Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Menua dengan Aktif: Tantangan Masa Depan

Evi Nurvidya Arifin

Mletiko, 15 Maret 2012


Makin Panjang Umur

Setiap hari kita semua bertambah tua. Setiap tahun banyak diantara kita merayakan hari kelahirannya dengan gembira bahkan terkadang dihiasi dengan pesta yang gegap gempita. Tingkat kematian penduduk semakin baik sehingga rata-rata harapan hidup penduduk dibanyak negara semakin lama.  Pembangunan nasional telah berhasil memperbaiki kesehatan penduduk Indonesia, kematian bayi bisa dicegah, kematian dewasa bisa diperlambat, angka harapan hidup semakin lama. Sebagai gambaran, pada awal tahun 1970an rata-rata angka harapan hidup saat lahir penduduk Indonesia 45.7 tahun saja. Angka harapan hidup perempuan lebih lama daripada laki-laki, 47,2 tahun untuk perempuan dan 44,2 tahun untuk laki-laki. Memasuki awal Milenium penduduk Indonesia telah makin panjang umur. Data Sensus 2000 menghasilkan estimasi rata-rata angka harapan hidup saat lahir sebesar 65,4 tahun, atau 20 tahun lebih lama hidupnya dibanding 30 tahun lalu. Harapan hidup saat lahir penduduk perempuan sebesar 67,3 tahun dan laki-laki 63,5 tahun. Diperkirakan pada tahun 2030, angka harapan hidup tersebut akan terus meningkat mencapai 84 tahun untuk perempuan dan 81 tahun untuk laki-laki (Ananta, Arifin dan Bakhtiar, 2006). Lebih lanjut, studi tersebut, yg diberi judul Ethnicity and Ageing in Indonesia: 2000-2050,  mengungkapkan bahwa angka harapan hidup untuk tiap kelompok suku di Indonesia berbeda-beda.

Keluarga Kecil

Sementara makin banyak orang berumur panjang, pasangan-pasangan suami istri di Indonesia tidak lagi memiliki jumlah anak yang banyak. Keluarga besar tidak lagi menjadi norma umum masyarakat Indonesia. Berbeda dengan jaman dulu, dekade 1970an saat keluraga berencana diperkenalkan di bumi Garuda, tiap perempuan usia reproduksi di Indonesia rata-rata memiliki jumlah anak sekitar 5 dan 6 anak. Di jaman kini, di era Milenium, rata-rata sekitar 2 anak saja. Diperkirakan dimasa depan, makin banyak yang pasangan yang hanya memiliki anak sedikit bahkan sangat mungkin tidak mau memiliki anak di perkawinan mereka.

Lansia: Jumlah dan Persentasenya Melaju

Lantas, apa akibat angka harapan hidup yang terus meningkat yang disertai dengan rata-rata jumlah anak yang makin sedikit. Struktur penduduk Indonesia berubah, proporsi penduduk muda semakin berkurang, sedangkan proporsi penduduk lansia semakin meningkat. Siapakah penduduk lansia ini? Undang-undang Republik Indonesia no 13/1998 mendefinisikan penduduk usia lanjut atau lansia adalah mereka yang berusia 60 tahun keatas. Jumlah penduduk lansia usia 60 tahun ke atas di Indonesia terus bertambah dengan pesat dari 5,3 juta di tahun 1971, menjadi 18,0 juta di tahun 2010. Persentasenya terhadap total penduduk Indonesia juga terus meningkat dari 4,5 persen tahun sensus 1971 ke 7,6 persen di tahun sensus 2010. Di tahun 2030, jumlahnya akan melebihi 36 juta, atau lebih dari 13 persen. Lansia sebanyak 36 juta itu kira-kira saat ini sama dengan seluruh jumlah penduduk di bagian Timur Indonesia yang terbentang dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Jumlah ini menjadi beban tanggungan penduduk usia kerja. Apabila lansia ini hidup lama dan sakit-sakitan maka tidak hanya menjadi beban penduduk usia produktif saja melainkan juga jadi beban negara. Oleh karena itu, untuk mencegah peningkatan beban ekonomi-sosial pertumbuhan penduduk lansia di Indonesia, menua dengan aktif harus dipromosikan.

Menua dengan Aktif

 

Apakah itu menua dengan aktif? Menua dengan aktif menurut definisi WHO (2002) dalam bukunya Active Ageing : A Policy Framework yaitu upaya pengoptimalisasi peluang kesehatan, partisipasi dan keaman untuk meningkatkan kualitas hidup sampai masa tua. Dengan definisi WHO ini, menua dengan aktif tidak terbatas pada lansia saja. Menua dengan aktif mencakup semua umur. Agar bisa menua dnegan aktif banyak faktor yang harus diperhatikan, dan faktor-faktor tersebut satu sama lain saling terkait. Diagram dibawah ini menggambarkan kerangka analysis menua dengan aktif.

Untuk menjadikan lansia yang sehat, produktif dan mandiri, kita harus mulai dengan pola hidup sehat dan mempersiapkan masa lansia secara lebih baik sejak dini. Dengan demikian ketika kita membicarakan permasalahaan yang berkaitan dengan lansia, sesungguhnya tidak hanya membicarakan lansia saja, melainkan juga penduduk muda. Pola hidup sehat,  pola makan yang baik dan bergizi, bahkan sejak di dalam kandungan. Pengembangan bakat dan keahlian juga harus dimulai sejak dini. Mengingat kerangka diatas, menua dengan aktif merupakan tantangan masa depan pembangunan di Indonesia. (*)

Filed under: ageing, Bahasa Indonesia, Demography, , , , ,

4 Responses

  1. sugihardjo says:

    Mbak Evi, sya setuju sekali dengan judul dan isi tulisan tersebut. Lansia tapi masih produktif. Ini memang harus dipikirkan mulai sekarang juga. Contoh mikro, di lingkungan RT saya kalau mau ngundang acara ulang tahun anak2 yang berusia dibawah 10 tahun susah banget, karena jumlahnya sedikit. Bahkan jumlah peserta posyandu balita jumlahnya kalah banyak dibanding posyandu lansia. Ya kita memang perlu menyusun strategi yang jitu agar menjadikan lansia yang benar2 produktif.

    • mletiko says:

      Pak Sugihardjo,
      Dengan kerangka Active Ageing ini, persoalan masa tua dipersiapkan sejak dini, sejak generasi muda masih dalam kandungan. Pemandangan yang pak Sugihardjo lihat saat ini, di masa yang akan datang akan makin banyak. Tepat sekali upaya pemerintah sejak sekarang mempunyai posyandu lansia, selain posyandu anak dan ibu yang terus berlangsung.

      Adanya isu baru tentang lansia juga merupakan peluang pekerjaan bagi generasi muda untuk memikirkan dan menciptakan teknologi ramah lansia, menjadi perawat lansia, dan menjadi care giver lansia.

      Evi

  2. paramita30 says:

    Ibu Evi,
    Saya suka dengan artikel ini. Walaupun saya tidak belajar demografi dan lansia, tapi karena di sekeliling tempat tinggal saya, banyak lansia yang masih aktif dan yang sudah sakit-sakitan, dan tidak terlalu banyak balita dan anak-anak dilingkungan ini, jadi saya ikut memperhatikan juga.
    Artikel ini tidak ada versi bahasa Inggrisnya?. Salah seorang Prof di sekolah saya ingin membacanya.
    Terimakasih.

    Paramita

    • mletiko says:

      Ibu Paramita,

      Terima kasih banyak Ibu menyukai artikel tersebut. Bila ada pengamatan lain dari sekitar tempat tinggal Ibu silakan berbagi.
      Artikel ini tidak ada bahasa Inggrisnya. Namun artikel yang berbahasa Inggris “Ethnicity and Ageing in Indonesia …” bisa diunduh (downloadable) dengan menekan judul tersebut, tentunya pengunduhan sejauh ada akses ke journal tersebut. Saya kira Prof di sekolah Ibu mempunyai akses terhadap artikel tersebut.

      Sekian dan terima kasih.
      Evi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: