Percikan pikiran seorang ekonom.


Aris   Ananta

Untuk  Mletiko,  15  Maret 2011

Dalam “Perdebatan Gaji PLRT di Singapura”, Mletiko, 26 Februari 2011 telah diuraikan perdebatan mengenai usulan kenaikan gaji untuk PLRT (penata laksana rumah tangga – pembantu rumah tangga) Indonesia di Singapura.  Ada pro dan kontra mengenai usulan kenaikan gaji oleh 17 agen penempatan PLRT Indonesia dan pemerintah Indonesia.

Menariknya, pada tanggal 14 Maret 2011, tajuk rencana The Straits Times, koran berbahasa Inggris yang membawa suara pemerintah Singapura, memperlihatkan tanggapan positif pada usulan para agen dan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan para PLRT. Mereka menyambut positif usaha pemerintah Indonesia (dan juga Filipina) untuk melindungi hak hak PLRT mereka dan juga usaha membersihkan industri PLRT. Menurut koran ini, industri PLRT saat ini dikelola seperti dalam suatu kota “cowboy”.

Tajuk rencana ini menyatakan bahwa di Singapura, pasar PLRT akan tetap tinggi. Ia mengutip pendapat Paul Krugman, ekonom Amerika Serikat, yang mengatakan bahwa  ada beberapa pekerjaan yang tidak dapat dimekanisasi dan di-outscource. Pekerjaan itu adalah pekerjaan seperti sopir truk, orang yang membersihkan kamar kecil, dan PLRT (termasuk yang merawat anak anak atau pun lansia). Oleh sebab itu, tampaknya koran ini (dan pemerintah Singapura) memang menganggap bahwa kenaikan gaji dan kesejahteraan para PLRT memang sesuatu yang wajar, sesuai dengan kondisi pasar dunia dan Singapura.  Bahkan, dalam tajuk rencana ini juga dikatakan bahwa bukan tidak mungkin, PLRT akan makin dicari dan dalam posisi tawar yang tinggi: mereka akan lebih leluasa memilih majikan.

Melihat kecenderungan ini, tajuk rencana ini menyarankan  negara penerima PLRT untuk segera memperluas sumber PLRT, untuk mendapatkan PLRT yang lebih murah, seperti dari Myanmar, India, dan Sri Lanka.

Yang juga menarik, dan perlu kita perhatikan, adalah saran dari tajuk rencana ini bahwa kita juga perlu membenahi industri PLRT kita ini. Mereka mengatakan bahwa pengelolaan PLRT di Indonesia seperti pengelolaan dalam suatu kota “cow boy”. Tidak dijelaskan secara persis, namun mungkin maksudnya adalah bahwa terjadi banyak ketidakjelasan dalam pengelolaan pengiriman PLRT. Saya kira, sudah saatnya industri PLRT dibuat lebih transparan, sesuai dengan era demokrasi yang kini kita lalui. Semua informasi (termasuk hak dan kewajiban, dan juga gaji) harus diumumkan secara terbuka. Penyebaran informasi secara on-line perlu digalakkan dan para PLRT perlu dianjurkan untuk rajin mencari informasi secara on line. Keluhan pun dapat diberikan secara on line.

Langkah bagus dari pemerintah Indonesia perlu dilanjutkan. Mungkin pemerintah Indonesia dapat lebih tegas dalam meminta kenaikan gaji.  Selain dari segi kemanusian, pasar untuk PLRT kita sangat tinggi, yang memungkinkan gaji dan kesejahteraan yang lebih baik. Indonesia mempunyai posisi tawar yang menguntungkan untuk meningkatkah kesejahteraan PLRT Indonesia.

Berikut ini tulisan lengkap di tajuk rencana tersebut.

The Straits Times (Singapore)
Monday, March 14, 2011

Editorial: Improving The Maid Industry

THE recent move by the Indonesian and Filipino governments to impose
stricter rules to protect their female citizens who work abroad as
maids is a welcome one to safeguard their rights and clean up an
industry that has largely been run like a cowboy town.

Indonesia has recommended – but is not enforcing – a basic salary of
$450 for its maids, together with two days off a week. There is also a
move to cap their placement fees – which take into account the cost of
medical check-ups, document processing and training – to $1,000, to be
paid by the maids through loans from Indonesian banks. Previously,
such fees – which could be jacked up to $3,000 – were borne by local
employers upfront, with the maids having to work sometimes for nine
months or more for a meagre $10 or $20 a month, to pay off the loan.
The Philippine government has also imposed tighter rules on its maids.
There is now a waiting time of eight weeks for Filipino maids, due to
stricter checks and training. Manila has imposed a basic salary of
US$400 (S$510), which is above the usual $350 to $400 rate paid to
Filipino maids here. Whether these moves will make a difference to the
welfare of maids from these two countries remains to be seen. The
pertinent question is why it has taken so long for these governments
to act, when the plight of these vulnerable women has been so well
documented for so long.

As many families in Singapore are dependent on maids, it may not be
inconceivable that these wage stipulations will eventually be met. The
American economist Paul Krugman recently wrote about how low-paying
manual work, which does not follow routine instructions, may be in
less danger of becoming obsolete than higher paying white- collar
work, that can be outsourced overseas. He cited economists David
Autor, Frank Levy and Richard Murnane’s observations that jobs which
cannot be carried out by following explicit rules – a category that
includes many kinds of manual labour, from truck drivers to janitors –
will tend to grow even in the face of technological progress.

Following that logic, maids will always be in demand. Someone needs to
clean the house and look after the kids. Such work can neither be
outsourced nor automated. In time to come, good maids may even be able
to pick and choose among employers. This will not happen soon, though,
as agencies and employers are now turning to new sources of maids from
cheaper countries like Myanmar, India and Sri Lanka. But once these
countries too scale up, things may change.

In the meantime, all source countries should do their part to ensure
that the welfare of their citizens who toil abroad as maids is
assured. At the end of the day, measures to protect maids from
unscrupulous agents to whom they can end up owing huge sums of money,
must start at the source. (*)


Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, English, migration, , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in: Logo

You are commenting using your account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 93 other followers

%d bloggers like this: