Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PLRT DI LUAR NEGERI

Aris  Ananta

Untuk SEPUTAR  INDONESIA, 23 Februari  2011

The Straits Times, koran berbahasa Inggris di Singapura, edisi 13 Februari 2011, melaporkan bahwa kini penduduk Singapura mengalami kesulitan mencari PLRT (Penata Laksana Rumah Tangga/pembantu rumah tangga), termasuk dari Indonesia.
Menurut harian ini, kesulitan ini antara lain karena gaji PLRT di Singapura lebih murah daripada negara lain seperti Hong Kong dan Taiwan. Gaji yang murah ini juga menyebabkan Singapura memperoleh PLRT yang kurang berpengalaman. Karena itu, sering terjadi perselisihan dan ketidakcocokan dengan majikan. Banyak yang lari dari majikan. Gaji PLRT Indonesia saat ini hanya 380 dolar Singapura. Angka ini jauh lebih rendah daripada gaji PLRT di Hong Kong sebesar 650 dolar Singapura atau di Taiwan sebesar 800 dolar Singapura. Karena itu, para agen penempatan di Singapura juga menginginkan agar PLRT mendapatkan penghasilan yang lebih baik.

Seperti dilaporkan oleh Berita Harian, koran berbahasa Melayu di Singapura, edisi 2 Februari 2011,  17 agen di Singapura telah mengumumkan akan menaikkan gaji PLRT Indonesia yang baru datang menjadi 450 dolar Singapura. Namun, pengamatan harian ini memperlihatkan bahwa gaji PLRT Indonesia di Singapura rata-rata hanya 400 dolar Singapura. Bahkan, masih ada yang mendapatkan 350 dolar Singapura. Menurut The Straits Times, hal lain yang memberatkan para PLRT Indonesia adalah biaya yang harus dibayarkan para PLRT ke agen di Indonesia dan Singapura. PLRT diharuskan membayar biaya agen dengan memotongkan dari gaji bulanan mereka. PLRT membayar seluruh biaya yang diperlukan untuk membawa dia dari rumahnya sampai ke tempat dia bekerja.

Selain itu, mereka juga harus membayar biaya pulang ke Indonesia, sampai ke rumahnya, termasuk biaya pesawat, paspor, perjalanan di Indonesia, perjalanan di Singapura, pelatihan,dan segala macam lainnya. Biaya ini ditagih oleh agen setempat (untuk kasus Singapura oleh agen Singapura) dan agen di Indonesia. Biaya untuk agen (penjumlahan dari agen Indonesia dan Singapura) terus meningkat. Di Singapura, 10 tahun lalu, biaya itu sekitar tiga kali gaji bulanan. Artinya, selama tiga bulan pertama, PLRT Indonesia tidak memperoleh gaji sama sekali. Sekarang, biaya itu bisa mencapai 11 kali gaji bulanan mereka. Artinya, selama 11 bulan pertama, para PLRT Indonesia tidak mendapatkan gaji.

Kalau mereka bekerja dengan kontrak dua tahun, mereka hanya menerima gaji untuk satu tahun dan satu bulan terakhir. Koran ini juga menceritakan mengenai seorang agen yang sebagian besar pelanggannya adalah keluarga dengan penghasilan kurang dari 3.000 dolar Singapura/bulan. Dalam bisnis dia, kira-kira 90% biaya agen dibayar oleh majikan. Dia juga mencari PLRT dari Sri Lanka karena agen di sana tidak meminta bayaran yang setinggi bayaran yang diminta agen di Indonesia. Karena dua hal tersebut, PLRT dari Sri Lanka hanya tidak dibayar dalam satu atau dua bulan pertama. Karena itu, banyak agen di Singapura juga mengusulkan agar majikan menanggung biaya untuk para agen tersebut. Dengan demikian, PLRT akan mendapatkan peningkatan penghasilan. Mereka tidak akan perlu berlama-lama bekerja tanpa gaji.  Namun, hal ini akan membuat majikan membayar lebih mahal.

Para majikan akan protes karena biasanya mereka membayar relatif murah ke agen setempat. Para majikan akan marah karena biaya ke agen telah sempat turun dari sekitar 1.600 dolar Singapura pada 10 tahun lalu menjadi kira-kira 200 dolar Singapura. Selama ini,biaya agen dialihkan ke PLRT. Ada pula usulan untuk menghilangkan persyaratan mampu berbahasa Inggris.Usulan ini mengatakan bahwa yang datang ke Singapura tidak harus dapat berbahasa Inggris.Sebagian majikan di Singapura paham bahasa Indonesia. Pilihan lainnya, boleh saja orang Indonesia yang dapat berbahasa Kanton atau Mandarin karena mereka pernah bekerja sebagai PLRT di Hong Kong atau Taiwan. Suatu usulan lain adalah menghapus pajak (levy) pada setiap PLRT asing di Singapura.

Setiap majikan harus membayar pajak ke pemerintah Singapura untuk setiap PLRT asing.Pajak ini berubahubah sesuai kebutuhan pemerintah Singapura yang besarnya sekitar 265 dolar Singapura sebulan.Penerapan pajak sesungguhnya dimaksudkan untuk mengurangi penggunaan PLRT asing di Singapura.Namun,karena sekarang terjadi kesulitan mendapatkan PLRT asing, pajak ini dapat dikurangi atau ditiadakan.Kalau pajak ini dikurangi, gaji para PRLT, termasuk yang dari Indonesia, dapat ditingkatkan tanpa membebani majikan. Dilemanya,penyelesaian ini akan mengurangi pendapatan pemerintah Singapura.

Persoalan lain adalah sikap para majikan di Singapura. The Straits Times edisi 11 Februari 2011 mengutip yang dikatakan Allan Wee,Wakil Presiden Association of Employment Agencies di Singapura bahwa walau para majikan menginginkan PLRT yang berpengalaman, mereka juga takut dengan PLRT yang berpengalaman, yang ”terlalu pandai” dan mempunyai ”jaringan sosial”yang luas. Namun, para majikan ini sering lupa bahwa PLRT yang belum berpengalaman juga memberikan masalah tersendiri. Mungkin sudah saatnya Indonesia tidak ”menjual murah” para PLRT dan berhenti melihat para PLRT sebagai pahlawan devisa.Kita perlu meningkatkan lobi kita agar PLRT Indonesia mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik.

Bekerja dengan tidak dibayar selama 11 bulan bukanlah hal wajar. Para agen di Indonesia dan Singapura perlu rela mengurangi keuntungan yang mereka raih dari bisnis yang menjanjikan ini.Kalau biaya untuk agen di Singapura kira-kira dua bulan gaji,biaya untuk agen di Indonesia dapat mencapai sembilan bulan gaji. Dengan gaji yang belum naik (380 dolar Singapura), biaya untuk agen di Indonesia dapat mencapai 3.420 dolar Singapura atau kira-kira Rp22,9 juta untuk seorang PLRT Indone-sia di Singapura. Maukah para agen melakukan efisiensi sehingga biaya dapat diturunkan, apalagi sekarang makin banyak tersedia biaya penerbangan yang murah?

Maukah para agen mengumumkan secara terbuka biaya apa saja yang diperlukan untuk pengiriman seorang PLRT? Semua informasi ini perlu disebarluaskan agar semua calon PLRT dapat memahami dengan baik yang akan mereka terima dan yang harus mereka bayarkan. Akan lebih menarik jika para agen dapat berkompetisi dalam hal kualitas dan harga pengiriman seorang PLRT.(*)

Tulisan Terkait:

Bagaimana Investor Asing Melihat Indonesia?

* Migration and Violence in Indonesia

* Ketergantungan pada PLRT (pembantu rumah tangga)

* Perbenturan Kepentingan Ekonomi Antar  Negara

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, migration, , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: