Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

BOLEH NYONTEK, ASAL TIDAK SAMA PERSIS

Pengunjung Mletiko yang budiman,

Pada tanggal 15 Juni 2011, Menteri Pendidikan Nasional mengatakan bahwa tidak terjadi nyontek masal dalam pelaksanaan ujian nasional 2011 di sebuah SD di Surabaya.  Saya mengirim tulisan menanggapi komentar ini ke suatu harian nasional. Sayang, tulisan itu tak dapat dimuat.  Terlampir tulisan saya tersebut.

 

Semoga berguna, walau sudah agak basi.

Boleh  Nyontek, Asal  Tidak  Sama  Persis!

Aris Ananta

Untuk MLETIKO, 5 Juli 2011

Lina  anak pintar di sekolahnya. Selalu juara kelas. Lain dengan aku yang selalu malas belajar. Tapi, aku punya strategi.

            Ketika ujian berlangsung, aku duduk tak jauh dari tempatnya. Sebelum ujian dimulai, aku minta Lina untuk  memberikan jawaban ke aku. Lina menolak, takut ketahuan Pak Guru. Aku katakan ke dia, “Jangan takut, Pak Guru tak akan tahu”.  Lina tetap menolak, karena menurut dia, memberi contekan itu perbuatan terlarang.  Aku terus membujuknya. Kukatakan, “Kamu kan tidak rugi apa apa dengan memberi contekan. Kamu berbuat baik buatku. Lagipula, kalau aku juga mendapat nilai baik, citra sekolah kita pun akan terangkat”.

            Dengan bujuk rayuku, Lina akhirnya menyanggupi untuk membantuku dalam menjawab soal ujian. Semua berjalan lanar. Dengan kooperatif, Lina memberikan jawabannya ke aku. Aku puas sekali. Setelah ujian, Lina kutraktir makan  nasi pecel.

            Seminggu kemudian, Pak Guru memanggil kami berdua ke ruangan beliau. Aku jadi heran, ada apa? Apa ketahuan? Apakah ada kamera yang melihat Lina memberi contekan padaku? Setahuku, Pak Guru waktu itu tidak melihat aku menyontek. Juga tak ada kamera di ruang ujian.

            Kami benar benar lemas. Jawaban kami berdua salah. Dan salahnya sama. Persis sama salahnya. Pak Guru yakin sekali kami saling mencontek. Pak Guru yakin aku yang menyontek karena beliau  tahu aku tidak sepandai Lina. Pak Guru juga menghukum Lina karena Lina memberi contekan. Lina benar benar frustrasi, kenapa jawabannya dapat demikian bodoh? Dan kenapa dia memberikan contekan ke padaku? Mungkin saja, segala bujukanku sebelum ujian membuat Lina bingung sehingga ia tidak dapat menjawab soal ujian dengan baik. 

            Apa pun, yang terjadi adalah bahwa kami berdua mendapat peringatan pertama. Ketahuan nyontek. Namun, peristiwa ini ditutup rapat. Hanya Pak Guru yang tahu. Mungkin Kepala Sekolah juga tahu. Yang jelas, di luar kami, tak ada yang tahu tentang peristiwa memalukan ini.

            Dua bulan kemudian, ada ujian lagi. Lagi lagi, aku bingung. Persiapanku, seperti biasa, amat jelek. Belum jera dengan pengalaman yang lalu,  aku masih  ingin Lina membantuku. Tentu saja, Lina menjadi amat takut. Aku terus membujuk dia. Kukatakan, jawaban akan aku buat agak lain, biar tidak terlihat sama. Akhirnya, Lina pun mengangguk, bersedia membantuku lagi.

            Ujian berlangsung lancar. Lina membantuku.  Selesai ujian, Lina tampak ceria. Tampaknya, dia dapat menyelesaikan ujian dengan baik. Aku juga gembira, karena jawaban dari Lina tidak kutulis begitu saja. Kuubah sedikit, biar tidak sama persis dengan jawaban Lina.

            Seminggu kemudian, Pak Guru mengumumkan hasil ujian. Seperti biasa, Lina mendapatkan nilai terbaik di kelasku. Dan, sungguh mengagetkan, aku tidak lulus ujian, walau aku sudah mendapat bantuan dari Lina. Aku jadi marah sekali pada Lina. Aku datangi Lina, mengapa dia memberi jawaban yang salah padaku. Kalau jawaban dia benar, pasti aku juga ikut mendapat nilai baik. Aku memaki maki dia.

            Lina memang tidak memberikan jawaban yang dia kerjakan di kertas ujian. Dia kuatir jawaban dia salah lagi, dan ketahuan sama dengan jawabanku. Maka, Lina  pun telah mengubah jawaban, dibuat dengan bahasa lain. Celakanya, aku juga mengubah lagi, dengan bahasaku sendiri. Karena aku memang tidak pandai, hasilnya justru salah!

            Namun, aku tidak mau tahu hal itu. Aku kesal dan marah pada Lina. Aku keluarkan semua kekesalanku di face book, biar orang tahu seperti apa perilaku Lina. Biar tahu Lina telah tega menipuku.

            Aku lupa bahwa face book dibaca semua orang. Sebentar saja, komentar berdatangan. Sebagian ikut memberi simpati padaku. Sebagian lagi memakiku dan bahkan mengritik sistem di sekolahku yang tidak dapat mengawasi sistem ujian dengan baik.

            Kepala Sekolah dan Pak Guruku juga ikut bereaksi.  Kami berdua dipanggil lagi. Kami dimarahi lagi, dan akan mendapat peringatan kedua. Lina juga kena marah lagi, karena telah memberikan contekan, walau yang diberikan sudah dimodifikasikan.

            Kupikir, persoalan selesai di situ. Namun, karena telanjur masuk di face book, perisitiwa ini cepat menjadi isu nasional. Kritik pada sekolahku makin gencar.  Selain kasusku, terbongkar pula kasus contek mencontek yang lain.

            Walau tahu telah terjadi contek mencontek, dan telah memarahi kami, di depan umum Pak Kepala Sekolah bersikap lain.  Beliau mengatakan tidak terjadi contek mencontek di sekolah kami. Buktinya, nilai Lina bagus sekali, tertinggi di kelas. Sedang nilaiku jelek, bahkan aku pun tidak lulus di mata pelajaran itu.  Kalau aku nyontek, demikian kata Pak Kepala Sekolah kepada wartawan, tentu jawabanku sama dengan jawaban Lina. Tentu nilaiku juga akan bagus. Karena jawabanku  berbeda dengan jawaban Lina, maka, demikian kata Pak Kelapa Sekolah, aku tidak menyontek dari Lina.

            Dengan penjelasan Pak Kelapa Sekolah itu, aku jadi lega. Rupanya yang jadi korban bukan hanya aku, tetapi juga Kepala Sekolah. Pak Kepala Sekolah tidak jadi memberikan surat peringatan kedua, karena surat itu dapat menjadi bukti bahwa telah terjadi contek menyontek.

            Pelajaran  penting yang kudapat dari peristiwa ini: teruskan nyontek, asalkan jawaban tidak sama persis! Selama tidak sama persis,  aku tidak dapat dikatakan menyontek, walau sebenarnya aku menyontek! Biarlah para penulis kamus Bahasa Indonesia pusing dengan kesimpulanku ini. (*)

 

Filed under: Bahasa Indonesia, , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: