Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

ORANG INDONESIA MAKIN KAYA?

Aris  Ananta

Indonesia Finance Today, 16 Februari 2012

Memang, ada orang Indonesia yang lebih kaya, tetapi juga ada yang lebih miskin. Masalah penyebaran kekayaan menjadi penting untuk melihat siapa yang kaya dan tambah kaya, siapa yang miskin dan tambah miskin, dan juga siapa yang pendapatannya tidak berubah.

Selain itu, bagaimana mengukur “kaya”? Kita dapat berdebat mengenai begitu banyaknya pengukuran kekayaan. Namun, di tulisan ini, kita batasi saja pada ukuran yang biasa dipakai Pemerintah Indonesia, yaitu kekayaan yang diukur dengan uang. Di tulisan ini, kita juga lupakan masalah ketimpangan dalam kekayaan penduduk Indonesia.

Maka, pertanyaannya, kalau pun kita hanya memfokuskan pada uang sebagai pengukuran kekayaan dan mengabaikan masalah ketimpangan pendapatan, benarkah penduduk Indonesia tambah kaya? Dari statistik yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), jawabnya “ya”, rata-rata pendapatan penduduk Indonesia telah meningkat dari US$ 3.010,1 pada 2010 menjadi US$ 3.542,9 pada 2011. Kenaikan sebesar 17,70%! Bahkan, kadang-kadang angka ini telah dibulatkan menjadi 18,0%.

Ini kenaikan yang luar biasa. Bayangkan, jika pertumbuhan ini dapat terus dipertahankan sampai 2027, pendapatan per kapita Indonesia tahun itu akan mencapai US$ 56.686,4 yang mirip dengan pendapatan per kapita Singapura pada 2011. Bayangkan, pendapatan per kapita rata-rata orang Indonesia pada 2027 akan menjadi seperti Singapura pada 2011. Apa arti pendapatan per kapita yang melejit ini?

Pertanyaan ini muncul karena angka 17,70% ini terbit bersamaan dengan statistik BPS yang lain, yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2011 hanya 6,5%, jauh di bawah 17,70%. Apa arti perbedaan ini?

Tipuan Uang

Pernahkah kita merasa bertambah kaya karena uang yang kita terima per bulan meningkat, tetapi kita tidak bisa meningkatkan konsumsi kita? Uang yang kita terima meningkat, tetapi kalau harga-harga juga meningkat dengan cepat, peningkatan uang yang kita terima itu tidak ada artinya.

Jumlah uang yang kita terima memang dapat “menipu” kita. Kalau jumlahnya meningkat, kita merasa lebih kaya. Namun, sesungguhnya, kita baru lebih kaya kalau harga tidak meningkat secepat kenaikan pendapatan. Kalau harga meningkat dengan amat cepat, peningkatan jumlah uang yang kita terima itu adalah peningkatan semu belaka, yang tidak akan meningkatkan kesejahteraan kita.

Mengukur peningkatan pendapatan tanpa menyesuaikan dengan kenaikan harga sering disebut dengan menghitung pertumbuhan pendapatan nominal, pendapatan dalam “uang”, bukan dalam daya beli. Tampaknya, seperti disebutkan dalam laporan BPS, kenaikan pendapatan per kapita sebesar 17,70% itu memang dihitung secara nominal. Artinya, sebagian kenaikan pendapatan itu hanya semu belaka, karena tidak memperhitungkan kenaikan harga dan tidak sepenuhnya mencerminkan kenaikan daya beli penduduk Indonesia.

 


Tabel 1,2, dan 3

Penguatan Rupiah

Kalau kita sering membeli barang dalam dolar Amerika Serikat, kita sering jalan-jalan ke Amerika Serikat, maka daya beli kita akan meningkat ketika rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat, walau penghasilan kita (dalam rupiah) tidak berubah. Nah, perhitungan kenaikan 17,70% itu pun antara lain disebabkan oleh penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Seperti terlihat di Tabel 1, kalau dihitung dalam rupiah, pendapatan per kapita meningkat dari Rp 27,1 juta pada 2010 menjadi Rp 30,8 juta di 2011. Artinya, peningkatan hanya sebesar 13,65% pada 2011, bukan 17,70%. Perbedaan ini dikarenakan penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada 2011. Menurut perhitungan penulis, BPS menggunakan nilai tukar rupiah sebesar Rp 9.003 per dolar Amerika Serikat pada 2010, menguat menjadi Rp 8.693,4 pada 2011.

Oleh sebab itu, kalau rupiah terus menguat terhadap dolar Amerika Serikat, pendapatan per kapita pun akan terus meningkat walau tidak ada peningkatan produksi di Indonesia.

Kenaikan Harga Domestik

Angka pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5% yang sering disebut oleh Pemerintah Indonesia sesungguhnya adalah pembulatan dari 6,46%. Penulis mendapatkan angka pertumbuhan 6,46%, dari perhitungan dengan menggunakan harga konstan tahun 2000 untuk mengukur pertumbuhan ekonomi dari Rp 2.313,8 triliun pada 2010 ke Rp 2.463,2 triliun pada 2011. Angka ini (6,46% atau dibulatkan menjadi 6,5%) memang lebih mencerminkan peningkatan pendapatan/produksi di Indonesia, karena tidak memasukkan unsur kenaikan harga dan perubahan nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat.

Dengan cara yang sama dengan mengukur pertumbuhan ekonomi di atas, yaitu menggunakan harga tahun 2000, penulis memperoleh pertumbuhan pendapatan per kapita pada 2011 hanya sekitar 4,85%, jauh di bawah 13,65% (tanpa memasukkan penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat), dan sangat jauh di bawah 17,70% yang sering disebut di media massa. Lihat Tabel 2.

Perbedaan hasil perhitungan ini amat besar: 12,85 poin, selisih antara 4,85% dan 17,70%. Dengan kata lain, seperti diperlihatkan di Tabel 3, kenaikan pendapatan per kapita Indonesia pada 2011 sesungguhnya hanya 4,85%. Yang 8,80% karena kenaikan harga, dan yang 4,05% karena penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Jangan Terkesima

Oleh sebab itu, kita jangan terkesima dengan kenaikan pendapatan per kapita sebesar 17,70% pada 2011. Sebagian besar kenaikan ini semu belaka, tidak mencerminkan kenaikan daya beli. Sesungguhnya kenaikan pendapatan per kapita Indonesia pada 2011 hanya 4,85%, sangat jauh di bawah 17,70%. Kenaikan yang luar biasa itu (17,70%) sebagian besar merupakan kenaikan semu, yang disebabkan kenaikan harga dan penguatan rupiah.

Angka yang diumumkan BPS tidak salah, tetapi masyarakat dapat memperoleh kesan yang berbeda. Itu salah satu sebab utama mengapa ada anggota masyarakat kaget dengan kenaikan yang luar biasa itu. Sebaiknya, kita tidak usah mengumumkan angka yang 17,70%, ataupun yang 13,65%. Umumkan saja bahwa pertumbuhan pendapatan per kapita kita 4,85%. Angka 13,65% atau 17,70% boleh saja disebut, tetapi dalam laporan teknis, untuk mereka yang paham dengan statistik perekonomian dan bukan konsumsi mereka yang awam dengan statistik ekonomi. (*).

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, statistics, Uncategorized, , , , , , ,

11 Responses

  1. Ekawati S Wahyuni says:

    Pak Aris YSH, ini tulisan serius yang menghibur. Maaf. Oleh karena dengan penjelasan yang rumit ini makin menguatkan luasnya opini bahwa “pemerintah suka berbohong”. Kenaikan pendapatan yang riilnya hanya 4,85% diumumkan naik 17,70%. Pasti mereka yang tahu pengumuman ini akan protes keras. Seperti yang dilakukan rekan muda saya beberapa waktu lalu ketika merespons pengumuman BPS bahwa GNP per kapita (2010) adalah 28 juta rupiah. Dia langsung menghitung pendapatannya dan orang-orang yang dikenalnya. Kebetulan dia akrab dengan petani, nelayan, pekebun dan masyarakat hutan yang terpinggirkan. Dia bilang “itu bohong!!!!”. Saya mencoba menjelaskan seperti, kira-kira, cara pak Aris di atas. Tentu dia paham dengan penjelasan saya itu, tapi pertanyaannya adalah”mengapa angka-angka yang secara awam sudah dianggap tidak masuk akal itu tetap diumumkan?”. Mudah-mudahan saran Pak Aris untuk mengumumkan angka riilnya (kemampuan daya beli – atau – berapa bungkus nasi bungkus ayam yang bisa diperoleh dengan kenaikan pendapatan tersebut), masyarakat bisa bersyukur dan berterimakasih kepada pemerintah.

    Semakin kayakah kita? Secara nominal sih dhuwit lebih banyak, tapi bisa dipakai beli apa saja ya?

    Bberapa hari lalu, ibu yang suka membantu saya di rumah bercerita bahwa dia akan memperbaiki kamar mandi di rumahnya, dengan biaya sekitar 750 ribu rupiah. Nilai uang itu adalah sama dengan penghasilannya selama 2 bulan. Harga perbaikan kamar mandi senilai 750 ribu rupiah itu tentu kecil bagi beberapa orang, termasuk saya juga, tetapi pertanyaannya, apakah saya akan mampu memperbaiki kamar mandi saya dengan kualitas yang saya inginkan jika tidak menabung selama 2 bulan juga? apakah saya harus menurunkan kualitas hidup saya (termasuk kualitas kamar mandi) agar nampak lebih kaya dari ibu itu?

    Sekian dulu ya. Selamat berakhir pekan.

    • mletiko says:

      Bu Eka,

      Yang menceriterakan kesuksean ekonomi dengan memperlihatkan pendapatan per kapita secara nominal bukan hanya Indonesia. Banyak buku buku mengenai ekonomi bercerita seperti itu. Sebagian pelajar/ sarjana ekonomi tidak menyadari hal ini.

      Salam,

      Aris

  2. Ledi T. says:

    Pak Aris, apa kabar?
    Saya mahasiswa Bapak 16 tahun yang lalu. Ijinkan saya untuk men-share tulisan ini di kelas, ya… Mudah2an mahasiswa tidak bingung. Tapi kalo pun bingung, saya masih ingat resep Pak Aris, kok, “Anda bingung, artinya anda mulai mengerti sesuatu…”🙂

    Salam,
    Ledi T.

    • mletiko says:

      Pak Ledi,

      Terimakasih banyak. Silakan diceriterakan ke mahasiswa. Kasus semacam ini juga kita temui di banyak buku teks dan artikel mengenai perekonomian suatu negara atau wilayah, baik negara maju mau pun negara berkembang.

      Selamat memberi pencerahan ke mahasiswa.

      Salam,

      Aris

  3. Daniel says:

    Pak Aris,

    Ulasannya tidak saja menarik tetapi juga mendidik publik (termasuk saya) untuk kritis dengan angka-angka yang diberikan siapapun. Terimakasih untuk pencerahannya.
    Salam, D Pambudi

    • mletiko says:

      Pak Daniel,

      Sering terjadi bahwa statistik yang disajikan memang “betul”, tetapi penyajian tersebut dapat menghasilkan penafsiran yang salah.

      Statistik berkaitan dengan konsep yang hendak diukur. Termasuk yang sekarang sedang ramai dibicarakan, yaitu target mencapai “surplus” beras 10 juta ton di tahun 2014. Apa arti “surplus”?

      Salam,

      Aris

  4. Femmy Roeslan says:

    Pak Aris, tulisannya sangat baik dan mudah untuk dicerna. Seperti halnya Ledi, saya pernah menjadi mahasiswa bapak. Saya juga minta izin untuk membagikannya tulisan bapak ke kelas makroekonomi. Saya percaya para mahasiswa akan mendapatkan gambaran yang lebih nyata ketimbang angka2 yang dipublikasikan oleh BPS dan pemerintah.
    Salam,
    Femmy

    • mletiko says:

      Bu Femmy,

      Silakan menyampaikan dan membagikan ke para mahasiswa. Siapa saja dipersilakan mengutip tulisan ini.

      Semoga mendorong kita semua untuk dapat lebih memahami statistik ekonomi dan sosial kita. Hal ini jarang jarang diajarkan di fakultas atau department ekonomi di mana pun di dunia.

      Salam,

      Aris

  5. Rujiman says:

    Pak Aris yang saya hormati, saya baca di media bahwa penduduk kelas menengah di Indonesia semakin banyak, sekarang ini sudah berada diatas 50%. Semakin kuat daya beli masyarakat golongan tersebut. Mereka mampu beli Blackberry (BB) keluaran terbaru. Di Jakarta saking banyaknya golongan ini untuk mendapatkan BB mereka harus ngantri berdesak-desakan, sampai rela menunggu dan tidur di depan toko penjualan; bahkan berdesak-desakan sampai ada yang pingsan. Penyanyi-penyanyi top dunia baik yang baru maupun yang pernah tenar di tahun 70-an ramai-ramai ngantri untuk menunggu giliran show di Jakarta. John Mayall, Elton John, Stevie Wonder dan nanti Lady Gaga. Harga tiket jutaan, peminat berjubel sehingga tiket selalu habis terjual. Ini gambaran peningkatan pendapatan dan kemakmuran, konsumsi bergeser dari barang primer ke skunder dan sekarang ke tertier dalam bentuk jasa hiburan.
    Dibalik itu bus angkutan kota dijalankan sopirnya dengan wajah tak pernah senyum, melanggar rambu lalu lintas seenaknya, lampu hijau dan merah sama saja. Tukang beca mesin demikian juga. Mereka semua berebutan mengejar penumpang untuk bayar setoran. Harga kenyamanan di jalan menjadi semakin mahal. Jadi ada penduduk yang meningkat pendapatannya tetapi ada pula yang tetap begitu-begitu saja.

    Terima kasih.

  6. nofita lestari says:

    pak Aris, menurut saya ekonomi di indonseia belum dapat dikatakan meningkat karena , pendapatan penduduk naik karena bahan bahan pokok masyarakat juga naik, apalagi sekarang masih banyak pengganguran di indonesia.

    • mletiko says:

      Ibu Novita,

      Terimakasih. Tetapi, mohon maaf. Harap berhati hati dengan statistik pengangguran. Bisa menyesatkan.

      Suatu saat, saya akan menulis mengenai statistik ini.

      Salam,

      Aris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: