Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

HIDUP DALAM SATU ATAP DI SINGAPURA: MAKIN BANYAK, MAKIN SERU

Evi Nurvidya Arifin

Untuk MLETIKO, 18 Februari 2011

Tersebutlah keluarga Yeo yang berdomisili di Pasir Ris, bagian Timur Singapura. Seperti dilaporkan oleh The Straits Times 17 February 2011, Nicholas Yeo, 32 tahun, pemilik restauran, beserta istri, 33 tahun, menempati sebuah apartemen yang dilengkapi  empat ruang (tiga kamar tidur, satu living room). Apartemen kategori ini merupakan apartemen besar untuk ukuran di Singapura. Namun apartemen yang besar ini bisa menjadi tidak berarti  bila jumlah anggota rumah tangga di apartemen tersebut cukup banyak. Selain istrinya, Yeo mempunyai tiga anak berusia antara satu bulan dan 5 tahun. Selain itu, di apartemen milik Yeo ini tinggal pula seorang adik, sepasang orang tua dan sepasang kakek-nenek, plus seorang pembantu rumah tangga. Sebelas orang menempati apartemen Yeo.  

Keluarga Yeo sebuah fenomena yang mulai langka diantara rumah tangga di Singapura saat ini. Sensus Penduduk Singapura yang dilaksanakan tahun 2010 memperlihatkan penurunan persentase rumah tangga semacam ini. Rumahtangga dengan anggota lebih dari lima  hanya sebanyak 11,1% dari seluruh rumahtangga warga negara dan penduduk tetap Singapura. Persentase ini menurun dari 12,0 % di tahun 2000.

Sensus Penduduk Singapura tahun 2010 juga memperlihatkan penurunan rata-rata jumlah anggota rumah tangga di berbagai kelompok etnik. Di kalangan Chinese, persentasenya menurun dari 3,6 di tahun 2000 menjadi rata-rata 3,4 di tahun 2010. Penurunan juga terjadi di kalangan Indian, walau tidak banyak, dari 3,7 ke 3,6, sementara itu di kalangan  Malay persentase tersebut tidak berubah pada 4,2 selama sepuluh tahun.

Seorang sosiolog yang diwawancarai harian tersebut mengatakan bahwa tren ini antara lain disebabkan oleh perubahan cara pandang banyak orang terhadap jumlah dan komposisi rumah tangga. Selain itu, banyak  lansia yang sudah tidak lagi menganggap anak sebagai jaminan hari tua dikala masa tua mereka. Filial piety telah mengalami perubahan definisi yang diartikan tidak lagi hidup satu atap. Namun anak cukup mengunjungi orangtua secara teratur dalam interval waktu tertentu. Harga rumah atau apartemen yang semakin mahal juga menjadi penyebab langkanya keluarga seperti keluarga Yeo.

Sebagai pasangan muda, Yeo dan istrinya merasa bersyukur masih bisa hidup satu atap dengan empat generasi.   Yeo memilih hidup seperti ini selain karena dia ingin mengurus sendiri kedua orang tua dan bahkan kakek-neneknya, juga untuk memberikan pelajaran hidup kepada anak-anaknya mengenai nilai-nilai keluarga. Rumah selalu hidup dan ramai dengan celoteh cucu-cucu bersenda gurau dengan kakek-nenek dan buyut. Menurutnya, saat makan malam bersama tentunya merupakan saat yang indah dan seru  ketika 11 orang berkumpul di ruang makan. Makan malam merupakan media yang baik untuk melakukan komunikasi dan ikatan keluarga. Anak-anak bisa belajar mengenai tradisi dan pentingnya sebuah keluarga. Setiap hari, kedua orang tuanya juga ikut menjaga cucu-cucu saat Yeo dan istrinya bekerja.

Lain Yeo, lain pula Marion Chew, 35 tahun, seorang guru SD yang menikah di tahun 2002. Sebelum akhirnya pasangan ini bergabung bersama orang tuanya, selama setahun mereka hidup terpisah di sebuah apartemen berkamar empat. Selama itu mereka rajin mengunjungi orang tuanya.  Namun ketika kehamilan pertama kehamilan anak kembar, Chew  dan suaminya pindah ke rumah orang tuanya, kebetulan ibunya juga dengan senang hati ingin ikut mengurusi anak dan cucunya. Mereka tinggal di sebuah rumah, bukan apartemen. Sejak kehamilan pertama hingga  kehamilan ketiga, pasangan muda ini masih tinggal bersama orangtua.  Pragmatis saja alasan mereka. Anak-anak ada yang menjaga selama mereka berdua bekerja. Dirawat orangtua berbeda dengan dirawat orang lain, walau di rumah mereka juga ada dua orang pembantu. Di rumah ini selain keluarga Chew, juga masih ada adiknya yang tinggal bersama orang tua. Sementara itu, untuk menambah pendapatan keluarga, apartemen Chew tidak dibiarkan kosong melainkan disewakan.

Lain lagi, Nenek Neo Geok Kuan, seorang pensiunan berusia 73 tahun yang dengan senang hati memainkan peran seorang nenek bagi kedua cucunya. Alangkah bahagianya Nenek Kuan ini, ketika anak lelakinya yang sudah berkeluarga dan dikarunia dua anak-anak memutuskan berpindah ke rumahnya. Kini kedua cucunya beranjak remaja. Lantas apa yang Nenek Neo setiap harinya lakukan di usianya yang senja. Nenek ini berperan mengantar-jemput kedua cucunya ke sekolah, memasak untuk makan siang mereka serta mengantar ke tempat les. Nenek ini berujar: ”I like being around to help my children, so I don’t mind being like the family driver.”

Ketiga kasus ini memperlihatkan bahwa hidup dalam rumah yang relatif padat, dengan anggota dari berbagai generasi, dapat memberikan suatu kebahagian tersendiri, walau kasus semacam itu sudah semakin langka di Singapura.

Di Indonesia, di  tahun 1997, sebanyak 24,2% lansia hidup di rumah tangga tanpa anak, sebuah persentase yang lebih besar daripada di Filipina. Lihat Tabel 2 yang disajikan oleh Yap Mui Teng dalam artikelnya yang berjudul Living Arrangements among the Elderly in Southeast Asia

Sesungguhnya pengaturan tempat tinggal lansia telah menarik perhatian PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) dalam Prakata laporan PBB tahun 2005 “Living Arrangements of Older Persons Around the World” seperti dikutip oleh Yap Mui Teng “(t)oday as in the past, co-residence of older and younger kin is an important element in the system of intra-family support transfers, which affects the well-being of older and younger individuals.” (*)

Tulisan terkait

Nestapa Sepasang Lansia di Singapura

Angka Kelahiran di Singapura Makin Rendah

 

 

Filed under: ageing, Bahasa Indonesia, , , , ,

One Response

  1. syawila ii says:

    maaf jika saya keliru membaca angka-angka nya. Saya ingin tahu apakah angka ‘rata-rata jumlah anggota rumah tangga bisa di lihat sama dengan angka ‘jumlah generasi dalam satu rumah’?
    Karena saya tertarik dengan tidak adanya perubahan pada keluarga Malay selama sepuluh tahun terakhir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: