Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

BANYAK ANAK DI INDONESIA?

Aris   Ananta

Mletiko, 28 Januari 2013

 

Tadi saya bertemu dengan seorang ilmuwan sosial asing (bukan orang Indonesia) dari suatu universitas ternama. Dia lancar berbahasa Indonesia, sering ke Indonesia, dan tahu banyak mengenai sosial politik di Indonesia.

 

Yang menarik adalah ketika dia mengatakan bahwa angka kelahiran Indonesia masih terlalu tinggi. Saya beritahu dia bahwa angka kelahiran total (Total Fertility Rate- TFR) di Indonesia sudah sekitar 2,4. Mungkin lebih rendah dari itu. Angka ini sudah rendah, tak jauh dari replacement level fertility, yaitu pada angka sekitar 2,1. Kalau lebih rendah dari replacement level, Indonesia akan segera mengalami masalah ageing, kekurangan tenaga kerja muda.

 

Dia tidak percaya pada statistik yang saya katakan. Alasannya? Dia pernah mengunjungi suatu desa di pelosok Indonesia.  Ternyata, dia melihat di satu rumah terdapat banyak anak, sampai tujuh orang. Saya katakan, dalam rumah tangga itu ada berapa perempuan? Kita mengukur angka kelahiran dari jumlah bayi per perempuan. Dia bilang, dia tidak memperhatikan. Mungkin aja ada poligami…………. (Dia tidak sadar bahwa dalam satu rumah tangga bisa saja ada lebih dari satu keluarga.  Bisa juga ada anak orang lain yang numpang di situ, seperti keponakan atau lainnya.).

 

Saya menanya dia lebih lanjut, kalau pun benar angka kelahiran ternyata tinggi di desa yang di pelosok itu, apakah ia berani membuat kesimpulan untuk Indonesia. Dan dia mengangguk dengan penuh yakin. Saya sedih. Saya kaget. Berani sekali dia membuat kesimpulan itu, dari kunjungan ke suatu atau beberapa desa menjadi kesimpulan nasional.

 

Dia ini ilmuwan sosial yang banyak dikenal orang di Indonesia. Pengaruhnya besar di Indonesia. Tetapi, mengapa membuat kesimpulan seperti itu? Dengan melihat “kenyataan” (itu pun dapat dipertanyakan) di suatu desa (atau mungkin dua atau tiga desa), dia berani menyimpulkan untuk Indonesia, dan mempertanyakan data statistik nasional yang dikumpulkan dengan sensus penduduk. Untunglah, dia bukan seorang demografer.

 

Saya memberitahu dia bahwa di banyak daerah di Indonesia, seperti kabupaten Gunung Kidul di Yogyakarta,   angka kelahiran sudah jauh di bawah replacement level. Hal ini terjadi karena angka kelahiran yang amat rendah ditambah migrasi keluar yang tinggi. Dia mengerti hal ini.

 

Lalu  dia mengatakan bahwa , masalah ageing di Indonesia adalah masalah pedesaan. Tidak terjadi di pekotaan. Melihat kepadatan penduduk yang tinggi di perkotaan, dia yakin bahwa Indonesia masih mengalami pertumbuhan penduduk yang tinggi seperti di tahun 60-an dan 70-an.  Saya gagal menerangkan ke dia  bahwa jumlah penduduk yang kini masih naik itu karena dampak tahun 60-an dan 70-an. Jumlah anak per perempuan sudah kecil, tetapi jumlah perempuannya masih banyak, maka jumlah anak secara keseluruhan masih terus meningkat. Dalam bahasa demografi, hal ini disebut population momentum. Ini lain dengan population explosion, yang diakibatkan karena angka kelahiran yang tinggi sekitar 5 atau 6.

 

Ilmuwan sosial itu tidak faham akan perbedan itu, dan dia ikut mendorong pemerintah Indonesia untuk terus mempercepat penurunan angka kelahiran. Dia tidak dapat mengerti bahwa kalau angka, yang sudah rendah di Indonesia, terus menurun dengan cepat, Indonesia segera mengalami kekurangan tenaga kerja muda. Tentu saja, Indonesia masih memperlukan perbaikan dalam program Keluarga Berencana, membantu keluarga seperti di pelosok itu, dan pasangan lain yang ingin melakukan kontrasepsi tetapi tidak mampu mendapatkan pelayanan kontrasepsi yang sehat, murah, dan nyaman. Namun, tujuan program Keluarga Berencana tidak lagi mempercepat penurunan angka kelahiran total, karena angka kelahiran sudah rendah, mendekati replacement level  *

 

Filed under: ageing, Bahasa Indonesia, Demography, statistics, , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: