Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

MENGAPA SINGAPURA BANJIR LAGI?

Aris     Ananta

 

Untuk MLETIKO, 15 Juni 2011

 

Jakarta  banjir bukan berita.  Tetapi, banjir di Singapura? Dan banjir lagi?  Dalam dua tahun terakhir, berita banjir di Singapura memang sering terdengar, walau  banjir ini sering masih dalam ukuran “biasa” untuk Jakarta.

Tanggal  11 Juni (Sabtu) yang lalu, lagi lagi Singapura dilanda banjir. Persisnya di daerah Mounbatten, di Kampong Arang Road. Air tergenang kira kira seperempat ban mobil. Ada mobil yang mogok, dan pengendara terpaksa meninggalkan mobilnya. Kejadian yang luar biasa untuk Singapura, yang terkenal sebagai kota yang bersih dan tidak mengenal banjir.  Untung, Jalan Kampong Arang bukan jalan yang seterkenal  Orchard Road, jalanan yang penuh dengan toko toko.  Jalanan yang menjadi salah satu ikon utama Singapura. Kata sebagian orang “Kalau belum ke Orchard Road, belum ke Singapura namanya”.

Enam hari sebelumnya, tanggal 5 Juni 2011, banjir juga melanda Tanglin Mall. Mall yang juga besar, terletak di Tanglin Road, yang bersambung ke Orchard Road.  Hujan deras telah menjadi penyebab banjir banjir ini.  Pengunjung di basement mengatakan “Ada hujan di dalam gedung”.

Lebih tragis, hujan menghilangkan nyawa seorang remaja Indonesia.  Pada tanggal 2 Juni 2011, ketika hujan lebat, remaja ini berjalan di genangan air. Tanpa disadari, dia masuk ke gorong gorong di daerah Moulmein. Ia terbawa arus dan akhirnya ditemukan meninggal dunia.

Selain banjir banjir itu, ada pula beberapa banjir lain, yang tidak mengenai daerah penting seperti Orchard Road and Tanglin Road, dan tidak pula membawa korban nyawa.  Singapura memang sudah bukan kota yang bebas banjir.

Tahun lalu, bulan Juni 2010, Orchard Road dilanda banjir yang sangat mengagetkan. Pemimpin di negara ini  mengatakan bahwa Singapura bukan kota yang bebas banjir, tetapi kota yang dapat cepat mengatasi  akibat banjir. Banjir banjir “kecil” juga menlanda  jalan menuju National University of Singapore.

Lalu apa kata pemimpin di Singapura mengenai banjir yang sering terjadi di Singapura akhir akhir ini? Mengapa peristiwa tahun 2010 terulang lagi?

Suatu ulasan di koran The Straits Times, edisi 13 Juni 2011, mengatakan bahwa menurut Dr. Vivian Balakrishnan, Menteri Lingkungan dan Sumber day Air, yang baru menjabat sebagai menteri selama dua minggu, banjir banjir yang terjadi di Singapura diakibatkan karena perubahan iklim, yang  menyebabkan hujan yang lebat, dan hujan yang lebat ini menyebabkan banjir.

Namun, koran  ini juga men yebutkan bahwa para geografer tidak setuju dengan  alasan ini. Mereka berpendapat bahwa kesalahan  jangan ditimpakan ke perubahan iklim.  Lagipula, National Environment Agency di Singapura juga mengatakan  tak ada perubahan pola hujan yang mencolok selama 30 tahun di Singapura.  Lembaga ini mengatakan bahwa hujan akhir akhir tidak lebih dahsyat dari hujan beberapa puluh tahun yang lalu.

Pendapat lain, juga dilaporkan oleh koran ini, menyalahkan pola pembangunan pekotaan di Singapura. Daerah terbuka, daerah “tanah”, makin habis. Lihatlah Ion Orchard Mall, mal baru yang banyak menarik pengunjung. Daerah ini dulunya tanah kosong. Dulu, di  hari Minggu, banyak pembantu rumah tangga Indonesia ngobrol ngobrol di situ.  Kelompok ini mengatakan bahwa  konstruksi bangunan yang berlebihan telah mengakibatkan kurangnya kapasitas Singapura untuk mengelak banjir.  Kepadatan bangunan telah terlalu tinggi, kata mereka.

Dari apa yang saya lihat secara langsung, tanah kosong di Singapura  memang makin habis. Entahlah, apakah benar, makin cepatnya tanah kosong ini, dan makin padatnya Singapura dengan bangunan, telah menjadi penyebab banjir yang makin sering terjadi di Singapura.

Apakah banjir akan terjadi lebih sering dan dahsyat di Singapura?   Semoga tidak. Kita dapat ikuti apa yang pemerintah  Singapura akan lakukan. Pasrah saja, dan hanya mengurangi dampak banjir?  Singapura bukan lagi kota bebas banjir, tetapi kota yang sekedar dapat mengatasi dampak banjir? Misalnya, setelah banjir  Orchard Road tahun lalu, mereka menaikkan ruas jalan sepanjang 1,4 km di Orchard Road.  Melihat kegiatan ini, saya ingat Jakarta…………..berlomba menaikkan ruas jalan, atau lantai rumah, agar jalan tidak kena banjir, agar  air tidak masuk rumah ketika banjir. Banjir tetap melanda, tetapi kerugian dapat dikurangi.  Pasrah saja, banjir memang tidak dapat dielakkan,  dan kita memang hanya dapat mengurangi dampaknya?

Atau, seperti di Jakarta, menaikkan jalan di Orchard Road menyebabkan banjir di Tanglin Road? Pemerintah mengatakan bukan itu sebabnya.

Benarkah banjir memang tidak dapat dielakkan? Memang, sekarang perubahan iklim belum dapat dikatakan sebagai penyebab banjir yang makin sering  terjadi. Namun, tanpa usaha untuk menemukan penyebab banjir dan mendapatkan solusi yang tepat untuk mencegah banjir,  dalam 5 atau 10 tahun ke depan,  perubahan iklim akan memperparah banjir di Singapura.

Bagaimana Jakarta dan kota kota lain di Indonesia?  Pembangunan prasarana harus memperhatikan hal ini, menghindarkan terjadinya banjir. Adakah investor yang tertarik pada hal ini? Apakah pemerintah Indonesia telah memasukkan hal ini (pencegahan banjir) sebagai salah satu prioritas pembangunan? (*)

 

Tulisan terkait:

Listrik Padam di Singapura

*   Hujan Lebat Tapi Tidak Banjir

 

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: