Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Apa Kata Investor, Pebisnis, Asing?

Aris Ananta

Mletiko, 22 Mei 2012

 

Kemarin  saya berjumpa dengan sejumlah  peneliti  Eropa yang mempelajari ekonomi dan bisnis di Asia, khususnya Asia Tenggara. Mereka antara lain mengatakan bahwa investor asing, dari luar Asia, lebih suka melakukan investasi di Vietnam dan China daripada di Indonesia.  Menurut para peneliti ini, investor asing lebih suka masyarakat yang dapat diatur. Vietnam dan China negara otoriter. Asal pemerintah pusat sudah setuju, semua menjadi mudah. Rakyat  harus mengikuti apa mau pemerintah pusat.

Lain dengan di Indonesia, kata peneliti itu menirukan pandangan para investor asing. “Indonesia negara demokrasi  (maaf, sedang belajar demokrasi)” . Benar, peneliti itu mengatakan “ Indonesia is a democratic country….. “, lalu buru buru diralat “Indonesia is a democratizing  country”. Maksudnya, Indonesia belum menjadi negara demokratis, tetapi masih pada tahap belajar menjadi neara demokrasi.  (Memang, menurut saya, Indonesia masih dalam tahap menjadi negara demokrasi.)

“Jadi, para investor lebih suka negara otoriter?” tanya saya.

Teman peneliti dari Eropa itu bilang, betul sekali. Para investor asing memang lebih suka negara otoriter seperti China dan Vietnam, daripada Indonesia yang sedang belajar demokrasi.

Cerrita ini memperkuat kesan selama ini bahwa pebisnis asing, investor asing, tidak peduli keadaan di masyarakat negara yang mereka tuju. Yang penting mereka mendapatkan keuntungan besar dari bisnisnya. Walau mereka tahu suatu negara melakukan pemerintahan otoriter,  tanpa kebebasan berpendapatan di kalangan masyarakatnya,  mereka tetap ke negara itu.  Mereka tidak senang kalau suatu negara belajar menjadi negara demokrasi. Justru di negara otoriter, bisnis mereka tinggi.  Karena mereka berbondong masuk ke negara itu, maka pertumbuhan ekonomi di negara itu pun akan cepat maju.

Apakah Indonesia akan mengikuti jalur ini, mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan kembali ke sistem  pemerintahan yang otoriter?

Sudah saatnya kita tidak menggunakan pertumbuhan ekonomi sebagai pengukur kemajuan perekonomian Indonesia. Indonesia memang sedang belajar demokrasi, dan semoga Indonesia segera menjadi negara demokratis.   Janganlah, gara gara ingin mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi, Indonesia kembali menjadi negara otoriter, seperti yang diinginkan beberapa pebisnis dan investor asing tersebut.  (*)

 

Tulisan terkait:

Paradigma Ekonomi Cenderung Untungkan  Pemodal

Bagaimana Investor Asing Melihat Indonesia?

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: