Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

SELAMAT TINGGAL PERTUMBUHAN

Aris   Ananta

Untuk  KOMPAS, 13  Juni 2011

            Era Baru telah tiba! Tanggal 24 Mei 2011  perkumpulan negara maju yang bertujuan memajukan pertumbuhan ekonomi dan perdagangan internasional, Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan, mendeklarasikan  Indeks Kebahagiaan.

           Luar biasa.Suatu revolusi besar dalam kebijakan ekonomi yang selama ini  bertumpu pada pertumbuhan ekonomi. Lebih hebat lagi, deklarasi dilakukan oleh  Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD)yang amat bergengsi. Sejak organisasi ini didirikan tahun 1961, pertumbuhan ekonomi selalu menjadi  ukuran  utama keberhasilan perekonomian and sosial.

            OECD secara resmi menyatakan selamat tinggal kepada pertumbuhan ekonomi (pertumbuhan pendapatan bruto kotor/GDP) sebagai pengukur pembangunan. Mereka memperkenalkan Your Beter Life Index, suatu indeks pengganti produk domestik bruto (pendapatan nasional).

Bukan sekedar uang

           Sesungguhnya orang telah lama menginginkan  lebih dari sekedar GDP, mengukur  pembangunan dengan banyak indikator dan tidak terpaku pada GDP saja. Hidup bukan hanya soal uang, tetapi, juga soal kesehatan, keamanan, lingkungan, tata kelola pemerintahan yang baik, dan banyak hal lagi.

            Pertumbuhan pendapatan nasional dapat tinggi. Namun, apa gunanya jika lingkungan rusak, orang tidak sehat, dan hidup tak nyaman? Itulah salah satu sebab mengapa OECD  kini menggunakan 11 indikator untuk mengukur kemajuan perekonomian yang mencakup pendapatan, perumahan, pekerjaan, masyarakat, pendidikan, lingkungan, pemerintahan, kesehatan, kepuasan hidup, keamanan, serta keseimbangan pekerjaan dan hidup.

            Menarik untuk menyebutkan bahwa Bhutan, negara kecil di pegunungan Himalaya, telah memperkenalkan gross national happiness—indeks kebahagiaan nasional, bukan indeks pendapatan nasional– sejak  1972. Namun, baru  tahun 1990 Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB )  menciptakan suatu alternatif pengukuran pembangunan.

            PBB memperkenalkan human development index (HDI) yang merupakan kombinasi dari pendapatan, pendidikan, dan kesehatan. Tiap tahun PBB mengukur    pembangunan di berbagai negara dengan indeks ini, tetapi  PBB tak dapat memaksakan semua negara untuk melaksanakan konsep ini.

            Sesungguhnya hampir semua negara, termasuk Indonesia, telah menggunakan HDI dalam perencanaan dan evaluasi pembangunan mereka. Namun, HDI masih dilihat hanya sebagai suatu catatan kecil dalam melihat keberhasilan pembangunan. Lihatlah  berbagai pidato  perekonomian yang diawali dengan  data pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita. Pembahasan mengenai HDI, kalau pun sempat, hanya  cacatan pelengkap.

            Di Indonesia  target utama masih  pertumbuhan ekonomi. Mau tumbuh berapa persen,7 persen, 9 persen atau 12 persen? Berapa target pendapatan per kapita,   naik menjadi 5.000  dollar AS  tahun 2014? Belum pernah ada pidato  perekonomian dimulai dengan laporan kemajuan  HDI. Dalam kampanye pemilihan presiden pun tak ada yang berdebat mengenai berapa HDI yang harus dicapai  tahun 2014.

            Bank Dunia, sebuah lembaga internasional yang amat bergengsi,   telah memulai langkah besar dalam pemikiran ekonomi. Robert Zoellick, president Bank Dunia,  secara terbuka mengritik pengukuran kekayaan nasional yang tidak memperhitungkan kekayaan dari sumber daya alam.  Pendapatan nasional dapat tumbuh cepat dengan pertambangan batu bara, misalnya. Ekpor naik cepat, pertumbuhan ekonomi melesat. kekayaan Indonesia bertambah. Namun, semua  ini tidak memperhitungkan habisnya batu bara di  Indonesia. Menurut  Zoellick, penyusutan sumber daya alam harus dihitung saat mengukur  kekayaan nasional. 

            Tanggal 28 Oktober 2010  Zoellick mengatakan  Bank Dunia sedang mempersiapkan cara  mengukur kekayaan nasional dengan lebih baik karena menghitung penyusutan sumber daya alam.

            Meski demikian,  masih sedikit pembuat kebijakan yang  tertarik dan berani melakukan revolusi dalam mengukur  pembangunan mereka. Mereka masih berkutat pada pertumbuhan ekonomi.

             Inggris termasuk salah satu pelopor. Tahun 2010, Pemerintah Inggris  mengatakan  akan memperkenalkan indeks kebahagiaan untuk mengukur kondisi psikologis dan lingkungan di Inggris.  Inggris mungkin akan menjadi negara Barat pertama yang secara resmi mengukur kebahagiaan penduduknya.

            Namun, belum jelas apakah pembuat kebijakan Inggris juga akan berani menyatakan selamat tinggal pada pertumbuhan ekonomi dan menggantinya dengan serangkaian indikator yang lebih terkait dengan kesejahteraan penduduk.

Kebijakan Indonesia

            Saya tiba tiba saja menerawang  pidato kenegaraan Presiden pada  16 Agustus 2011,  beberapa bulan mendatang. Terbayang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memulai pidato dengan melaporkan kemajuan  dalam mengurangi kemiskinan dan  distribusi pendapatan,  bidang kesehatan, pendidikan, mobilitas penduduk, rasa takut di masyarakat, lingkungan, dan pemerintahan yang baik. Setelah membahas panjang lebar, Presiden baru membahas pertumbuhan ekonomi sebagai salah satu alat penting untuk mencapai berbagai indikator tersebut.

            Terbayang betapa Presiden  memberikan perintah kepada Menteri Pendidikan Nasional   untuk merombak kurikulum pengajaran ekonomi.  Presiden menargetkan bahwa pada  akhir masa jabatannya, 2014, Indonesia  telah dapat mengukur keberhasilan pembangunan dengan serangkaian indikator pembangunan. Pertumbuhan ekonomi hanya salah satu alat untuk mencapai kesejahteraan penduduk.

            Terbayang pula bahwa setelah pidato kenegaraan tersebut, Mendiknas segera menghubungi semua rektor universitas negeri dan swasta untuk bersama sama melaksanakan perintah Presiden mencari indikator pembangunan  yang  langsung mengukur kesejahteraan masyarakat.  Para dekan fakultas ekonomi mendapat tantangan terbesar untuk mengubah kurikulum mereka.

            Terbayang pula munculnya antusiasme yang luar biasa dari para akademisi, termasuk para ekonom di Indonesia. Saya tersenyum membayangkan bahwa 9 tahun lagi,  tahun 2020, dalam buku teks pembangunan ekonomi yang dipakai secara luas di dunia, Indonesia muncul sebagai contoh negara yang berani secara radikal merevolusi  pemikiran ekonomi dan kebijakan perekonomian. Tahun 2020 pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan utama pembangunan dibahas dalam topik “Sejarah Pemikiran Perekonomian Dunia”

            Semoga lamunan ini menjadi kenyataan. Selamat tinggal pertumbuhan ekonomi. (*)

Tulisan Terkait

*Your Better Life Index

* Indonesian Economy: Entering a New Era

* Pembangunan Tanpa Pendapatan Nasional

* Ekonomi Kerakyatan dan Paradigma Pembangunan

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, statistics, , , , , , , , , , ,

One Response

  1. Al Kusuma says:

    Index kebahagian mungkin sesuatu yang tidak bisa reliable karena tidak bisa stabil sebab kebagahain merupakan state of mind dan berhubungan dengan emosi. jadi indikator kebahagiab perlu dicermati dengan baik. Yang utama orang perlu memiliki rumah tetap, gaji minimum yang memadai untuk cukup hidip layak, merasa aman, ada keadilan, bisa bebas bicara, sehat.
    Mungkn yang lebih tepat adalah index kelayakan dan bukan index kebahagian.

    Al-Mufti Kusuma. sydney

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: