Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

PENDUDUK YANG BESAR: MODAL PEMBANGUNAN

Aris  Ananta

Seputar Indonesia, 15  Juli 2011

 

 

Jumlah penduduk yang besar seolah hantu yang menakutkan dalam pelaksanaan pembangunan.Menyambut Hari Kependudukan Dunia pada tanggal 11 Juli 2011 yang lalu, hantu ini dimunculkan lagi di banyak media massa di Indonesia.

 

       Sesungguhnya, hantu ini tidak ada. Kalaupun ada, hantu ini mungkin hantu yang baik. Memang, sebaiknya, janganlah kita menyalahkan jumlah penduduk besar untuk berbagai ketidakberesan yang ada di Indonesia. Jangan salahkan jumlah penduduk yang besar bila Jakarta mengalami kesemrawutan lalu lintas dan banjir ketika hujan tiba.

       Jangan salahkan jumlah penduduk yang besar bila kita masih mengalami kesulitan mencari rumah yang murah dan baik ataupun menaikkan mutu pendidikan seperti yang kita harapkan. Ketika bulan November 2010 pergi ke New Delhi,India, saya sungguh amat kaget.Teman dari Vietnam, yang juga demografer, pun terheran heran.

       Betulkah ini New Delhi? Atau, kebetulan saja kami melihat bagian New Delhi yang lalu lintasnya teratur? Jangan-jangan kami memang hanya lewat jalan yang bagus. Namun, dua minggu di New Delhi, saya sempat agak sering mengamati kota ini.

      Saya sempat berempat dalam satu bajaj (benar, bajaj seperti di Jakarta dan bajaj itu memang berasal dari India). Sempat pula naik becak dan taksi di New Delhi. Sempat naik kereta dalam kota seperti MRT di Singapura. Semuanya lancar dan mudah. Sebelumnya, saya menduga lalu lintas New Delhi lebih semrawut dari Jakarta.

     Ternyata tidak. Luas daerah New Delhi memang lebih dari dua kali lipat Jakarta, tetapi jumlah penduduknya juga hampir dua kali lipat penduduk Jakarta. Namun, saya melihat adanya sistem angkutan massal cepat (mass rapid transportation) yang bagus di kota ini. Sistem di New Delhi tidak serapi di Singapura, tetapi cukup baik, yang melayani banyak tempat di New Delhi.

       Dengan melihat New Delhi, terkesan bahwa jumlah penduduk yang besar tidak dapat disalahkan dalam kesemrawutan lalu lintas. Mungkinkah sistem angkutan massal mereka jauh lebih baik dari Jakarta? Kesan bahwa jumlah penduduk yang besar bukan halangan untuk menghilangkan kemacetan lalu lintas juga dapat dilihat di Tokyo dengan jumlah penduduk yang hampir 13 juta.

China dan India

China dan India kini sering disebut sebagai kekuatan baru di dunia. Hal ini terjadi antara lain karena jumlah penduduk mereka yang besar. Pada 40 atau 30 tahun yang lalu mereka dianggap remeh. Perekonomian mereka yang lemah dan angka kelahiran yang tinggi (sekitar enam anak per seorang perempuan) telah menjadi penyebab mereka tidak dipandang sebagai kekuatan dunia.

      Kini, dengan angka kelahiran yang sudah rendah, dengan jumlah penduduk yang amat besar (1,3 miliar di China dan 1,2 miliar di India) serta perekonomian yang maju pesat, China dan India mulai dilihat sebagai kekuatan ekonomi raksasa yang dapat mengubah keseimbangan politik dunia.

      Selain China dan India, Brasil dan Rusia juga sering dilihat sebagai kekuatan baru dalam peta politik dunia. Ini dikarenakan perekonomian mereka terus membaik dibarengi dengan jumlah penduduk mereka yang relatif besar. Penduduk Brasil berjumlah hampir 200 juta, sedangkan Rusia sekitar 150 juta.

       Keempat negara dengan jumlah penduduk yang besar ini, China ,India, Brasil ,dan Rusia, bahkan kemudian digabung menjadi BRIC (Brasil, Rusia, India, dan China) menjadikan mereka suatu kumpulan negara yang mempunyai kekuatan ekonomi dan politik yang makin besar di dunia.

       Bagaimana dengan Indonesia yang mempunyai penduduk hampir 240 juta pada 2011? Sebagian pengamat mengatakan tak lama lagi, BRIC akan menjadi BRICI atau IBRIC dengan menambahkan Indonesia dalam kelompok negara dengan kekuatan ekonomi yang amat besar. Sayang, keinginan ini belum terjadi.

      Bahkan Afrika Selatan justru telah bergabung dengan mereka menjadi BRICS. Kalau jumlah penduduk Indonesia kecil, amat kecil pula kemungkinan Indonesia dilihat sebagai kekuatan ekonomi dunia. Di pihak lain,walaupun relatif kaya, tetapi jumlah penduduk amat kecil, negara seperti Brunei Darussalam tidak akan muncul sebagai kekuatan ekonomi politik dunia.

Bukan Beban

Di awal tahun 1960-an, hantu “jumlah penduduk yang besar” memang benar-benar ada dan mengganggu kemajuan perekonomian. Dengan ekonomi yang kocar-kacir, saat itu rata-rata perempuan Indonesia mempunyai anak kira-kira enam orang. Namun, kini kondisi telah berubah.

       Tiap perempuan di Indonesia ratarata hanya mempunyai dua anak. Jumlah penduduk Indonesia memang akan terus bertambah. Tapi tak usah menyesali pertambahan penduduk ini. Kita justru patut mensyukuri karena kita dapat menambah jumlah konsumen, memperluas pasar dalam negeri, sehingga kita tidak perlu tergantung pada pasar luar negeri.

       Kita perlu ingat bahwa salah satu sebab Indonesia tidak mengalami dampak yang besar dari krisis global dua tahun yang lalu adalah bahwa Indonesia mempunyai jumlah penduduk yang besar, yang dapat menopang pasar dalam negeri. Kawasan ASEAN makin sering pula dilihat sebagai kawasan ekonomi yang besar karena jumlah penduduk dan produksi yang amat besar di kawasan ini.

       Indonesia merupakan penyumbang utama pada kekuatan ASEAN. Indonesia menyumbang kira-kira 40% pada jumlah penduduk, luas tanah, dan produksi di ASEAN. Bayangkan kalau Indonesia keluar dari ASEAN. Sebagai suatu integrasi pasar dan pusat produksi, ASEAN menjadi kurang menarik tanpa Indonesia.

       Bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita dapat menghargai berlimpahnya jumlah penduduk Indonesia, baik sebagai pasar maupun sumber daya manusia? Dapatkah kita memanfaatkan melimpahnya jumlah penduduk Indonesia untuk kesejahteraan Indonesia dan mengurangi ketergantungan Indonesia pada bisnis internasional?

      Akhirnya, hantu itu memang tak ada. Mari kita syukuri dan memanfaatkan jumlah penduduk Indonesia yang besar dan masih terus meningkat ini.●

 

Tulisan terkait:

* Laju Pertumbuhan Penduduk Indonesia Menurun

* Menurunkan Angka Kelahiran?

* Indonesia’s Population Explosion: no longer an issue

* The Increase in Mobility

 

Filed under: ageing, Bahasa Indonesia, Demography, economy, , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: