Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Bulan Puasa dan Perekonomian

Aris   Ananta

Mletiko, 27 Juli 2013

Dalam tulisan saya yang lalu   ”Makan Apa di Bulan Puasa?”, saya menulis bahwa bulan puasa ini dapat merupakan kesempatan untuk menurunkan angka inflasi yang terus menggila akhir akhir ini. Bukan hanya angka inflasi (kenaikan harga), bahkan harga pun dapat diturunkan. Selama ini, harga harga  terus meningkat. Orang dengan pendapatan tetap akan terus dipaksa membayar “pajak”, tanpa tahu pendapatan “pajak” itu lari ke mana. Pajak itu berupa menurunnya daya beli mereka, karena harga yang terus naik, dan tak pernah menurun.

Salah satu cara konsumen untuk memprotes kenaikan harga adalah dengan mengurangi permintaan. Pada saat kita berpuasa, kita dapat hidup dengan lebih sederhana. Makan dan minum seadanya, secukupnya. Dengan demikian permintaan kita terhadap makanan dan minuman menjadi lebih sedikit daripada ketika sebelum puasa. Dengan permintaan (demand) yang lebih kecil, harga akan menurun. Minimal, kenaikan harga (inflasi) dapat ditekan. Hal ini dapat mengurangi beban Bank Indonesia dalam usahanya menurunkan inflasi. (Inflasi di Indonesia sangat tinggi dan selalu tinggi. Inflasi yang 5 persen sudah dianggap baik di Indonesia. Di Singapura, inflasi 3 persen sudah terasa memberatkan.)

Membaca tulisan saya tersebut, seorang kawan  (dosen di Fakultas Ekonomi suatu universitas negeri) mengirim e-mail ke saya.  Ia mengatakan bahwa kenaikan konsumsi di bulan puasa dan lebaran justru akan menaikkan permintaan barang dan jasa. Menaikkan aggregate demand. Menggairahkan perekonomian. Produksi akan meningkat. Pendapatan nasional akan meninggkat. Konsumsi akan meningkat lagi. Hal  ini mendorong permintaan terus meningkat , dan pendapatan makin meningkat.

Jadi, kata teman saya tersebut, kalau kita hidup sederhana di bulan puasa, makan secukupnya, bahkan lebih sedikit daripada ketika bukan bulan puasa, kalau kita tidak berusaha pameran kekayaan, maka justru perekonomian Indonesia dalam bahaya. Sekarang ini ekspor kita menurun. Kita mengalami defisit  neraca perdagangan. Maka, konsumsi dalam negeri lah yang dapat membantu mempertahankan pertumbuhan ekonomi.

Argumen teman tadi mengikuti cara berpikir John Maynard Keynes, seorang ekonom yang di tahun 1930-an merevolusi pemikiran ekonomi, yang kemudian melahirkan teori ekonomi makro. Pemikiran ini lah, yang tertuang dalam hampir semua buku teks ekonomi makro, yang kemudian diikuti oleh hampir seluruh pemerintahan di dunia.

Ada dua aspek yang akan saya sampaikan ke teman itu. Pertama, teori yang disampaikan itu berasumsi bahwa telah terdapat kapasitas produksi yang memadai untuk menanggapi kenaikan permintaan. Kalau kapasitas produksi (sisi supply, termasuk prasarana dan ketiadaan kartel/ oligopoli) tidak mencukupi, maka kenaikan permintaan hanya memicu kenaikan harga, dan penderitaan konsumen.  Tampaknya, sisi kapasitas produksi di Indonesia masih lemah. Ini salah satu sebab maka harga terus meningkat.  Oleh sebab itu, sikap konsumtif di kala bulan puasa tidak akan mendorong produksi, tetapi sekedar meningkatkan harga dan inflasi.

Kedua, apakah kita harus selalu berorientasi pada pertumbuhan ekonomi? Kalau ekonomi kita tumbuh dengan cepat, tetapi didukung dengan gaya hidup yang boros, gaya hidup yang mewah dan berlebihan, gaya hidup yang ditunjang hutang, apa yang bakal terjadi? Apakah pertumbuhan ekonomi seperti ini akan berkelanjutan? Apakah individu yang boros, yang bergaya hidup mewah, dan yang suka berhutang untuk kegiatan konsumptif akan dapat terus bertahan dalam keuangan mereka? Sampai kapan?

Di sisa bulan puasa ini, ada baiknya kita merenungkan kembali kebijakan perekonomian yang mendasarkan pada peningkatan konsumsi. Bahkan orang luar negeri pun tertarik pada kita karena konsumsi kita yang luar biasa besarnya. Dan kita bangga menjadi negara dengan konsumsi yang besar. Benarkah kebanggan semacam ini?

Teman saya tadi mungkin akan bertanya, bagaimana kalau pertumbuhan ekonomi menurun? Ya, mungkin lebih baik ekonomi tumbuh lebih rendah, tetapi dengan gaya hidup yang benar, daripada tumbuh cepat dengan gaya hidup yang tidak benar.  Tumbuh lebih rendah dengan gaya hidup yang sederhana akan lebih menjamin keberlangsungan ekonomi kita. Mungkin perekonomian tidak akan semenarik bila pertumbuhan ekonomi tinggi (dengan gaya hidup yang wah). Namun, walau pertumbuhan lebih rendah, tetapi bila disertai dengan gaya hidup yang sederhana, tidak boros, tidak berlebihan, dan tidak sembarangan berhutang, kita mungkin dapat lebih menikmati hidup ini.

Untuk teman teman ekonom, mari kita renungkan kembali apa yang telah kita pelajari selama ini. Mumpung bulan puasa belum berakhir. (*)

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , ,

One Response

  1. Dody Setyadi says:

    baik sekali pak pandangan bapak tentang keterkitan bulan puasa dengan inflasi namun sayang asumsi yang mendasari untuk sampai pada simpulan tersebut tidak dapat dipenuhi oleh sebagian pelaku puasa yang justru akan lebih menekankan buka dengan makanan yang lebih baik dari biasanya dengan jumlah yang lebih banyak pula. hal ini tentunya tidak semua individu berperilaku demikian, namun mungkin sebagian besar, karena pada bulan tersebut harga kebutuhan sembako menjadi terdorong naik. kondisi tersbut tentu tidak mungkin begitu saja terjadi, yang pasti penyebabnya adalah pola konsumsi yang justru lebih boros tersebut yang mengakibatkan harga menjadi naik. mudah-mudah an tulisan Pak Aris dapat mengingatkan saya masyarakat untuk berperilaku yang sesuai dengan ajaran puasa itu sendiri yaitu hidup sedrhana, makan minum secukupnya dan tidak bersifat hedonistik serta lebih mengedepankan peningkatan kesejahteraan yang semakin merata……. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: