Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

TIDAK LULUS UJIAN BAHASA INGGRIS, CALON PLRT DI SINGAPURA BUNUH DIRI

Evi Nurvidya Arifin

Untuk Mletiko, 7 Juni 2011

Singapura, negara berpendapatan per kapita tertinggi di Asia Tenggara, sekali lagi dihebohkan dengan kematian PRT atau PLRT (penata laksana rumah tangga) asal Indonesia. Pertengahan bulan Mei 2011, warga di sebuah rumah bertingkat di daerah Woodland dihebohkan dengan kematian Ruliawati (31), seorang PLRT asal Jawa Tengah yang diduga dibunuh pekerja asal Bangladesh. Ruliawati diduga  memiliki hubungan khusus dengan pekerja Bangladesh tersebut.

Kemudian, Minggu lalu, tepatnya 1 Juni 2011, Sulastri Wardoyo, calon PLRT di Singapura, akhirnya meninggal akibat percobaan gantung diri karena tidak lulus ujian tertulis bahasa Inggris untuk menjadi PLRT di Singapura. Mimpi Sulastri, seorang ibu beranak satu, menjadi PLRT bergaji dollar kandas di seutas tali yang ia lilitkan sendiri ke  dirinya. Sulastri menggantung dirinya di kamar mandi tempat penampungan para calon PLRT di Singapura.  Seperti diceritakan salah seorang temannya, Sulastri sering berdiam diri dan menangis sejak ketidaklulusannya di ujian pertama. Kematian Sulastri mengundang sejumlah reaksi dan komentar cukup keras. Orang pun terhenyak atas adanya ujian  yang berat tersebut. Perlukah ujian tersebut, dan mengapa tidak dilakukan di Indonesia?

Ujian  itu dilakukan dalam bahasa Inggris secara tertulis. Memang tidak sesulit TOEFL, yang digunakan untuk penyaringan ke universitas,  namun ujian  bahasa Inggris ini dapat amat sulit untuk para PLRT. Membaca dan mengerti soalnya saja sudah satu persoalan sendiri. Seperti diberitakan di  koran  The Straits Times, 2 Juni 2011, ujian tertulis itu terdiri dari 40 pertanyaan pilihan  berganda yang harus dijawab dalam waktu 30 menit. Artinya setiap pertanyaan rata-rata harus dijawab dalam waktu hanya 45 detik saja. Waktu yang cukup singkat untuk membaca, mencerna dan menjawab.

Seorang PLRT yang berhasil lulus, yang kebetulan satu pesawat dengan saya  dalam perjalanan Singapura-Yogyakarta bulan Mei lalu, menceriterakan bahwa menjawab pun perlu waktu karena jawaban bukan dengan cara mencontreng atau mencakra, melainkan  dengan memulas lingkaran jawaban yang disediakan, karena jawaban akan diperiksa dengan komputer.  Dengan cara ini, jawaban yang betul bisa salah bila cara menjawabnya salah. Misalnya, lingkaran tidak penuh dipulas, ataupun pulasan pensil melewati garis batas lingkaran.

Anda tentu penasaran ingin mengetahui lebih lanjut mengenai ujian tertulis tersebut. Dari 40 soal yang diberikan dalam ujian, The Strait Times menyajikan 4 soal yang cukup menarik untuk disimak.

  1. Which one of the items below should not be stored with the other three?

(a)    Cooking oil

(b)   Chilli sauce

(c)    Insect killer

(d)   Dark soya sauce

  1. You went to East Coast Park on your day off. The journey from East Coast Park to your employer’s house takes 45 minutes. What time must you leave East Coast Park to reach home by 7pm?

(a)    Before 6.15pm

(b)   After 6.45pm

(c)    After 6.30pm

(d)   At 7pm

  1. Below is the price list in a fast-food restaurant. How much do you have to pay for one fish burger and one packet of large fries?
    Food items price: Chicken burger $3

Fish burger $3.50

Small fries $1.50

Large fries $2

(a)    $5.50

(b)   $5

(c)    $3.50

(d)   $6.50

  1. When doing housework, I should …

(a)    Use the same towel to wipe the table, clean the plates and wipe the kitchen tiles.

(b)   Use the same towel to wipe the table and plates but a different towel to wipe the kitchen tiles.

(c)    Use the same towel to clean the plates and floor but a different towel to wipe the kitchen tiles.

(d)   Use different towels to wipe the table, clean the plates and wipe the kitchen tiles.

Keempat contoh soal ini menarik disimak paling tidak dari panjangnya soal. Soal pertama terdiri dari 28 kata, soal kedua 49 kata, soal ketiga satu kata lebih banyak dari soal kedua, dan soal terakhir 80 kata. Jumlah kata ini akan menentukan kecepatan membaca dan mengerti pertanyaan. Dengan aturan waktu diatas, keempatnya harus selesai dalam waktu 3 menit saja dengan jawaban yang belum tentu benar.

Kematian Sulastri menjadi berita utama di seksi ”HOME” di koran The Strait Times tadi.  Diberitakan bahwa ujian tertulis ini bukan hal baru karena telah dijalankan sejak 2005 oleh Departemen Ketenagakerjaan Singapura bagi semua  calon PLRT. Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan para PLRT dalam hal membaca dan menghitung. Namun, tahun 2009, revisi dilakukan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Ujian tertulis ini dilakukan di minggu pertama para PLRT tiba di Singapura. Bila mereka gagal di ujian pertama, masih ada 2 kesempatan lagi untuk mengikuti ujian. Mereka mendapat jatah maksimum 3 kali ujian dalam tenggang waktu 3 hari berturut-turut.

Kegagalan dalam menjalani ujian tertulis ini berakibat pada pemulangan kembali para calon PLRT ke Indonesia. Hal ini bukan perkara mudah, karena artinya si calon PLRT harus kembali ke agen dan kembali menjalani kehidupan di tempat penampungan pelatihan PLRT, dan belajar kembali. Semakin lama disana,  semakin besar biaya yang harus ditanggung oleh calon PLRT ini. Biaya ini tidak dibayar tunai, namun dibayar sebagai hutang yang harus dilunasi manakala mereka akhirnya menjadi PLRT di sebuah negara. Persoalan menjadi kompleks.

Pelaksanaan ujian tertulis di Singapura memang ini perlu dikaji ulang. Sebuah surat pembaca di The Strait Times, 3 Juni 2011, menyatakan sebagai berikut

”… Maids generally do not have to deal with the public, so as long as they are able to converse with and understand their employers in a language they both are comfortable with, why waste the time and resources on this test?”

Surat pembaca tersebut ada benarnya, PLRT yang lulus bahasa Inggris pun belum jaminan dapat melakukan komunikasi dan mengerti perintah majikan bila tugas utama PLRT ini, misalnya, mengurusi para lansia Singapura. Sebab apa? Di Singapura, persentase pengguna bahasa Inggris dalam komunikasi di rumah tidak lah besar.

Diantara para lansia etnik China, etnik terbesar di Singapura, bahasa Inggris bukan bahasa yang dipakai sehari-hari. Sensus Penduduk Singapura 2010 memperlihatkan bahwa lebih dari 50 persen para lansia China  menggunakan bahasa dialek seperti Hokian, Kanton, Teochew atau lainnya, dan hampir 30 persen pengguna bahasa Mandarin. Hanya 16 persen yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa yang paling sering digunakan sehari-hari di rumah. Selain itu, banyak generasi tua Singapura, termasuk yang China,  yang lebih mengerti bahasa Melayu ketimbang Inggris.

Di kalangan lansia etnik Melayu, sekitar 95 persen berbahasa Melayu, bahasa yang banyak miripnya dengan bahasa Indonesia. Lain halnya dengan kalangan India, lansia penutur bahasa Inggris sebanyak 30 persen, sedang penutur Tamil sebanyak 45 persen, dan penutur Melayu 10 persen.

Memang gambaran ini sedikit berbeda dengan penduduk Singapura secara umum. Penduduk China berumur 5 tahun keatas yang berbahasa Inggris sehari-hari di rumahnya sebanyak 33 persen, kedua setelah bahasa Mandarin (47 persen). Sementara,  19 persen pengguna bahasa dialek. Di kalangan  Melayu, 17 persen pengguna bahasa Inggris di rumah, 82.7 persen pengguna bahasa Melayu. Sedang di kalangan India , 41.6 persen pengguna bahasa Inggris di rumah, 36.7 persen pengguna Tamil, 13.2 persen pengguna bahasa India lainnya, dan 7.9 persen berbahasa Melayu. Namun, fakta tetap menunjukkan bahwa kurang dari separoh penduduk Singapura menggunakan bahasa Inggris dalam komunikasi sehari hari di rumah mereka. Jadi, mengapa harus ujian bahasa Inggris, dan tertulis?

Sulastri menyisakan pelajaran berharga bagi kita dan meninggalkan pertanyaan yang belum terjawab. Mengapa Sulastri pergi padahal agen pengirim mestinya tahu kemampuan Sulastri dalam menghadapi ujian tertulis? Apakah para agen di Indonesia tak tahu sulitnya mengikuti ujian bahasa Inggris di Singapura, dan bahwa kemungkinan lulus amat kecil? Tidakkah menjadi lebih murah kalau mereka melakukan ujian di Indonesia, dengan mendatangkan panitia ujian dari Singapura oleh orang Singapura?

Selamat jalan Sulastri. (*)

Tulisan terkait:

Perjalanan Panjang Seorang Migran: Dari Palimanan ke Sakaka

Kebutuhan Pembantu Rumah Tangga (PLRT) di Singapura

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, migration, , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: