Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Pertumbuhan Ekonomi di Bawah 6 Persen!

Aris  Ananta

Mletiko, 21 Agustus 2013

 

Ekonomi Indonesia  makin sering dipuji oleh orang asing. Indonesia makin sering dilihat sebagai emerging global economic powerhouse, salah satu potensi kekuatan ekonomi dunia. Ini karena jumlah penduduk yang besar dan pertumbuhan ekonomi (GDP – Gross Domestic Product)  yang tinggi. Indonesia makin sering dilihat sebagai pasar yang menggiurkan, karena penduduk yang jumlahnya besar ini kini banyak mengkonsumsi (bahkan cenderung makin boros?). Selain itu, penduduk Indonesia yang jumlahnya besar ini juga makin berani dan mau berhutang.  Maka, pebisnis  asing berbondong bondong mengincar pasar Indonesia.

 

Konsumsi dalam negeri yang besar (yang antara lain karena gaya hidup yang boros, spekulatif, dan mungkin juga koruptif) ini antara lain telah menyebabkan Indonesia terbebas dari krisis ekonomi global di tahun 2008/ 2009.

 

Akhir akhir ini, kita mulai risau dengan keadaan ekonomi makro. Defisit neraca perdagangan yang makin besar (orang makin banyak mengimpor daripada mengekspor), inflasi yang makin tinggi (harga bukan hanya terus meningkat, tetapi meningkat dengan lebih cepat), dan nilai rupiah yang turun (orang asing menarik rupiah, karena ada tempat lain yang menarik untuk mereka).

 

Menarik bahwa gubernur BI, Agus Martowardoyo, pernah mengatakan bahwa Indonesia tidak perlu mentargetkan pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen.

 

Memang, harusnya begitu. Tumbuh lebih rendah juga lebih baik. Akan mengurangi inflasi. Naikkan suku bunga, agar orang tidak terus meminjam uang untuk spekulasi. Dengan bunga yang naik, orang akan mau menabung.

 

Mungkin, kita harus lebih berani lagi. “Selamat Tinggal GDP”. Kita masih perlukan GDP, tetapi bukan sebagai pengukur utama perekonomian.

Harga yang terus meningkat jelas menciptakan rasa ketidak-adilan di masyarakat.  Dalam situasi semacam ini, mereka yang berjiwa spekulan lah yang diuntungkan.

 

Maka, sudah saatnya suku bunga dinaikkan. Tak usah membuat target pertumbuhan GDP di atas 6 persen. Mau tumbuh 4 persen pun tak apa, asal inflasi rendah, suku bunga naik.

 

Para pembaca yang sudah telanjur belajar ekonomi makro bertahun tahun akan protes “Kalau tak ada pertumbuhan, bagaimana membiayai perekonomian?”.

 

Saya kira, pertumbuhan tetap kita butuhkan, tetapi jangan mentargetkan pertumbuhan yang tinggi. Jangan melihat pertumbuhan ekonomi sebagai primadona. Banyak hal lain yang penting, yang dapat dicapai dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah. Selama ini asumsi yang dipakai adalah makin tinggi pertumbuhan ekonomi, makin baiklah perekonomian itu. Apa betul?

 

Apa gunanya pertumbuhan ekonomi 6 persen kalau inflasi terus meningkat?(*)

Filed under: Bahasa Indonesia, economy,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: