Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

SIKLUS DEMOGRAFI

Aris  Ananta

 

Untuk Mletiko, 1 April  2011

 

Lihatlah gambar ini. Seorang kakek dengan cucunya.  Banyak perbedaannya. Tetapi, dapatkah anda melihat  persamaannya?

 

Lihatlah rambutnya. Itu lah persamaannya. Rambut kedua manusia ini  sama sama tidak banyak. Namun, rambut si kakek dalam proses depresiasi, makin memutih, dan makin habis.  Di pihak lain, rambut si cucu sedang mulai berkembang, akan makin hitam, dan makin lebat. Suatu proses alami, suatu siklus demografi. Lahir, tumbuh, berkembang, menurun, dan mati.

 

Si kakek ingat ketika terakhir kali ia menggendong bayi. Bayi itu kini telah menjadi seorang ayah, dari seorang bayi yang kini digendong. Si kakek sering masih tidak percaya bahwa anaknya itu telah menjadi seorang ayah. Si  bayi yang telah menjadi ayah pun kadang tak mengira bahwa ayahnya telah menjadi seorang kakek.

 

Si cucu tampak lucu, menarik. Orang, dan si kakek, suka bermain dengan si bayi  berumur enam bulan  yang tak berdaya, tidak bisa banyak berbuat. Berbicara pun tak dapat. Tetapi, bayi itu mempunyai masa depan yang menggembirakan. Bulan depan, dia diharapakan dapat duduk dan mungkin tak lama lagi merangkak, kemudian jalan, dan bicara. Dan lari lari. Dan tambah kuat dan sehat, dan cantik. Orang senang merawatnya, walau bayi memerlukan perawatan penuh waktu.

 

Tetapi, bayangkan bila kondisi kesehatan si kakek makin menurun, dan suatu ketika ia tidak bisa berbuat apa-apa. Merawat orang tua yang tak berdaya lain dengan merawat bayi yang tak berdaya. Rasa senang dan lucu tak muncul dari kakek yang tak berdaya, sangat berbeda dengan merawat bayi yang tak berdaya.  Lagi pula, merawat bayi mempunyai harapan bahwa bayi itu akan membaik dan menguat. Di pihak lain, merawat orang tua yang tak berdaya sering tidak mempunyai harapan adanya perbaikan. Yang dapat dilakukan, merawat agar kondisi tidak makin menurun. Paling paling, mengharapkan ada sedikit perbaikan.

 

Si bayi memang tergantung pada orang lain, orangtuanya, untuk menghidupi dirinya. Namun, ada harapan, bayi ini akhirnya menjadi orang dewasa yang mampu menghasilkan pendapatan, yang dapat menghidupi dirinya sendiri dan orang lain. Ini berbeda dengan si kakek, yang suatu ketika tidak dapat lagi menghasilkan pendapatan, untuk membiaya diri sendiri, apalagi orang lain.

 

Itu sebabnya, angka harapan hidup yang makin tinggi tanpa disertai dengan kesehatan yang membaik dan kemampuan di pasar kerja yang baik memang akan dapat memberikan beban, untuk orang tua itu sendiri, yang merawat, dan masyarakat secara keseluruhan.

 

Karenanya, masalah penuaan penduduk, population ageing, harus diselesaikan dengan pendekatan siklus kehidupan, suatu siklus demografi yang menyeluruh. Bukan difokuskan kepada mereka yang sudah tua. Tetapi, mulai dari yang bayi, bahkan yang embrio. Agar para bayi itu kelak menjadi orang dewasa yang sehat dan dapat mempunyai pendapatan yang baik, dan kemudian menjadi orang tua yang tetap sehat dan masih mampu bekerja untuk menghasilkan uang.

 

Dengan kata lain, kebijakan mengenai penuaan penduduk bukan hanya kebijakan untuk orang tua (lansia), tetapi untuk semua penduduk, tidak pandang usia, termasuk yang masih bayi.

 

Semoga saja, si kakek dan cucu di gambar itu dapat tetap sehat dan makin sehat serta mampu berpartisipasi dalam pasar kerja. Dengan demikian, kakek dan cucu itu kelak tidak membebani diri mereka sendiri, tidak membebani orang lain, dan masyarakat keseluruhan. Mereka pun akan bahagia.(*)

Filed under: ageing, Bahasa Indonesia, Demography, economy, , , , , ,

6 Responses

  1. Mega says:

    Selamat telah menjadi kakek (walaupun terlambat), Pak Aris! Cucunya lucu sekali! =D

  2. Febbie says:

    cute grandchild, Pak Aris!😀

  3. Wida Sutedjo says:

    Amin! Semoga terjadi seperti yang diharapkan!
    Wah senang ya…. cucunya lucu… sehat dan cantik…. engkongnya juga lucu soalnya senang melucu…. wkwkwkwkw….. wah kapan ya bisa ketemu dengan cucu keponakan ini ya??? Salam buat Bagas & istrinya (siapa ya koq lupa namanya… maklum sudah emak2)….he..he..he…

  4. Widyanti Prajitna says:

    Opa dan cucunya sama2 lucu,
    asyiknya menimang cucu pertama
    sayang tak disebut namanya.

  5. nurlina says:

    Ketika melihat pertama kali tampak sekali kesamaan antara opa dan cucu, sama-sama ganteng, terpancar kecerdasan. Yg terkesan sebenarnya si opa bukan mau ceritain ageing population tetapi … ini lho cucuku ganteng sekali….. oh ,oh selamat pak Aris, tetapi kalah dong dengan saya….. 9 cucu…. (sorry banget bercanda)

    • mletiko says:

      Maaf Bu. Dia cucu perempuan saya. Menimang cucu pertama memang memberikan perasaan yang lain. Senang dan entah perasaan apa. Kemudian, jadi melamun, ingat siklus kehidupan, yang sesungguhnya merupakan ruang lingkup analisis demografi. Entahlah, apakah dia nanti ingin jadi demografer atau tidak…………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: