Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Memboikot Perusahaan Kelapa Sawit

Aris  Ananta

Mletiko, 9  Juli 2013

 

Rakyat Singapura kini telah menikmati udara yang bersih dan cerah.  Tak ada lagi asap berembus dari Riau. Namun, kekuatiran masih ada. Bagaimana kalau terjadi kebakaran lagi? Tahun ini atau tahun depan? Tahun ini kebakaran dapat dipadamkan dengan membuat hujan buatan di Riau. Apakah hal semacam ini harus selalu dilakukan setelah asap mengepung Singapura dan Malaysia? (Orang tidak menaruh perhatian pada penderitaan rakyat Riau dan Sumatra. Presiden Indonesia pun tidak meminta maaf ke Rakyat Riau, walau telah meminta maaf ke Rakyat Singapura dan Malaysia.)

Yang menarik, dalam tulisan di Straits Times, koran Singapura, tanggal 9 Juli 2013, masyarakat Singapura diajak untuk  memikirkan kemungkinan memboikot industri kelapa sawit. Ang Peng Hwa, penulis tulisan ini, mengatakan bahwa kebakaran disebabkan oleh perusahaan besar  dan pihak ketiga yang berhubungan dengan perusahaan ini. Bukan petani kecil, karena mereka telah lakukan ini selama puluhan tahun. Tetapi, kebakaran baru terjadi setelah ada perusahaan besar.  Karena itu perusahaan besar itu harus dihukum. Namun, dikatakan Ang Peng Hwa, karena pemerintah tak dapat bertindak pada perusahaan besar itu, konsumen lah yang harus bertindak. Konsumen telah dirugikan, maka konsumen pula lah yang harus bersuara.

Guru Besar di Wee Kim Wee School of Communication and Information, Nanyang Technological University, Singapura ini mengatakan kalau konsumen tidak mau membeli barang yang dihasilkan perusahaan kelapa sawit itu, maka keuntungan akan berkurang, dan mereka akan berhenti menghasilkan kelapa sawit. Atau, mereka akan mencari cara yang tidak merusak lingkungan.

Namun,  perusahaan mana yang harus diboikot? Memang susah menentukan perusahaan mana. Tetapi, biarlah perusahaan saling memantau di antara mereka. Dengan memboikot semuanya, perusahaan akan takut, dan lalu saling memperbaiki tindakannya.

Walau begitu, di tulisan yang berjudul “Fighting the Haze. Keep up the pressure, Singaporeans”, Ang Peng Hwa mengatakan, boikot mungkin terlalu berat. Mungkin, ancaman boikot sudah mencukupi agar perusahaan besar itu mengubah cara produksi mereka.

Mungkin, langkah yang perlu dilakukan adalah menyebar-luaskan produk apa yang dihasilkan dengan menggunakan kelapa  sawit. Tulisan Ang Peng Hwa ini sangat menarik untuk direnungkan.  Kita pun, Rakyat Indonesia, dapat memikirkan ikut memboikot perusahaan kelapa sawit atau paling tidak mengancam untuk memboikot agar mereka mengubah cara kerja mereka.  Kebakaran ini juga membuat mala petaka besar untuk Rakyat Riau dan Sumatra.

Memang, kita sudah harus mengatakan selamat tinggal pada paradigma yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi.  (*)

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , ,

2 Responses

  1. muljana says:

    Terima kasih infonya tentang tulisan Mr Ang Peng Hwa.Btw analisis yg menghubungkan issue asap, kemudian meng”hukum” perusahaan sawit yg nakal dan pertumbuhan ekonomi ?cukup menggoda he he, salam, MS.

    • mletiko says:

      Pak Muljana,

      Mungkin bukan hanya asap dan kelapa sawit. Tetapi, juga produk lain yang dihasilkan dengan suatu proses yang ramah lingkungan. Kita memang perlu tahu, produk apa saja yang selama ini kita konsumsi dan ternyata dihasilkan dengan proses yang tidak ramah lingkungan. Dengan mengkonsumsi produk tersebut berarti kita menyuburkan perusahaan yang merusak lingkungan. Konsumen sering tidak sadar mengenai apa yang mereka konsumsi.

      Salam,

      Aris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: