Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

SENTIMEN ANTI ORANG-ASING

Aris  Ananta

Mletiko, 6 April 2012

Seperti dilaporkan di The Straits Times, 5 April 2012, Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Long, merisaukan adanya peningkatan sentimen anti orang-asing di Singapura. Terjadi peningkatan ketidak-sukaan “orang Singapura” terhadap yang bukan “orang Singapura”.  Yang “bukan orang Singapura” termasuk orang orang dari negara lain yang memilih menjadi warga negara Singapura, penduduk tetap (permanent resident),  warga negara asing yang memegang employment pass dan working permit.

Padahal, warga negara Singapura (termasuk warga negara asing yang memilih menjadi warga-negara Singapura) hanyalah 62,8 persen dari seluruh jumlah penduduk Singapura tahun 2011.  Kalau warga-negara Singapura yang semula warga negara asing dikeluarkan, maka yang disebut “orang Singapura” lebih sedikit dari 62,8 persen. Dengan demikian, kerisauan perdana menteri Singapura ini dapat difahami.

Peningkatan jumlah dan persentase orang yang “bukan Singapura” memang meningkat dengan cepat di tahun 2000-an. Hal ini menyebabkan ketidak-senangan di kalangan “orang Singapura”, yang antara lain tercermin dalam pemilihan umum anggota parlemen dan pemilihan umum memilih presiden di tahun 2011. Suara untuk partai pemerintah dan calon presiden dukungan pemerintah relatif amat rendah.

Perdana menteri menyebutkan adanya kejadian yang diakibatkan seorang mahasiswa asal RRC, yang menulis di blog-nya bahwa di Singapura terdapat lebih banyak anjing daripada manusia. Tulisan ini membuat kemarahan orang Singapura pada mahasiswa itu. Kemarahan ini menjalar ke semua orang asing di Singapura. Perdana menteri mengatakan bahwa mahasiswa itu salah, dan sudah minta maaf. Perdana menteri menghimbau agar kasus in tidak diperluas ke semua orang asing. Ia mengatakan, “….We should not,  because of one incident, make that into an issue-all immigrants are like that.”

Bagaimana di Indonesia?

Indonesia negara yang amat luas, dengan jumlah penduduk yang hampir 50 kali lipat jumlah penduduk Singapura. Penduduk yang “bukan orang Indonesia” juga amat sedikit, walau kini terdapat peningkatan jumlah penduduk yang bukan warga-negara Indonesia di Indonesia.

Namun, mobilitas penduduk di dalam Indonesia telah terjadi dengan amat cepat. Pada daerah yang kecil, seperti kecamatan, apalagi kelurahan, migrasi ke suatu daerah dapat menyebabkan terjadinya perubahan komposisi penduduk yang amat epat pula. Tidak mengherankan kalau terjadi sentimen antara “penduduk setempat” dan “pendatang”. Kalau pendatang ini mempunyai tingkah laku (termasuk suku dan agama) yang berbeda, maka konflik dapat mudah disulut, apalagi kalau para pendatang itu dilihat sebagai saingan “penduduk setempat”, walau semuanya warga negara Indonesia.

Dengan situasi politik yang terus memanas di Indonesia, apalagi menjelang pemilihan umum 2014, isu penduduk setempat lawan pendatang dapat dengan mudah digunakan politisi yang tidak bertanggung jawab untuk menciptakan ketidakstabilan sosial dan politik.

Semoga masyarakat Indonesia makin dewasa dalam berdemokrasi, sehingga tidak mudah terpancing oleh provokasi politisi yang tidak bertanggung-jawab. (*)

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, migration, statistics, , , , , , ,

One Response

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: