Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

WIRA-WIRI: pola-baru dalam migrasi di Indonesia?

Aris  Ananta

Mletiko, 14 September 2013

 

Pada tahun 1975, Mochtar Naim mengungkapkan kekhasan budaya “merantau” dari suku Minang dalam disertasinya yang berjudul “Merantau: MInangkabau Voluntary Migration” di University of Singapore, Singapura.  Merantau merupakan konsep sosial orang MInang yang “mewajibkan” laki laki muda untuk mencari pengalaman di daerah lain, dan baru pulang sesudah berhasil. Selama pergi ke daerah lain, mereka jarang berkomunikasi atau pulang. Perginya pun amat jauh.

 

Namun, kini transportasi dan sistem komunikasi telah berubah dengan luar biasa. Jarak yang dulu jauh, yang menyebabkan orang tak dapat berkomunikasi dengan keluarga di kampung halaman, kini tak menjadi halangan. Sekarang, orang yang pergi ke daerah lain masih dengan mudah berkomunikasi dengan keluarga dan teman di kampung halaman. Pulang ke kampung halaman pun menjadi amat mudah karena adanya kemajuan transportasi.

 

Merantau memang tidak hanya terdapat di suku Minang, tetapi juga di suku lain seperti Bugis. Walau begitu, mungkin saja, kini, konsep “merantau” mulai berkurang relevansinya. Sebaliknya, pola migrasi mungkin kini makin diwarnai dengan pola “wira-wiri”.

 

“Wira-wiri” adalah kata dalam bahasa Jawa yang memperlihatkan kegiatan seseorang yang selalu berpindah tempat, selalu pergi, entah untuk mencari nafkah, atau sekedar untuk kesenangan. Kalau kita lihat gaya hidup orang Indonesia saat ini, tampaknya makin banyak orang Indonesia yang melakukan kegiatan wira wiri ini. Jarang menetap di suatu tempat. Hari ini di Yogya, esoknya di Semarang, seminggu kemudian di Jakarta, dan  sebulan kemudian di Kupang. Seorang lansia di Kuningan, Jawa Barat, pun terlihat sering bepergian ke Cirebon, Bandung, Yogyakarta, bahkan Makasar.

 

Memang, masih banyak yang bekerja kantoran dan terus menerus berada di kantor atau toko. Mobilitas hanya rumah ke  kantor/ toko saja. Tetapi,  tampak ada gejala bahwa sebagian masyarakat makin sering wira wiri, jarang menetap di suatu tempat.  Sayang tak ada statistik yang dapat mengukur “wira wiri”.

 

Data migrasi di tahun 2010 menunjukkan penurunan migrasi antar propinsi dibandingkan dengan data di tahun 2000. Namun, ini sekedar satu indikator bahwa pola migrasi di Indonesia mulai berubah, bukan lagi jangka panjang. Jarak bisa jauh, tetapi transportasi telah menyebabkan banyak tempat menjadi dekat.

 

Mungkinkah  pola wira wiri ini akan meluas, sebagai ganti berkurangnya relevansi merantau?  Ada yang tertarik untuk meneliti gejala “wira wiri” ini dengan lebih mendalam? Mungkin ada yang berniat menjadikan topik penulisan disertasi?

 

Sebagai penutup, saya ucapkan terimakasih pada Bapak Rake Setyawan dari Universitas Achmad Dahlan, Yogyakarta, yang memunculkan istilah ini dalam diskusi informal lewat e-mail dengannya.  (*)

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: