Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

PERJALANAN PANJANG SEORANG MIGRAN: DARI PALIMANAN KE SAKAKA

Evi  Nurvidya  Arifin

Untuk MLETIKO, 20 April 2011

Suatu sore di Bandara Udara Sukarno Hatta. Persisnya tanggal 16 April 2011. Saya bertemu   Siti (bukan nama sebenarnya), seorang calon penumpang. Untuk Siti, sore itu awal sebuah perjalanan panjang untuk meraih cita-citanya, bekerja di ranah rumah tangga sebuah keluarga di Arab Saudi.

       Siti tidak seorang diri. Sore itu mungkin hampir separo ruang tunggu keberangkatan Lion Air di Sukarno-Hatta untuk penerbangan ke Singapura dipenuhi para TKW. Suasana riuh ramai terasa, sepintas bukan wajah-wajah sedih penuh duka. Mungkin banyak diantara mereka yang sedang dibuai mimpi yang hampir tiba. Dalam hati saya, semoga mimpi mereka tercapai, bukan malapetaka yang didapat.

      Kebetulan sebuah kursi di barisan depan ada yang kosong. Duduklah saya disitu. Sepintas saya perhatikan keadaan sekeliling tepat duduk. Mengamati siapa-siapa sajakah yang berada di sekitar saya duduk. Tiga orang duduk bersebarangan, dua di kiri saya. Tak lama, saya tahu siapa mereka.

       Hasrat ingin tahu lebih banyak muncul. “Mau pergi kemana Mbak?”

“Ke Singapura”, jawabnya.

“Kerja di Singapura?” Tanya saya lagi.

“Tidak, Bu. Saya akan ke  Arab. Ibu mau kemana?”Siti balik bertanya.

Jawab saya, “Saya juga akan ke Singapura.”

       Segudang pertanyaan lalu bermunculan di benak saya untuk mengetahui lebih lanjut tentang kisah Siti.

“Apa perasaan Siti saat ini? Senang akan pergi, sedih meninggalkan keluarga, atau biasa-biasa saja…?”

       Siti tidak segera menjawab. Aneh juga… Mengapa jawabannya tidak otomatis. Saya jadi tambah penasaran. Maka pertanyaan berikutnya yang singgah di benak saya yaitu sudah seringkah dia meninggalkan keluarganya.

“Sudah sering bekerja di luar negeri?”

       Keluarlah jawabannya, ternyata perjalanan Siti kali ini adalah perjalanan ketiga bekerja di luar negeri. Sebelumnya Siti bekerja di Qatar, lalu di Abu Dhabi (Uni Arab Emirate). Pengalaman Siti bekerja di kedua negara tersebut baik. Seperti kebanyakan TKW yang berhasil, mereka cenderung ingin kembali lagi bekerja di luar negeri.

“Di kampung rasanya aneh, jadi mending pergi lagi saja”

        Ketika ditanya jangka waktu berada di Indonesia, Siti mengatakan sebelum berangkat ke Arab, dia berada di Palimanan (Cirebon), tempat asalnya, selama 7 bulan. Jeda yang  sebelumnya malah hanya 2 bulan saja.

       Siti bukanlah wanita lajang, dia mempunyai anak. Anak yang terkecil kini bersekolah kelas 1 SMP. Berarti paling tidak saat pertama Siti pergi, anak bungsunya ini baru berusia 6 tahun saja. Sayangnya saya tidak bertanya berapa jumlah anaknya, dengan siapa mereka tinggal,  apakah dengan suami atau mertua atau orangtua Siti. Apakah Siti juga masih menikah? Saya tidak bertanya. Tapi saya penasaran kemana gerangan Siti nanti di Arab.

“Kapan pesawat ke Arab berangkat dari Singapura?”

Jawaban Siti mencengangkan saya. 

“Jam 9 pagi besok, Bu.”

        Perlu saya sebutkan, pesawat kami diperkirakan akan tiba di Changi, Singapura jam 8.30 malam. Bayangkan Siti dan teman-teman masih akan berada di Changi selama kira-kira 12  jam lagi.

“Sudah tahu nanti malam menginap dimana?”

“Di airport, Bu.”

       Jawaban ini hanyalah sebuah kejelasan fakta bagi saya yang pernah melihat TKW (mohon maaf) bergeletakan di Changi airport.  Bayangkan mereka akan tidur di lantai  airport sepanjang malam berselimut dinginnya AC Changi. Entah ada yang akan memberi makan malam dan minum serta sarapan atau  tidak. Yang jelas Lion Air tidak memberi apapun termasuk minum kecuali beli sendiri. Semoga saja ada yang memberi makan. Minum tersedia gratis di Changi melalui water  fountain.

        Siti melanjutkan cerita tentang rencana perjalannnya.

“Dari Singapura saya akan  terbang ke India, lalu ke Arab. Di India akan menunggu selama 4 jam untuk penerbangan berikutnya”

Masya Allah… betapa panjangnya perjalanan itu.

“Anggap saja puasa”

        Begitu kilahnya ketika dia tahu akan kemungkinan tidak akan mendapat makan malam di Singapura. Siti agak mengeluh juga, siang tadi dia juga tidak makan siang karena jam 11 pagi sudah harus meninggalkan tempat penampungan. Padahal, sebelumnya dia  diberitahu bahwa keberangkatannya  jam 1.30. Dengan demikian Siti berharap bisa makan siang dulu. Apadaya, keberangkatan ke airport dipercepat, padahal pesawat ke Singapura baru berangkat jam 17.50 ditambah keterlambatan terbang 1 jam. Jadi praktis Siti hari itu tidak cukup makan. Salah satu teman yang duduk di depannya sempat memperlihatkan roti sebagai bekal di perjalanan. Ketika saya tanya apa bekal Siti, dia tidak menjawab. Tapi sore itu teman Siti sempat berbagi kue kering. Siti mengatakan agen memberi pesan agar mereka membawa bekal.

      Perjalanan Siti belum akan selesai saat pesawat mendarat di Arab. Siti masih akan menggunakan kendaraan darat untuk bisa sampai ke rumah majikannya. Siti akan mendarat dini hari, jam 1 pagi waktu setempat. Dia mengatakan agen setempat akan menjemputnya dan membawa Siti beserta 5 orang TKW menuju Sakaka, sebuah daerah di Arab Saudi. Perjalanan ke Sakaka bukanlah perjalanan pendek, melainkan sebuah perjalanan panjang yang kira-kira terbentang dari Ujung Kulon hingga Surabaya, perjalanan selama 16 jam.

       Semoga ada yang memperhatikan kesehatan Siti dan teman-teman. Semoga pesawat ke India menyediakan makan, demikian pula perjalanan berikutnya. Semoga Siti mendapatkan majikan yang baik. Semoga dia mendapatkan seperti yang ia cita-citakan, bukan seperti kenyataan yang dihadapi Darwati, TKW asal Majalengka bekerja di Mekah yang habis dipukuli hingga tewas, atau Sumiati di Medinah yang digunting mulutnya, dipukuli dan disetrika oleh majikan atau anggota keluarga majikannya.

        Pelajaran baik yang dapat kita peroleh. Siti sabar. Lapar yang dia rasakan, dia ubah sebagai bentuk ibadah puasa. Makna puasa, tersirat makna kesabaran. Dengan mengatakan hal ini, bukan berarti saya setuju seratus persen dengan sikapnya. Secara kemanusiaan, kesejahteraan mereka ini perlu ada yang memikirkan. Paling  tidak upaya menekan biaya perjalanan panjang janganlah berujud penggunaan pesawat murah yang tidak memberikan makan dan minum. Menekan ongkos perjalanan tidak berarti menyengsarakan mereka.

       Selamat jalan Siti. Terima kasih atas ceritamu. Semoga ada perbaikan bagi Siti-Siti lain yang belum berangkat. (*)

Tulisan terkait

* Kebutuhan PLRT (Pembantu Rumah Tangga) di Singapura

Industri PLRT: Pandangan Singapura

* Peningkatan Kesejahteraan PLRT di Luar Negeri

Filed under: Bahasa Indonesia, migration, poverty, , , , , , ,

2 Responses

  1. iim says:

    kisahnya menyentuh banget bu…

  2. Ahmad says:

    luar biasa nih cerita mbak.. trima kasih.. semoga siti baik2 saja di arab sana..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: