Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

PELEDAKAN PENDUDUK: ISU MASA LALU

Aris Ananta

Mletiko, 12 Juni 2014

Di masa kampanye Pilpres, apa saja dapat dikaitkan dengan Pilpres. Diskusi soal kependudukan dapat pula dikaitkan dengan dukungan ke capres-cawapres yang mana.

Belum lama ini, saya melakukan diskusi kependudukan dengan beberapa teman. Saya mengutarakan tiga isu kependudukan Indonesia saat ini dan masa mendatang. Pertama, jumlah penduduk yang besar dan akan terus bertambah. Kedua, penuaan penduduk, yang ditandai dengan makin banyaknya penduduk lansia. Ketiga, peningkatan mobilitas penduduk Indonesia, terutama mobitas jangka pendek dan “non-permanen”, yang bisa disebut dengan “wira wiri”.

Ketika diskusi masuk jumlah penduduk yang besar, seorang kawan kemudian dengan semangat menyalahkan jumlah penduduk yang besar dalam berbagai masalah ekonomi, sosial, dan politik – dari kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan kemacetan di jalan. Oleh sebab itu, menurut teman ini, angka kelahiran harus terus diturunkan. Orang harus terus didorong menggunakan alat kontrasepsi. Ternyata teman ini mengaitkan dengan salah satu visi seorang capres, dan ia pendukung capres tersebut.

Saya katakana padanya bahwa di tahun 60-an dan 70-an, tiap orang perempuan mempunyai rata-rata 5 anak. Dengan jumlah anak yang banyak, sang ibu tak mempunyai banyak waktu untuk mengurusi dirinya, untuk terjun di pasar kerja, untuk kariernya. Uang yang diterima oleh pasangan (sebagian besar oleh suami) juga harus dibagi untuk jumlah anggota yang banyak. Akibatnya, mutu anak anak menjadi kurang baik. Nah, kalau jumlah keluarga semacam ini banyak, penduduk akan sulit keluar dari belenggu kemiskinan. Ini lah yang disebut dengan peledakan penduduk – population explosion. Maka, angka kelahiran perlu diturunkan.

Namun, kini keadaan sudah berbeda sekali. Setiap perempuan hanya mempunyai anak anak sekitar 2, paling paling 3 orang, bahkan ada yang hanya punya 1 anak. Namun, karena jumlah perempuannya banyak (akibat tingginya angka kelahiran di masa lalu), jumlah kelahiran menjadi besar. Dengan jumlah anak per perempuan yang sedikit, seorang ibu (dan suaminya) dapat lebih mengurus dan membiayai anak anaknya. Anak anak berpeluang untuk meningkatkan mutu modal manusia mereka. Sang ibu juga mempunyai waktu untuk menikmati dirinya sendiri, mengembangkan karier mereka, termasuk masuk ke pasar kerja.

Maka, jumlah kelahiran yang besar ini bukan lagi merupakan bencana. Bukan lagi merupakan peledakan peduduk. Penduduk yang berjumlah besar dengan keluarga yang kecil ini justru akan dapat menjadi modal pembangunan. Lihatlah betapa banyak negara sekarang “takut” pada Indonesia, karena Indonesia dapat menjadi negara dengan pendapatan nasional terbesar ke tujuh di dunia. Indonesia dilihat akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia, antara lain karena jumlah penduduknya yang besar.

Kalau kita masih selalu menyalahkan “jumlah penduduk yang besar” sebagai biang keladi permasalahan ekonomi, sosial, dan politik kita, kita akan melupakan permasalah pokok dalam berbagai bidang itu. Misalnya, kemacetan di Jakarta bukan karena jumlah penduduk di Jakarta yang besar. Tokyo yang padat dapat mempunyai sistem transportasi yang baik. Lalu lintas di Tokyo jauh lebih enak daripada di Jakarta. Bahkan, lalu lintas di New Delhi juga lebih enak daripada di Jakarta. New Delhi sudah punya MRT.

Semoga, siapa pun presiden yang terpilih tak akan melihat “peledakan penduduk” sebagai salah satu isu kependudukan Indonesia masa kini dan mendatang. (*)

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: