Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

PENAGIH UTANG DAN MELEK HURUF KEUANGAN

Aris  Ananta

Untuk MLETIKO, 27 April 2011

Trauma tidak juga hilang setiap kali kata penagih utang (debt collector) disebut. Hal itu seperti rekaman video yang diputar ulang. Adi sebenarnya tidak berutang, dan dia pun bukan tipe orang yang suka berutang.
Tetapi, dia sempat berhubungan dengan penagih utang yang menyebabkan trauma.Adi ingat betul ketika dia dihubungi sekelompok orang yang mengaku dari bagian hukum suatu toko perabot rumah tangga yang mempunyai reputasi internasional.Mereka mengatakan Adi punya utang. Padahal, yang sesungguhnya terjadi adalah kealpaan petugas toko itu untuk meminta bayaran ketika ia mengirim dan memasang lemari pesanan Adi.

Adi yang sudah lupa dengan peristiwa itu akhirnya membayarkan uang tersebut.Namun, dia tidak habis pikir,kenapa harus memakai cara itu? Tidakkah ada cara yang sopan, bukan dengan ancaman? Cerita ini terjadi bukan di Indonesia, tetapi di Singapura. Akhir-akhir ini masalah money lender memang sedang ramai diSingapura. Masalah yang muncul dari para pemberi utang, yang mengenakan bunga yang amat tinggi dan menagih dengan kekerasan, memang sedang marak.

Bahkan terjadi di money lender yang resmi. Suku bunga dapat mencapai 25% per bulan! Cerita lainnya, Rini meminjam uang 10.000 dolar Singapura. Bulan berikutnya Rini tidak dapat membayar cicilannya. Akibatnya, dalam beberapa minggu, utangnya membengkak dua kali lipat.Ini bukan terjadi pada money lender gelap. Ini terjadi pada money lender resmi, yang berizin, seperti diberitakan di The Strait Times,22 April 2011 silam.

Di Indonesia masalah ini muncul dengan meninggalnya Irzen Octa, nasabah suatu bank yang mempunyai reputasi internasional, bulan Maret lalu. Irzen diduga meninggal ketika dia berhubungan dengan penagih utang, terkait utangnya di bank itu. Padahal, Irzen Octa bukan orang sembarangan. Dia Sekjen Partai Pemersatu Bangsa (PPB). Muncul berbagai dugaan, bahwa praktik penagih utang dengan cara kekerasan memang menjamur di Indonesia.

Dengan politisi yang menjabat sekjen di sebuah partai pun mereka berani, bagaimana dengan orang biasa? Dengan sebuah bank bereputasi internasional saja itu dapat terjadi, bagaimana dengan bank kecil, atau bahkan money lender yang tidak punyai izin? Masalah ini tidak terbatas pada mereka yang pinjam uang ke bank atau money lender lainnya. Seperti yang disebutkan Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution, para penagih utang juga bekerja untuk berbagai sektor lainnya yang menggunakan sistem kredit.

Persoalan menjadi makin sulit karena di mana-mana, termasuk Indonesia, kegiatan pemberian kredit telah menjadi bisnis yang makin menguntungkan. Pebisnis makin suka memberikan kredit, karena kegiatan ini memberikan keuntungan yang tinggi. Sebagian dari mereka tidak takut peminjam gagal mengembalikan uang karena mereka tahu mereka dapat menggunakan jasa penagih utang. Mereka tidak mau menggunakan jalur hukum yang ada, karena mereka khawatir prosesnya bertele-tele dan prosesnya dapat lebih mahal daripada uang yang ditagih.

Sementara itu, sampai saat ini BI tidak mempunyai payung hukum untuk mengatur penagih utang. BI baru mengusulkan undang-undang untuk mengatur jasa penagih hutang ini. BI menyatakan akan melihat sistem yang ada di Amerika Serikat, yang melarang penagih utang datang ke kantor dan membatasi jam operasinya. BI juga menyadari bahwa salah satu sebab munculnya persoalan dengan penagih utang adalah tak terkontrolnya penawaran dan penggunaan kartu kredit.

Nafsu berutang ini bahkan makin dikobarkan oleh sebagian pebisnis. Gubernur BI memberi contoh, ada orang bergaji Rp7 juta per bulan tapi mempunyai tujuh kartu kredit berbeda. Gubernur BI menyadari bahwa ekspansi kredit ini merupakan salah satu penyebab terjadinya pinjaman di luar kemampuan. Yang dikatakan gubernur BI ini merupakan hal yang amat serius. Pinjaman di luar kemampuan ini sering pula di sebut sub-prime mortgage.

Ini semacam kasus yang telah terjadi di Amerika Serikat di tahun 2007, dan menjadi penyebab krisis global yang terjadi 2–3 tahun lalu. Adanya kasus orang menggunakan satu kartu kredit untuk membayar utang di kartu kredit lainnya dapat merupakan ilustrasi terjadinya sub-prime mortgage. Kalau dugaan gubernur BI ini benar, maka kita harus segera menangani hal ini. Kalau tidak, krisis global dapat bermula di Indonesia, seperti kasus sub-prime mortage di Amerika Serikat.

Oleh sebab itu, BI juga telah merencanakan untuk mengatur pemberian kartu kredit, untuk mengurangi kemungkinan terjadinya gagal bayar. Sementara ini pemberian kartu kredit sangat longgar. Lihatlah, betapa manis dan agresifnya bank menawarkan kartu kredit dan pinjaman. Para peminjam juga sering tidak paham dengan peraturan yang diberikan oleh bank. Peraturan sering ditulis dengan bahasa yang tidak mudah dimengerti dan dalam huruf yang kecil.

Petugas yang menawarkan kartu kredit pun biasanya juga tidak menjelaskan peraturan yang ada secara lengkap. Peminjam tidak diberi tahu bahwa mereka dapat dikejar oleh penagih utang bila gagal membayar. Mereka hanya mendapat cerita manisnya, tetapi kepahitan yang dapat dialami tidak pernah disebutkan. BI dapat pula mulai secara intensif memberikan kampanye dalam hal “melek-huruf keuangan”.

Masyarakat perlu paham segala risiko dari berbagai jasa keuangan.Setiap lembaga yang memberi utang diwajibkan memberi penjelasan yang lengkap pada konsumen mereka. Di alam demokrasi, konsumen mempunyai hak untuk mengetahui dengan lengkap mengenai setiap jasa keuangan yang dijual ke mereka. Dengan “melek huruf keuangan” risiko terjadinya subprime mortgage akan berkurang, dan risiko terjadinya tindakan kekerasan oleh penagih utang juga akan berkurang. (*)

Tulisan terkait:

* Masyarakat Konsumtif, Penghutang, dan Spekulatif

* Pendapatan Tinggi, Biaya Hidup Meningkat

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , , , , , ,

One Response

  1. Wahyuni, Ekawati Sri says:

    Bukannya wajar itu sebagai praktek dagang? Iklannya luar biasa menariknya sehingga membuat orang “merasa” membutuhkan dan kemudian membelinya. Ketika setelah membeli kualitasnya ternyata tidak sesuai dengan yang diiklankan maka konsumen dapat memprotesnya langsung dan tidak membelinya lagi. Tetapi persoalan dengan “berjualan uang”, misalnya dengan kartu kredit, ini agak berbeda. Calon konsumen telah diberi kesempatan untuk membaca semua syarat dan konsekwensinya dengan menggunakan kartu kredit. Namun demikian, kita biasanya tidak sabar untuk membacanya, atau tidak “teliti sebelum membeli” dan kemudian yang utama adalah, kita sangat risih dengan agrsifitas para penjajanya. Risih banget. Kata “tidak”, harus dilakukan berulang-ulang dan sangat mengganggu, jadi biasanya kalau mau cepat lepas dari mereka, kita cenderung menyetujuinya. Sebenarnya tidak masalah kalau kemudian kita merasa tidak perlu barang itu (kartu kredit), masalahnya, tidak mudah menutup kartu kredit, dan tidak tahu caranya. Saya sudah mencoba mencarinya dalam buku panduan penggunaan kartu kredit tapi tidak ketemu pasal bagaimana cara menutup atau membatalkan kartu kredit. Atau mungkin saya yang kurang teliti dan tidak sabar membaca peraturan yang bahasanya sulit dipahami (meskipun saya sudah sekolah setinggi-tingginya lho).

    Penjualan kartu kredit memang mudah karena KK dipandang mempunyai gengsi yang tinggi, di antara penggila belanja. Saya tidak mau menunjuk langsung terutama para perempuan, karena itu bias gender. Dalam percakapan, sering muncul anggapan bahwa “kalau membeli barang denga cara menggesek, lebih sip daripada membayar dengan tunai”. Jadi, begitulah penjual kartu kredit banyak beroperasi di mall. Ooo… sekarang juga mulai banyak di lounge-lounge di bandara (Indonesia) yang memberikan tempat istirahat yang nyaman sementara menunggu penerbangan. Jasa ini sangat berguna, terutama karena penerbangan di Indonesia sangat rawan delay. Sangat nyaman menunggu di ruang yang bersih, dingin, bebas asap rokok (asal tidak duduk dekat ruangan tempat merokok saja) dan makanan dan minuman gratis. Jadilah ini dibuat sebagai “kebutuhan” yang dapat dipenuhi jika menggunakan kartu kredit.
    Umumnya yang terjerat utang via kartu kredit adalah yang mengambil uang tunai, selain bunganya tinggi, maka pelipatan bunga itu yang tidak disadari.

    (Nah, di sini saya masih lebih hormat pada para renternir, yang katanya mencekik nasabah, tetapi mereka lebih fair dan nasabah sudah tahu resikonya sejak awal. Perkara menagih sih tak kalah sadisnya dengan para debt collector itu.)

    Demikian sekedar respons saya atas tulisan Mas Aris. Ini banyak didasarkan kapada kejadian empiris, kalau teorinya Mas Aris ahlinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: