Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Ketergantungan pada PLRT (Pembantu Rumah Tangga)

Aris  Ananta

Untuk  MLETIKO,  24 Februari 2011

Di Singapura, PLRT (penata laksana rumah tangga –pembantu rumah tangga) asing, bukan warga negara Singapura, telah sangat membantu produktivitas penduduk Singapura (warga negara atau bukan), khususnya para ibu. Dengan adanya pembantu rumah tangga, para ibu dapat bekerja. Mereka tidak perlu menghabiskan waktu untuk mengurus rumah tangga, untuk mengurus anak, atau  mengurus orangtua. Upah PLRT yang relatif murah juga menyebabkan mereka sangat tergantung pada pembantu rumah tangga. Sebagian besar PLRT di Singapura berasal dari Filipina dan Indonesia.

Usaha pemerintah Indonesia dan Filipina untuk meningkatkan keselamatan dan kesejahteraan para PLRT membuat para majikan kebingungan.  Seperti disebutkan di “Meningkatkan Kesejahteraan PLRT di Luar Negeri”, Seputar Indonesia, 23 Februari 2011, agen penempatan di Singapura pun berusaha meningkatkan gaji PLRT dari Indonesia, untuk mengatasi kekurangan PLRT dari Indonesia.

Usulan 17 agen di Singapura itu mendapatkan reaksi keras dari masyarakat Singapura.  Ada yang menuduh bahwa ke 17 agen itu telah melakukan praktek oligopoli, anti kompetisi, karena dengan seenaknya menaikkan  gaji PLRT.  Seperti dimuat di The Straits Times, surat kabar berbahasa Inggris di Singapura, edisi 24 Februari 2011, Mrs. Alice Cheah, Managing Director dari Caregivers Centre di Singapura, mengatakan bahwa para pengguna  PLRT perlu tahu bahwa  pemberitahuan rencana kenaikan itu  hanya dari agen, bukan dari pemerintah. Alice Cheah mengatakan bahwa para agen ini salah melihat pasar. Gaji di Singapura memang lebih rendah daripada di Hong Kong dan Taiwan, tetapi di Singapura banyak kemudahan lain. Katanya, di Singapura PLRT bisa ganti majikan, sedang di Hong Kong tidak bisa.  Ia mengatakan bahwa masalah PLRT bukan gaji yang rendah, tetapi biaya yang dibebankan oleh agen, yang besarnya antara 2,800 hingga 3,500 dolar Singapura, untuk mengirim  seorang PLRT dari rumahnya, hingga pulang lagi ke rumahnya di Indonesia, yang semuanya dibebankan ke PLRT. Namun , ia juga tidak setuju jika  semua biaya itu dibebankan ke majikan. Kemudian, ada yang menulis, kalau semua biaya dibebankan ke majikan, PLRT tak punya rasa tanggung jawab. Kata penulis ini, PLRT akan gampang gampang kabur.

Seperti dilaporkan oleh The Straits Times, 25 Juli 2011, Ms Emily Long, seorang warga negara Singapura, menulis di The Straits Times Forum on-line pada tanggal 24 Februari 2011. Ia mengeluh bahwa di Singapura, mempunyai PLRT tidak lagi dilihat sebagai kemewahan, tetapi telah dilihat sebagai kebutuhan. Walau begitu, Emily tak mau tergantung pada PLRT. Bersama suaminya, dia mengajari dua anak mereka untuk bersama sama mengurus rumah tangga. Hal ini juga memperkuat tali kekeluargaan. Ia mengatakan bahwa PLRT hanya dibutuhkan bila ada anak yang masih kecil, ada orang yang sudah tua, atau anggota keluarga yang sakit.

Seperti dilaporkan di surat kabar tersebut, surat ini telah menimbulkan banyak komentar di forum tersebut, dan juga di Facebook dan Twitter. Bjas Kunju misalnya mengatakan bahwa orang Singapura sudah sangat tergantung pada PLRT. Padahal, orang di negara lain dapat hidup tanpa PLRT, dan mereka juga punya banyak anak.

Ada pula yang marah marah, dan mengatakan bahwa kalau tidak mau menggunakan PLRT, silakan aja. Namun, jangan memberitahu orang lain untuk tidak menggunakan PLRT. Ada pula yang lebih tenang, dan memberi tanggapan, bahwa cukup mengajak laki laki mengurus rumah, tak usaha menggaji PLRT.

Pemerintah Indonesia dan Filipina telah melakukan langkah yang maju, tidak sekedar “jual murah” PLRT mereka. Dua pemerintah ini telah makin memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan PLRT mereka di luar negeri. Dampaknya, memang, terlihat pada semacam “kepanikan” di antara para majikan.

Hal ini terjadi di Singapura. Bagaimana di Indonesia? Apakah juga makin banyak keluarga yang semakin tergantung pada PLRT? (*)

 

Tulisan terkait:

* Perbenturan Kepentingan Ekonomi Antar Negara

* Meningkatkan Kesejahteraan PLRT di Luar Negeri

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, migration, poverty, , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: