Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

EMPAT KRITIK PADA “BONUS DEMOGRAFI”

Aris   Ananta

Evi Nurvidya Arifin

Mletiko, 13 Oktober 2013

Akhir-akhir ini makin banyak orang bertanya ke kami, mengenai “Bonus Demografi” (Demographic Bonus) dan “Jendela Peluang Demografi” (Demographic Window of Opportunity). Ada yang membedakan dua istilah ini. Ada pula yang menyamakan. Dalam tulisan ini, kami menganggap dua istilah ini mengacu pada konsep yang sama.

Istilah “bonus demografi” ini sering digunakan di Indonesia, dan di banyak negara lain.  Demografer yang membawa pemikiran ini biasanya  berasal dari Amerika Serikat (walau tidak semuanya), termasuk dari Population Council, di New York. Demografer dari Eropa biasanya kurang berminat pada konsep dan analisis Bonus Demografi.

Berikut ini empat kritik kami pada “Bonus Demografi”: kelemaham dalam konsep, ketidak-jelasan kriteria indikator bonus demografi, kerancuan arti produktif dan tidak produkif, dan tak adanya relevansi dalam pembuatan kebijakan.

Kritik Pertama: Kelemahan Asumsi Dalam Konsep.

Konsep ini bermula dari pemikiran ekonom mengenai angka ketergantungan (dependency ratio), yang diukur dari jumlah penduduk tidak produktif dibagi dengan jumlah penduduk produktif. Semakin tinggi angka ini, semakin besar beban yang harus ditanggung oleh penduduk produktif. Semakin tinggi beban yang harus ditanggung, semakin kecil tabungan yang dapat dihasilkan oleh penduduk produktif. Semakin kecil tabungan, semakin rendah investasi yang dapat dilakukan di masyarakat. Semakin kecil investasi, semakin lambat pertumbuhan ekonomi.

Bonus demografi dikatakan terjadi ketika angka ketergantungan ini rendah. Artinya, tabungan diharapkan akan besar, dan investasi akan tinggi.

Asumsi bahwa semakin besar beban tanggungan, semakin kecil tabungan, tampaknya tak ada masalah. Tetapi benarkah asumsi bahwa tanpa tabungan tak akan ada investasi? Sesungguhnya, investasi tidak hanya berdasar tabungan, tetapi juga dapat dilakukan dengan meminjam dari bank. Investasi juga dapat dilakukan oleh pelaku dari negara lain, yang lazim disebut dengan penanaman modal asing atau  FDI (foreign direct investment).

Dengan demikian, tidak benar bahwa tabungan yang kecil otomatis berarti investasi yang kecil. Asumsi bahwa angka ketergantungan yang tinggi otomatis berarti investasi yang kecil juga perlu dikaji-ulang.  Artinya, tanpa bonus demografi pun kita dapat melakukan investasi. Kita dapat melakukan kebijakan moneter dan mendatangkan FDI.

Kritik Kedua: Ketidak-Jelasan dalam Indikator. Kapan Suatu Angka Ketergantungan Dikatakan Rendah?

Angka ketergantungan dapat dibagi atas tiga macam: angka ketergantungan muda, angka ketergantungan tua, and angka ketergantungan total. Angka ketergantungan muda diakibatkan oleh penduduk tidak produktif yang berusia muda, di bawah 15 tahun, dihitung sebagai jumlah penduduk di bawah 15 tahun dibagi dengan jumlah penduduk 15-64 tahun. Angka ketergantungan tua diakibatkan oleh penduduk tidak produktif yang berusia tua, di atas 65 tahun, dihitung sebagai jumlah penduduk usia 65 tahun ke atas dibagi dengan jumlah penduduk usia 15-64. Angka ketergantungan total merupakan penjumlahan angka ketergantungan muda dan tua.

Ketika angka kelahiran turun, persentase penduduk di bawah 15 tahun berkurang. Maka, angka ketergantungan muda berkurang.  Pada mulanya, turunnya persentase penduduk muda masih lebih cepat dari naiknya persentase penduduk tua. Maka, turunnya angka ketergantungan muda lebih cepat daripada naiknya angka ketergantungan tua. Akibatnya, angka ketergantungan total menurun.

Angka ketergantungan total ini akan terus menurun sehingga mencapai angka yang rendah. Namun, berapa yang disebut “rendah”?

Ada yang mengatakan bahwa “rendah” adalah suatu interval, selama angka ketergantungan di bawah 0,5. Jadi, yang penting di bawah 0,5.  Interval ini dimulai ketika angka ketergantungan turun menjadi di bawah 0,5 dan berakhir ketika angka ini naik lagi melebihi 0,5.  Tetapi mengapa 0,5? Tak ada alasan yang kuat. Dapat saja orang mengatakan 0,6 atau 0,4 atau lainnya.

Ada pula yang berpendapat bahwa “rendah” terjadi ketika angka ketergantungan mencapai titik yang terendah, bukan suatu interval. Oleh sebab itu, dengan pengukuran ini, bonus demografi terjadi dalam waktu yang lebih pendek daripada dengan pendekatan pertama.

Ketidak-jelasan dalam penentuan “rendah” memang membuat banyak orang bingung. Yang mana yang benar?

Sampai sekarang memang tidak ada konsensus mengenai yang mana yang benar.

Kritik Ketiga: Siapa Yang Disebut Produktif Dan Tidak Produktif?

Ketika konsep bonus demografi semula digunakan, penduduk yang tidak produktif adalah penduduk tua (di atas 65 tahun) dan penduduk muda (di bawah 15 tahun). Kelompok muda dianggap sudah mengkonsumsi tetapi belum berproduksi, sedang kelompok tua dianggap masih mengkonsumsi tetapi sudah tidak berproduksi.

Namun, untuk negara berkembang seperti Indonesia, yang disebut penduduk tua (lansia) adalah penduduk 60 tahun ke atas. Jadi, pengukurannya pun harus diganti dengan penduduk 60 tahun ke atas, bukan 65 tahun ke atas.  Tetapi, benarkah semua penduduk di atas 60 tahun atau pun  65 tahun tidak produktif, dan menjadi beban masyarakat? Kalau kita lihat di sekeliling kita, banyak sekali penduduk usia di atas 60 tahun bahwa 65 tahun yang masih aktif dan banyak memberikan sumbangan ke masyarakat dan keluarga.

Di pihak lain, benarkah penduduk muda yang menjadi tanggungan hanya di bawah 15 tahun. Dengan adanya wajib belajar 12 tahun, yang namanya ketergantungan muda perlu diperluas hingga di bawah 18 tahun. Selanjutnya, kini makin banyak orangtua yang ingin anaknya menyelesaikan S-1. Artinya, ketergantungan muda perlu diperpanjang lagi hingga di bawah 25 tahun.

Selanjutnya, benarkah semua penduduk yang dikatakan produktif benar benar produktif. Bagaimana mereka yang tidak dapat berpartisipasi di pasar kerja, mereka yang penghasilannya rendah dan pas-pasan, dan mereka yang sakit sakitan?

Singkatnya, pengukuran produktif dan tidak produktif masih amat tidak jelas. Akibatnya, pengukuran  angka ketergantungan juga tidak jelas. Selanjutnya, pengukuran bonus demografi juga dapat bersimpang-siur.

Kritik Keempat, Apa Implikasi Kebijakan Bonus Demografi?

Sering kita dengar, bahwa kita harus memanfaatkan peluang adanya bonus demografi. Kita harus meningkatkan investasi, kita tingkatkan pendidikan, kita tingkatkan kesehatan. Pertanyaannya, kalau tak ada bonus demografi, apakah kita tidak mendorong,nvestasi, memajukan pendidikan, dan meningkatkan kesehatan?

Dengan kata lain, ada atau tidak ada bonus demografi, implikasi kebijakan akan sama: terus melakukan investasi, meningkatkan produktivitas, memajukan pendidikan, dan meningkatkan kesehatan.

Penutup

Sesungguhnya konsep “Bonus Demografi” merupakan konsep yang menarik yang menggambarkan pergesaran penduduk dari suatu proses yang disebut Transisi Demografi Pertama ke suatu proses lain yang disebut Transisi Demografi Kedua.

Diskusi mengenai Transisi Demografi Pertama dan Transisi Demografi Kedua dapat dilihat di  Three Demographic Transitions

Singapura, 13 Oktober 2013

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, Uncategorized, , , ,

4 Responses

  1. Susanne Josephine says:

    Greetings and Long Time No See….
    Selamat siang yth. bu Evy dan pak Aris Ananta….Hope still remember me, it’s been almost 25 years. Currently I’m doing my thesis, plan to research about demography in financial market. How do you see about Bonus Demografi dan Pasar Modal di Indonesia pak, bu? Thank you very much and look forward to getting your comments on the topic above. Kindly regards.

    • mletiko says:

      Bu Susane yang baik,

      Great to see you again, particularly through this Mletiko.

      My short answer is “no relationship between Demographic Bonus and Capital Market”. Read my critique on Demographic Bonus. First is on the measurements. The measurements of Demographic Bonus are very confusing. There are many measurements of demographic bonus. Different measurements imply different conclusions. Second, what is the new policy implication of demographic bonus? Nothing.

      My recommendation is to find another topic, not using demographic bonus.

      Hopefully, I can write on this thing again in Mletiko.

      Salam,

      Aris

  2. Banyak kesimpangsiuran terhadap bonus demografi di Indonesia seperti kritik yang disampaikan dalam artikel di atas. Setiap orang menginginkan negara dapat memanfaatkan bonus demografi ini sebaik-baiknya, oleh karena itu perlu dukungan setiap orang untuk sadar akan pendidikan dan mulai membangun kualitas dalam diri.

    • mletiko says:

      Teman di ruangguru yang baik,

      Terimakasih untuk komentar anda.

      Setuju sekali kita harus mendorong mutu pendidikan, agar tiap orang memahami dirinya sendiri, masyarakatnya, dunia, dan seluruh lingkungannya. Namun, untuk melakukan program ini apakah kita harus mengetahui konsep bonus demografi dan menunggu terjadinya bonus demografi? Tanpa adanya bonus demografi, kita juga akan mendorong mutu pendidikan tersebut.

      Kita sering mendengar berbagai implikasi kebijakan dari bonus demografi, termasuk peningkatan produktivitas, peningkatan prasarana, peningkatan kesehatan dst. Pertanyaannya, kalau tidak ada bonus demografi, kebijakan tersebut harus jalan juga bukan?

      Sementara itu, pengukuran bonus demografi sangat simpang siur. Selain itu, konsep bonus demografi berorientasi pada pertumbuhan GDP, belum mengikuti sustainable development, yang telah dicanankan oleh PBB sebagai agenda pembangunan pasca 2015.

      Konsep bonus demografi juga bertentangan dengan konsep Menua dengan Aktif (Active Ageing).Dalam konsep bonus demografi, orang berusia 65 tahun ke atas dilihat sebagai beban pembangunan. Dalam konsep Menua dengan Aktif, orang di atas 60 tahun atau 65 tahun bukan beban, tetapi modal pembangunan. Menariknya, beberapa teman yang bicara bonus demografi, yang melihat penduduk usia 65 tahun ke atas sebagai beban, justru sudah berusia di atas 65 tahun dan masih sangat produktif! Buat saya, teman tersebut bukan beban, tetapi modal pembangunan

      Pak JK, wapres kita, masih aktif sekali. Usia di atas 70 tahun. Dalam konsep bonus demografi, beliau itu beban pembangunan. Dalam konsep Menua dengan Aktif, beliau modal pembangunan. Mau pilih mana?

      Masih banyak yang dapat dipertanyakan di konsep dan pengukuran bonus demografi, yang akhir akhir menjadi bahasa gaul. Siapa pun sering merasa belum “lengkap” kalau belum menyebut bonus demografi di kala berbicara pembangunan.

      Salam hangat,

      Aris Ananta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: