Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

KONSUMSI GLOBAL DAN KEMISKINAN LOKAL

Aris  Ananta

Untuk SEPUTAR  INDONESIA, 12   April  2011

 

Rio, remaja SMA yang cukup beruntung. Makanannya cukup baik karena kedua orang tuanya sangat memperhatikan mutu dan jumlah makannya.Pakaian dia pun cukup walau tidak mewah. Dia juga mempunyai buku-buku yang diperlukan untuk sekolah.Tidak ketinggalan dengan komputer canggih, lebih canggih dari komputer kedua orangtuanya, yang dituntut oleh sekolahnya. Keperluan transportasi yang nyaman juga dia peroleh. Kondisi kesehatan dia prima.Namun, Rio merasa miskin. Rio merasa miskin karena handphone (ponsel)-nya sangat sederhana, hanya dapat berguna untuk menelepon dan mengirim pesan singkat. Kemampuan lainnya amat terbatas.

Padahal, teman-teman dia,dan bahkan sepupu dia, mempunyai ponsel yang hebat dengan segala aksesori mutakhirnya. Rio ingin seperti kawan kawannya, yang dapat selalu update Facebook mereka, kapan pun dan di mana pun berada. Karena keterbatasan ponsel-nya, Rio hanya dapat melakukan update Facebook di komputer, di rumah atau di kafe. Dia merasa tersisih dari teman-temannya.

Dia malu tak dapat bergaul bebas di dunia maya dengan teman teman seangkatannya. Namun, kegalauan seperti ini bukan hanya terlihat pada remaja seperti Rio. Didi, seorang kakek yang berusia hampir 70 tahun, juga mengalami hal yang serupa. Didi telah menjadi kakek yang “modern”, selalu membawa beberapa ponsel. Ponselnya tidak canggih, namun dia mempunyai dua ponsel dengan provider yang berbeda agar dapat menghemat biaya. Satu ponsel untuk satu kelompok teman dengan provider yang sama, ponsel lain untuk kelompok dengan provideryang lain.

Kakek ini menjadi tetap aktif di hari tuanya karena dia dapat terus berkomunikasi ke banyak teman tanpa harus melakukan mobilitas fisik. Nestapa terjadi ketika kedua ponsel Didi hilang, tertinggal di taksi, ketika pulang dari mal. Selama empat hari anaknya belum dapat mencari ponsel yang baru, dan selama empat hari itu, Didi merasa sangat miskin, terisolasi dengan dunia luar. Walau dia mempunyai makanan dan tempat tidur yang baik, Didi tetap merasa miskin karena “terisolasi” dengan dunia luar meski di sekitarnya juga banyak orang, dan dia bebas jalan-jalan di sekitar rumah,bahkan naik taksi.

Seperti halnya Rio yang remaja, Didi, sang kakek, juga mempunyai kebutuhan pokok baru, yaitu bergaul di dunia maya. Update Facebook juga telah menjadi kebutuhan pokok yang mengglobal seperti makan. Kalau sehari belum updateFacebook, Reni, seorang pekerja karier, juga merasa harinya belum lengkap.Walau mengantuk,dia akan buka Facebook.

Kalau tidak membukanya, dia merasa tertinggal dengan beritayang terjadi dilingkungan mayanya. Kalau sebagian orang merasa perlu update dengan peristiwa dunia, nasional dan lokal, Reni merasa harus selalu melakukan update dengan peristiwa di kelompok mayanya, termasuk mewartakan apa yang terjadi dengan dirinya sendiri. Tampaknya, tekanan sosial untuk ber-Facebook makin besar. Globalisasi memang telah menciptakan banyak kebutuhan baru. Berkomunikasi di dunia maya telah menjadi suatu kebutuhan yang mengglobal.

Di Indonesia, misalnya,orang merasa malu kalau tidak mempunyai ponsel. Bahkan, di banyak kesempatan, orang selalu menanyakan nomor ponsel. Terlihat aneh sekali, kalau ada orang yang tidak mempunyai ponsel, atau tidak tahu nomor ponselnya. Globalisasi juga meningkatkan biaya untuk kebutuhan pokok. Satu keluarga, sepasang suami istri dengan dua anak, kini mempunyai minimal empat ponsel, selain satu telepon rumah. Biaya untuk komunikasi menjadi makin mahal, apalagi dengan iming-iming dari bisnis telepon seluler agar orang makin rajin berkomunikasi lewat ponsel.

Makan di kafe contoh lain kebutuhan global yang telah muncul di Indonesia. Ke kafe tidak akan lengkap kalau tidak membawa iPad atau komputer lain yang sejenis. Bergdang hingga pagi sambil mencicipi kopi, duduk di kafe, telah menjadi kebutuhan yang tercipta di sebagian kalangan di Indonesia, baik yang muda atau yang lebih tua. Banyak barang yang telah menjadi milik dunia dapat ditemukan di mana pun kita berada, termasuk di Indonesia.

Bukan hanya di kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya, tetapi juga ke kota kecil, bahkan ke desa-desa. Lihatlah berbagai barang kebutuhan sehari-hari, termasuk kebutuhan untuk mandi. Barang-barang tersebut adalah juga barang yang tersedia di Singapura,Tokyo, dan New York. Harga di kota kecil pun tak jauh berbeda dengan harga di New York. Globalisasi berarti mendunianya pola konsumsi.

McDonald’s adalah suatu contoh klasik konsumsi global. Harga makanan di McDonald’s tidak jauh berbeda antara di satu negara dan negara lain. Globalisasi memang menuruti kemauan orang yang punya uang. Makin banyak uang kita miliki, makin mudah keinginan kita dipenuhi pasar. Orang dapat membeli barang ke mana pun dia berada. Barang dapat mengalir ke mana ada yang mau dan dapat membeli. Bisnis juga terus berusaha menciptakan kebutuhan untuk mengonsumsi barang global, dengan harga global.

Di pihak lain kebutuhan orang yang tidak mempunyai uang tidak akan dipenuhi oleh globalisasi. Suatu contoh adalah menyebarnya salon, menggantikan tukang cukur. Salon lebih bergengsi daripada tukang cukur. Akibatnya, Didi, harus membayar lebih mahal untuk memangkas rambut. Sesungguhnya, Didi tidak membutuhkan salon. Dia sekadar memerlukan tukang cukur tetapi globalisasi telah menyingkirkan tukang cukur, menggantinya dengan salon.

Konsumsi global memang membawa pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Namun, globalisasi telah melakukan diskriminasi pada tenaga kerja, terutama tenaga kerja dengan pendidikan rendah. Tenaga kerja sering mendapatkan kesulitan untuk dengan bebas pergi ke mana pun di dunia, untuk mengikuti mekanisme pasar. Masyarakat Ekonomi ASEAN yang diharapkan terbentuk tahun 2015 jelas mendiskriminasikan tenaga kerja berpendidikan rendah.Mereka yang berpendidikan rendah tidak mendapatkan kebebasan mengikuti mekanisme pasar di ASEAN.

Begitu banyak batasan, yang lebih bersifat politis, untuk mengglobalnya tenaga kerja. Akibatnya, tenaga kerja sulit mendapatkan harga global. Mereka sering harus puas dengan gaji lokal dan hal ini justru menjadi daya tarik para investor asing. Di pihak lain, para tenaga kerja, karena globalisasi, telah dihadapkan dengan kebutuhan konsumsi global dengan harga global. Gejala ini, konsumsi global, dengan penghasilan lokal, dapat menciptakan perasaan miskin, seperti yang juga dialami oleh Rio, Didi, dan Reni. Mereka umumnya berpendapatan menengah ke bawah. (*)

Tulisan terkait:

* Masyarakat Konsumtif, Penghutang, dan Spekulatif

* Pendapatan Tinggi, Biaya Hidup Pun Meningkat

* Bagaimana Investor Asing Melihat Indonesia?

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, poverty, , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: