Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Pencarian Indikator Pembangunan

Pengunjung yang budiman,

Menanggapi tulisan saya di Kompas berjudul “Selamat Tinggal Pertumbuhan” pada tanggal 13 Juni 2011, Meuthia Ganie  Rochman telah menanggapi dengan memberikan usulan indikator pembangunan.  Berikut tulisannya, yang diterbitkan oleh Kompas, 21 Juni 2011.

Indikator Pembangunan yang Menggerakkan

Oleh Meuthia Ganie-Rochman

Untuk KOMPAS, 21  Juni 2011

Beberapa waktu lalu, di harian ini Aris Ananta—peneliti di ISEAS Singapura—membahas masalah yang sepertinya dikesampingkan sejak reformasi, yaitu masalah indikator pembangunan. Aris Ananta sekaligus juga memperkenalkan kecenderungan yang sudah terjadi di tingkat internasional untuk tidak lagi semata berpegang pada indikator pertumbuhan GDP, gross domestic product.

Sudah banyak dibahas bahwa indikator ini memiliki kegunaan yang terbatas. Beberapa keterbatasan dari penggunaan GDP adalah tidak sensitif terhadap kondisi ekonomi dari berbagai sektor yang ada di suatu negara. Keadaan ini agak bisa diatasi dengan pengukuran per sektor, tetapi dengan catatan kemampuan instrumen dan institusional badan statistik cukup baik untuk mengukur kondisi yang riil.

GDP juga selama ini dilengkapi dengan indeks pembangunan manusia (IPM, human development index/HDI) untuk memahami seberapa jauh pertumbuhan ekonomi, juga mencerminkan tingkat kesehatan dan pendidikan. IPM bisa digunakan untuk melihat secara sebagian tingkat ketimpangan yang terjadi pada suatu negara meskipun juga penuh keterbatasan untuk digunakan dalam tujuan ini. Instrumen ini tidak dapat digunakan untuk memahami, misalnya, pendidikan macam apa yang diperlukan untuk memperluas tingkat kesejahteraan yang dirasakan lebih banyak penduduk.

Namun, upaya perbaikan indikator pembangunan bukan semata soal instrumen. Kerangka pemikiran dari tujuan pengukuran itu sendiri yang berubah. Perubahan mendasar terjadi baik pada penambahan dimensi yang diukur pada suatu masa atau ada yang sudah mengarah pada pengukuran seberapa baik masa depan kesejahteraan suatu bangsa.

Penambahan dimensi kesejahteraan bertujuan mengukur kesejahteraan warga suatu negara, seperti rasa aman dan ketenangan sebagai warga negara. Indikator gross national happiness, misalnya yang dikembangkan di Butan, mengukur keberhasilan pembangunan dari tingkat keberlanjutan ekonomi, tata kelola publik yang baik, pengembangan kultur, dan pelestarian lingkungan.

Upaya yang lebih komprehensif dilakukan oleh sebuah komisi yang dididirikan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, di mana di dalamnya terlibat lima pemenang Hadiah Nobel Bidang Ekonomi (Joseph Stiglitz, Amartya Sen, Kenneth Arrow, James Heckman, dan Daniel Kahneman) yang mempromosikan suatu indikator pembangunan baru. Indikator yang mereka ajukan bersifat multidimensional, meliputi kesehatan; pendidikan; kegiatan personal, termasuk pekerjaan; kesempatan bersuara secara politik dan tata kelola; hubungan dan jaringan sosial, kondisi lingkungan sekarang dan ke depan; serta tingkat kepastian ekonomi dan fisik.

Penting untuk memahami kerangka berpikir dalam menggunakan dimensi di atas. Pertama, dimensi obyektif dan subyektif sama-sama penting. Ini berimplikasi pada metodologi pengumpulan data statistik, misalnya kecenderungan akan diukur pada tingkat individu rumah tangga.

Kedua, dalam mengukur kualitas hidup harus dapat mengukur tingkat ketimpangan, misalnya dari segi kelas sosial ekonomi dan jender. Implikasi metodologisnya, biro statistik harus mendapat informasi yang dibutuhkan untuk mengagregasikan dimensi-dimensi kualitas hidup yang memungkinkan berbagai konstruksi analisis. Implikasi lain, dibutuhkan fokus pada konsumsi rumah tangga.

Ketiga, berkaitan dengan yang kedua, yang diukur bukan hanya suatu keadaan dari kelompok masyarakat tertentu, melainkan juga kapabilitas untuk membuat pilihan lain.

Harus diperbaiki

Semua indikator ini mempunyai latar belakang pemikiran yang luas dan mendalam. Sebagai contoh, kemampuan membuat pilihan terkait dengan penghormatan kemanusiaan untuk mengejar tujuan hidup berdasarkan keyakinannya yang baik. Apakah mereka dapat mencapai tujuan yang mereka anggap bernilai tinggi atau harus terus-menerus mengompromikan nilai tersebut, entah karena kemiskinan, eksklusi, kekerasan, atau dominasi budaya kelompok lain.

Indikator finansial tetap digunakan, tetapi dengan kerangka yang berbeda. Analisis tentang investasi, misalnya, akan dilihat dari seberapa besar diberikan pada bidang yang memperkuat keberlanjutan ekonomi, pengurangan ketimpangan, atau peningkatan keterampilan dan pengetahuan masyarakat.

Bagaimana Indonesia memperbaiki indikator pembangunannya? Semua upaya yang dilakukan di tingkat internasional baik untuk dipertimbangkan. Namun, dalam memilih tentu ada banyak pertimbangan, antara lain kapasitas institusional badan statistik dan kondisi sosial ekonomi yang ingin diperbaiki. Beberapa persoalan nasional yang harus dipertimbangkan dalam kaitannya dengan indikator pembangunan dapat disebutkan di sini, yaitu relevansi pendidikan, arah investasi ke arah penguatan ekonomi rakyat, dan arah kegiatan ekonomi berdasarkan eksploitasi sumber alam.

Kita ambil contoh masalah pendidikan. Pendidikan nasional jauh dari pemikiran membuatnya sebagai instrumen pembangunan dan tujuan sosial, seperti keadilan dan pemerataan. Sejauh ini data statistik dan analisis yang diberikan terutama soal persebaran tingkat pendidikan, baik sekolah umum maupun kejuruan. Data semacam ini bisa mengaburkan pemahaman tentang kondisi pembangunan yang substansial.

Misalnya, tanpa mengetahui macam pendidikan apa yang ada saat ini, seberapa jauh untuk membuat anggota masyarakat lebih kapabel, dan apakah sesuai dengan kebutuhan lokal, data pendidikan tidak dapat bertindak sebagai indikator yang memberi pengetahuan ke arah mana pembangunan sebenarnya sedang terjadi. Untuk bisa menghasilkan pemahaman yang berguna, misalnya, data pendidikan harus meliputi apakah tingkat dan bidang pendidikan tertentu berkaitan dengan kesempatan ekonomi, yang datanya diukur pada tingkat rumah tangga atau dikaitkan dengan data statistik potensi ekonomi daerah.

Tentu saja analisis tentang pendidikan bukan hanya tugas badan statistik. Perguruan tinggi juga harus membuat analisis kualitatif tentang jenis pendidikan mana yang sesuai dengan konteks lokal dan memperkuat kecenderungan lokal ke arah kesejahteraan.

Meuthia Ganie-Rochman Sosiolog Bidang Politik dan Organisasi, Mengajar di Universitas Indonesia

 

 

 

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: