Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

FOOD SECURITY: Suatu Cara Pandang

Pengujung Mletiko yang budiman,

 

Presiden telah menginstruksikan bahwa Indonesia harus dapat menghasilkan surplus 10 juta ton beras di tahun 2014. Terlampir power point (yang telah sedikit saya revisi) berjudul “Food Security: Suatu Cara Pandang” yang saya presentasikan sebagai salah satu keynote di workshop berjudul “Workshop Systems Modelling untuk Kebijakan Prioritas Nasional: Menuju Surplus 10 juta ton beras di 2014”. Jakarta: UKP4, 25 Februari 2012.

Karena terlalu besar, file saya bagi dua menjadi Food Security Suatu Cara Pandang – 1 dan Food Security Suatu Cara Pandang – 2

 

Semoga berguna.

 

Salam,

 

Aris

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, poverty, statistics, , , , , , , , ,

2 Responses

  1. sugihardjo says:

    Pak Aris, saya setuju kita tidak perlu takut import beras. Akan tetapi yang perlu dipikirkan bagaimana meningkatkan daya beli para petani gurem kita. Petani selain sebagai produsen adalah konsumen produk pertanian. Kalau dihitung, nampaknya petani lebih banyak mensubsidi kepada masyarakat yang “kaya”. Sebenarnya kalau tenaga kerja yang di sektor pertanian dapat dikurangi seminimal mungkin, yang berarti sektor non pertanian dapat menampung limpahan tenaga kerja dari pertanian dengan sendirinya dapat meningkatkan kesejahteraan (daya beli petani). Ini pemikiran sepintas dari saya pak Aris.

    Salam
    Sugihardjo.

    • mletiko says:

      Pak Sugi,

      Salah satu teori pembangunan mengatakan adanya “surplus” tenaga kerja di sektor pertanian. Surplus diartikan bahwa marginal productivity tenaga kerja di sektor pertanian negatif. Artinya, tambahan satu satuan tenaga kerja justru menurunkan produksi total. Ini disebabkan karena terlalu banyaknya tenaga kerja, yang mengakibatkan cara kerja yang tidak efisien. Maka, menurut teori ini, pengurangan tenaga kerja akan meningkatkan marginal producitivity sehingga menjadi positif. Akibatnya, produksi total akan meningkat.

      Maka, menurut teori ini, yang dipelopori oleh Lewis di tahun 1950an, cara meningkatkan kesejahteraan petani adalah dengan pembangunan sektor bukan pertanian. Pembangunan sektor bukan pertanian akan menyerap tenaga kerja di sektor pertanian. Akibatnya, “surplus” tenaga kerja di sektor pertanian berkurang, dan marginal productivity di pertanian menjadi positif.

      Namun, yang terjadi adalah bahwa pembangunan sektor bukan pertanian telah berjalan dengan terlalu cepat. Bukan saja menyerap “surplus” tenaga kerja dari sektor pertanian, tetapi telah menyerap lahan pertanian untuk digunakan berbagai kegiatan bukan pertanian, termasuk pusat pertokoan, perumahan, dan perkantoran. Pembangunan bukan pertanian juga telah menganggu saluran air, dan juga berkompetisi dalam penggunaan air.

      Jadi, apa kesimpulannya?

      Saya juga bingung dan masih mencari-cari. Mari kita pikirkan bersama sama.

      Salam,

      Aris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: