Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Makan Apa di Bulan Puasa?

Aris  Ananta

Mletiko, 24 Juli 2013

Puasa telah berjalan selama 2 minggu. Banyak teman berdiskusi apa yang sebaiknya di makan agar badan tetap sehat, bahkan lebih sehat setelah bulan puasa usai. Selain itu, banyak pula teman yang sibuk berbelanja, mempersiapkan kunjungan di saat lebaran, makanan apa yang perlu dibawa atau disajikan, baju apa yang akan dipakai.  Tradisi ini sangat baik untuk mempererat persaudaraan dan pertemanan. Juga amat baik untuk menggiatkan perekonomian, apalagi, saat tulisan ini saya buat, nilai rupiah terus terus.

Susahnya, bulan puasa dan lebaran kali ini tampaknya juga disertai dengan inflasi yang meningkat. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa inflasi tahun ini dapat meningkat menjadi 7 persen.  Apalagi di saat mendekati lebaran, harga akan makin tinggi. Harga daging sapi masih mahal. Harga cabai juga mahal. Harga buah juga meningkat, walau masih lebih murah daripada harga daging.

Namun, mungkin harga harga yang mahal itu dapat membantu kita melakukan puasa yang baik, dengan mengkonsumsi secukupnya, tidak berlebihan. Misalnya, apakah perlu kita mengkonsumsi daging sapi? Kalau perlu, berapa banyak yang kita butuhkan? Harga daging mahal, banyak kolesterol.  Bagaimana kalau kita kurangi saja konsumsi daging sapi? Lebih sehat, dan meringankan beban keuangan kita.

Selain daging sapi, coba pulalah mengurangi konsumsi daging lain, termasuk ayam dan ikan. Ganti dengan buah  dan sayuran.  Buah dan sayuran menjadi makanan buka puasa yang menyegarkan.  Buah yang mudah didapat seperti pisang dan pepaya amat baik untuk kesehatan kita, dan harga lebih murah daripada harga daging sapi.  Buah dan sayuran juga baik untuk sahur, agar seharian kondisi badan kita dapat tetap segar.  Pisang juga mengandung kalori yang tinggi. Apalagi disertai dengan kurma dan/ atau kismis (raisin). Namun, hati hati jangan mengkonsumsi kurma yang telah dilapisi gula. Kalau semut mendatangi kurma, artinya kurma itu telah dilapisi gula. Jangan makan kurma semacam itu.

Di Indonesia banyak sekali makanan dengan sayuran yang murah dan enaaaak. “Jangan bening” dan “Terancam” di Jawa sekedar dua buah contoh. Orang Sunda juga terkenal dengan lalapan mereka. Makanan ini sangat menyehatkan, apalagi di bulan puasa.

Dengan harga makanan yang mahal, di bulan puasa ini kita juga dapat menyiapkan makanan secukupnya, yang benar benar untuk dikonsumsi. Kita usahakan tak ada makanan yang terbuang percuma.

Kita dapat kurangi makanan bergoreng, makanan manis, dan makanan yang banyak garam.  Ketika kita menyiapkan buka puasa dan sahur, kita usahakan mengurangi menggoreng (apalagi yang deep fry), mengurangi gula dan garam. Ini sebagai usaha mengurangi demand untuk minyak, gula, dan garam, agar harga dan inflasi turun. Selain itu, usaha ini juga akan meningkatkan kesehatan kita di saat puasa. Juga membuat kita merasakan hidup sederhana di saat puasa.

Enah lho.. berbuka puasa dengan minum juice buah atau memakan buah itu sendiri.  Selain itu, perut yang kosong akan cepat menyerap vitamin yang masuk ke tubuh kita.

O, ya, jangan minum dan makan yang manis ketika berbuka puasa. Gula akan terserap ke tubuh dengan terlalu cepat. Tidak baik untuk kesehatan, terutama mereka yang menderita penyakit yang berkaitan dengan gula.

Semoga konsumsi kita yang sederhana (dan menyehatkan) di bulan puasa dan lebaran dapat sedikit membantu menurunkan inflasi di Indonesia, dan  kita dapat lebih merasakan arti puasa.

Tentu saja, yang masih merokok, cobalah untuk benar benar berhenti merokok, terutama ketika berbuka puasa. Gantilah dengan buah yang segar seperti pepaya atau semangka atau lainnya.  Kita akan lebih sehat, orang sekitar kita (termasuk anak dan cucu kita)  juga akan merasakan kenikmatan dari udara yang bersih, dan kita semua akan dapat lebih menikmati bulan puasa.

Masih ada waktu 2 minggu, untuk memahami dan menikmati bulan puasa. Demikian,  sedikit renungan,  ketika mencoba memaknai puasa.  (*)

Filed under: Bahasa Indonesia, , , , , ,

2 Responses

  1. kibitv says:

    Pro: Pak Aris,

    Tulisan yang sangat membumi.

    Ini tanggapan guyon aja….

    Setiap bulan ramadhan banyak ustads dan kiyai mengatakan bahwa ramadhan adalah bulan yang paling ditunggu karena Allah memberi banyak sekali insentif pahala dan pemutihan dosa besar dan kecil. Sehingga tidak aneh ketika para alim ulama tadi mengharapkan semua bulan dalam satu tahun itu ramadhan semuaaaaa…..:-)

    Itu pandangan alim ulama, pandangan ekonom bisa beda.

    Sejak bertahun-tahun (siapapun Presidennya) bulan ramadhan bisa dimaknai bulan inflasi tinggi dan bahkan cenderung tidak terkendali. Padahal Pertumbuhan Ekonomi (Indonesia) sangat dipengaruhi konsumsi. Ketika Administered Inflation dilakukan Pemerintah dengan menaikkan harga BBM apa yang akan terjadi dengan target Menkeu bahwa Pertumbuhan Ekonomi 2013 adalah 6,3. Sedangkan ITF 2013 versi BI adalah 7,3%.

    Operasi Pasar masih menjadi jurus mengendalikan harga yang ternyata sudah agak tidak ampuh lagi. Ketika para mahasiswa demo kenaikan BBM bukan harga BBM yang jadi masalah besar tapi mereka adalah well educated yang sudah paham Expected Inflation yang ketika harga BBM naik akan menjadi pemicu naiknya harga lain, cabe, beras, daging sapi. .dan korbannya lagi-lagi rakyat.

    Salam inflasi
    Rake

  2. Dody Setyadi says:

    Salam pak, saya kembali mengenang ke periode th 92 sampai dengan 97 ketika saya menadi mahasiswa Bapak. Pak Aris adalah satu-satunya ekonom yang saya kenal mampu mebahasakan fenomena ekonomi yang rumit dengan bahasa yang sederhana, Pendapat Bapak tentang makna puasa sangat pas untuk memberi pencerahan pada sebgian masyarakat yang saat ini sedang melaksanakan puasa agar memahami bahwa perintah puasa secara implisit mengandung makna pengendalian Agregat demand yang diawali dengan pengendalian permintaan terhadap bahan makanan. kesederhanaan yang dipesankan dalam puasa hendaknya benar-benar dapat dijadikan sebagai dasar pemebentukan sikap individu setelah mereka mampu melaksanakan ibadah tersebut selama sebulan penuh, sehingga fenomena inflasi seharusnya tidak perlu dijumpai dilingkungan masyarakat yang secara benar menjalankan ibadah puasa. semoga tulisan Bapak menjadi pencerahan bagi saya dan anggota masyarakat lainnya, agar dikemudian hari dapat lebih memanfaatkan puasa sebagai sarana penekan inflasi bukan pendorong inflasi……Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: