political space itu.

Sekarang anda menjadi capres. Anda yang ndeso, anda yang krempeng. Anda yang santun, manusiawi, demokratis, dan tegas. Anda yang langsung bekerja dan mau campur dengan masyarakat. Anda pemimpin yang tidak membedakan dengan yang dipimpin. Benar kata anda, “Jokowi adalah kita”

Kalau anda jadi Presiden, siapa yang diuntungkan? Seluruh rakyat Indonesia dan dunia. Lho..kok dunia? Ya.. anda akan menjadi presiden dengan paradigma pembangunan yang masih relatif baru, yang people centred, environmentally friendly, dan berdasarkan keadilan. Model anda akan ditiru di banyak negara.

Di Indonesia, banyak pemimpin daerah kini meniru gaya anda. Ini luar biasa. Buku teks pembangunan ekonomi di tahun 2025 akan banyak mengutip pengalaman Indonesia. Bukankah ini luar biasa? Semoga menjadi kenyataan.

Sampai di sini, saya tiba tiba merasa “kurang ajar”. Kok berani beraninya saya ber-“anda” ke capres yang sebentar lagi jadi Presiden?

Mohon maaf Pak. Rasanya, saya dekat sekali dengan anda, walau anda pasti lupa dengan saya. Saya yakin Pak Jokowi tidak marah kan?

Tetapi, kalau nanti jadi Presiden, apakah masih boleh ber-anda lagi?

Ra po po nggih Pak…..

Selamat ulang tahun dan selamat berjuang.

Salam,

Aris

Filed under: Bahasa Indonesia, , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: